##Bab 2. Antara Murid Taua Calon Suami
Keesokan harinya, Eren seperti biasa berangkat ke sekolah. Begitu pula dengan Deby yang juga pergi mengajar, walaupun tanggal pernikahan mereka akan dilangsungkan dua hari lagi.
Di sekolah mereka menjalani kegiatan seperti biasa layaknya guru dan murid, dan tidak ada yang mengetahui akan adanya pernikahan di antara mereka kecuali satu orang, yaitu adik laki-laki Deby yang bernama Adit. Iya, Adit ini juga seumuran Eren dan satu kelas pula dengannya.
Walaupun begitu, Adit juga diminta oleh orang tuanya untuk jangan membocorkan soal pernikahan kakaknya dengan Eren.
"Kamu kok kelihatan lemes sekali sih pagi ini? Harusnya semangat dong..." sapa Adit yang melihat Eren sedang murung duduk di mejanya. Tidak ada semangat sedikit pun dari raut wajahnya.
"Sudahlah jangan goda aku, Adit. Aku rasa jika kamu di posisi aku, kamu pastinya akan sama sepertiku..." balas Eren kembali menungga dagunya di atas meja.
"Haha, oke aku minta maaf. Oya Eren, kok bisa sih kalian malam itu berada di kamar hotel? Aku sama sekali gak nyangka loh," tanya Adit yang sepertinya juga penasaran. Waktu dia mendapat kabar itu dari orang tuanya, dia tampak kaget dan tidak percaya.
"Kalau kamu tanya aku, aku tanya siapa dong? Aku sendiri gak tahu kenapa bisa seperti itu. Aku benar-benar tidak ingat semuanya," jelas Eren.
"Hemm, begitu ya..."
"Terserah deh kamu mau percaya atau gak. Ah sudahlah jangan ganggu aku. Sana kamu main sendiri saja, aku butuh sendiri..." kesal Eren ketika melihat raut wajah Adit seperti meragukan penjelasannya.
"Astaga bukan begitu, Eren. Aku percaya kok sama kamu. Kapan coba aku gak percaya? Oya, pergi ke belakang yuk, aku bawa rokok nih..." ajak Adit. Seperti biasa kalau lagi jam kosong begitu, mereka selalu ke belakang sekolah buat merokok.
"Males ah, aku lagi gak mood buat ngapa-ngapain..." tolak Eren.
"Ayolah, di sana kamu bisa bebas curhat. Kalau di sini takutnya teman sekelas pada dengar..." kata Adit memaksa.
Sampai akhirnya Eren pun setuju dan mereka pergi menuju belakang sekolah, tempat mereka biasanya nongkrong bersembunyi merokok.
Setibanya di belakang sekolah, Eren dan Adit melihat di sana sudah ada beberapa siswa yang juga sedang bersembunyi merokok, dan kebetulan tempatnya sedang dipakai oleh mereka.
"Hai, awas! Itu tempat kami, sana cepat pergi..." usir Adit.
Dan karena Eren dan Adit dikenal lebih hebat dari mereka dalam hal berkelahi, mereka pun pergi walaupun jumlah mereka jauh lebih banyak.
Masih mending Adit, dia mengusir mereka dengan ucapan. Coba saja Eren lagi gak galau begini, sudah pakai kaki atau tangan dia mengusir mereka. Sebab Eren itu paling mudah main tangan. Kelihatan jelas dari karakternya juga yang jarang sekali disiplin dalam berpakaian rapi di sekolah.
Bukan hanya itu saja, Eren juga sangat terkenal di sekolahnya ini, di mana tidak ada yang berani menyinggungnya, kecuali kalau mereka mau dibuat babak belur olehnya.
"Nah sekarang sudah aman. Kamu bisa curhat lebih leluasa," kata Adit sambil menyodorkan sebatang rokok kepada Eren.
"Curhat gimana? Percuma ah, kau tidak akan percaya. Malas banget melihat raut wajah sialanmu itu. Aku ke sini karena malas melihat kakakmu saja..." balas Eren. Tangannya menarik sebatang rokok yang disodorkan Adit tadi lalu dia hisap dan nyalakan.
"Hai jangan gitulah. Gitu-gitu kakakku bakalan jadi istrimu..." kata Adit sambil tersenyum. Dan senyumannya itu seperti mengejek.
"Lihat wajahmu. Kau perlihatkan lagi, aku tampol nih serius..." kesal Eren.
"Kenapa sih? Aku cuma senyum aja kok."
"Pergi gak? Aku beneran lempar nih mukamu..." Eren meraih potongan kayu bekas kaki kursi untuk mengancam Adit.
"Hai jangan gitulah, aku lagi bercanda kok. Aku merasa lucu aja gitu tiba-tiba kamu bakalan menikah dengan kakakku yang notabenenya adalah guru kita."
"Dengar ya, bukan aku yang mau. Lagian aku juga sudah punya pacar. Sudah ya, jangan bahas itu lagi. Kamu benar-benar membuatku semakin gerah deh..." balas Eren.
"Oke dah gak dibahas lagi. Wah sebentar lagi jam pelajaran kakak nih. Kamu ikut gak, atau kita bolos aja gimana?" lagi-lagi Adit mengajak Eren berbuat nakal, kali ini dengan membolos pelajaran.
"Terserah deh. Adit dengar ya, kamu jangan ngomong besar-besar soal pernikahan itu. Kalau sampai orang lain tahu bakalan kacau..." ujar Eren memperingatkan.
"Tenang, aku mengerti kok. Gak akan ada yang tahu kok. Rahasiamu aku yang simpan, makanya kamu harus baik-baik padaku. Jangan galak-galak kayak tadi..." ucap Adit.
Dan Eren sangat percaya kalau Adit tidak akan membocorkan tentang pernikahan itu kepada siapa pun di sekolah mereka.
Sambil menghabiskan rokok, mereka terus mengobrol di belakang sekolah itu sampai tidak terasa sudah satu jam lebih mereka di sana. Sementara di kelas mereka, Deby sudah mengajar.
Melihat keduanya tidak ada di kelasnya, tentu Deby jadi marah.
"Kemana lagi mereka berdua? Awas saja nanti kalau balik akan menerima hukumanku..." kesal Deby sembari membagikan lembaran soal ulangan harian kepada muridnya.
"Hemm... bentar, aku tahu mereka di mana..."
Tiba-tiba Deby teringat di mana hari itu dia tidak sengaja mendengar Adit, adiknya, mengajak Eren pergi ke belakang sekolah saat jam pelajaran akan dimulai. Untungnya saat itu Deby lebih dulu menghadang mereka membuat mereka gak jadi ke sana.
Apalagi Deby melihat tas adiknya ada di kolong meja, jadi sudah pasti adiknya masuk sekolah tapi sedang bolos sekarang.
"Baiklah semuanya kerjakan dengan teliti ya soalnya. Kalau sudah selesai kalian bisa kumpulkan di meja saya..." pinta Deby sebelum meninggalkan muridnya di kelas itu.
Setelah itu Deby pun pergi menuju belakang sekolah.
Dan benar saja, setibanya di sana dia melihat keduanya sedang duduk santai sambil mengisap rokok. Dengan cara diam-diam dan hati-hati Deby melangkah mendekat, lalu menarik kuping Adit dengan keras.
"Begini ya kerjaan kamu waktu di sekolah? Di rumah izinnya pergi sekolah tapi malah bolos..." kata Deby sembari menarik kuping Adit.
"Awww... kak ampun kak, sakit kak..." rintih Adit sambil memegang tangan kakaknya yang menarik kupingnya.
Sementara Eren yang melihat itu langsung bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Hai kamu mau kemana? Kamu juga harus dihukum, cepat kembali..." panggil Deby yang melihat Eren mau pergi begitu saja.
"Apalagi sih bu? Anda kenapa sih selalu saja ada..." balas Eren.
"Apa kamu bilang? Hai dengar ya, saya di sini guru kamu. Jangan mentang-mentang..." Deby diam sejenak tak melanjutkan perkataannya.
"Jangan mentang-mentang apa?" tanya Eren berbalik menghadap ke arah Deby.
"Pokoknya begitu. Sini kamu! Kalau kamu pergi saya gak segan-segan laporin kalian kepada kepala sekolah agar kalian diskors, mau?" ancam Deby.
"Kak jangan galak-galak dong. Ini kupingku lepas dulu, sakit tahu kak..." kata Adit meminta Deby melepaskan kupingnya.
"Biarin, biar tahu rasa kamu. Bolos aja terus kerjaan kamu. Memangnya kamu nanti mau jadi apa kalau begini? Aku laporin papa mau kamu..." balas Deby.
"Baik kak aku minta maaf. Plis jangan beritahu papa ya. Oke dah begini saja, aku dan Eren akan terima hukuman apa saja dari kakak asalkan jangan lapor kepala sekolah dan juga papa..." ujar Adit memohon.
"Makanya kalau sekolah jangan bolos, kayak orang yang paling pintar saja. Sekarang juga kalian bersihkan sampah di lapangan. Jangan ada tersisa satu pun daun saat aku memeriksa nanti. Cepat!" perintah Deby.
Dengan menurut, Eren dan Adit pergi menuju lapangan untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Deby tadi.
"Ah elah, mentang-mentang jadi orang pintar semena-mena menindas adiknya..." gerutu Adit.
"Kamu bilang apa tadi...?" pelotot Deby.
Seketika Adit langsung berlari sebelum kakaknya semakin marah.
Iya, Deby ini waktu sekolah dulu dia adalah salah satu siswi yang paling pintar. Setiap mata pelajaran dia selalu mendapat nilai bagus bahkan selalu berada di peringkat paling atas.
Waktu sekolah menengah dia hanya menghabiskan waktu dua tahun lalu lulus. Lanjut di perkuliahan dia juga menghabiskan waktu begitu singkat hingga jadi sarjana.
Sayangnya dia tidak mau melanjutkan kuliahnya ke S2, tapi memutuskan untuk mengikuti magang sebagai pengajar di sekolah. Itulah mengapa di usianya yang terbilang masih sangat muda sekarang dia sudah menjadi seorang guru teladan.
Dia cuma menjalani sebagai guru magang di sekolah ini dalam kurun waktu satu bulan dan dijadikan langsung sebagai guru tetap di sini.
Dan sekarang dia menjadi wali kelas dua SMA, yaitu kelas Eren dan adiknya Adit. Yang anehnya bukan anak-anak luar yang menjadi siswa nakal di kelasnya, tetapi adiknya sendiri dan Eren.
"Sebentar, kok kakak kamu bisa tahu kita berada di belakang sekolah? Jangan-jangan ada yang ngasih tahu lagi..." ujar Eren curiga sebab sebelumnya Deby belum pernah memergoki siapa pun bolos di sana.
"Bisa jadi sih. Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya, aku buat dia menyesal..." kata Adit sembari melempar sapu yang dia pegang karena malas sekali dia harus membersihkan sampai sebanyak itu di lapangan sekolah yang begitu luas ini.
"Oya Eren, nanti kalau kakakku sudah jadi istrimu minta dong agar dia gak galak-galak. Malas banget kalau harus setiap hari di dalam kelas..." usul Adit.
"Sialan, kamu kira aku bisa mengendalikan kakakmu? Lihat saja dia itu seperti apa. Harusnya kamu lah, kan kamu adeknya. Ah... bodo amat dah. Kenapa aku dari kemarin apes banget dah. Masa iya coba aku menikah di usia segini. Astaga..." gerutu Eren.
Dia kembali kehilangan semangat saat teringat akan pernikahannya yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
