Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Rahasia Pertama

Satu minggu setelah pernikahan sederhana di kantor catatan sipil, Medelin masih belum bisa mempercayai kenyataan bahwa ia kini tinggal di penthouse mewah di puncak Ardian Tower. Apartemen yang luasnya sepuluh kali lipat dari tempat tinggalnya sebelumnya ini dilengkapi dengan segala fasilitas yang tidak pernah ia bayangkan—jacuzzi pribadi, gym lengkap, bahkan perpustakaan dengan koleksi buku arsitektur yang membuatnya terpana.

Tapi yang paling membuatnya tidak nyaman adalah keheningan yang menyelimuti tempat ini di malam hari.

"Arka?" panggilnya sambil berjalan menyusuri koridor yang panjang. Sudah hampir tengah malam, tapi suaminya—kata itu masih terasa asing di lidahnya—belum kembali dari kantor.

Tidak ada jawaban.

Medelin menghela napas dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Selama seminggu ini, ia jarang sekali melihat Arka. Pria itu berangkat sebelum ia bangun dan pulang setelah ia tidur. Mereka seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Saat ia membuka kulkas, sesuatu yang aneh terjadi. Seluruh makanan di dalamnya adalah daging mentah—steak, lamb chop, bahkan ada yang terlihat seperti daging rusa. Tidak ada sayuran, tidak ada buah, tidak ada makanan normal lainnya.

"Aneh," gumamnya. Selama ini ia makan dari katering yang dipesan Oliver, jadi ia tidak pernah memeriksa isi kulkas.

Tiba-tiba, bunyi elevator terdengar. Medelin bergegas keluar dari dapur dan melihat Arka melangkah masuk. Kemeja putihnya sedikit robek di bagian lengan, dan ada bercak-bercak merah yang terlihat mencurigakan seperti darah.

"Arka! Kamu terluka?" Medelin berlari menghampirinya.

"Tidak apa-apa," jawab Arka cepat, mundur selangkah saat Medelin hendak memeriksa lengannya. "Hanya terjatuh saat jogging."

"Jogging tengah malam?"

"Aku tidak bisa tidur."

Medelin menatapnya dengan curiga. Ada sesuatu yang tidak beres. Mata amber Arka berkilau aneh dalam cahaya lampu, dan aromanya—biasanya seperti cologne mahal—kali ini tercampur dengan sesuatu yang liar, primitif.

"Arka, ada yang ingin kutanyakan," katanya, mengikuti suaminya yang berjalan menuju kamar. "Kenapa kulkas hanya berisi daging mentah?"

Arka berhenti di depan pintu kamarnya. "Aku suka steak rare."

"Sebegitu rare-nya sampai mentah?"

"Medelin," suaranya terdengar lelah. "Ini sudah malam. Kita bicarakan besok saja."

"Tidak. Aku lelah dengan semua jawaban yang menghindar." Medelin melangkah menghadang pintu kamarnya. "Selama seminggu ini, kamu seperti hantu. Kamu pergi sebelum aku bangun, pulang setelah aku tidur. Kita bahkan tidak pernah makan bersama."

"Itu lebih baik untuk kita berdua."

"Kenapa?"

Arka menatapnya dengan mata yang berkilau seperti emas cair. "Karena ada hal-hal tentang diriku yang tidak bisa kamu pahami."

"Coba saja jelaskan. Aku lebih pintar dari yang kamu kira."

Sejenak, Arka tampak tergoda untuk mengatakan sesuatu. Tapi kemudian ia menggeleng. "Tidak sekarang. Tidak seperti ini."

"Kapan? Kita sudah menikah, Arka. Bahkan jika ini hanya kontrak, kita masih harus hidup bersama selama tiga tahun."

"Medelin..." Arka melangkah mendekat, tangannya terangkat seakan ingin menyentuh wajahnya. "Percayalah padaku. Ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui."

"Seperti apa?"

"Seperti fakta bahwa aku bukan manusia biasa."

Kata-kata itu terlontar sebelum Arka bisa menahannya. Medelin terdiam, menatapnya dengan mata terbelalak.

"Apa maksudmu?"

Arka mengutuk dirinya sendiri. Ia tidak bermaksud mengungkapkan sesuatu secepat ini. Tapi cara gadis itu menatapnya, mata hijau zamrudnya yang penuh dengan keingintahuan dan sedikit ketakutan, membuatnya kehilangan kendali.

"Lupakan," katanya cepat. "Aku hanya lelah."

"Tidak." Medelin menggenggam lengannya saat Arka hendak masuk kamar. "Kamu bilang kamu bukan manusia biasa. Apa maksudnya?"

Sentuhan gadis itu seperti sengatan listrik. Arka merasakan sesuatu yang aneh terjadi—kulit di bawah kemejanya mulai terasa panas, dan ia bisa merasakan transformasi yang mengancam. Bulan purnama besok malam, dan semakin dekat waktunya, semakin sulit baginya untuk mengontrol sisi serigalanya.

"Lepaskan," katanya dengan suara yang berubah menjadi lebih dalam, lebih growl.

"Arka, apa yang—"

Tiba-tiba, mata Arka berubah. Pupilnya melebar, dan iris amber-nya berkilau seperti mata predator. Untuk sejenak, wajahnya tampak berubah—rahang lebih tajam, gigi lebih runcing.

Medelin terlonjak mundur dengan napas tersengal. "Apa... apa yang baru saja terjadi?"

Arka menutup mata, berusaha keras mengontrol diri. Ketika ia membukanya lagi, matanya sudah kembali normal, tapi tubuhnya masih gemetar.

"Masuklah ke kamarmu," katanya dengan suara serak. "Kunci pintunya. Jangan keluar sampai besok pagi."

"Arka—"

"Sekarang!" bentaknya, dan kali ini suaranya benar-benar terdengar seperti growl binatang buas.

Medelin berlari ke kamarnya, jantung berdetak kencang. Ia mengunci pintu dan bersandar di belakangnya, napas tersengal-sengal. Apa yang baru saja terjadi? Mata Arka berubah, wajahnya berubah, bahkan suaranya berubah menjadi sesuatu yang bukan manusia.

Dari luar, ia mendengar suara aneh—seperti suara fabric yang robek, diikuti dengan suara yang terdengar seperti... gonggongan? Tapi lebih dalam, lebih menakutkan.

Medelin merangkak ke jendela kamarnya yang menghadap ke balkon. Dari sana, ia bisa melihat ke balkon kamar Arka yang bersebelahan. Apa yang ia lihat membuat dunianya runtuh.

Seekor serigala raksasa berwarna hitam kelam berdiri di balkon, bulunya berkilau di bawah cahaya bulan. Mata amber yang familiar menatap langsung ke arahnya.

Medelin terjatuh ke lantai, tangan menutup mulutnya untuk menahan jeritan. Ini tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Tapi mata itu—mata amber yang sama yang telah menatapnya selama ini—tidak ada yang salah.

Arka adalah serigala.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel