Bab 4 Kontrak Pernikahan
Ruang konferensi di lantai 78 Ardian Tower terasa dingin meskipun AC tidak menyala. Medelin duduk di ujung meja mahogani yang panjang, menatap tumpukan dokumen hukum yang tebal di hadapannya. Huruf-huruf kecil dalam bahasa Inggris dan Arab berjajar rapi, menjelaskan setiap detail dari kontrak pernikahan yang paling tidak biasa yang pernah ia bayangkan.
"Pasal 1: Durasi Kontrak," Oliver membacakan dengan suara profesional, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. "Kontrak pernikahan ini berlaku selama tiga tahun kalender, dimulai dari tanggal penandatanganan."
Medelin menoleh ke arah Arka yang duduk di seberangnya, lengan terlipat santai di dada. Pria itu terlihat tenang, seakan mereka sedang membahas kontrak bisnis biasa, bukan pernikahan. Mata ambernya yang intens tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Pasal 2: Kewajiban Finansial," Oliver melanjutkan. "Pihak pertama—dalam hal ini Tuan Ardian—akan menanggung seluruh biaya kuliah pihak kedua hingga lulus, termasuk biaya hidup bulanan sebesar 50.000 dirham."
Medelin hampir tersedak mendengar angka itu. 50.000 dirham per bulan—lebih dari yang ia hasilkan dalam setahun dengan tiga pekerjaan part-time.
"Itu terlalu banyak," protesnya.
"Itu standar minimum untuk istri seorang Ardian," jawab Arka dengan tenang. "Anda akan tinggal di penthouse, menghadiri acara-acara sosial, dan mewakili nama keluarga. Penampilan Anda harus sesuai dengan status tersebut."
"Pasal 3: Tempat Tinggal," Oliver melanjutkan. "Pihak kedua akan tinggal di penthouse Ardian Tower, kamar terpisah dari pihak pertama, dengan akses penuh ke semua fasilitas."
Medelin merasa lega mendengar bagian 'kamar terpisah'. Setidaknya ia tidak harus berbagi ranjang dengan pria yang praktis masih asing ini.
"Pasal 4: Kewajiban Sosial," Oliver berdehem. "Pihak kedua akan mendampingi pihak pertama dalam acara-acara bisnis dan sosial, berperan sebagai istri yang supportive. Namun, pihak kedua tidak diwajibkan untuk... eh..." Oliver terlihat tidak nyaman, "...melakukan kewajiban intim layaknya pasangan suami istri."
Pipi Medelin memerah. Ia melirik Arka yang ekspresinya tidak berubah, seakan klausul ini adalah hal yang normal.
"Pasal 5: Kerahasiaan," Oliver melanjutkan dengan suara yang lebih serius. "Pihak kedua tidak boleh mengungkapkan detail kehidupan pribadi pihak pertama kepada pihak ketiga manapun. Pelanggaran terhadap klausul ini akan mengakibatkan pembatalan kontrak dan tuntutan hukum."
"Rahasia apa yang harus saya simpan?" tanya Medelin langsung pada Arka. "Saya tidak akan setuju pada kontrak yang membuat saya buta terhadap apa yang terjadi."
Arka terdiam sejenak, mata ambernya berkilau seperti sedang menimbang sesuatu. "Ada aspek kehidupan saya yang... tidak konvensional. Aspek yang tidak bisa saya jelaskan sekarang, tapi akan Anda pahami seiring waktu."
"Itu tidak cukup jelas."
"Percayalah pada saya, Medelin. Saya tidak akan pernah membahayakan Anda."
Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan namanya yang membuat jantung Medelin berdetak lebih cepat. Suaranya terdengar seperti janji, seperti sumpah yang mengikat.
"Pasal 6: Kebebasan Pribadi," Oliver melanjutkan. "Pihak kedua tetap memiliki kebebasan untuk melanjutkan kuliah, berkarir, dan menjalin pertemanan. Namun, hubungan romantis dengan pihak lain dilarang selama kontrak berlangsung."
"Begitu juga dengan Anda," Medelin menatap Arka tajam. "Klausul ini berlaku untuk kedua belah pihak."
"Tentu saja." Arka tersenyum tipis. "Saya tidak tertarik pada wanita lain."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Medelin merasa ia bukan hanya bicara tentang kontrak. Mata ambernya menatapnya dengan intensitas yang membuat kulit Medelin terasa terbakar.
"Pasal 7: Penghentian Kontrak," Oliver melanjutkan. "Kontrak dapat diputuskan sebelum waktunya jika salah satu pihak melanggar ketentuan yang telah disepakati. Pihak kedua juga dapat mengakhiri kontrak kapan saja dengan konsekuensi harus mengembalikan seluruh dana yang telah diberikan."
"Dan jika saya bertahan hingga tiga tahun penuh?"
"Anda akan menerima sejumlah uang yang cukup untuk memulai hidup baru. Bisnis arsitektur Anda sendiri, mungkin."
Medelin menatap dokumen di hadapannya. Setiap kata, setiap klausul, semuanya tertulis dengan sempurna. Tapi ada sesuatu yang tidak tertulis—sesuatu yang bersembunyi di balik mata amber pria di hadapannya.
"Saya butuh malam ini untuk memikirkannya," katanya akhirnya.
"Tentu saja." Arka bangkit dari kursinya. "Oliver akan mengantarkan Anda pulang. Tapi Medelin..."
Ia berhenti di samping kursinya, tangan terulur seakan ingin menyentuh bahunya tapi tertahan di udara. "Ingatlah bahwa tawaran ini memiliki batas waktu. Universitas Anda membutuhkan jawaban besok."
Medelin menatap tangannya yang terulur, merasakan hawa hangat yang memancar dari kulit pria itu. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak manusiawi tentang suhu tubuhnya yang selalu terasa hangat.
"Saya mengerti."
Di perjalanan pulang, Medelin duduk terdiam di kursi belakang sedan mewah yang dikemudikan Oliver. Pikiran-pikiran bertabrakan dalam kepalanya seperti badai.
"Nona Sari," Oliver bersuara dari kursi depan. "Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Apa yang membuat Anda ragu?"
Medelin menatap lampu-lampu kota yang berkilauan di luar jendela. "Selain fakta bahwa saya akan menikah dengan orang yang praktis tidak saya kenal? Selain fakta bahwa ini terdengar seperti fantasi gila?"
Oliver tersenyum melalui kaca spion. "Tuan Ardian adalah pria yang baik. Berbeda, tapi baik. Ia tidak akan menyakiti Anda."
"Berbeda bagaimana?"
Oliver terdiam, seakan menimbang kata-katanya. "Anda akan memahaminya sendiri, jika Anda memilih untuk tinggal."
Kembali lagi jawaban yang samar. Medelin mulai frustasi dengan semua misteri yang mengelilingi Arka Ardian.
"Oliver," katanya perlahan, "apa yang sebenarnya diinginkan bosmu dari saya? Uang bukan masalah baginya. Ia bisa mendapatkan wanita manapun yang ia inginkan. Kenapa saya?"
Oliver menatapnya melalui kaca spion dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Karena Anda adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya."
"Menyelamatkan dari apa?"
"Dari takdirnya."
Sebelum Medelin bisa bertanya lebih lanjut, mobil sudah berhenti di depan apartemennya. Oliver turun dan membukakan pintu untuknya.
"Nona Sari," katanya saat Medelin turun, "percayalah pada instink Anda. Kadang, keputusan terbaik adalah yang terasa paling menakutkan."
Medelin menatap pria paruh baya itu dengan bingung. "Anda berbicara dalam teka-teki."
"Selamat malam, Nona Sari. Tuan Ardian akan menunggu jawaban Anda."
Di apartemennya, Medelin melemparkan diri ke ranjang kecilnya yang keras. Surat ultimatum dari universitas tergeletak di meja, mengingatkan bahwa waktu hampir habis. Besok adalah deadline terakhir untuk melunasi biaya kuliah.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon Layla, sahabat satu-satunya yang bisa ia percayai.
"Med? Kenapa telpon tengah malam begini?"
"Layla, aku butuh saran. Saran yang benar-benar jujur."
"Kenapa suaramu aneh? Kamu baik-baik saja?"
Medelin menceritakan semuanya—pertemuan dengan Arka, tawaran gila itu, kontrak pernikahan yang tidak masuk akal. Layla mendengarkan dalam diam, hanya sesekali menggumam tidak percaya.
"Gila," kata Layla ketika Medelin selesai. "Ini kedengarannya seperti plot novel romance yang kamu baca."
"Ini nyata, Layla. Terlalu nyata."
"Dan kamu serius mempertimbangkannya?"
"Aku tidak punya pilihan lain. Besok aku akan di-drop out jika tidak bisa bayar."
Layla terdiam cukup lama. "Med, dengarkan aku. Ini kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Pria kaya, tampan, menawarkan semua yang kamu butuhkan? Pasti ada sesuatu yang salah."
"Aku tahu. Tapi apa yang harus aku lakukan?"
"Jika kamu benar-benar akan melakukannya, pastikan kamu memiliki exit strategy. Jangan sampai terjebak dalam sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan."
Setelah menutup telepon, Medelin berjalan ke jendela kecil apartemennya. Di kejauhan, Ardian Tower berdiri megah, jendela-jendela lantai atasnya masih menyala. Ia bertanya-tanya apakah Arka masih terjaga, menatap kota dari ketinggian seperti raja yang mengawasi kerajaannya.
Tiba-tiba, tanda lahir di bahunya berdetak lagi. Kali ini lebih kuat, hampir menyakitkan. Ia mengusapnya dengan bingung, tidak menyadari bahwa di langit malam, bulan purnama bersinar terang, dan kilauannya menerangi tanda lahir berbentuk bintang yang mulai berkilau dengan cahaya silver yang samar.
Sementara itu, di penthouse Ardian Tower, Arka berdiri di balkon yang menghadap ke arah apartemen Medelin. Indera serigalanya yang tajam bisa menangkap aromanya dari jarak bermil-mil—bunga melati yang bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih kuat. Aroma sihir yang terpendam.
"Dia akan mengatakan ya," gumamnya pada diri sendiri, mata ambernya berkilau dalam cahaya bulan.
Tapi di dalam hatinya, ada keraguan yang menggerogoti. Bagaimana jika gadis itu menolak? Bagaimana jika ia tidak bisa membuat Medelin mencintainya dalam waktu yang tersisa? Kutukan yang mengikatnya tidak peduli pada rencana atau keinginan manusia.
Ia melihat ke arah bulan purnama yang bersinar terang. Masih lima tahun lagi. Lima tahun untuk membuat seorang gadis muda yang keras kepala jatuh cinta pada monster seperti dirinya.
"Medelin," namanya terdengar seperti doa di bibirnya.
Keesokan paginya, Medelin bangun dengan keputusan yang sudah bulat. Ia menatap dirinya di cermin kecil kamar mandi, melihat lingkaran hitam di bawah mata hijau zamrudnya. Semalaman ia tidak bisa tidur, memikirkan semua pro dan kontra dari keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Pada akhirnya, pragmatisme menang. Tanpa uang, impiannya menjadi arsitek akan hancur. Dengan kontrak ini, ia tidak hanya bisa menyelesaikan kuliah, tapi juga memiliki kesempatan untuk memulai bisnis sendiri setelah tiga tahun.
Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Arka.
"Saya setuju dengan kontrak pernikahan. Kapan kita bisa bertemu untuk penandatanganan?"
Balasannya datang hampir seketika, seakan Arka sudah menunggu dengan ponsel di tangan.
"Hari ini, jam 2 siang. Oliver akan menjemput Anda. Selamat, calon Mrs. Ardian."
Medelin merasakan campuran antara lega dan panik. Ia baru saja menyetujui untuk menikah dengan pria yang praktis tidak ia kenal, untuk alasan yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Tapi saat ia menatap surat ultimatum dari universitas, ia tahu bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat. Setidaknya, secara finansial.
Yang tidak ia ketahui adalah bahwa keputusan itu akan membawanya ke dalam dunia yang penuh dengan rahasia gelap, kekuatan supernatural, dan cinta yang akan menguji batas-batas dari semua yang pernah ia percayai tentang realitas.
Di Ardian Tower, Arka menutup ponselnya dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun menunggu, takdir mulai berputar ke arahnya.
"Oliver," panggilnya pada asisten yang baru saja masuk ke ruangannya. "Siapkan upacara pernikahan. Kita akan menikah minggu depan."
"Upacara besar atau kecil, Sir?"
"Kecil. Sangat kecil. Hanya kita berdua, saksi, dan penghulu."
Oliver mengangguk. "Sudah saatnya, Alpha. Klan sudah menunggu Luna mereka."
"Bukan Luna," koreksi Arka. "Belum. Dia hanya istri kontrak untuk sekarang."
Tapi di dalam hatinya, Arka tahu bahwa Medelin adalah lebih dari sekedar istri kontrak. Ia adalah satu-satunya harapan untuk memecahkan kutukan yang telah menghantuinya selama 35 tahun.
Dan mungkin, jika ia beruntung, ia bisa membuat gadis itu mencintainya dengan tulus sebelum waktu habis.
Jam berdetak, bulan berputar, dan takdir dua jiwa yang berbeda spesies mulai terjalin dalam benang merah yang tidak bisa diputuskan.
