Bab 6 Bulan Purnama
Pukul 23:30 malam. Medelin duduk di ruang tamu penthouse dengan secangkir teh chamomile yang sudah dingin di tangannya. Ia tidak bisa tidur setelah percakapan aneh dengan Arka tadi sore. Pria itu telah menghilang sejak matahari terbenam, meninggalkan pesan singkat untuk tidak keluar dari penthouse apapun yang terjadi.
Sebelum pergi, Arka telah memberinya sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk bulan sabit. "Pakai ini," katanya dengan suara serius. "Jangan lepas apapun yang terjadi. Ini akan melindungimu."
Medelin memutar gelang itu di pergelangan tangannya. Logam perak terasa hangat meski seharusnya dingin. Ada ukiran kecil di bagian dalam liontin—simbol-simbol yang mirip dengan tato di dada Arka.
Bulan purnama bersinar terang di langit Dubai, cahayanya masuk melalui jendela kaca besar dan membuat ruangan tampak seperti diterangi cahaya perak. Medelin menatap bulan itu dengan perasaan tidak nyaman. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Udara terasa lebih berat, lebih... liar. Bahkan dari ketinggian lantai 40, ia bisa mendengar suara-suara aneh dari bawah—gonggongan yang tidak seperti anjing biasa, teriakan yang kedengaran seperti lolongan.
Tanda lahir di bahunya mulai terasa gatal. Medelin menggaruknya tanpa sadar, dan terkejut ketika merasakan kulit di sana terasa hangat. Ia berjalan ke cermin dan menarik kerah bajunya. Tanda lahir bintang di bahunya berkilau samar dengan cahaya silver.
"Apa yang terjadi padaku?" bisiknya pada bayangan di cermin.
Tiba-tiba, suara geraman rendah terdengar dari arah balkon. Medelin membekukan, cangkir teh hampir terjatuh dari tangannya. Suara itu tidak seperti suara manusia—lebih seperti suara binatang buas yang sedang kesakitan. Geraman yang dalam dan bergema, membuatnya merasakan getaran di dadanya.
"Arka?" panggilnya dengan suara bergetar.
Geraman itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan penuh penderitaan. Medelin bisa mendengar suara sesuatu yang jatuh, suara kain yang robek, dan yang paling mengerikan—suara tulang yang bergeser dan berbunyi keras.
Medelin perlahan bangkit dari sofa dan berjalan ke arah balkon. Jantungnya berdegup kencang, namun keingintahuannya lebih besar dari rasa takutnya. Ia telah mendengar cerita tentang werewolf sejak kecil—dongeng yang diceritakan neneknya tentang manusia yang berubah menjadi serigala di malam bulan purnama. Tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa dongeng itu nyata.
Pintu kaca balkon terbuka sedikit. Angin malam masuk membawa aroma gurun yang kering dan sesuatu yang lebih primitif—aroma hewan liar dan musk yang kuat. Medelin mengintip keluar dan melihat sosok yang membuatnya tersedak.
Arka berlutut di tengah balkon, tubuhnya bergetar hebat. Kemejanya robek-robek dan tersebar di lantai marmer, memperlihatkan punggung yang dipenuhi tato runic yang bersinar dengan cahaya keemasan. Tato itu bergerak seperti hidup, garis-garis yang mengalir seperti sungai cahaya di bawah kulitnya.
Tapi yang membuatnya hampir pingsan adalah perubahan yang terjadi pada tubuh pria itu.
Kuku-kuku Arka memanjang menjadi cakar yang tajam, menggores lantai marmer hingga meninggalkan bekas yang dalam. Gigi-giginya bertambah runcing, taring-taring mulai muncul dari gusinya. Tulang-tulang tubuhnya berbunyi keras saat merestrukturisasi diri, tulang belakang memanjang, tulang rusuk mengembang. Ototnya membesar dengan cepat, membuat tubuhnya tampak semakin besar dan threatening.
Yang paling mengerikan, rambutnya mulai tumbuh di seluruh tubuh—bulu-bulu hitam yang tebal dan berkilau di bawah sinar bulan. Wajahnya mulai memanjang, hidung dan mulutnya berubah menjadi moncong. Telinga manusianya bergeser posisi, menjadi runcing dan lebih sensitif.
"Oh Tuhan," bisik Medelin, tangannya menutupi mulut untuk menahan jeritan.
Arka—atau yang dulunya Arka—menoleh ke arahnya. Mata amber yang biasanya hangat kini berkilau liar dan berbahaya. Dalam mata itu, Medelin melihat campuran antara kesakitan yang luar biasa dan sesuatu yang primitif—naluri predator yang tidak manusiawi. Tapi masih ada kilatan kecerdasan manusia di sana, seolah-olah Arka berjuang untuk tetap sadar dalam tubuh yang sedang berubah.
"Medelin..." suaranya serak, berubah menjadi geraman yang dalam. "Masuk... ke dalam... sekarang..."
Tapi Medelin tidak bisa bergerak. Ia terpaku melihat transformasi yang terjadi di depan matanya. Tubuh Arka semakin membesar, ototnya mengembang hingga dua kali lipat, dan wajahnya sepenuhnya berubah menjadi moncong serigala. Dalam hitungan menit, pria yang kemarin menciumnya dengan lembut berubah menjadi serigala raksasa setinggi hampir tiga meter.
Serigala itu—Arka—berdiri dengan kaki belakangnya, tubuhnya yang massive memblokir sebagian cahaya bulan. Bulunya hitam kelam berkilau seperti sutera, dan dari mulutnya keluar uap nafas yang panas. Cakar-cakarnya yang tajam berkilau seperti pisau di bawah sinar bulan.
Medelin mundur selangkah, kakinya gemetar. "Arka... apakah itu benar-benar kau?"
Serigala itu mengeluarkan suara yang seperti campuran antara geraman dan erangan—suara yang penuh dengan penderitaan dan kerinduan. Perlahan, ia mendekati pintu kaca dengan gerakan yang mengejutkan gentle untuk binatang sebesar itu. Setiap langkahnya membuat lantai balkon bergetar.
"Kau... kau benar-benar serigala," bisik Medelin, suaranya hampir tidak terdengar.
Serigala itu berhenti tepat di depan pintu kaca. Ia menurunkan kepalanya yang besar, seperti meminta maaf. Kemudian, dengan gerakan yang mengejutkan lembut, ia menekan moncongnya ke kaca—seolah mencoba menyentuh Medelin melalui penghalang transparan itu.
Medelin merasakan air mata mengalir di pipinya. Entah mengapa, ia tidak merasa takut lagi. Yang ia rasakan adalah kesedihan yang mendalam—kesedihan untuk pria yang harus menjalani transformasi yang menyakitkan setiap bulan purnama.
Perlahan, ia mengangkat tangannya dan meletakkannya di kaca, tepat di tempat dimana moncong Arka berada. "Aku... aku tidak takut," bisiknya, meskipun suaranya bergetar.
Mata amber serigala itu melembut. Untuk sesaat, mereka berdua terhubung dalam keheningan yang aneh—seorang gadis manusia dan serigala raksasa, dipisahkan hanya oleh selembar kaca tapi entah bagaimana merasa lebih dekat dari sebelumnya.
Tiba-tiba, suara teriakan dan sirene mulai terdengar dari kejauhan. Serigala itu—Arka—menegakkan kepalanya, telinganya bergerak waspada menangkap suara yang bahkan tidak bisa didengar Medelin dengan jelas. Ia menggeram rendah, matanya berkilau berbahaya saat menatap ke arah kota.
"Ada apa?" tanya Medelin, meskipun ia tahu Arka tidak bisa menjawab dalam wujud ini.
Serigala itu melihat ke arah kota, kemudian kembali menatap Medelin. Dalam mata itu, Medelin melihat kekhawatiran yang mendalam dan sesuatu yang mirip dengan... rasa takut. Bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut untuk Medelin.
Suara teriakan semakin keras, disertai dengan suara ledakan kecil di kejauhan. Serigala itu mulai gelisah, berjalan mondar-mandir di balkon dengan langkah yang berat.
Arka mundur dari pintu, kemudian dengan satu lompatan yang powerful, ia melompat dari balkon lantai 40. Medelin berteriak, berlari ke tepi balkon dan melihat ke bawah. Tapi tidak ada yang terlihat—seolah-olah serigala raksasa itu menghilang ditelan kegelapan malam.
Medelin berdiri sendirian di balkon, angin malam membelai rambutnya yang bergetar karena ketakutan dan kebingungan. Dunia yang ia kenal baru saja runtuh. Pria yang dinikahinya bukan manusia. Dan entah bagaimana, dalam kedalaman hatinya, ia tahu bahwa hidup tenangnya baru saja berakhir.
Di kejauhan, suara lolongan memecah keheningan malam Dubai. Lolongan yang penuh kekuatan, kebanggaan, dan sesuatu yang terdengar seperti... panggilan perang. Suara itu diikuti oleh lolongan-lolongan lain dari berbagai arah, seolah-olah semua serigala di kota merespons panggilan Alpha mereka.
Medelin menutup mata, merasakan angin yang membawa aroma gurun dan sesuatu yang liar. Ketika ia membuka mata lagi, tanda lahir bintang di bahunya berkilau lebih terang dengan cahaya silver yang hampir menyilaukan.
Tanpa disadarinya, takdir telah mulai bergerak. Dan malam ini, bulan purnama yang pertama, adalah awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
