Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 - Pesta Perayaan Raksha Bandhan

Raksha Bandhan adalah festival Hindu yang merayakan ikatan istimewa antara saudara laki-laki dan perempuan. Festival ini berlangsung pada hari purnama di bulan Shravan, yang biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Pada hari tersebut, para saudari mengikatkan benang suci bernama rakhi di pergelangan tangan saudara laki-laki mereka. Ritual ini melambangkan cinta, perlindungan, dan janji untuk saling mendukung seumur hidup. Sebagai balasannya, saudara laki-laki berjanji untuk melindungi saudari mereka dan selalu ada untuk mereka.

Festival Raksha Bandhan menjadi tradisi indah yang menggarisbawahi pentingnya cinta persaudaraan dan nilai-nilai kekeluargaan.

Namun, bagi Durga, perayaan ini terasa berbeda. Latar belakang keyakinan neneknya dari pihak ibu berbeda dengan keyakinannya sendiri, sehingga ia terpaksa merayakan Raksha Bandhan di sebuah gedung mewah.

“Nenek!” seru Durga penuh semangat sambil berlari menghampiri neneknya, senyum bahagia merekah di wajahnya.

Sementara itu, suasana di keluarga pamannya tampak tegang. Theo Yandi, paman dari pihak ibu Durga, menggerutu dengan nada kesal. “Kenapa kita harus mengeluarkan uang banyak hanya untuk menyenangkan dia, Bu? Aku tidak suka melihatnya,” ujarnya sambil melipat tangan di dada.

Ibunya, Olivia Yandi, mencoba meredakan suasana. “Sudahlah, Theo. Ini kan perayaan pertama Durga di negara ini,” katanya dengan lembut, meski wajahnya tampak lelah.

Titin Yandi, istri Theo, mengernyitkan kening, tanda ketidaksenangannya yang jelas. “Theo benar, Bu. Dia hanya orang asing bagi kita,” timpalnya tajam.

Namun, Olivia tetap tersenyum meski ada keretakan dalam keluarganya. Ia memanggil cucunya dengan penuh kasih. “Cucuku, kemarilah. Peluk nenek, sayang,” katanya, membuka kedua lengannya untuk Durga.

Durga memeluk neneknya dengan erat, penuh kehangatan. "Gauri kangen nenek," ucapnya dengan suara lembut, menggunakan nama kecil yang biasa dipakai neneknya untuk memanggilnya.

Nenek Olivia membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang, seolah tak ingin melepaskan cucu perempuannya. "Nenek juga kangen, sayang," jawabnya sambil mengusap lembut punggung Durga.

Di sudut ruangan, Theo dan Titin memperlihatkan ekspresi tidak suka. Theo mendercak kesal, sementara Titin hanya menghela napas panjang dengan wajah masam. Kebahagiaan yang terpancar di antara Durga dan nenek mereka membuat pasangan itu semakin tidak nyaman.

"Apa para kakak laki-lakiku sudah datang, Nek?" tanya Durga penasaran sambil menatap neneknya dengan mata berbinar.

Nenek Olivia menggeleng pelan. "Sepertinya para kakak laki-lakimu belum datang, sayang," jawabnya dengan nada lembut.

Mendengar itu, wajah Durga langsung berubah masam. "Sayang sekali. Padahal Gauri ingin cepat-cepat mengikatkan gelang Rakhi ini pada mereka bertiga," gumamnya dengan nada kecewa sambil memandangi rakhi yang sudah ia persiapkan.

Melihat raut kecewa cucunya, nenek Olivia tersenyum menenangkan. "Jangan sedih, cucuku. Para kakak laki-lakimu pasti akan datang. Nenek yakin mereka tidak akan mengecewakanmu."

Durga mengangguk kecil, mencoba menguatkan hatinya. "Iya, Nek. Gauri tunggu mereka."

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah datang menghampiri mereka. Teman lama nenek Olivia, yang sudah lama tak bertemu. "Olivia, apa dia cucu perempuanmu?" tanyanya dengan nada penasaran sambil melirik ke arah Durga.

Wanita itu adalah Jenifer Diraya, nenek dari tokoh utama pria kita. Ia menghadiri perayaan Raksha Bandhan ini ditemani cucu laki-lakinya, Richard Diraya, yang berdiri dengan tenang di sampingnya.

Ketika mata Richard menangkap sosok Durga, ia terlihat terkejut. Begitu pula Durga, yang tak menyangka akan melihat Richard di perayaan ini.

Richard tersenyum lembut seperti biasanya, senyum yang selalu terlihat hangat. "Kita bertemu lagi, ya, nona kecil," sapanya dengan nada santai.

Durga, meski sedikit canggung, hanya bisa membalas dengan senyum tipis. "Haha, iya, Tuan Richard. Kita bertemu lagi malam ini," jawabnya, mencoba menutupi keterkejutannya.

"Iya, takdir ini memang lucu," ucap Richard sambil tertawa kecil. "Seolah-olah takdir memang sengaja mempertemukan kita kembali malam ini."

Percakapan mereka membuat kedua nenek mereka, Jenifer dan Olivia, saling memandang sebelum bertanya serempak, "Kalian sudah saling kenal?"

Durga dan Richard saling bertukar pandang sejenak, mencari jawaban yang tepat. Akhirnya, Richard yang memecah keheningan dengan senyum jahil khasnya. "Ya, kami pernah bertemu sebelumnya, Nenek," katanya sambil melirik Durga.

Durga mengangguk pelan, berusaha tetap tenang. "Kebetulan saja, Nenek. Kami bertemu secara tidak sengaja beberapa waktu lalu," tambahnya dengan suara lembut, meski pipinya mulai memerah.

Nenek Olivia mengerutkan kening, sedikit penasaran. "Oh, begitu? Di mana kalian bertemu?" tanyanya, matanya berkilat ingin tahu.

Richard tertawa kecil, berusaha mengalihkan perhatian. "Hanya di sebuah acara biasa, Nenek. Tidak ada yang terlalu istimewa," jawabnya sambil melirik Durga lagi.

Namun, Nenek Jenifer tampak lebih tertarik. Ia menatap cucunya dengan pandangan menggoda. "Richard, apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami?" tanyanya dengan nada menggoda.

"Nenek, tentu saja tidak," balas Richard dengan cepat, mencoba menghindari pembicaraan lebih jauh. "Aku hanya merasa takdir memang sering mempermainkan kita."

Durga hanya bisa tersenyum canggung, sementara kedua nenek mereka tampak saling bertukar pandang dengan tatapan penuh arti, seolah-olah mereka sudah memahami sesuatu yang tersembunyi di balik interaksi cucu mereka.

Di tengah suasana itu, suara salah satu pelayan memecah percakapan. "Para tamu, makanan telah disiapkan. Silakan menikmati hidangan malam ini."

Richard menyodorkan tangan dengan sopan kepada Durga. "Bagaimana kalau kita mengambil makanan bersama? Ini akan membuat pembicaraan nenek-nenek kita sedikit teralihkan."

Durga mengangguk kecil, menerima uluran tangan Richard. "Baiklah, tapi hanya untuk makan malam, ya," katanya sambil tersenyum tipis.

Kedua nenek mereka memperhatikan dengan tatapan penuh makna, sementara Richard dan Durga berjalan bersama menuju meja hidangan.

Tak lama kemudian, pintu aula pesta terbuka, dan tiga pria tampan dengan setelan jas hitam rapi melangkah masuk. Mereka adalah kakak-kakak laki-laki Durga: Arjun Kumari Singh, kakak pertamanya yang selalu berwibawa; Virat Kumari Singh, kakak keduanya yang dikenal penuh perhatian; dan Rudra Kumari Singh, si bungsu di antara ketiganya yang paling ceria.

Begitu masuk ke ruangan pesta, pandangan mereka bertiga langsung tertuju pada Durga. Wajah mereka yang awalnya serius berubah cerah, penuh kebahagiaan.

“Durga!” seru mereka hampir bersamaan. Dengan langkah cepat, ketiganya berlari menghampiri adik perempuan tercinta mereka. Tanpa ragu, mereka memeluk Durga dengan erat, menunjukkan betapa rindunya mereka.

"Adikku, kakak kangen sekali," ucap Arjun dengan suara dalam yang hangat.

"Gauri juga kangen kalian bertiga," balas Durga sambil tersenyum lebar, membalas pelukan mereka dengan penuh kehangatan.

Virat mengusap kepala Durga dengan lembut. "Kau tumbuh semakin cantik saja, ya. Apa kau merawat diri baik-baik selama jauh dari kami?" tanyanya dengan nada menggoda.

Rudra menambahkan dengan senyum ceria, "Kau tahu, kami bertiga tidak sabar menunggu untuk datang ke perayaan ini demi melihatmu."

Durga terkekeh kecil, merasa hangat dengan perhatian mereka. "Aku senang sekali kalian datang. Aku sudah mempersiapkan rakhi untuk kalian bertiga. Kalian harus memakainya malam ini, ya," ucapnya dengan semangat.

Ketiganya mengangguk bersamaan, tatapan mereka penuh kasih sayang kepada adik perempuan yang sangat mereka sayangi. Suasana haru itu membuat semua yang hadir di pesta terdiam sejenak, menyaksikan hubungan erat di antara mereka. Bahkan Richard, yang berdiri tidak jauh, tampak terkesan melihat momen tersebut.

Richard yang sejak tadi memperhatikan momen haru antara Durga dan kakak-kakaknya, tampak tersenyum kecil. Namun, senyumnya perlahan memudar ketika Rudra, kakak ketiga Durga, tiba-tiba melepas pelukannya dan menatap tajam ke arah dahi Durga.

"Gauri, apa kamu diam-diam menikah dengan pria lain?" tanya Rudra dengan nada serius, matanya terpaku pada kening Durga yang terlihat dihiasi sindur merah.

Durga terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia buru-buru menggeleng. "Tidak, Kak. Aku belum menikah," jawabnya, bingung dengan tuduhan mendadak tersebut.

"Lalu ini apa?" Rudra menunjuk tanda merah di kening adiknya dengan alis mengerut tajam.

Semua mata di ruangan langsung tertuju ke arah Durga, termasuk Richard yang tiba-tiba tertegun. Wajahnya seketika pucat, seolah menyadari sesuatu. Ia mengangkat tangan sedikit gugup dan menjelaskan dengan suara pelan, "Permisi, mungkin ini salahku. Sepertinya... darahku tidak sengaja menetes di keningnya tadi."

Suasana di ruangan mendadak hening. Semua orang tampak bingung, sementara Richard menundukkan kepalanya, mencoba menjelaskan lebih lanjut. "Tadi ketika aku memegang rakhi yang dia bawa, jariku terkena ujungnya yang tajam. Aku tidak menyadari kalau darahku mungkin menetes ke keningnya," tambahnya dengan nada menyesal.

Durga tersentak mendengar penjelasan Richard, lalu buru-buru menyentuh keningnya. Benar saja, di sana ada bercak merah kecil yang rupanya berasal dari darah. "Oh... Jadi ini..." gumamnya pelan, merasa malu sekaligus lega.

Arjun, kakak pertama Durga, menghela napas panjang dan menepuk bahu Rudra. "Rudra, tenanglah. Itu hanya salah paham," katanya dengan nada tegas, mencoba meredakan suasana.

Namun, Rudra masih tampak kesal. "Tetap saja, Richard. Lain kali hati-hati, ya. Kami bertiga sangat menjaga Gauri," ujarnya dengan nada memperingatkan.

Richard mengangguk cepat, berusaha meredakan ketegangan. "Tentu. Saya benar-benar minta maaf atas kesalahpahaman ini," ucapnya tulus.

Durga hanya bisa menatap Richard dengan ekspresi campur aduk, sementara kakak-kakaknya masih mengawasi pria itu dengan penuh kewaspadaan.

Suasana perlahan kembali tenang, meski ketiga kakak laki-laki Durga masih memandang Richard dengan sorot mata tajam. Durga merasa harus segera mengalihkan perhatian agar ketegangan tidak berlanjut.

"Kakak-kakak, mari kita selesaikan rakhi dulu. Aku sudah mempersiapkan ini untuk kalian," ucap Durga sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana.

Arjun mengangguk dan mengambil tempat di depan Durga. "Baiklah, Gauri. Kami tidak sabar melihat apa yang sudah kamu siapkan," katanya lembut, memberi isyarat pada kedua adiknya untuk mengikuti.

Durga pun memulai ritual Raksha Bandhan, mengikatkan rakhi pada pergelangan tangan Arjun, diikuti Virat, lalu Rudra. Setelah selesai, ia tersenyum penuh kasih kepada mereka. "Aku harap kalian selalu sehat dan bahagia, Kak."

Ketiganya saling berpandangan dan tersenyum, lalu mengeluarkan amplop yang sudah mereka siapkan. "Ini untukmu, adik kecil kami," kata Virat, menyerahkan amplop berisi hadiah.

Durga tertawa kecil. "Terima kasih, Kak. Tapi yang paling penting adalah kalian ada di sini bersamaku," ucapnya tulus.

Sementara itu, Richard memperhatikan dari kejauhan. Ia tersenyum kecil, namun tidak lama karena Rudra, yang masih curiga, menatapnya tajam lagi.

"Kau kenal baik dengan adik kami, Richard?" tanya Rudra tiba-tiba, nada suaranya penuh rasa ingin tahu sekaligus memperingatkan.

Richard, yang tidak menyangka akan diserang dengan pertanyaan langsung, menatap Rudra dengan tenang. "Kami pernah bertemu beberapa kali secara kebetulan. Saya menghormati adik kalian," jawabnya sopan, menjaga nada suaranya tetap rendah.

"Baik. Kalau begitu, pastikan tetap menghormati dia," balas Rudra dengan tegas, membuat suasana kembali sedikit tegang.

Nenek Olivia, yang memperhatikan interaksi tersebut, tersenyum lembut dan memotong percakapan. "Rudra, jangan terlalu keras pada Richard. Dia sudah meminta maaf, bukan?" katanya dengan nada lembut namun tegas.

Rudra mendesah pelan, lalu mengangguk. "Baik, Nek. Tapi aku tetap akan menjaga Gauri dengan baik."

Durga tersenyum kecil, berusaha menghilangkan rasa canggung. "Ayo, kita makan bersama. Jangan biarkan perayaan ini terasa kaku," ajaknya, mencoba mengembalikan suasana gembira.

Richard mengikuti langkah mereka ke meja makan, sementara dalam hati ia bertanya-tanya apakah pertemuan ini hanyalah kebetulan, atau memang takdir mulai memainkan perannya lagi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel