Bab 7 - Gelang Benang Rakhi
Musik pesta Raksha Bandhan semakin semarak, dan sorotan lampu panggung tertuju pada Durga yang melangkah ke tengah panggung dengan anggun. Ia mengenakan gaun lehenga choli berwarna kuning keemasan, yang memancarkan aura keanggunan dan keceriaan. Langkahnya penuh percaya diri, dan senyumnya memikat semua yang hadir.
Saat musik mulai mengalun lembut, Durga memulai tariannya. Gerakannya yang luwes memukau setiap tamu undangan. Keindahan tariannya menggambarkan rasa syukur dan kegembiraan atas kehadiran mereka di perayaan ini.
Richard, yang berdiri di antara kerumunan, tak bisa mengalihkan pandangannya. Ia memandang Durga dengan tatapan kagum yang mendalam. Gumamnya hampir tak terdengar, namun penuh emosi, "Cantik... sekali lagi kamu telah membuatku jatuh hati padamu, nona kecilku."
Namun, di sudut lain ruangan, Arjun, Virat, dan Rudra, kakak-kakak Durga, terus mengawasi Richard dengan penuh kecurigaan. Sorot mata mereka tajam, seolah mencoba membaca niat tersembunyi pria itu.
"Kenapa dia ada di sini?" bisik Rudra dengan nada kesal.
Virat mengangguk, wajahnya tak kalah serius. "Aku juga tidak suka dia terlalu memperhatikan Gauri."
Nenek Olivia, yang melihat tingkah ketiga cucunya, menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala, mencoba menenangkan mereka. "Kalian ini, jangan terlalu keras pada Nak Richard. Kalau kalian terus seperti ini, bagaimana adik perempuan kalian bisa menikah nanti?"
Arjun, kakak tertua, menjawab tegas, "Aku tidak suka padanya, Nenek. Dia terlalu mencolok."
Virat segera menambahkan, "Aku juga tidak suka melihat dia mendekati Gauri kita."
Rudra mengepalkan tangan, nadanya penuh emosi. "Gauri adalah tanggung jawab kami, Nenek. Kami tidak akan membiarkan pria seperti dia mendekatinya."
Nenek Olivia tersenyum tipis, tatapannya penuh makna. "Kalian tahu tidak," ujarnya pelan namun tegas, "di antara semua pria di dunia ini, hanya Richard yang bisa mengoleskan sindur pada adik perempuan kalian."
Ucapan itu membuat ketiganya terdiam sejenak, saling memandang dengan raut wajah terkejut.
"Nenek, jangan membela dia!" keluh Virat dengan nada tidak terima.
Namun, Rudra dan Arjun terlihat lebih marah. Keduanya mengepalkan tangan mereka, menahan emosi yang semakin membara.
"Tidak akan kubiarkan Gauri kami menikah dengan dia!" tegas Rudra, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Di sisi lain, Richard yang mendengar perbincangan itu hanya menghela napas dalam. Ia tahu perjalanan untuk mendekati Durga tidak akan mudah, apalagi dengan sikap protektif dari ketiga kakak laki-lakinya. Namun, di dalam hatinya, ia bertekad untuk membuktikan diri.
Suasana di dalam aula pesta mulai terasa tegang di sudut tempat keluarga Durga berkumpul. Sementara itu, di atas panggung, Durga menuntaskan tariannya dengan gemilang. Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, membuat senyumnya semakin lebar. Ia membungkukkan tubuh sedikit sebagai tanda terima kasih, lalu turun dari panggung dengan penuh percaya diri.
Durga berjalan mendekati keluarganya, wajahnya masih berseri-seri karena kegembiraan. Namun, begitu sampai di sana, ia merasakan atmosfer yang berbeda.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat tegang?" tanya Durga, memandang kakak-kakaknya satu per satu, lalu ke arah Nenek Olivia.
Arjun mencoba memasang senyum, meskipun jelas terlihat dipaksakan. "Tidak apa-apa, Gauri. Kami hanya berdiskusi... tentang sesuatu."
"Tentang sesuatu? Atau tentang seseorang?" goda Durga, tatapannya mengarah pada Richard yang berdiri tak jauh dari mereka.
Virat berdehem pelan, berusaha mengalihkan perhatian. "Bagaimana rasanya menari di depan banyak orang, Gauri? Kau tampak luar biasa tadi."
"Terima kasih, Kak," jawab Durga dengan senyum lebar. Namun, ia tidak membiarkan topik pembicaraan berpindah begitu saja. "Tapi aku tahu kalian sedang memikirkan sesuatu. Apakah ini tentang Tuan Richard?"
Richard yang mendengar namanya disebut mendekat perlahan. Ia tersenyum lembut, seperti biasa, namun dengan nada sopan ia berkata, "Maafkan saya jika kehadiran saya membuat suasana tidak nyaman. Itu tidak pernah menjadi niat saya."
Rudra memutar matanya, lalu menatap tajam Richard. "Tidak nyaman itu sudah pasti. Tapi kami tahu niatmu, Richard. Kami tidak buta."
Durga terkejut mendengar ucapan kakaknya. "Kak Rudra! Itu tidak sopan."
"Dia hanya melindungimu, Gauri," ujar Arjun, mengambil alih pembicaraan. "Kami semua hanya ingin memastikan kau aman."
Richard menarik napas panjang, mencoba menahan diri. Ia kemudian berbicara dengan nada yang penuh ketulusan. "Saya memahami kekhawatiran kalian. Adik perempuan kalian sangat berarti bagi kalian, dan itu membuat saya menghormati kalian lebih lagi."
Nenek Olivia, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Sudah cukup! Jangan buat acara ini menjadi medan perang. Richard ada di sini sebagai tamu, sama seperti kalian. Hormati perayaan ini."
Ketiga kakak laki-laki Durga akhirnya mengangguk, meski wajah mereka masih menyiratkan ketidaksukaan.
Durga, yang merasa situasi menjadi terlalu serius, mencoba mencairkan suasana. "Ayo, kita nikmati acara ini. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian semua. Tuan Richard, terima kasih sudah datang. Jangan pedulikan mereka."
Richard tersenyum kecil, mengangguk. "Tentu, Nona Durga. Saya tidak akan pergi ke mana-mana."
Namun, di dalam hati masing-masing, Arjun, Virat, dan Rudra berjanji bahwa mereka tidak akan membiarkan Richard mendekati Durga tanpa perlawanan. Perayaan Raksha Bandhan ini menjadi awal dari dinamika baru antara keluarga Durga dan Richard, yang mulai terjalin dengan campuran konflik, misteri, dan takdir.
Selesai perayaan Raksha Bandhan Arjun, Virat dan Rudra, ketiga kakak Durga memeluk Durga sebelum mereka pulang ke kampung halaman mereka malam ini. “Kami pamit pulang dulu ya, Gauri.“ ujar Arjun.
“Apa kakak-kakak tidak mau menginap dulu di sini? Aku takut kak.“ pinta Durga dengan ekspresi wajah takut.
“Maaf kan kami, Gauri. Sebenarnya kami bertiga ingin bersama mu lebih lama lagi, namun karena jadwal padat kami, kami bertiga tidak bisa menemani lagi. Maaf ya.“ ucap Virat.
Durga mengangguk mengerti, ia paham akan kondisi dan profesi ketiga kakak laki-laki nya, Arjun Kumari Singh, kakak pertama nya berprofesi sebagai Duta negara perwakilan dari tanah Hindustan. Virat Kumari Singh, kakak kedua berprofesi sebagai dokter medis jenius dan Rudra Kurana berprofesi sebagai pengacara muda jenius yang hebat. Karena pekerjaan mereka, mereka bertiga tidak bisa menemani adik perempuan mereka lebih lama lagi.
Meskipun Durga sedih karena ketiga kakak laki-laki Durga pulang lebih cepat dari jadwal nya ia mencoba tersenyum menenangkan ketiga kakak laki-laki nya, “Terimakasih sudah datang ya, kakak-kakak.“ ucapnya.
"Kalau begitu aku dan Tuan Richard akan menemani kalian bertiga sampai di dalam bandara malam ini. Tolong biarkan kami mengantar kalian." pinta Durga berkaca-kaca
Arjun, Virat, dan Rudra saling bertukar pandang ketika mendengar permintaan Durga. Raut wajah mereka menunjukkan keraguan sejenak, namun akhirnya Arjun tersenyum tipis.
"Baiklah, Gauri. Kalau itu membuatmu merasa lebih baik, kami akan izinkan," ujar Arjun dengan nada lembut.
Durga tersenyum lega, meskipun matanya masih berkaca-kaca. "Terima kasih, Kak. Aku hanya ingin lebih lama bersama kalian bertiga."
Richard, yang berdiri tak jauh, melangkah maju dengan sopan. "Jika itu keinginan Nona Durga, saya akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Saya akan menemani Anda sampai bandara."
Virat melirik Richard dengan tatapan penuh evaluasi. "Tapi ingat, Tuan Richard. Kami mempercayakan Gauri pada Anda selama perjalanan ini. Jangan coba-coba membuatnya tidak nyaman."
Richard tersenyum kecil, membalas dengan sopan. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan Virat. Saya hanya ingin memastikan Nona Durga aman."
Dengan itu, mereka semua berjalan menuju mobil yang telah disiapkan untuk perjalanan ke bandara. Malam yang dingin di luar dihangatkan oleh kebersamaan terakhir mereka.
Di dalam mobil, suasana menjadi sedikit lebih santai. Durga duduk di antara Arjun dan Virat, sementara Rudra duduk di depan bersama Richard yang mengemudikan mobil.
"Durga, apa kau benar-benar tidak keberatan kami pergi malam ini?" tanya Rudra, memutar tubuhnya sedikit untuk melihat adiknya.
Durga mengangguk pelan. "Aku sedih, Kak. Tapi aku tahu kalian punya tanggung jawab besar. Aku hanya berharap waktu bisa berjalan lebih lambat saat kita bersama."
Arjun meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat. "Kau harus percaya, Gauri. Meskipun jauh, kami selalu ada untukmu."
Virat menambahkan dengan senyuman hangat. "Dan kau harus menjaga kesehatanmu. Kami tidak ingin mendengar kau sakit saat kami pergi."
Durga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih berat. Richard, yang mendengar percakapan itu dari kursi pengemudi, merasa semakin menghormati hubungan keluarga Durga.
Setibanya di bandara, mereka semua turun bersama. Durga berjalan diapit oleh ketiga kakaknya, sementara Richard mengikuti dari belakang, memastikan semuanya berjalan lancar.
Ketika saatnya tiba untuk perpisahan, Durga memeluk mereka satu per satu, air mata mulai mengalir di pipinya. "Jaga diri kalian, Kak. Aku akan merindukan kalian semua."
"Kami juga, Gauri," balas Arjun. "Jaga dirimu baik-baik, ya?"
Ketiga kakak laki-lakinya berjalan menuju gerbang keberangkatan, sesekali melambaikan tangan ke arah Durga. Durga berdiri di sana, bersama Richard, mengantar mereka pergi dengan pandangan penuh harap dan doa.
Ketika mereka akhirnya menghilang dari pandangan, Richard mendekati Durga. "Nona Durga, Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lembut.
Durga mengangguk, meskipun matanya masih merah. "Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah menemaniku, Tuan Richard."
Richard tersenyum, menawarkan saputangan. "Kapan pun Anda membutuhkan seseorang, saya akan ada untuk Anda."
Durga menerima saputangan itu dengan senyum kecil. Malam itu, meskipun diwarnai perpisahan, membawa keyakinan baru dalam hati Durga bahwa ia tidak sepenuhnya sendiri.
