Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 - Pembunuh Bayaran

Durga perlahan membuka pintu apartemennya. Namun, saat pintu sedikit terbuka, seorang pria misterius muncul, tersenyum sinis sambil menggenggam pisau tajam. Niatnya tampak jelas ia ingin menyerang.

“Oh tidak, apa lagi kali ini?” batin Durga penuh ketakutan.

Wajahnya seketika pucat. Ketakutan merayapi tubuhnya saat menatap pria itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung kabur. Kakinya melangkah cepat, tubuhnya berlari sekuat tenaga. Nafasnya memburu, dadanya sesak karena kelelahan. Namun, ia terus memaksa diri menjauh dari ancaman tersebut.

Di tengah pelariannya, Durga merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Ia mencari ponselnya, lalu membuka kontak Richard. Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di pikirannya—Richard, kakak laki-laki Rina, teman dekatnya.

“Halo, Tuan Richard?” suara Durga bergetar saat panggilan tersambung.

Richard, yang baru saja tiba di rumah, sedikit terkejut menerima telepon dari Durga untuk pertama kalinya. Mendengar nada suara Durga yang panik, ia langsung bertanya, “Ada apa, Nona Durga?”

“Tolong... tolong aku,” suara Durga terdengar semakin resah. “Di apartemenku ada seorang pria misterius. Dia membawa pisau, dan aku yakin dia ingin menyerangku. Aku takut... aku benar-benar takut. Di negeri asing ini, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa selain Anda.”

“Tenang, Nona. Aku akan segera ke sana. Bertahanlah sebentar,” jawab Richard dengan nada serius, lalu segera bersiap menuju apartemen Durga.

Durga menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia memandang sekeliling, mencoba mencari tempat untuk bersembunyi sementara. Di sudut lorong apartemen, ia menemukan ruang kecil tempat tangga darurat. Dengan cepat, ia masuk ke sana dan berjongkok, berharap pria misterius itu tidak menemukannya.

Pikirannya penuh kekacauan. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia mengejarku? Apa yang dia inginkan?” Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti, tetapi Durga tahu ini bukan saatnya untuk mencari jawaban.

Langkah kaki terdengar mendekat, berat dan perlahan. Durga menahan napas, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia memejamkan mata, berharap pria itu akan melewatinya tanpa menyadari keberadaannya. Namun, suara langkah itu berhenti tepat di depan pintu tangga darurat.

“Durga...” suara berat pria itu memanggil namanya dengan nada dingin. “Kamu pikir bisa kabur dariku?”

Durga membekap mulutnya sendiri, menahan tangis yang hampir pecah. Dalam hati, ia terus berdoa agar Richard segera tiba.

Sementara itu, Richard mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mencoba menghubungi Durga kembali, tetapi panggilannya tak dijawab. Kegelisahan memenuhi hatinya. “Apa dia baik-baik saja? Apa aku terlambat?” pikirnya. Sesuatu dalam nada suara Durga tadi membuatnya merasa ini lebih serius dari sekadar ancaman biasa.

Begitu tiba di apartemen Durga, Richard langsung menuju lantai tempat unitnya berada. Ia tak peduli pada tatapan penasaran orang-orang di sekitar. Namun, saat ia sampai di depan pintu apartemen, ruangan itu tampak kosong. Pintu terbuka sedikit, seperti baru saja ada yang masuk atau keluar dengan tergesa-gesa.

“Durga?” panggil Richard dengan nada tegas. Tidak ada jawaban.

Richard melangkah masuk, matanya waspada memeriksa setiap sudut ruangan. Jejak kecil berupa tas yang terjatuh di lantai menarik perhatiannya. Ia segera mengambilnya dan menyadari ini milik Durga. “Dia pasti masih di sekitar sini,” gumamnya.

Di saat bersamaan, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga darurat. Richard menoleh cepat dan berlari ke arah sumber suara itu, hatinya berdebar penuh kecemasan.

Di tangga darurat apartemen, seorang pria misterius menatap tajam ke arah Durga dengan senyum sinis menghiasi wajahnya. Ia bersiap melancarkan serangan. “Kena kau!” serunya sambil mengayunkan serangannya dengan cepat.

Namun, Richard segera menangkis serangan itu. Sayangnya, pergelangan tangannya yang belum sepenuhnya pulih kembali terluka, dan darah segar mulai menetes. Tetesan darah itu jatuh tepat di dahi Durga. Durga mengusap dahinya perlahan sambil berpikir, “Sindur... Darah Tuan Richard kembali membekas di dahiku, untuk kedua kalinya. Sekali lagi, Tuan Richard melindungiku dan menyelamatkanku.”

“Nona, Anda tidak terluka?” tanya Richard dengan nada penuh kekhawatiran.

Durga menggeleng pelan. “Tidak, saya baik-baik saja, Tuan Richard,” jawabnya lirih.

Richard menghela napas lega, meskipun rasa nyeri di pergelangan tangannya jelas terlihat dari raut wajahnya. “Baguslah,” gumamnya pelan, meski sorot matanya masih menyiratkan kecemasan.

Durga memandangi Richard yang kini berdiri tegar di hadapannya, seolah menjadi tameng hidup. “Tuan Richard, tangan Anda…” katanya ragu-ragu sambil melirik pergelangan tangan pria itu yang berlumuran darah.

“Ini bukan masalah besar,” balas Richard sambil berusaha tersenyum. Ia kemudian berbalik menatap pria misterius yang kini mundur beberapa langkah, terlihat gugup. “Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Nona Durga lagi,” ucap Richard dengan nada tegas.

Pria misterius itu mendecakkan lidah, lalu menyeringai. “Kau pikir ini sudah selesai? Kalian hanya menunda yang tak terhindarkan.” Dengan gerakan cepat, dia melompat menuruni tangga darurat dan menghilang dalam kegelapan.

Durga yang masih gemetar mencoba berdiri lebih tegap. “Siapa dia, Tuan Richard? Mengapa dia menyerangku?” tanyanya dengan suara bergetar.

Richard mengalihkan pandangannya ke arah gelap tempat pria itu menghilang. “Aku belum tahu pasti,” jawabnya, mencoba tetap tenang. “Tapi yang jelas, dia bukan orang sembarangan. Anda harus lebih berhati-hati, Nona Durga.”

“Tapi… Anda terluka karena melindungi saya,” sahut Durga, rasa bersalah mengalir dalam suaranya.

Richard menatapnya lembut, lalu menggeleng. “Melindungi Anda adalah tugasku, Nona. Luka ini tidak ada artinya dibandingkan keselamatan Anda.”

Durga terdiam, dadanya terasa hangat meski pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran. Namun, saat melihat darah di pergelangan tangan Richard, rasa bersalah kembali menghantamnya. Ia meraih tangan Richard dan memandangnya dengan sorot penuh penyesalan.

“Maafkan saya, Tuan Richard. Seharusnya saya tidak memanggil Anda kemari tadi,” ucapnya dengan suara bergetar.

Air mata mulai mengalir di pipinya. Melihat itu, Richard tersenyum lembut dan mengusap kepala Durga dengan lembut. “Nona Durga, jangan menangis. Saya ikhlas menolong Anda. Bahkan saya senang, karena untuk pertama kalinya Anda membutuhkan saya.”

Richard terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tahukah Anda, Nona Durga? Sejak pertemuan pertama kita, saya sudah jatuh hati pada Anda malam itu.”

Durga terkejut mendengar pengakuan itu. Namun, ia mencoba menghentikan tangisnya dan mengucapkan dengan lirih, “Terima kasih, Tuan Richard.”

Richard terpesona melihat senyuman Durga untuk pertama kalinya. “Benar, seperti itu. Anda sangat cantik saat tersenyum, Nona kecil.”

Durga menarik napas dalam dan mengalihkan pandangannya. “Sepertinya apartemen ini tidak lagi aman untuk saya tinggali.”

“Nona Durga bisa tinggal di rumah saya,” ujar Richard spontan.

Durga menggeleng lembut. “Maaf, Tuan Richard, saya tidak bisa. Tidak pantas bagi seorang wanita untuk tinggal di rumah pria yang tidak dikenal, apalagi kita tidak memiliki hubungan apa pun.”

Richard menatapnya lekat. “Kenapa Anda merasa begitu, Nona?” tanyanya lembut.

Baginya, Durga adalah alasan ia bertahan dan melindungi. “Bagi saya, Anda adalah bidadari hati saya. Sejak pertemuan pertama kita, saya sudah jatuh cinta pada Anda,” lanjutnya penuh ketulusan.

Durga hanya bisa terdiam. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya, tapi ia memilih memendamnya untuk saat ini.

“Terima kasih,” ucap Durga pelan, sambil menundukkan wajahnya.

Beberapa saat kemudian, ia menatap Richard dengan ragu. “Tuan, malam ini… bisakah Anda menginap di apartemen saya? Hanya untuk malam ini saja. Sebentar lagi saya harus menghadiri acara penting, dan saya merasa lebih aman jika Anda di sini,” pintanya dengan nada lirih.

Richard memandangnya sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah, Nona Durga. Saya akan tinggal di sini malam ini,” jawabnya dengan tenang.

Durga tersenyum kecil sebelum beranjak masuk ke kamarnya untuk bersiap.

Beberapa jam berlalu, dan akhirnya Durga keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian lehenga choli yang elegan. Warna kainnya yang lembut dengan hiasan bordir berkilauan menyempurnakan pesonanya.

Richard yang sedang duduk di ruang tamu langsung terpaku ketika melihatnya. Mata pria itu melebar sejenak, terpesona oleh keanggunan Durga. “Kamu cantik sekali malam ini, Nona kecil,” ucapnya, tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Durga tersipu, menyentuh ujung dupatta yang menjuntai di bahunya. “Terima kasih, Tuan Richard. Pujian Anda berlebihan,” balasnya dengan senyum tipis.

Namun, Richard menggeleng perlahan, matanya tetap menatap Durga. “Tidak, saya berkata jujur. Anda benar-benar memancarkan pesona yang luar biasa malam ini.”

Durga menunduk, berusaha menutupi rona merah di pipinya. Tapi dalam hati, ia merasa senang mendengar pujian tulus dari Richard.

Sesampainya di tempat pesta, mobil yang dikendarai Richard berhenti dengan lembut di depan pintu masuk. Durga membuka pintu mobil perlahan, namun sebelum ia sempat turun, Richard dengan sigap turun terlebih dahulu dan berjalan ke sisi pintunya.

Ia mengulurkan tangan, menawarkan bantuan. “Hati-hati, Nona Durga,” katanya dengan suara lembut.

Durga menyambut uluran tangannya dengan ragu, tetapi segera tersenyum kecil. Richard membantu Durga turun dari mobil dengan gerakan penuh kehati-hatian, seolah-olah ia tengah menjaga sesuatu yang sangat berharga.

Durga melangkah turun dengan anggun, kain lehenga choli-nya bergerak lembut mengikuti langkahnya. Begitu ia berdiri tegak, Durga mendongak menatap Richard. “Terima kasih, Tuan Richard,” ucapnya pelan.

Richard mengangguk kecil sambil melepaskan tangannya dengan perlahan. “Malam ini, Anda benar-benar mempesona, Nona kecil,” katanya sambil menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangan, memastikan Durga merasa nyaman.

Dengan langkah penuh percaya diri, Durga menuju ke tempat pesta, sementara Richard tetap di belakangnya, memastikan ia aman di setiap langkahnya.

“Apakah ini tempatnya, Nona kecil?” tanya Richard sambil memandang megahnya gedung di depan mereka.

“Iya, Tuan Richard. Ini memang tempatnya,” jawab Durga dengan anggukan yakin.

Richard mengernyitkan dahi, tatapannya berubah seolah sedang mengingat sesuatu. “Aneh... tempat ini terasa familiar. Sama seperti yang pernah diceritakan nenek dulu,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Durga menatap Richard bingung. “Terima kasih sudah mengantar saya, Tuan Richard. Sepertinya kita harus berpisah di sini. Saya akan masuk ke dalam.”

Namun, Richard menghentikan langkahnya. “Tunggu. Saya juga akan masuk,” katanya dengan nada penuh keyakinan.

Durga terkejut, berbalik menatapnya. “Apa? Tuan Richard juga mau masuk? Kenapa?”

Richard tersenyum kecil. “Sepertinya saya juga diundang oleh penyelenggara acara ini,” jawabnya santai.

Durga mengerutkan kening, tak percaya. “Masa sih, Tuan Richard?” tanyanya dengan nada penasaran.

“Yah, kita akan lihat saja,” balas Richard sambil berjalan mendahuluinya ke pintu masuk, meninggalkan Durga yang semakin bingung namun juga merasa penasaran.

“Saya pergi dulu, ya, Tuan Richard. Nenek saya sudah menunggu dari tadi,” ujar Durga sambil tersenyum tipis. “Saya harus cepat, takut nenek marah kalau terlalu lama.”

Richard mengangguk pelan, matanya tetap memandang Durga. “Baiklah, Nona Durga. Hati-hati, ya. Jika ada apa-apa, beri tahu saya,” katanya dengan nada tenang namun penuh perhatian.

Durga membalas dengan senyuman singkat sebelum melangkah pergi, kain lehenga choli-nya bergerak anggun di setiap langkahnya. Meski tampak tenang, Richard tetap memperhatikan Durga sampai ia menghilang di tengah kerumunan pesta, memastikan ia benar-benar aman.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel