Bab 4 - Richard Diraya
Richard menatap Durga lebih lama, seolah mencoba membaca isi pikirannya. “Sepertinya takdir suka bermain-main dengan kita,” ujarnya dengan nada yang lebih santai namun tetap menawan.
Durga tersenyum kecil, meskipun ia berusaha menutupi kegugupan yang melanda. “Mungkin takdir memang punya selera humor, Tuan.”
Richard tertawa kecil mendengar jawaban itu. “Ah, kau humoris juga rupanya. Boleh tahu, kau kuliah di mana? Aku tak menyangka kita bisa bertemu di jalan yang sama.”
Durga mengerutkan kening sedikit, merasa agak ragu untuk menjawab. Tapi akhirnya ia berkata, “Saya kuliah di Fakultas Seni, Universitas Andalas.”
Richard tampak sedikit terkejut, namun segera menyembunyikan ekspresi itu dengan anggukan kecil. “Universitas Andalas, ya? Kebetulan aku punya keperluan di sana juga. Boleh aku antar?” tanyanya sambil menunjuk mobil sport hitam yang diparkir tak jauh dari mereka.
Durga buru-buru menggeleng. “Terima kasih, Tuan. Tapi saya lebih suka berjalan. Lagipula, kampus saya sudah tidak jauh lagi.”
Richard menatap Durga dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah ia sedang mempelajari setiap gerak-gerik wanita itu. “Baiklah, kalau begitu. Tapi bolehkah aku meminta nomormu? Siapa tahu nanti kita bertemu lagi, bukan karena kebetulan.”
Durga terdiam sejenak, merasa dilema antara mengikuti suara hatinya atau menjaga jarak. Namun, akhirnya ia menyerahkan ponselnya kepada Richard dengan tangan gemetar. Richard tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, dan mengetikkan sesuatu di layar sebelum mengembalikannya.
“Sampai jumpa lagi, Nona Durga,” ucapnya sebelum berjalan menuju mobilnya dan pergi, meninggalkan Durga yang masih berdiri terpaku di tempat.
Di dalam pikirannya, Durga mencoba memahami mengapa pertemuan dengan pria itu terasa begitu berbeda, seolah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang direncanakan takdir untuknya.
Dan di dalam mobil, Richard tersenyum sendiri sambil melirik ponselnya. Nama Durga kini ada di daftar kontaknya, dan entah kenapa, dia merasa bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sore itu, Richard tiba di rumah dengan mengendarai mobil mewah. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung disambut oleh para anak buahnya dan juga adik perempuannya, Rina Diraya, yang merupakan sahabat dekat Durga.
Tanpa diduga, Rina langsung memeluk Richard dengan erat.
"Ada apa ini?" tanya Richard heran. "Tumben sekali kamu memelukku."
Rina tersenyum tipis, "Kak Richard, terima kasih."
Richard melepaskan pelukan itu sedikit, menatap adiknya dengan bingung. "Terima kasih untuk apa, Rina?"
"Terima kasih karena Kakak sudah menolong Durga, sahabatku," jawab Rina tulus.
"Durga? Temanmu itu?" Richard mengernyit.
Rina mengangguk antusias. "Iya, Kak. Durga adalah sahabat terbaikku. Dia selalu mengerti aku. Aku sangat berterima kasih pada Kakak."
Mendengar itu, Richard kembali memeluk Rina dengan hangat. "Tidak perlu berterima kasih, Adikku. Kakak senang bisa membantu."
Dalam hati, Richard bergumam, Jadi Durga adalah teman dekat Rina...
"Ayo masuk, Kak!" ajak Rina ceria.
"Iya, mari," balas Richard, mengikuti langkah adiknya.
"Ngomong-ngomong, Mama dan Nenek sedang tidak ada di rumah," ujar Rina ketika mereka berjalan masuk.
"Oh, begitu?" sahut Richard, sedikit terkejut.
Namun langkahnya terhenti begitu melihat sosok Durga di ruang tengah. Perempuan itu sedang mengenakan celemek, tampak sibuk membantu membereskan sesuatu.
"Nona Durga?" Richard menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Kenapa kamu ada di sini?"
Durga menoleh dan tersenyum sopan. "Tuan Richard," sapanya singkat.
Tatapan Richard melembut. Ia terpana melihat Durga dalam balutan celemek yang sederhana. Dalam hati, ia memuji keanggunannya. "Kamu terlihat cantik sekali mengenakan celemek itu, Nona Durga," ucap Richard tulus. "Dan aku yakin, kamu akan terlihat lebih cantik lagi kalau kamu bersedia menjadi istriku."
Durga tertegun sejenak sebelum menjawab dengan tegas, "Maaf, Tuan Richard. Saya tidak bisa.“
"Kenapa?" tanya Richard tak percaya, matanya melebar.
Sebelum Durga sempat menjelaskan, Rina sudah meledak dalam tawa. "Kakak langsung ditolak mentah-mentah! Kasihan sekali!" canda Rina sambil menahan perutnya.
Richard hanya bisa menghela napas panjang, sementara senyum kecil tersungging di bibir Durga.
Richard mengusap tengkuknya dengan canggung, sementara Rina masih terkikik geli di sampingnya. Durga hanya menundukkan kepala, berusaha menghindari tatapan intens Richard.
"Rin, bisa tidak jangan menertawakan kakakmu sendiri?" tegur Richard dengan nada datar.
Rina mencoba meredam tawanya, meski sulit. "Maaf, Kak. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Reaksi Kakak tadi lucu sekali."
Richard menghela napas panjang, lalu menatap Durga lagi. "Jadi, Nona Durga, kenapa kamu ada di sini? Apa kamu sedang membantu Rina?"
Durga akhirnya mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan Richard. "Iya, Tuan Richard. Rina memintaku membantu menyiapkan makan malam."
"Durga pandai memasak, Kak," sela Rina, matanya berbinar. "Dia bilang ingin mencoba resep baru untuk kita semua malam ini."
Richard mengangguk perlahan, tapi tatapannya masih tak bisa lepas dari Durga. "Kalau begitu, aku akan menunggu hasilnya. Semoga masakanmu tidak mengecewakan."
Durga tersenyum tipis. "Saya akan berusaha, Tuan."
Dua jam setelah membantu Rina memasak, tiba-tiba Durga teringat sesuatu yang penting. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan menepuk dahinya. "Waduh, gawat! Aku harus pulang sekarang," gumamnya cemas.
Durga segera beranjak dari dapur dan menghampiri Richard serta Rina yang sedang berbincang di ruang tamu. "Tuan Richard, Rina, saya pamit pulang dulu, ya," ujarnya dengan tergesa-gesa.
Richard, yang sedang duduk dengan santai, menatapnya dengan kening berkerut. "Loh, kenapa buru-buru, Nona Durga? Kamu tidak ikut makan malam dengan kami?" tanyanya, terlihat terkejut.
Durga tersenyum tipis, meskipun wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Maaf, Tuan Richard. Saya ada acara penting malam ini. Jadi, saya harus segera pergi. Mohon maaf."
Sambil berkata demikian, Durga membuka pintu dan melangkah keluar dengan cepat. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah, Richard tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekatinya.
Tanpa berkata apa-apa, Richard memeluk Durga dengan tiba-tiba. Durga tertegun, matanya membelalak. Ia berusaha melepaskan diri sambil bertanya dengan nada yang sulit disembunyikan, "Apa maksudnya ini, Tuan Richard? Kenapa Anda memeluk saya seperti ini?"
Richard tampak sedikit gugup, tetapi ia segera melepaskan pelukannya dan menatap Durga dengan serius. "Aku hanya ingin memastikan kamu aman, Nona Durga. Aku akan mengantarkanmu pulang."
Durga menatapnya dengan ragu, tetapi akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, Tuan Richard. Kalau begitu, terima kasih."
Richard memberi isyarat pada sopir untuk mempersiapkan mobil, sementara Durga berdiri di dekat pintu, merasa campur aduk. Ada sesuatu dalam sikap Richard yang membuatnya sulit untuk dipahami antara perhatian dan rasa yang ia coba sembunyikan.
Richard dan Durga masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Suasana di antara mereka terasa canggung, dengan keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara mesin mobil yang melaju pelan.
Durga memalingkan wajahnya ke luar jendela, berusaha menghindari tatapan Richard. Di sisi lain, Richard diam-diam mencuri pandang ke arah Durga, seolah mencari cara untuk memulai percakapan.
“Maaf kalau tadi aku membuatmu merasa tidak nyaman,” ujar Richard tiba-tiba, suaranya tenang namun terdengar tulus.
Durga menoleh perlahan, menatapnya dengan ekspresi datar. "Tidak apa-apa, Tuan Richard. Tapi lain kali, tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi."
Richard mengangguk pelan. "Aku hanya khawatir. Malam sudah cukup larut, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."
“Terima kasih atas perhatian Anda, tapi saya bisa menjaga diri sendiri,” balas Durga singkat.
Richard hanya tersenyum kecil, lalu kembali memalingkan pandangannya ke depan. Hatinya sedikit tersentuh oleh ketegasan Durga, namun ia juga merasa ada jarak yang begitu besar di antara mereka.
Setelah beberapa menit, mobil berhenti di depan rumah sederhana yang dihuni oleh Durga. Ia membuka pintu dan melangkah turun, tetapi sebelum pergi, ia berbalik untuk menatap Richard.
"Terima kasih telah mengantar saya, Tuan Richard," ucap Durga dengan nada sopan, meskipun suaranya terdengar datar.
Richard mengangguk. "Sama-sama, Nona Durga. Hati-hati."
Durga hanya tersenyum tipis sebelum melangkah masuk ke rumahnya.
Di dalam mobil, Richard termenung sejenak sebelum akhirnya memerintahkan sopir untuk kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi oleh sosok Durga. Ia menyadari bahwa wanita itu berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui.
Di dalam rumahnya, Durga bersandar di pintu dengan napas panjang. Hatinya campur aduk antara lega dan kebingungan. Perhatian Richard yang tiba-tiba membuatnya tidak nyaman, tetapi di sisi lain, ada sesuatu dalam caranya bersikap yang sulit ia abaikan.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengalihkan pikirannya. "Aku tidak boleh terlalu memikirkan ini," gumamnya pada diri sendiri.
Namun, entah kenapa, bayangan wajah Richard tetap saja muncul dalam benaknya, membuat Durga bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan pria itu darinya.
