Bab 3 - Pertemuan Kedua Dan Perhatian Nya Pada Ku
Setelah selesai mengantar Durga pulang ke apartemennya, Richard merebahkan tubuh di sofa mewah yang berada di dekatnya. Ia menghela napas panjang, mencoba melepaskan penat. “Lelah sekali…” gumamnya pelan.
Namun, baru saja ia merasa rileks, suara seseorang membuatnya terkejut. “Richard,” panggil sebuah suara tegas.
Richard segera bangkit. Wajahnya berubah pucat saat melihat Ibunya berdiri di sana dengan ekspresi penuh amarah. Matanya menyipit tajam, seperti ingin menembus kebohongan apa pun yang mungkin ia sembunyikan.
“Kau berkelahi lagi, ya?” tanya sang Ibu dengan nada dingin dan tajam.
Richard menelan ludah, gugup. “Tidak, Ma,” jawabnya dengan suara lirih.
“Lalu apa itu kalau bukan bekas perkelahian, Richard?” Suaranya meninggi, menunjuk luka di pergelangan tangan putranya.
“Oh, tadi aku hanya tidak sengaja terjatuh, Ma,” dalih Richard, mencoba tetap tenang.
Sang Ibu menggeleng, matanya semakin menyipit. “Bohong.”
“Benar kok, Ma. Aku tidak berbohong,” Richard berusaha meyakinkan, meskipun nadanya terdengar goyah.
Richard bergumam pelan, hampir tak terdengar, “Mama terlihat seram sekali kalau sedang marah seperti ini.” Ia kembali menelan ludah, menyadari bahwa situasi ini tidak akan mudah dilewati.
Tiba-tiba, nenek Richard, Jenifer Diraya, muncul dengan ekspresi yang sama tegasnya seperti menantu perempuannya. “Dia pasti bohong, Natalie,” ucapnya yakin.
Richard mendesah, merasa terpojok. “Nenek, jangan tambah masalah, dong.”
Nyonya besar Diraya, Jenifer Diraya, hanya menghela napas panjang, matanya menatap cucu laki-lakinya dengan penuh kekecewaan. “Terserah kamu saja, Richard.”
Natalie, ibunda Richard, ikut angkat bicara sambil melirik putranya. “Ini salah Mama juga, terlalu memanjakan dia sejak kecil,” keluhnya.
Nyonya Jenifer perlahan merebahkan tubuhnya di sofa mewah yang ada di dekatnya. “Cucuku,” panggilnya lembut.
“Iya, Nek?” balas Richard tanpa semangat.
“Apa kamu tidak ada niatan untuk menikah?” tanyanya tiba-tiba, membuat Richard terdiam sejenak.
Untuk menenangkan suasana, Richard menjawab dengan nada datar, “Untuk saat ini, aku ingin fokus mengembangkan bisnis peninggalan Papa, Nek.”
Nyonya Jenifer kembali menghela napas panjang. Wajahnya tampak murung. Ia teringat teman-temannya yang sudah menimang cucu dari cucu mereka, sementara dirinya masih menunggu Richard berubah pikiran.
“Kamu sudah kepala tiga, tapi masih belum punya anak juga…” gumamnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Natalie mencoba menenangkan mertuanya. “Yang sabar ya, Ma,” katanya pelan.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benak Nyonya Jenifer. Ia teringat salah satu teman lamanya yang memiliki seorang cucu perempuan yang juga belum menikah. Dengan penuh semangat, ia menatap Richard.
“Richard, besok malam kamu ikut Nenek ke pesta, ya,” pintanya tegas.
Richard mengerutkan dahi. “Tapi, Nek, besok malam aku ada jadwal penting.”
“Itu tidak penting. Kamu harus ikut Nenek besok malam!” perintah Nyonya Jenifer tanpa kompromi.
Sementara itu, di sisi lain, Durga merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menghela napas lega, merasa senang akhirnya bisa beristirahat dengan tenang malam ini setelah kejadian di klub malam tadi.
Namun, baru saja ia memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berdering keras. Dengan enggan, Durga meraih tasnya untuk mengambil ponsel. “Halo?” ucapnya dengan nada malas.
“Gauri! Kenapa lama sekali mengangkat telepon?” terdengar suara tegas dari seberang.
Durga terkejut mengenali suara kakak laki-lakinya. “Kakak, ada apa?” tanyanya.
“Ayo kita video call. Kami, kakak-kakakmu, ingin berbicara denganmu,” jawab sang kakak dengan nada mendesak.
“Baik,” jawab Durga singkat.
Setelah beralih ke panggilan video, wajah tiga kakaknya segera muncul di layar: Arjun Kumari Singh, kakak pertama; Virat Kumari Singh, kakak kedua; dan Rudra Kumari Singh, kakak ketiga. Namun, ketiganya langsung terkejut melihat sindur merah di kening Durga.
“Gauri, apa itu? Apa kamu sudah menikah?” tanya Rudra dengan nada penuh keterkejutan.
“Oh, ini bukan apa-apa, Kak. Lagi pula, aku belum menikah,” jawab Durga sambil tersenyum kaku.
“Kalau begitu, itu apa, adikku?” tanya Arjun, kakak pertama, dengan curiga.
“Kamu tidak diam-diam menikah dengan pria lain, kan?” sambung Virat, kakak kedua, dengan nada tajam.
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Durga teringat kejadian di klub malam tadi. Ia bertemu dengan seorang pria tampan dari keluarga mafia terpandang, Richard Diraya. Pria itu berusaha melindunginya dari sekelompok pria mabuk yang berusaha melecehkannya. Dalam insiden tersebut, kening Durga tanpa sengaja teroles sindur merah dari darah Richard.
“Sudah kukatakan, Kak, aku belum menikah,” bantah Durga, mencoba meyakinkan mereka.
Namun, ketiga kakaknya tetap terlihat tidak puas. “Yang benar, Gauri?” tanya mereka hampir bersamaan.
Durga mengangguk tegas. “Iya, Kakak-kakakku, aku tidak berbohong.”
Ketiga kakaknya masih menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari tanda-tanda bahwa Durga menyembunyikan sesuatu. Arjun, sebagai kakak tertua, akhirnya angkat bicara.
“Gauri, kami ini bukan anak kecil. Kalau ada sesuatu yang terjadi, katakan saja. Kami bisa membantumu,” ucapnya dengan nada serius.
Durga menelan ludah. Ia tahu betul, jika para kakaknya mengetahui kejadian yang sebenarnya, mereka pasti akan bertindak gegabah—terutama Rudra, kakak ketiganya, yang dikenal emosional.
“Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya insiden kecil di klub malam tadi,” jawab Durga dengan suara selembut mungkin, berharap mereka tidak bertanya lebih jauh.
“Ingat, Gauri, kalau ada yang mengganggumu, kami akan turun tangan,” tegas Virat, kakak kedua, yang terkenal dingin tetapi protektif.
Durga mengangguk. “Aku tahu, Kak. Terima kasih atas perhatian kalian.”
Namun, Rudra tak semudah itu percaya. “Kamu yakin tidak ada pria yang mencoba mendekatimu? Atau mungkin seseorang yang berniat jahat?” tanyanya sambil menajamkan tatapan.
Durga tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Kak Rudra, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diri.”
Meski ragu, akhirnya Rudra dan kedua kakaknya mengalah. “Baiklah. Kalau begitu, kami akan percaya padamu kali ini. Tapi ingat, jangan sembunyikan apa pun dari kami,” ujar Arjun sambil mengakhiri video call.
Setelah panggilan berakhir, Durga mendesah panjang. Ia meraih keningnya, menyentuh sindur yang hampir memudar. Pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi malam.
Richard Diraya... Nama itu kini terukir di benaknya. Wajah tampan pria itu, keberaniannya, serta aura misteriusnya tak bisa ia lupakan. Tapi lebih dari itu, ada sesuatu dalam tatapan mata Richard yang membuatnya merasa aman, meski di tengah bahaya.
“Siapa dia sebenarnya?” gumam Durga pelan, sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia tahu, kejadian tadi malam hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang, entah bagaimana, akan mengubah hidupnya.
Di tempat mereka berdua masing-masing Richard Diraya dan Durga Kumari Singh menghela nafas panjang mereka. “Kapan aku bisa tenang…” gumam mereka berdua.
Keesokan harinya, di tengah perjalanan menuju kampus, Durga dan Richard tidak sengaja bertemu. Pandangan mereka saling bertaut, seolah takdir sengaja mempertemukan mereka kembali.
“Tuan Richard…” gumam Durga pelan, nyaris tak terdengar.
Richard tersenyum tipis, memancarkan aura percaya diri yang khas. “Kita bertemu lagi, ya, Nona,” ucapnya dengan nada tenang.
Durga terdiam sejenak, berusaha meredakan degup jantungnya yang tiba-tiba berdebar lebih kencang. “Iya, Tuan. Ini sudah kali ketiga,” balasnya dengan suara pelan, nyaris berbisik.
