Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 - Dia Telah Menyelamatkan Ku

Namun, meski Richard terlihat seperti penyelamat, Durga tidak langsung mempercayainya. Perasaannya masih campur aduk antara ketakutan, kebingungan, dan kemarahan. Ia mundur selangkah, mencoba menjaga jarak sambil menatap pria itu dengan sorot mata tajam.

“Siapa kau? Apa kau bagian dari ini semua?” tanyanya dengan suara gemetar namun penuh tekad.

Richard tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hampir tidak memberikan rasa aman. “Aku Richard Diraya. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu, Durga Kumari Singh. Sebuah nama besar dari Hindustan.”

Durga terkejut mendengar namanya disebut. “Bagaimana kau tahu tentang aku?” tanyanya, kini dengan nada penuh kewaspadaan.

Richard berjalan mendekat perlahan, tangannya dimasukkan ke dalam saku jasnya. “Dunia ini kecil, terutama bagi orang-orang seperti kita. Aku hanya ingin memastikan kau keluar dari tempat ini dengan selamat.”

Durga tetap menatapnya penuh curiga, tetapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, pria itu mengisyaratkan anak buahnya untuk mengantar para pria mabuk keluar dari ruangan. “Bawa mereka pergi. Pastikan mereka tidak pernah berani bertingkah seperti ini lagi,” perintahnya.

Pada malam itu, di salah satu ruang klub, Richard dan anak buahnya berusaha keras melawan para pria mabuk sambil melindungi Durga sebaik mungkin.

Tiba-tiba, salah satu pria dari kelompok itu secara tak sengaja melukai pergelangan tangan Richard. Darah dari luka tersebut menetes dan jatuh tepat di dahi Durga saat Richard melindunginya.

Durga terkejut dan tersentak. Ia mengusap dahinya perlahan, lalu bergumam, “Sindur merah di dahiku…”

Richard menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, lalu bertanya dengan nada khawatir, “Kamu tidak terluka, Nona?”

Durga menggeleng lembut. “Oh, tidak. Saya tidak terluka, Tuan. Tapi, pergelangan tangan Anda berdarah.”

Richard tersenyum samar, mencoba mengabaikan lukanya. “Ini bukan apa-apa, hanya goresan kecil saja,” ujarnya santai.

Namun, Durga tidak bisa mengabaikan rasa khawatir yang menggelayut dalam benaknya. Ia mendekati Richard dengan tatapan serius. "Tuan, kita harus membersihkan luka Anda sebelum terjadi infeksi," ucapnya tegas, meskipun suaranya tetap lembut.

Richard terkekeh kecil, tetapi tak mampu menolak ketika Durga menarik tangannya untuk memeriksa luka itu lebih dekat. "Sepertinya Anda cukup keras kepala, Nona," godanya.

Durga mengabaikan komentar itu. Ia menemukan kain bersih di dekat meja dan merobeknya menjadi potongan kecil. Setelah mencelupkannya ke dalam segelas air, ia dengan hati-hati membersihkan luka di pergelangan tangan Richard. Sentuhannya lembut namun cekatan.

Sementara itu, anak buah Richard telah berhasil mengusir para pria mabuk yang membuat keributan. Ruangan kini mulai tenang, meskipun aura tegang masih terasa.

"Durga," panggil Richard tiba-tiba, suaranya pelan tapi tegas.

Durga mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Richard yang tampak tajam, meski ada kelembutan di sana. "Ada apa, Tuan?"

Richard terdiam sesaat, seolah ragu untuk mengatakan sesuatu. Akhirnya, ia berkata, "Tadi, saat darahku jatuh ke dahimu, kau menyebutkan sesuatu... 'sindur merah'—itu apa?"

Durga tersentak. Ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya, tetapi nada gugupnya tak bisa ia sembunyikan. "Ah... itu hanya... sesuatu dari tradisi kami. Tidak penting," jawabnya singkat, lalu buru-buru kembali mengurus lukanya.

Namun, Richard tidak mudah dibodohi. "Durga," katanya lagi, kali ini lebih serius. "Kau tidak seperti wanita biasa. Ada sesuatu tentangmu... sesuatu yang berbeda."

Kata-kata itu membuat Durga kembali menegang. Hatinya berdebar tak karuan. Apakah mungkin Richard mulai mencurigai identitasnya? Ataukah ia hanya mencoba membaca lebih dalam tentang dirinya?

"Anda terlalu banyak berpikir, Tuan," jawab Durga akhirnya, mencoba mengalihkan perhatian. "Sekarang luka Anda sudah bersih. Pastikan untuk tidak terlalu banyak menggerakkan tangan Anda sampai benar-benar sembuh."

Richard menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Kau penuh teka-teki, Durga. Tapi aku akan menghormati keheninganmu... untuk saat ini."

Durga menunduk, diam-diam merasa lega. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa kejadian malam ini akan membawa konsekuensi yang lebih besar dari yang ia bayangkan.

Richard mengantar Durga pulang ke rumah nya dengan menaiki sebuah mobil mewah yang terpakir di luar pintu masuk klub.

Richard membuka pintu mobil mewahnya, sebuah sedan hitam berkilau yang terparkir tepat di luar pintu masuk klub. Ia mempersilakan Durga masuk dengan gerakan tangan yang sopan. "Silakan, Nona. Saya akan mengantar Anda pulang," ujarnya lembut, tetapi dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Durga ragu sejenak. "Tidak perlu repot, Tuan. Saya bisa pulang sendiri," katanya, meski dalam hatinya ia merasa tidak nyaman jika harus berjalan sendiri di malam yang gelap ini.

Richard memandangnya dengan mata tajam namun penuh perhatian. "Mengingat apa yang baru saja terjadi, saya tidak akan membiarkan Anda pulang sendiri. Naiklah," desaknya, kali ini lebih tegas.

Durga menghela napas, akhirnya menyerah pada keteguhannya. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, merasakan kenyamanan kursi kulit yang lembut di bawahnya. Richard menyusul, duduk di kursi pengemudi, dan menyalakan mesin. Dengan gerakan mulus, mobil itu meluncur keluar dari area klub, meninggalkan bayangan malam di belakang mereka.

Selama perjalanan, suasana dalam mobil terasa hening, hanya diiringi suara lembut dari radio yang menyala pelan. Durga duduk dengan tenang, tetapi pikirannya berkecamuk. Ia terus teringat pada momen ketika darah Richard jatuh ke dahinya. Kata-kata "sindur merah" yang ia gumamkan terasa seperti membangkitkan sesuatu dari masa lalu yang samar—sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Richard meliriknya sesekali dari sudut matanya. "Kau terlihat gelisah," katanya tiba-tiba, memecah keheningan.

Durga tersentak, lalu buru-buru menggeleng. "Tidak, saya baik-baik saja," jawabnya singkat, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

"Jika ada sesuatu yang mengganggu, kau bisa memberitahuku," kata Richard, suaranya terdengar tulus. "Bagaimanapun juga, kau berada di bawah perlindunganku malam ini."

Durga hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan hal-hal aneh yang berkecamuk di dalam dirinya?

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Durga. Richard keluar lebih dulu, lalu berjalan ke sisi pintu Durga dan membukanya untuknya.

"Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Tuan," kata Durga pelan sambil melangkah keluar.

Richard mengangguk. "Jaga dirimu, Durga. Jika kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku."

Durga menatapnya sejenak, lalu tersenyum lembut. "Anda sudah sangat baik malam ini. Terima kasih, Tuan."

Saat Durga hendak membuka pintu rumahnya, tiba-tiba Richard menariknya ke dalam pelukan erat. Tubuh Durga menegang, dan napasnya tertahan dalam keterkejutan. Ia merasakan kehangatan yang tak diduganya dari pelukan itu, tapi rasa terkejut lebih mendominasi.

“Lepaskan aku! Lepaskan sekarang juga!” seru Durga dengan suara gemetar, mencoba melepaskan dirinya.

Namun, Richard tak bergeming. Suaranya terdengar serak, hampir seperti bisikan, ketika ia berkata, “Maaf… tapi biarkan aku memelukmu sebentar saja.”

Durga berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu. “Tidak! Ini tidak pantas. Lepaskan aku, Tuan Mafia,” desaknya, kali ini dengan nada lebih tegas.

Mendengar nada tajam itu, Richard perlahan melonggarkan pelukannya, meskipun terlihat jelas ada rasa berat hati di matanya. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” ucapnya pelan, nyaris seperti permintaan maaf.

Durga mundur selangkah, menatap Richard dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Apa pun alasannya, ini salah. Jangan pernah lakukan ini lagi, Tuan Richard,” ujarnya dingin sebelum berbalik dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh.

Richard berdiri diam di depan pintu, menatap kepergian Durga. Dalam benaknya, ia tahu bahwa apa yang baru saja ia lakukan mungkin telah melukai kepercayaan wanita itu. Namun, di sisi lain, ia tak dapat menyangkal perasaan asing yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel