Bab 1 - Takdir Pertemuan
Durga Kumari Singh, seorang bangsawan muda dari Hindustan, memiliki ambisi besar untuk memajukan kerajaannya. Dikenal akan kecantikan, keberanian, dan ketangguhannya, Durga memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri demi memperluas wawasan. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah insiden tak terduga membuatnya terjebak dalam pernikahan dengan seorang bos mafia yang berbahaya. Di antara dunia bangsawan yang anggun dan dunia kriminal yang keras, Durga harus mencari cara untuk bertahan sekaligus tetap memegang kendali atas takdirnya. Akankah ia mampu mempertahankan kehormatannya sambil menjalani peran barunya dalam dunia penuh intrik ini?
Cerita dimulai di sebuah klub malam terkenal. Pada malam itu, Durga dan teman-temannya datang untuk bersenang-senang.
Di salah satu sudut klub, Durga mabuk berat. Tanpa ia sadari, salah seorang temannya, Karina, memiliki niat licik. Karina membujuk Durga dan membawanya ke salah satu kamar di hotel yang terhubung dengan klub tersebut.
Rina, teman mereka yang lain, kebetulan melihat apa yang terjadi. Dengan penasaran, Rina menghampiri Karina.
“Karina, kamu sedang apa?” tanyanya curiga.
“Oh, aku hanya mau membawa Durga ke salah satu kamar hotel ini,” jawab Karina santai.
“Kamu tidak mau mengantarkannya ke apartemennya saja?” Rina bertanya dengan nada skeptis.
“Tidak, ini permintaannya sendiri. Durga bilang dia sudah memesan kamar di sini. Aku hanya membantunya.”
“Masa sih?” pikir Rina, merasa ada yang janggal.
Melihat keraguan di wajah Rina, Karina mulai gelisah. Ia tersenyum tipis, mencoba meyakinkan temannya.
“Aku serius, Rina. Kamu bisa cek kalau tidak percaya,” katanya sambil membuka aplikasi ponselnya seolah ingin menunjukkan bukti.
Namun, Rina tetap merasa ada yang tidak beres. “Kalau begitu, aku ikut saja. Aku ingin memastikan Durga baik-baik saja.”
Karina terdiam sejenak, matanya menyipit. “Ikut? Hmm, terserah kamu,” jawabnya dengan nada enggan.
Mereka berdua membawa Durga, yang sudah setengah tidak sadar, menuju lift. Di sepanjang perjalanan, Rina terus mengamati Karina, mencari tanda-tanda bahwa temannya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Sesampainya di kamar yang disebut Karina, ia mengetuk pintu dengan cepat. Tak lama, seorang pria berjas hitam membukakan pintu. Wajahnya dingin, ekspresinya tak terbaca.
“Ini kamar yang Durga pesan,” ucap Karina tanpa ragu sambil menyerahkan Durga kepada pria itu.
Rina langsung merasa ada yang aneh. “Tunggu, siapa dia? Kenapa bukan staf hotel yang menerima Durga?” tanyanya, suaranya meninggi.
Pria itu hanya tersenyum kecil. “Saya teman yang dihubungi Karina untuk membantu.”
Rina menatap Karina tajam. “Apa maksudmu? Durga jelas tidak mengenalnya! Kamu bohong, kan?”
Karina mendesah, kemudian melepaskan senyumnya yang palsu. “Kamu terlalu banyak bertanya, Rina. Ini urusan yang tidak perlu kamu campuri.”
Merasakan bahaya, Rina segera menarik lengan Durga yang hampir saja dibawa masuk ke dalam kamar. Namun, pria berjas hitam dengan cepat memegang pintu, menghalangi Rina.
“Jangan main-main dengan kami,” ujar pria itu dengan nada dingin.
Rina terdiam sesaat, mencoba menenangkan diri sambil berpikir. Ia tahu ia harus bertindak cepat sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Durga.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi,” kata Rina, berpura-pura menyerah. “Tapi aku ingin Karina yang bertanggung jawab menjaga Durga.”
Karina tampak bingung, tetapi pria itu mengangguk setuju. “Bagus. Kau tahu kapan harus berhenti, Nona,” katanya sambil tersenyum sinis.
Dua jam kemudian, Durga membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, tetapi ia segera menyadari sesuatu yang tidak beres. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya berjas hitam, menatapnya dengan pandangan penuh niat jahat.
Durga terlonjak, tubuhnya gemetar oleh rasa takut yang tiba-tiba menyeruak. “Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?” serunya panik sambil mencoba menjauh.
Pria itu tersenyum sinis, langkahnya mendekat dengan santai. “Ke mana kau mau pergi, gadis manis? Jangan takut... aku hanya ingin bermain sebentar,” katanya dengan nada mengancam.
Hati Durga berdegup kencang. Ketakutan menyelimuti dirinya, tetapi ia tahu ia harus bertindak cepat. Dengan sekuat tenaga, ia melompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu.
“Tidak! Aku ingin pulang! Tolong, seseorang tolong aku!” teriaknya, suaranya bergetar antara panik dan putus asa.
Pria itu tertawa kecil, suaranya mengerikan di telinga Durga. “Hei, mau ke mana kau, gadis kecilku? Hehehe...”
Durga terus berlari, meskipun tubuhnya terasa lemah dan kakinya gemetar. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia membuka setiap pintu yang ia temui, berharap menemukan jalan keluar.
Namun, ketika ia membuka salah satu pintu di ujung lorong, tubuhnya langsung membeku. Di dalam ruangan gelap itu, sekelompok pria yang tampak mabuk berat menoleh ke arahnya. Tatapan mereka penuh dengan rasa ingin tahu yang menyeramkan.
“Eh, siapa ini?” salah satu pria itu berseru sambil menyeringai. “Cantik sekali... mau bergabung dengan kami?”
Durga tersentak, napasnya tertahan. “Tidak... aku salah masuk,” pikirnya, tetapi tidak ada waktu untuk menyesal.
Seorang pria lainnya berdiri, langkahnya goyah namun pandangannya tajam ke arah Durga. “Ayo, jangan malu-malu. Kami cuma mau bersenang-senang...”
Panik, Durga berusaha mundur, tetapi pintu di belakangnya tertutup rapat. Ia menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk melawan. “Aku harus keluar dari sini,” tekadnya dalam hati, meski ia tahu melawan mereka bukanlah hal yang mudah.
Dengan langkah tergesa, Durga meraih apa saja yang bisa dijadikan alat perlindungan. Ia tahu bahwa malam ini ia harus bertarung bukan hanya untuk kehormatannya, tetapi juga untuk menyelamatkan hidupnya.
Saat Durga bersiap melawan para pria tersebut dengan tubuh yang gemetar, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan keras. Semua orang di ruangan itu terdiam sejenak, menoleh ke arah suara tersebut.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan aura dingin dan penuh wibawa. Ia mengenakan jas hitam sempurna yang memancarkan kesan elegan sekaligus berbahaya. Di belakangnya, beberapa pria berbadan tegap berdiri, jelas sebagai pengawalnya.
“Kalian,” suara pria itu terdengar tegas, menusuk setiap sudut ruangan, “sebagai pria sejati, seharusnya kalian tahu cara menghormati wanita. Tidak ada tempat untuk pengecut seperti kalian di hadapanku.”
Wajah para pria mabuk itu berubah drastis. Beberapa dari mereka langsung mundur dengan raut ketakutan, sementara yang lain hanya terdiam, tidak berani melawan tatapan tajam pria itu.
Durga menatapnya dengan bingung sekaligus lega. Siapa dia? pikirnya.
Pria itu adalah Richard Diraya, seorang tuan muda sekaligus bos mafia yang terkenal di seluruh negeri. Ia pemimpin Grup Diraya, kerajaan bisnis yang tidak hanya kaya raya, tetapi juga penuh pengaruh di dunia bawah tanah.
Tatapan Richard beralih ke Durga yang masih berdiri terpaku di tengah ruangan. Dengan nada yang sedikit lebih lembut, ia berkata, “Kau tidak perlu takut. Aku di sini untuk memastikan kau baik-baik saja.”
Meski suaranya terdengar menenangkan, Durga bisa merasakan kekuatan besar yang tersembunyi di balik setiap kata yang diucapkannya. Satu hal yang pasti, pria ini bukan orang biasa.
