Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 – Kaisar dan Ancaman Pertama

Matahari pagi memantul di atap istana yang megah, menyoroti halaman batu dan lentera yang masih berkilau dari malam sebelumnya. Lin Yue melangkah keluar dari kamarnya, menyesuaikan langkahnya dengan suara langkah pengawal istana yang teratur. Pagi ini terasa berbeda—ada ketegangan di udara, seolah dunia istana sendiri menunggu sesuatu yang akan terjadi.

Ia menatap halaman yang ramai dengan aktivitas pelayan, pengawal, dan pejabat yang bergerak cepat. Semua tampak sibuk, namun Lin Yue segera menangkap nuansa aneh: tatapan beberapa pejabat menyelidik, bahkan beberapa pengawal yang biasanya setia terlihat waspada. Ia menyadari, dunia ini penuh dengan rahasia, dan rahasia itu tidak selalu terlihat jelas.

Kaisar Li Tianhao muncul dari arah aula utama, langkahnya tenang tapi mantap. Pakaian kerajaan emas-merahnya berkilau, mahkota kecil menambah aura wibawanya. Saat matanya bertemu dengan Lin Yue, ada sesuatu yang berbeda—senyum tipis yang menyiratkan rasa percaya sekaligus rasa penasaran yang semakin dalam.

“Lin Yue, hari ini kau akan ikut denganku ke pertemuan rahasia,” kata Kaisar, suaranya rendah namun jelas terdengar tegas. “Ada laporan dari provinsi barat—ancaman yang mungkin tidak dapat ditangani oleh pasukan biasa. Aku ingin pandanganmu.”

Lin Yue mengangguk. “Baik, Yang Mulia. Aku akan siap.” Suaranya mantap, namun hatinya berdetak lebih cepat. Pertemuan rahasia dengan Kaisar tidak hanya berarti bahaya, tetapi juga kesempatan untuk lebih dekat dan memahami dunia ini—dan Kaisar itu sendiri.

Perjalanan mereka menuju ruang rahasia istana penuh dengan keheningan yang tegang. Setiap langkah Kaisar terasa seperti nada perintah yang tanpa kata menuntun semua yang melihat untuk tunduk dan menghormati. Lin Yue, meski merasa kagum, tetap waspada. Ia tahu, di dunia seperti ini, seseorang bisa berubah dari sekutu menjadi musuh dalam sekejap.

Begitu memasuki ruang rahasia, Lin Yue melihat beberapa pejabat tinggi duduk melingkar, wajah mereka serius dan penuh perhitungan. Di meja besar terhampar peta provinsi, dengan tanda-tanda merah menunjukkan titik konflik dan wilayah yang rawan pemberontakan.

Seorang pejabat tua berdiri, menatap Kaisar dengan ketegangan yang jelas. “Yang Mulia, kelompok pemberontak dari utara dan barat bersatu. Mereka menyerang konvoi, menjarah desa, dan beberapa pengikut kita tewas. Jika ini tidak segera ditangani, mereka bisa menjadi ancaman besar.”

Lin Yue menatap peta, matanya menelusuri jalur yang rawan serangan. Insting militernya langsung bekerja—beberapa titik memang terlihat lemah, tetapi ada peluang untuk memanfaatkan medan dan kekuatan pasukan. Ia menghela napas, kemudian berbicara dengan nada tegas dan terukur.

“Jika aku boleh berpendapat, kita bisa menggunakan kombinasi formasi tradisional dan beberapa strategi modern untuk menghadapi mereka. Kita perlu membuat jebakan di lembah sempit, memaksa mereka masuk ke posisi yang kita kontrol sepenuhnya. Dengan begitu, kerugian akan minimal, dan pasukan kita tetap unggul.”

Pejabat tua itu menatap Lin Yue dengan sinis. “Seorang tamu… berani memberikan saran kepada Kaisar. Apa kau yakin ini bukan ide yang terlalu berisiko?”

Li Tianhao menatap Lin Yue, matanya menembus langsung ke jiwanya. “Aku mempercayai penilaian Lin Yue. Strategi ini memiliki kemungkinan tinggi berhasil jika diterapkan dengan tepat. Aku ingin kau memimpin implementasinya.”

Lin Yue menahan napas sejenak. Memimpin strategi di dunia masa lalu—di bawah mata Kaisar dan pengawal istana—bukan hal mudah. Tapi ia tahu, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, sekaligus membangun reputasi yang aman di mata Kaisar dan istana.

“Baik, Yang Mulia. Aku akan segera menyiapkan formasi dan memimpin pasukan.” Suaranya tegas, penuh keyakinan.

Setelah pertemuan selesai, Kaisar menatap Lin Yue dengan tatapan yang sulit diabaikan. “Lin Yue, hari ini kau menunjukkan bukan hanya kemampuan, tetapi juga keberanian. Aku ingin kau selalu berada di sisiku saat menghadapi hal-hal seperti ini. Aku percaya pada penilaianmu.”

Lin Yue menunduk hormat, tapi hatinya berdegup cepat. Ada sesuatu dalam tatapan Kaisar yang membuatnya tersadar: ini bukan hanya soal tugas dan strategi. Ada ketertarikan, pengakuan, dan sesuatu yang lebih—yang membuatnya mulai merasakan sesuatu yang hangat di hatinya.

Sore itu, Lin Yue memimpin pasukan ke lembah yang telah ia analisis. Setiap langkahnya penuh perhitungan. Ia menempatkan pasukan di posisi strategis, menyembunyikan beberapa prajurit di balik batu besar, sementara ia sendiri menunggu di garis belakang untuk mengawasi pergerakan musuh.

Saat kelompok pemberontak muncul, Lin Yue segera memberi tanda. Pasukan menyerbu, jebakan yang ia buat bekerja sempurna—pemberontak terperangkap, terpaksa menghadapi pasukan yang lebih unggul dalam posisi dan strategi. Lin Yue bergerak di garis depan, memimpin beberapa pengawal untuk menahan serangan, menggunakan gerakan yang cepat, akurat, dan mematikan.

Li Tianhao, yang mengamati dari atas bukit, matanya berbinar. Ia tersenyum tipis, bangga sekaligus kagum. “Lin Yue… bukan hanya cerdas, tapi juga tangguh.”

Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan pasukan kerajaan. Pemberontak mundur, meninggalkan lembah yang berantakan. Lin Yue berdiri di tengah medan, napasnya berat, tapi sorot matanya tetap tajam dan penuh percaya diri. Ia tahu, ini baru awal—bahaya akan terus datang, dan setiap kemenangan hanyalah langkah kecil menuju ancaman yang lebih besar.

Saat malam tiba, Lin Yue kembali ke istana. Kaisar menunggu di balkon yang sama seperti malam sebelumnya, tatapannya lembut namun penuh wibawa. Ia menyambut Lin Yue, dan untuk pertama kalinya, senyumannya lebih hangat.

“Lin Yue, hari ini kau menunjukkan keberanian dan kepemimpinan yang luar biasa. Aku ingin kau tahu, aku… mengagumi cara kau menghadapi dunia ini.” Kata-kata itu sederhana, tapi nada dan tatapannya mengandung makna yang dalam.

Lin Yue menunduk, menahan senyum tipis. Hatinya berdegup lebih cepat. Ia tahu, perasaan yang mulai muncul bukan sekadar hormat atau kagum—ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang perlahan tumbuh di antara dirinya dan Kaisar Li Tianhao.

Bulan mulai muncul di langit malam, memantul di wajah keduanya. Angin lembut malam menyapu balkon, membawa ketenangan sekaligus janji bahaya dan tantangan yang akan terus menunggu. Lin Yue menyadari satu hal: dunia ini menuntutnya untuk kuat, cerdas, dan waspada, tetapi juga mengajarinya tentang sesuatu yang jauh lebih berharga—cinta yang mulai tumbuh di tengah intrik, strategi, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut istana.

Dan malam itu, di bawah sinar bulan, Lin Yue tahu: besok akan lebih sulit, lebih berbahaya, dan Kaisar Li Tianhao… akan semakin sulit diabaikan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel