Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 – Intrik Istana dan Pertemuan dengan Musuh Pertama

Pagi berikutnya, Lin Yue sudah bangun lebih awal. Cahaya matahari menembus jendela balkon istana, menyinari halaman latihan yang kini dipenuhi suara langkah prajurit dan dentingan senjata. Ia mengenakan pakaian sederhana namun anggun yang diberikan istana—praktis untuk bergerak tapi tetap menunjukkan status barunya sebagai tamu istimewa Kaisar.

Kaisar Li Tianhao sudah menunggu di aula utama, tatapannya yang tenang namun menembus langsung ke Lin Yue membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Kali ini, ia merasa bahwa hubungan mereka mulai menimbulkan getaran yang berbeda. Tidak hanya hormat dan kewaspadaan, tapi juga rasa ingin tahu dan… ketertarikan yang samar.

“Lin Yue, hari ini aku ingin kau ikut denganku ke dewan istana. Ada beberapa hal yang harus kau ketahui tentang pemerintahan dan orang-orang yang mungkin menjadi sekutu—atau musuhmu,” kata Kaisar. Suaranya lembut, namun tegas, menekankan pentingnya langkah yang akan mereka ambil.

Lin Yue mengangguk. “Baik, Yang Mulia. Aku akan mengikuti instruksi.”

Di sepanjang jalan menuju dewan istana, Lin Yue memperhatikan interaksi para pejabat dan pengawal. Mata mereka tajam, penuh perhitungan, beberapa terlihat curiga, dan beberapa menatapnya dengan kagum. Ia menyadari bahwa dunia istana tidak hanya tentang kekuasaan Kaisar, tetapi juga tentang siapa yang bisa mengendalikan informasi, strategi, dan politik.

Saat tiba di dewan, Lin Yue terkejut melihat beberapa wajah yang sudah tampak mencurigakan—pejabat tinggi yang tampaknya iri atau merasa terancam oleh kedatangannya. Kaisar memperkenalkan Lin Yue singkat, namun jelas, “Ini Lin Yue, tamu istimewa yang memiliki perspektif berbeda dalam hal strategi dan pertahanan.”

Seorang menteri tua menatap Lin Yue dengan mata dingin, bibirnya mengepal. “Perspektif berbeda, Yang Mulia? Kita sudah memiliki strategi bertahun-tahun. Apa yang bisa seorang wanita asing bawa yang belum kami ketahui?” Suaranya sinis, jelas menimbulkan ketegangan di ruang dewan.

Lin Yue menarik napas dalam-dalam, menahan rasa panas di pipi. Ia tahu, ini adalah ujian pertama dari dunia politik istana. Dengan nada tenang dan mantap, ia menjawab, “Aku hanya seorang tamu, tapi pengalaman modernku dalam strategi dan pertahanan bisa menjadi nilai tambahan. Tidak lebih, tidak kurang.”

Mata Kaisar menatapnya, seakan menilai keberaniannya. “Cukup. Biarkan ia berbicara lagi saat diperlukan.”

Tidak lama setelah itu, seorang pelayan masuk tergesa-gesa membawa kabar: pemberontak dari provinsi utara sedang mengincar salah satu konvoi penting kerajaan. Kaisar langsung menatap Lin Yue, seakan membaca ekspresi wajahnya. “Lin Yue, ini kesempatanmu untuk menunjukkan kemampuanmu. Bawa perspektifmu ke medan nyata.”

Tanpa ragu, Lin Yue mengangguk. Ia tahu ini bukan hanya ujian kemampuan, tapi juga kesempatan untuk membangun reputasi dan menegaskan bahwa ia bukan tamu lemah. Bersama beberapa pengawal elit istana, Lin Yue berangkat menuju jalur konvoi.

Di perjalanan, ia mengamati medan dan pola pergerakan pasukan kerajaan. Tanah basah akibat hujan malam sebelumnya membuat pergerakan lebih sulit. Lin Yue menyadari beberapa titik yang rawan serangan, serta posisi di mana teknik modernnya bisa sangat efektif.

Saat konvoi mulai melintasi jalan sempit di lembah, suara langkah kaki dan bisik-bisik tiba-tiba membuatnya waspada. Lin Yue menunduk, menyentuh permukaan tanah dengan cepat, dan menyadari ada tanda-tanda jebakan—lubang tersembunyi dan tali yang terpasang rapi untuk menjatuhkan kereta kavaleri.

Ia bergerak cepat, menandai posisi bahaya kepada pengawal. Dengan gerakan yang lincah dan terkoordinasi, Lin Yue memimpin pasukan untuk menghindari jebakan pertama, menampilkan kombinasi kecepatan, refleks, dan strategi modern yang membuat pengawal dan Kaisar terkesima.

Tidak lama kemudian, serangan pemberontak dimulai—panah melesat dari atas bukit, beberapa prajurit terseret ke tanah, tetapi Lin Yue berhasil memimpin pengawalan dengan manuver yang tidak biasa bagi prajurit masa lalu. Ia melompat ke depan, menendang roda kereta yang hendak dirusak, dan memutar tubuhnya untuk menghadapi lawan dengan gerakan yang mematikan namun efektif.

Kaisar Li Tianhao menatap dari atas bukit, wajahnya serius, tapi matanya berbinar. “Lin Yue… luar biasa,” gumamnya pelan, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Pertempuran singkat itu selesai dengan kemenangan pasukan kerajaan. Pemberontak mundur, meninggalkan medan yang basah dan berantakan. Lin Yue berdiri di tengah jalan, napasnya memburu, tapi tatapannya tetap tenang. Ia menyadari bahwa kemampuan dan instingnya menjadi kunci untuk bertahan hidup di dunia yang asing ini.

Kaisar turun dari bukit, mendekatinya. “Kau telah menunjukkan keberanian dan kecerdasanmu. Ini baru permulaan, Lin Yue. Aku ingin kau tetap dekat denganku—bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai penasihat dan… pelindung.”

Lin Yue menunduk hormat, menyadari bahwa peran barunya di istana mulai jelas. Ia bukan hanya tamu asing atau prajurit misterius—ia telah menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang lebih besar, sekaligus menarik perhatian Kaisar dengan cara yang tidak bisa ia abaikan.

Saat malam tiba, Lin Yue kembali ke istana, tubuhnya lelah namun hati dan pikirannya terus berputar. Ia tahu, ancaman baru pasti akan datang, intrik politik akan semakin rumit, dan Kaisar Li Tianhao… akan semakin sulit diabaikan.

Di balkon istana, ia memandang bulan yang muncul di langit, cahaya lembutnya memantul di wajahnya. Lin Yue menarik napas dalam-dalam, menyadari satu hal: di dunia yang asing ini, keberanian, kecerdasan, dan hati yang terbuka akan menentukan hidupnya—dan mungkin juga cintanya yang perlahan tumbuh kepada Kaisar.

Ia menunduk sejenak, membiarkan bayangan bulan menari di lantai balkon, merasakan ketenangan yang jarang ia rasakan di dunia modernnya. Namun, di balik kedamaian itu, satu hal jelas di pikirannya: intrik, bahaya, dan takdir yang menunggu akan segera menuntutnya untuk bertindak. Setiap keputusan kecil bisa membawa konsekuensi besar, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Kaisar dan istana ini.

Lin Yue menarik napas lagi, meneguhkan tekadnya. Ia tahu besok akan berbeda—tantangan yang lebih besar, musuh yang lebih licik, dan peluang untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Tetapi untuk malam ini, ia membiarkan hatinya merasakan ketenangan sejenak, menatap bintang dan bulan, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di masa lalu, membiarkan dirinya memikirkan… masa depan yang mungkin ia jalani di sisi Kaisar Li Tianhao.

Dengan itu, Lin Yue berbalik masuk ke dalam istana, langkahnya mantap dan mata tetap waspada, siap menghadapi hari-hari berikutnya yang penuh misteri, intrik, dan… cinta yang perlahan tapi pasti mulai bersemi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel