Pustaka
Bahasa Indonesia

Permaisuri Cantik Dari Masa Depan

15.0K · Ongoing
Wahyu_Yudi
13
Bab
162
View
9.0
Rating

Ringkasan

Permaisuri Cantik Dari Masa Depan Lin Yue, mantan anggota pasukan khusus yang ahli dalam seni beladiri modern, selalu hidup di dunia yang penuh strategi dan bahaya. Namun, takdir menuntunnya ke sebuah portal misterius yang membawanya melintasi waktu ke era kerajaan kuno China. Di dunia yang asing, dengan aturan istana yang kaku dan intrik politik yang mematikan, Lin Yue harus bertahan hidup dengan kecerdasan, keberanian, dan keterampilan tempurnya. Saat ia menolong seorang pejabat istana dari ancaman berbahaya, perhatian Kaisar muda, Li Tianhao, tertuju padanya. Wajahnya yang tampan dan aura wibawa membuatnya sulit diabaikan, tetapi Lin Yue tahu bahwa hubungannya dengan Kaisar bisa membawa risiko yang besar. Sementara romansa tumbuh perlahan, Lin Yue juga menghadapi pemberontak, intrik istana, dan rahasia masa depan yang hanya dia yang tahu. Akankah wanita modern ini mampu menyesuaikan diri dengan dunia baru, menaklukkan ancaman yang mengintai, dan menemukan cinta sejati di sisi Kaisar tampan? “Permaisuri dari Masa Depan” adalah kisah romantis fantasi China yang memadukan aksi, intrik kerajaan, bela diri modern, dan cinta yang melintasi waktu.

FantasiRomansawuxiaDramaKehidupan MisteriusPetualanganZaman KunoWanita CantikmiliterTravel

Bab 1 – Portal yang Mengubah Takdir

Hujan deras mengguyur kota, menimbulkan genangan air di jalanan sempit. Lin Yue menunduk di bawah jaket hitamnya, langkahnya cepat, tegas, dan penuh kesadaran tinggi. Setiap gerakannya menunjukkan disiplin seorang mantan pasukan khusus—mata yang tajam, postur siap tempur, dan kesadaran situasional yang hampir instingtif.

Pagi itu, misi yang seharusnya sederhana berubah menjadi kekacauan. Targetnya bukan hanya seorang pengkhianat profesional, tetapi juga jebakan yang dipasang rapi oleh musuh lama. Lin Yue melompat ke samping saat tembakan mengenai dinding di sebelahnya. Aroma mesiu dan hujan bercampur menjadi bau yang tajam di hidungnya.

“Ini terlalu mudah…” gumamnya, menatap bayangan gelap di gang sempit. Ia tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Tubuhnya bergerak secara otomatis, menendang sebuah kotak kayu yang menghalangi jalannya sambil mengatur keseimbangan. Gerakan yang halus, cepat, dan mematikan—hasil bertahun-tahun latihan keras di markas pasukan khusus.

Langkahnya membawanya ke sebuah gedung tua yang tampak terlupakan oleh waktu. Lampu jalan tidak menyinari bangunan itu dengan baik, dan dindingnya dipenuhi lumut. Sesuatu menarik perhatiannya di dalam gedung: sebuah cahaya lembut berpendar dari lantai dasar, seperti inti energi biru yang menunggu untuk disentuh.

Lin Yue berhenti sejenak. Instingnya berteriak—“Berbahaya.” Tapi rasa penasaran yang selama ini jarang muncul, kini menguasai. Ia melangkah masuk, kaki menyentuh lantai berdebu yang retak-retak. Suara hujan di atas atap bercampur dengan dentingan logam tua di dalam gedung, menciptakan gema yang aneh.

Cahaya biru itu semakin terang saat ia mendekat. Tiba-tiba, lantai di bawahnya bergetar, seperti gedung itu sendiri sedang bernapas. Tanpa sempat menghindar, sebuah pusaran energi muncul, menariknya dengan kekuatan tak terbendung. Lin Yue menjerit, tetapi tubuhnya seolah tidak lagi ia kendalikan.

Dalam sekejap, dunia di sekitarnya berubah. Suara hujan hilang, digantikan oleh aroma dupa dan suara langkah berat di lantai batu. Ia berdiri di tengah halaman istana megah yang dipenuhi lentera merah dan emas, dikelilingi bangunan tinggi dengan atap melengkung yang elegan. Angin malam dingin menyentuh wajahnya, namun ia tahu—ini bukan kota modernnya.

Lin Yue mengamati sekeliling, mencoba menyesuaikan diri. Pakaian modernnya basah dan lengket, kontras dengan suasana kuno di sekitarnya. Di ujung halaman, sekumpulan prajurit mengenakan baju zirah emas menatapnya dengan kecurigaan. Salah seorang di antaranya melangkah maju, menatapnya tajam.

“Siapa kau? Dan dari mana datangnya di halaman istana kami?” suara prajurit itu tegas, namun ada nada keheranan.

Lin Yue mengangkat tangan, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak bermusuhan. “Aku… aku hanya tersesat,” jawabnya, nada suaranya tenang tapi tegas. Setiap kata diucapkannya dengan kesadaran bahwa satu kesalahan bisa berakibat fatal.

Saat ia berusaha menenangkan situasi, seorang sosok tinggi dan elegan muncul dari pintu gerbang istana. Gaun panjang emas-merahnya berkilau di bawah cahaya lentera—tidak, itu bukan wanita, itu seorang pria. Wajahnya menawan, mata tajam namun lembut, dan posturnya memancarkan wibawa yang alami. Kaisar—seketika Lin Yue tahu ini sosok yang berkuasa.

Li Tianhao menatapnya dengan campuran rasa penasaran dan kagum. Ia melangkah mendekat, suaranya tenang namun berat.

“Kau… berbeda dari wanita-wanita yang pernah kulihat di istana ini.”

Lin Yue menelan ludah, sadar bahwa setiap gerakannya kini diperhatikan oleh Kaisar. Tubuhnya tetap siap tempur, namun ia harus beradaptasi dengan dunia yang sama sekali asing ini. “Aku… hanya seorang pelancong yang tersesat,” jawabnya, menekankan kata “pelancong” untuk menjaga rahasianya.

Li Tianhao tersenyum tipis, tetapi matanya tetap waspada. “Pelancong, katamu… di halaman istana kami pada malam ini, kau membawa aura yang tidak biasa. Aku ingin tahu siapa namamu.”

Lin Yue menatapnya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan suara tegas. “Lin Yue.”

Kaisar mengangguk, seakan nama itu memiliki getaran yang menarik perhatiannya. “Lin Yue… Ingat baik-baik, halaman istana ini bukan tempat sembarangan. Setiap langkahmu bisa menentukan hidup atau matimu.”

Lin Yue mengangguk. Insting bertarungnya tetap waspada, namun ada rasa penasaran yang sulit dihilangkan. Ia tahu, perjalanan yang baru saja dimulai ini akan menguji bukan hanya kemampuan fisik dan strateginya, tetapi juga hati dan pikirannya.

Dan saat ia melangkah lebih dekat ke istana, Lin Yue merasa sesuatu di dalam dirinya berubah—tidak hanya karena dunia baru yang asing, tetapi juga karena tatapan Kaisar yang penuh rasa ingin tahu, seolah menyadari bahwa wanita misterius ini bukanlah orang biasa.

Hujan, ledakan, dan portal misterius hanyalah awal dari sebuah takdir yang akan mengikat Lin Yue dan Kaisar Li Tianhao selamanya.

Saat langkahnya menapak lantai batu istana yang dingin, Lin Yue merasakan kesejukan malam menyelimuti tubuhnya, namun bukan rasa dingin biasa—ada ketegangan yang mengalir di setiap sarafnya. Tatapan Kaisar yang menenangkan sekaligus menantang itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena rasa penasaran yang tak bisa ia bendung.

Di balik pintu gerbang yang megah, lentera-lentera merah berayun lembut, menyoroti wajah Kaisar yang tegas namun memesona. Setiap gerakan Kaisar terlihat seperti tarian yang penuh wibawa, seakan setiap langkahnya menuntun Lin Yue pada sebuah misteri yang belum terpecahkan. Ia sadar bahwa dunia ini bukan sekadar kerajaan kuno biasa—di sini, setiap keputusan, setiap langkah, bahkan setiap napas bisa menimbulkan gelombang yang mengubah nasib.

Lin Yue menyesuaikan posturnya, tetap siaga, namun ada satu hal yang mulai ia sadari: dunia ini, seaneh dan berbahayanya, memanggilnya untuk menjadi lebih dari sekadar seorang penyintas. Ia harus beradaptasi, belajar, dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak lama, membiarkan hatinya merasakan sesuatu yang baru.

Li Tianhao menatapnya lebih lama, senyumnya tipis namun matanya menyimpan pertanyaan yang belum terucapkan. “Lin Yue… nasibmu sudah sampai di sini, tapi apakah kau siap untuk menghadapi semuanya yang menunggumu?”

Lin Yue menarik napas dalam-dalam, menatap Kaisar dengan ketegasan yang hanya dimiliki oleh seorang prajurit modern. “Aku siap,” jawabnya, suaranya tegas namun lembut, membawa keberanian sekaligus rasa penasaran yang tulus.

Dan dengan langkah yang mantap, Lin Yue melangkah ke dalam istana, meninggalkan dunia lamanya di balik portal biru yang kini memudar. Takdirnya telah dimulai—sebuah perjalanan yang akan menguji kekuatan, strategi, dan hati seorang wanita modern, serta menyalakan percikan cinta yang perlahan akan membara di sisi Kaisar Li Tianhao.