Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

Sesampainya di depan mansion, Tristan menarik tangan Alea dengan kasar.

"Tristan, lepasin. Ini sakit…"

Tristan tak menggubris perkataan Alea.

"Tristan, ada apa?" Sarah pun terkejut dengan apa yang dia lihat. Putranya menarik kasar lengan Alea.

"TRISTAN!!!" teriak darah yang sontak menghentikan langkahnya.

"Tidakkah kau sadar sudah berbuat kasar pada Alea?"

Tristan tersadar dan melepaskan tangannya dari tangan Alea.

Dia terkejut, ternyata gadis itu sedang menangis.

"A-alea, aku…"

"Jangan ganggu aku. Dan aku ingin pulang, ini bukanlah tempatku!!!" Alea pergi meninggalkan Tristan ke kamarnya.

"Kau benar-benar memalukan, Tristan. Seperti itukah caramu memperlakukan seorang wanita? Sungguh, kau jauh berbeda dengan ayahmu. Dia selalu berbuat lembut pada mama, pada wanita dan orang-orang yang dia sayang. Tak pernah membuatnya menangis. Mungkin memang benar perkataan orang-orang diluar sana, jika dirimu itu sangat arogan. Mama sangat kecewa padamu."

Tristan mendengar perkataan sang mama yang menohok di hatinya.

"Ma, aku terbawa emosi."

"Itu bukanlah, alasan. Mama tidak mau Alea pergi dari sini. Kau harus meminta maaf padanya."

Tristan mengangguk kecil dan melangkah cepat ke kamarnya.

Tristan membuka pintu kamarnya, dia benar-benar merasa sangat bersalah.

Alea menangis dengan memeluk kedua lututnya.

"Babe,.. "

"Pergi, aku tidak mau melihatmu. Kau memang laki-laki yang kejam."

"Aku terbawa emosi, Alea. Aku merasa bersalah, kenapa Baron berkata begitu padamu."

"Kau melakukan itu seolah-olah aku lah yang salah, aku yang membuatmu marah hiks..hiks.."

"Oh, babe. Tolong jangan menangis, dadaku terasa sesak melihat kau menangis."

Tristan menuntun Alea berdiri, dan menariknya ke dalam dekapan.

"Demi Tuhan, aku menyesal, Alea.."

Lalu ponsel Alea berdering, Ansel menghubunginya.

Alea menghapus air matanya kasar. Lalu menjawab panggilan itu.

"Halo, kakak…"

"Ale, rumah kita, Ale.."

"Kakak, ada apa? Kenapa suaramu begitu?"

"Alea.."

"Kakak, jangan bercanda. Katakan sebenarnya ada apa?"

"Rumah kita habis terbakar."

Ponsel Alea terjatuh, dia benar-benar shock.

Tristan terkejut, karena melihat respon Alea dengan keadaan shock.

"Babe, ada apa?"

"Tristan, tolong.. aku mohon, bawa aku pulang. Aku mohon,"

"Hei, tenang.. kita akan pulang besok, okay."

"Tidak bisa, Tristan. Aku harus pulang sekarang!!!"

Tristan terkejut, Alea menangis histeris dan memaksanya untuk pulang sekarang.

"Oke, babe. Kita akan pulang sekarang.."

Tristan kembali mendekap erat tubuh Alea, Alea benar-benar merasa rapuh saat ini.

***

1jam 30 menit telah berlalu, kini mereka telah sampai di depan rumah Alea.

Alea menangis histeris melihat keempat orang yang disayang pun sedang bersedih di halaman rumah yang sekarang telah berubah menjadi arang.

Tristan benar-benar sangat sesak melihat gadis itu terisak tanpa henti sejak dirumahnya.

Dia menduga jika ini adalah kebakaran yang disengaja.

Kini mereka sudah berada di mansion Tristan, Alea tertidur di dalam pelukan sang kakak.

"Aku akan membawa Alea ke kamar, tolong tunjukan dimana kamarnya, tuan." Ujar Ansel pada Tristan, lalu Tony lah yang diperintahkan untuk menunjukkan dimana kamar Alea.

Ansel telah kembali ke ruang keluarga. Mereka berkumpul.

"Maaf, jika saya lancang, tuan. Apa ini ada hubungannya dengan musuh anda? Seingat saya, rumah kami dalam keadaan baik saat ditinggal." Ujar Ansel pada Tristan.

"Aku sudah mengutus seseorang untuk menyelidiki hal ini. Tolong, kalian bersabarlah. Aku akan mengganti semua hak kalian."

"Maaf, tuan muda. Bukan masalah dengan hak kami, tapi bagaimana dengan nyawa kami? Baru beberapa hari saja kami sudah kehilangan rumah. Lalu bagaimana dengan esok? Ataukah kami akan mati? Mata untuk kesenangan dirimu?" Sambung Alcander pada Tristan.

Tristan terdiam mendengar ucapan Alcander.

"Aku tidak akan kecolongan lagi, Mr. Alcander. Tolong, percayalah padaku untuk sekarang."

"Aku benar-benar shock, aku tak menyangka. Rumah yang memiliki banyak kenangan telah hancur, ya tuhan." Sambung Alana.

"Mrs. Alana, saya benar-benar minta maaf atas keterlibatan kalian dalam masalahku. Aku yang akan menggantung orang itu dengan cara ku sendiri nantinya."

Tristan terdiam sejenak.

"Sebaiknya kalian beristirahatlah, kalian pasti lelah. Kita sambung pembicaraan ini besok."

***

Pagi ini, Alea terbangun dari tidurnya dengan tatapan sendu.

Tristan menghampirinya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya.

"Morning, babe. Aku sudah menyuruh orang untuk membangun ulang rumah keluargamu yang sama persis dengan yang kemarin, semuanya akan menjamin 98% memiliki kemiripan."

"Benarkah?" Mata Alea berbinar seketika.

Tristan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Dia membelai lembut wajah Alea.

"Alea, soal kemarin.. aku benar-benar … ",

"Aku tidak apa-apa, Tristan. Lupakan saja, aku sudah tak ingin membahas hal itu. Aku yakin, kau marah karena perkataan dia yang seolah-olah membuatku seperti seorang jal,.."

"Ssst… jangan diteruskan. Aku membenci kata itu. Apalagi tertuju padamu, aku yakin kau salah gadis baik-baik."

"Tapi, Tristan.."

"Ada apa, babe?"

"Sejak kapan kita sudah akrab sampai seperti ini?"

Tristan terkekeh geli mendengar pertanyaan konyol dari Alea.

"Kenapa kau malah tertawa? Kau menyebalkan sekali, Tristan."

Tristan tersenyum miring.

Dia menarik Alea kedalam dekapannya.

"Kau membuatku semakin gila, Alea. Ingin rasanya aku…"

"Apa?"

"Memilikimu seutuhnya." Bisik Tristan di telinga Alea.

Wajah Alea merona seketika.

"Jangan menggodaku, tuan pedopile."

Tristan membelalakkan matanya, mendengar ejekan Alea.

"Kau mengejekku?"

Alea hanya tertawa, entah kenapa hal itu membuat Tristan tenang.

Ia menggenggam tangan Alea dan lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Alea. Melumat habis bibir Alea, ciuman itu pun semakin panas, Tristan tak segan menyusupkan tangannya kedalam baju Alea. Alea sedikit terkejut, namun dia kembali melayang saat Tristan menyentuh dan meremas lembut bagian dadanya.

Oh,shit!!! Dia merasa seperti akan terbang.

"Argh," Alea mendesah nikmat saat tangan Tristan memilih nipple miliknya.

Alea meremas lembut kepala Tristan.

Hingga ketukan pintu membuat mereka melepaskan ciumannya.

"Sial, mengganggu saja." Geram Tristan.

Alea terkekeh mendengar umpatan Tristan.

***

Di sisi lain, seseorang sedang tertawa puas dengan keberhasilannya.

"Kerja yang bagus, Aldo. Aku akan memberikan bonus untukmu jika misi ini selesai."

"Terimakasih, tuan. Saya pastikan semua ini akan menjadi hasil yang memuaskan untukmu."

"Aku pegang ucapanmu."

Laki-laki itu tersenyum menang.

"Itulah akibatnya jika kau ikut campur dalam urusanku, nona manis. Perlahan tapi pasti, aku akan menghancurkan kehidupan mu dan keluargamu. Hahaha"

Laki-laki itu tertawa remeh.

"Kau takkan bisa berkutik, Tristan. Harusnya aku yang menjadi penguasa, bukan dirimu. Kau membuatku merasa tidak puas dengan hasil itu. Aku akan menghancurkanmu, melalui titik lemahmu. Aku akan menghancurkanmu secara perlahan." Laki-laki itu tersenyum miring.

Dia benar-benar muak dengan Tristan. Laki-laki itu merasa iri dengannya, karena Tristan selalu saja lebih unggul dari pada dirinya. Laki-laki itu harus bisa merebut segala yang Tristan miliki. Dengan cara apapun, meskipun harus membunuh.

"Suka ataupun tidak, aku akan tetap melakukannya."

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel