Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perih

‘Kenapa? Kenapa dengan Melati?’

Aku menutup mulut dengan kedua tangan melihat tubuh lunglai Melati yang masih dikerubungi oleh orang-orang. Aku berharap ia tak kenapa-kenapa.

Tak lama, suara sirine terdengar. Sebuah mobil ambulance memasuki pekarangan dan lalu tubuh Melati diangkat masuk ke sana. Kami melihat mobilnya pergi dengan tatapan khawatir. Baru setelah mobil itu tak lagi terlihat dan suasana kembali sepi, aku mendengar kasa kusuk dari belakangku.

“Itu tadi waktu Pak Raqib nengok Bu Ayna... Lagian ngapain sih, sengaja sekali cari perhatian. Padahal acara menonton bersama ini sudah disiapkan dari beberapa hari kan. Pak Raqib bahkan repot-repot cari kolektor film jadul.”

“Iya. Dih, minimal menghargai usaha orang. Terus, ngapain juga ya dia ke panti sini. Kayak gak ada panti lain lagi. Gak tahu diri sekali. Cuma jadi penyakit.”

“Padahal sudah sama-sama tua. Kalau aku jadi Bu Melati juga mungkin sudah lama mati nelangsa karena sakit hati.”

Astaga... Rupanya orang-orang ini sudah salah sangka dan menyimpulkan yang tidak-tidak tentangku. Ini baru hari pertama, tapi aku sudah terkena fitnah berat. 

Orang-orang yang membicarakanku itu ada yang berdiri, atau duduk berkelompok-kelompok. Semua mata mereka sedang mengarah kepadaku dengan sinis. Kutatap mereka dengan mata nanar satu persatu. Dengungan gosip mereka terhenti, mungkin sadar jika aku dari tadi mendengar. Aku tua, tapi belum tuli.

Aku tidak bisa membela diri, tapi bukan berarti aku menerima saja fitnahan mereka. Mereka tak tahu apa-apa tapi dengan mudahnya menghakimiku. Setelah kuputuskan bahwa, bagaimanapun banyaknya kalimat pembelaan diri keluar dari mulutku, mereka tak akan percaya itu. Jadi aku hanya menghembuskan napas panjang dan menelan kata-kata yang akan keluar, toh akan percuma.

Asumsi telah terbentuk, dan batinku sudah cukup lelah. Benar kata mereka, kita sudah sama-sama tua. Dan aku tak ingin dipusingkan dengan memikirkan pendapat mereka. Lagipula, mereka bukan siapa-siapa, tak penting.

Kuseret langkah tua ini kembali ke kamar, aku tahu sekali jika tatapan mereka masih tajam ke arahku karena punggung ini rasanya panas terbakar. 

Sesampainya di kamar, aku melihat tas besar yang tadi separuh isinya sudah kupindahkan ke lemari kecil di samping kasur. Dengan emosi yang membuncah, aku mengembalikan pakaian yang telah kutata rapi itu kembali ke dalam tas.

Rasanya, hidupku berantakan sejak kematian Mas Afnan. Tak ada yang benar.

Kejadian barusan menjadi penguatku untuk segera pergi dari sini dan mengakui kekalahan untuk kembali ke rumah tua itu. Tapi... Malam-malam begini bagaimana caranya aku kembali? Sekarang bukan jamannya lagi taksi kosong lewat, dan karena taksi online tak ada bedanya dengan mobil pribadi jadi aku tak bisa memberhentikan mobil orang sembarangan.

Mungkin aku bisa meminta tolong bantuan Indah, dia sepertinya tulus. Tapi mau keluar, orang-orang itu masih berkumpul di lobi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00 tapi kenapa orang-orang tua itu tak mengantuk? Kembalilah kalian ke kamar masing-masing. Urus akhirat ketimbang menumpuk dosa.

Kalau niatku mau pergi diam-diam dari sini, aku harus menunggu sampai semua kembali ke kamar masing-masing. Biarlah dikatakan kalah, aku tak peduli. Aku tak mencari simpati, apalagi perhatian seperti yang mereka bilang. Astaga... Rasanya hati ini panas sekali, begini rasanya mendapatkan fitnahan padahal aku tak melakukan apa-apa.

Bagaimana rasanya menjadi Maria? Yang jelas-jelas jadi istri kedua dan menyembunyikan pernikahan mereka dengan begitu rapinya sehingga tak tercium olehku hingga puluhan tahun lamanya?

Mengapa ia tak keberatan suaminya tak pernah ada di dekatnya layaknya sebuah keluarga normal? Karena, 80% waktu mas Afnan di rumah jika ia tak sedang bekerja. Jarang sekali ia kemana-mana, keluar makanpun selalu mengajakku dan anak-anak serta. Bagaimana aku bisa curiga? 

Apakah yang 20% itu adalah waktu untuknya? Kala mas Afnan pergi keluar kota, kala lembur kerja, rekreasi kantor yang katanya tak usah membawa keluarga? Kondangan pun mas Afnan tak pernah membawaku serta... Aku terima saja, karena katanya memang syaratnya begitu. Kau tak pernah mengenalkanku pada teman-temanmu.

Mengingat itu, aku buru-buru menelusuri foto-foto kirimannya yang mengabari kegiatan hari-harinya dan mendapatkan kenyataan yang semakin membuatku sakit.

Di sana ada Maria, walau pose mereka tak sedang bergandengan tangan atau berdiri bersisian, tapi aku bisa melihat sosoknya berada di latar belakang. Foto itu saat kemarin mas Afnan bilang acara night party kantor.

Lalu kutelusuri lagi kiriman foto-foto dari kegiatannya yang lain, dan benar saja... Selalu ada Maria di sana. Bahkan di foto arisan kantor katanya itu, yang lain membawa istri dan semua berfoto berjajar sesuai dengan pasangannya, aku tak pernah menyadari Maria yang tersenyum lebar di barisan belakang, sementara para lelaki jongkok di depan.

Maria di sana, menggantikan posisiku... Ialah tropi yang kau bawa kemana-mana dengan bangga, bukan aku.

Maria memang berdandan dengan sangat elegan, tas jinjing mahal di tangan, blouse keluaran desainer kenamaan, aku tahu karena pekerjaanku dekat dengan dunia itu sehingga kenal dengan pola cuttingannya. Make up tipis namun tampak sempurna menambah ia yang memang dasarnya sudah cantik.

Sementara aku... Aku menunduk melihat pakaian yang melekat di badan. Sweater tua yang sudah brudul hasil sulamanku, rok hasil jahitan sendiri dari kain sisa.

Bahkan yang lebih menyakitkan adalah... Foto-foto rekreasimu dengan anak-anak satu bulan sekali yang selalu kau kirimkan untukku. Katamu itu adalah acara bapak saja dengan anak-anak. Apresiasi terhadap istri yang sudah lelah bekerja setiap hari tanpa henti. Kau bilang waktu itu, “Istirahatlah sabtu minggu ini tanpa harus pusing mengurusi kami. Setidaknya, ini yang bisa kuberikan untukmu setelah belasan tahun membersamai.” Aku terharu kala itu, dan weekend sunyi tanpa kalian itu kuhabiskan dengan lembur menyelesaikan pesanan baju... 

Padahal, weekend satu bulan sekali itu adalah jatahnya Maria denganmu dan anak-anak kita. Aku melihat tawa Hamim dan Hana bersama laki-laki kecil yang mirip dengan Riko, anak kalian. Sungguh, semua kebohongan kalian tertata dengan begitu rapinya.

Bahkan Hamim dan Hana. Mengapa mereka begitu tega? Dunia boleh membalikkan punggung mereka padaku, tapi kenapa harus kalian juga?? 

Kenapa semua kedokmu terbongkar saat kau sudah meninggal mas? Aku tak bisa marah, tak bisa protes, tak bisa membuatmu merasakan sakit yang kurasakan. Tak bisa meninggalkanmu untuk hidup berdua dengan wanita itu.

Kembalikan setidaknya dua puluh tahun saja dari hidupku. Jika aku tahu lebih dulu, aku akan meninggalkanmu, membiarkanmu menjalankan mimpi keluarga ideal yang kau inginkan itu.

Dengan begitu aku juga, punya kesempatan untuk mengatur hidupku sesuai arah yang kumau, armada yang akan membawa kapalku jauh, sejauh-jauhnya melintasi cakrawala. Selelah-lelahnya sampai aku puas dengan bagian cerita yang kubuat sendiri.

Jika bandingannya adalah ini, maka aku tak akan pernah takut sepi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel