Ingkar
Aku menengok jam di dinding, pukul 20.30 WIB. Artinya di tempat Hamim di Budapest sana masih lepas tengah hari, mungkin baru saja selesai makan siang. Aku nekat menghubunginya. Pada hitungan ketiga baru teleponku diangkat. Sejak mereka remaja, Hamim dan Hana seolah mengucilkanku. Aku dulu tak ambil pusing akan itu dan fokus untuk mempersiapkan kebutuhan mereka saja.
Sikap mereka mungkin turunan sang papa yang memperlakukanku layaknya petugas bantu-bantu. Dingin dan tak terbuka, walaupun aku telah mencoba memulai obrolan dengan ceria.
[“Halo? Ada apa ma? Hamim mau meeting sebentar lagi, Hamim harap ada hal yang penting.”]
Belum juga aku berbicara, Hamim telah menguarkan ancaman. Mengapa anak laki-lakiku berubah menjadi seperti ini? Mengapa tak ada rasa sayang dan hormat pada mamanya sendiri?
[“Hamim, mama... Boleh minta pindah tidak? Carikan panti yang lain lagi?”]
[“Kenapa sih ma?! Itu Hamim sudah carikan yang paling bagus untuk mama. Ulasannya di google bagus. Mama jangan nyusahin dong, Hamim sudah deposit sampai 1 tahun ke depan. Itu depositnya pakai uang ma, bukan daun.”]
[“Satu tahun? Tapi kata Hamim kemarin mau bawa mama ke tempat Hamim kalau Claris setuju... Apa mama telepon Claris dulu? Mama juga kangen cucu-cucu mama...”]
[“Gak bisa ma. Claris kerepotan mengurus dua anaknya, gak bisa kalau ketambahan mama juga. Mama di situ saja, Hamim gak punya biaya tambahan lagi kalau mau mindahin mama. Sudah ya ma, Hamim harus meeting sekarang.”]
[“Tapi Ham-,”]
Klik.
Belum juga aku sempat melanjutkan obrolan telepon itu telah ditutup secara sepihak oleh Hamim. Kugenggam erat telepon itu, kuremat-remat agar air mata tak lagi tertumpah.
Oh betapa sudah tak ada harganya lagi hidup...
Tok Tok
Suara ketukan pelan pada pintu yaang membuatku terkejut, kupikir sudah tak ada orang lagi di sini dan lagi film yang diputar pasti baru sampai separuh jalan.
“Siapa?” Tanyaku tak langsung menghampiri seseorang di balik pintu.
“Mm... Ini aku Ayna, Raqib. Apakah kau baik-baik saja?” Mendengar suaranya saja aku tahu bahwa itu dia, apa maunya? Apa tadi ia mendengar percakapanku dengan Hamim? Padahal aku tadi ke sini karena ingin menghindarinya, malah ia yang datang sendiri.
Aku jadi tak enak hati pada Melati.
“Aku baik-baik saja Mas. Ini jam tidurku biasanya dan aku sudah mengantuk, maaf.”
“Oh tidak apa-apa, lain kali aku akan memajukan jadwal pemutaran film saja menjadi lebih sore agar kau dapat ikut menonton hingga selesai. Selamat istirahat, Ayna.”
“Iya, terimakasih.”
Kudengar langkah Mas Raqib menjauh dari pintu, aku menghembuskan napas lega, tak sadar jika sedari tadi gugup.
Pintu setiap kamar tidak memiliki kunci, aku tahu itu demi keselamatan para penghuni dan kemudahan akses petugas dalam merawat kami. Namun tetap saja aku merasa kurang nyaman, terlalu terbiasa hidup dengan perasaan aman.
Walau itupun tak menjamin bahwa semua benar-benar dalam genggaman...
Tunggu, mas Raqib mau memajukan jadwal pemutaran film hanya untuk menuruti jadwal tidurku? Apa tidak berlebihan? Ia malah membuatku semakin merasa tak nyaman. Perhatian-perhatiannya itu... Tidak pada tempatnya.
Setelah mengetahui bahwa mas Raqib beristri, aku seharusnya tak di sini. Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman antara ia dan istrinya. Walaupun kami sudah sama-sama tua, namun sampai kapanpun hati itu harus dijaga.
Lebih-lebih aku tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati seorang suami. Aku tak ingin ada perempuan lain lagi yang merasakan nelangsanya, kecewa, tak berharganya. Apalagi jika sumber masalahnya adalah aku.
Bagaimana ini, posisiku serba salah. Apakah lebih baik jika aku kembali saja ke rumah yang telah kupamiti itu? Rumah penuh luka dan kenangan? Dengan resiko aku akan berubah menjadi orang tua tak waras?
Kucari buku tabungan dalam tas jinjingku, mengintip nominal yang tercetak di dalamnya dan mendapati deretan angka yang tinggal tersisa dua digit saja. Aku menarik napas berat.
Sebelum kematianmu, kau meminta tabungan kita yang jumlahnya hampir menyentuh angka 1 milyar itu untuk main saham, katamu. Ada teman yang menawarkan untuk investasi dengan iming-iming persen return yang besar.
Kamu bilang bahwa keuntungannya itu bisa kita pakai untuk biaya hidup, ketimbang ditaruh di bank, bunganya kecil, malah kesedot untuk biaya administrasi. Aku yang awalnya keberatan karena sejujurnya itu bukan dari uang nafkah yang kau berikan padaku. Melainkan uang dari hasil menjahit dan menyulamku yang sebagiannya kupakai untuk menambal sulam kebutuhan yang kurang dari uang bulanan yang kau berikan padaku.
Sebagiannya kutabung karena aku tahu bahwa masa depan serba tak pasti. Namun dengan tak tahu malunya waktu itu kau bilang bahwa itu adalah kelebihan nafkah yang kau berikan untukku.
Sebagai istri yang baik, aku menurut. Bodoh, sungguh bodoh...
Aku ingat pujianmu waktu itu yang bilang, “Kau memang istri yang baik Ayna...”
Saat itu kupikir, pujian itu tulus atas apresiasimu pada usaha kerasku. Tapi rupanya karena, engkau membandingkanku dengan istri mudamu yang selalu menuntut itu. Aku membiayai perselingkuhanmu, dengan tetes keringatku...
Dari tangan lelah dan keriput yang telah gemetar kala menyulam karena otot lenganku telah lelah dan menua lebih dulu. Dari mata rabun yang mencari lubang pada jarum, dari malam-malam begadang yang kuhabiskan dibalik lelapmu, lelap kalian...
Jika semudah itu menarik simpatimu, buat apa aku bersusah payah? Aku akan jadi istri manja dan penuntut yang hari-hari sibuk bersolek diri. Aku tak peduli bagaimana jatuh bangunmu, aku hanya bersedia jika semua ditakar dengan uang.
Dua digit ini, adalah penentu hidupku sampai akhir hayat. Haruskah aku kembali ke sana? Beranikah aku, melangkah dan menentukan jalan hidup sendiri? Di ujung hari, sepi atau ramai, bukankah aku sudah tak peduli?
Yang mati tak akan memedulikan perkara dunia. Yang dipikirkan adalah amalan semasa hidupnya, jadi buat apa takut mati sendiri, kan?
Malaikat tak akan menanyakan pukul berapa mayatku ditemukan, tak akan bertanya berapa pelayat yang datang, siapa saja yang merasa kehilangan...
Saat aku sedang sibuk memikirkan keputusan yang akan kuambil, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Teriakan dan isak tangis. Ada apa?
Aku keluar untuk melihat keadaan. Di ujung lorong tampak beberapa orang lewat dengan mengangkat seorang secara bersama-sama.
“Di sofa panjang! Bawa kesana!” Perintah mas Raqib sambil tak melepaskan dekapannya pada tubuh orang yang sedang diangkat. Aku mengikuti mereka, ingin tahu siapa yang sedang mereka coba selamatkan.
“Indah, telepon Rumah Sakit!” Perintah mas Raqib pada sus Indah yang tampak terguncang. Aku semakin penasaran pada sosok tersebut.
Langkah kakiku terhenti kala melihat kain yang menyembul, dipadukan dengan sandal sang empunya kaki.
Melati.
Kenapa? Ada apa? Kami baru saja berbincang-bincang dan terakhir kutinggal tadi ia tampak begitu sehat penuh energi kehidupan.
