Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kabur

Setelah sekian lama, baru malam ini aku menahan mata untuk tak menutup. Menunggu orang-orang jompo itu bubar dari lobi. Sudah pukul 10.30 WIB, seharusnya orang-orang itu kembali ke kamarnya masing-masing. 

Mulai terdengar langkah-langkah kaki menjauh dari ruang depan itu. Aku berdiri dan dengan sigap mematikan lampu kamar, agar mereka tak curiga kenapa lampuku masih menyala.

Di gelapnya kamar aku meraba-raba agar sampai di kasur dan duduk di pinggirnya situ. Saat melewati pintu kamarku, kudengar langkah mereka terhenti, tampak bayang-bayang mereka menembus celah bawah pintu, mereka masih menyempatkan diri untuk berkomentar.

“Lihatlah, tak tahu malu. Padahal yang membuat Bu Melati kolaps itu dia, tapi dia bisa-bisanya tidur nyenyak.”

“Namanya juga pelakor, itu ya kata anak-anak muda jaman sekarang? Tebal muka. Sudahlah, gak habis-habis kalau ngomongin orang yang gak punya perasaan. Bukannya mendo’akan suaminya yang baru meninggal, malah sibuk cari perhatian sama suami orang.”

“Kurang perhatian mungkin ya.”

“Tapi kan sudah menopouse?”

“Ya mana tahu?! Siapa tahu masih gatel! Hihihi...”

Nenek-nenek peyot itu berlalu sambil terkikik dari depan pintu kamarku. Aku menggenggam kerah baju dengan kuat menahan suaraku agar tak keluar membalas tuduhan-tuduhan kejam mereka. 

Jika aku ceroboh, maka rencanaku akan bubar berantakan. Walau air mata tak sanggup kutahan, air mata kesal. Kesal karena aku tak punya bukti untuk membalas kata-kata mereka. Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri jika bersikeras membela diri.

Mereka bahkan tahu jika suamiku baru saja meninggal, dari mana coba mereka dapat informasi tentang itu. Apakah dari Mas Raqib? Atau Melati? Atau sudah suatu hal yang wajar jika janda-janda ke panti jika suaminya sudah tiada?

Kutunggu lagi dalam gelap 20 menit lamanya, sampai lampu-lampu di ruang bersama dipadamkan diganti dengan lampu redup. Kutajamkan pendengaran untuk memastikan langkah Indah sudah tak terdengar mondar-mandir.

Aku menggenggam tas berat itu, kuangkat dan mencoba berjalan. Namun ternyata terlalu berat dan akan menyusahkan langkahku. Dengan pertimbangan sesaat, akupun memutuskan untuk meninggalkan barang bawaanku ini saja. Toh aku akan pulang ke rumah, di sana masih ada baju yang lain.

Tentu mas Raqib tak keberatan kan dititipi pakaian bekasku ini? Minimal titip karena Hamim telah deposit sampai 1 tahun.

Kutenteng tas jinjing, membuka pintu pelan berusaha agar tak menimbulkan bunyi. Kepala melongok ke luar dan memastikan tak ada siapa-siapa di sana, sepi dan gelap. 

Dengan mengendap-endap aku berjalan ke arah lobi. Kakiku terhenti kala mendengar suara Indah lirih sedang bercakap begitu mesranya, menggoda lawan bicara.

Posisi Indah berada di balik meja informasi yang cukup tinggi sehingga hanya pucuk kepalanya saja yang terlihat.

‘Indah ngobrol dengan siapa?’ tak urung dahiku mengernyit, namun terjawab saat suara lelaki dari telepon genggamnya menanggapi obrolannya. Baguslah, Indah sedang fokus dengan kekasihnya. Dunia milik berdua, baiknya aku kabur.

Pintu lobi yang belum dikunci itu kubuka pelan, dasar pintu tua! Bunyi engsel karatannya terdengar bergesekan.

“Siapa itu?!” Indah tiba-tiba berdiri dari duduknya dan mendapati posisiku yang kikuk memegang handle pintu. Aku tertangkap basah. Harus bilang apa?

“Bu Ayna? Mau kemana malam-malam?” Indah dengan reflek mematikan sambungan teleponnya lalu menghampiriku, tanganku berkeringat, sibuk memikirkan alasan. Tapi alasan apa yang masuk akal?

“Bu... Mau kemana? Ayo kembali ke kamar?”

“Ssst... Jangan kenceng-kenceng suaranya Sus. Ibu... Rindu dengan kasur di rumah. Tidak terbiasa tidur di tempat lain...”

“Ibu Ayna mau pulang? Malam-malam begini?” Indah melihat jam tangannya.

“Tolonglah Sus... Sus Indah bisa pesankan Ibu taksi? Ibu tidak tahu cara pesannya...” Kuserahkan telepon genggamku agar ia membantuku memesan dari ponselku saja.

“Bu... Mari kita kembali ke kamar, Ibu mau dipijit kah? Atau apa yang mau diubah biar Ibu nyaman? AC-nya terlalu dingin? Apa kurang dingin? Biar Indah ubah sesuai kenyamanan Ibu.”

Aduh, Indah begitu bersikeras. Aku tak tahu bagaimana lagi cara untuk membujuknya.

“Sus... Malam ini saja, Ibu mau kembali. Ibu... Gak nyaman. Semua ini membuat Ibu tidak nyaman. Ibu cuman mau cari tenang, tolonglah...”

Tampak raut simpati dari Indah padaku, digenggamnya erat tangan ini.

“Ibu dengar omongan orang-orang ya? Jangan khawatir, nanti Indah sampaikan jika itu mengganggu Ibu. Tidak usah dihiraukan, Ibu tahu orang-orang tua ini tak punya hiburan lain, jadi ngomongin orang adalah hiburan untuk mereka. Nanti juga reda sendiri.”

Enak bagi mereka karena yang jadi obrolan bukan mereka sendiri tapi orang lain. Lagipula, kalau Indah melarang mereka bukannya makin reda, malah makin menjadi omongan mereka, menganggapku sombong dan tukang perintah.

“Ya, nanti saya kembali jika suasana sudah reda. Untuk sementara ini biar saya pulang Sus. Demi kebaikan bersama. Saya harap Sus mengerti...” Kali ini aku mengatakannya dengan menggenggam tangannya balik erat-erat sembari menatap matanya agar ia tahu bahwa orang tua ini bukan sedang merajuk, tapi berpikiran jernih dan bertekad kuat tak akan mundur.

Sus Indah menarik napas panjang, berpikir sejenak lalu mengiyakan permintaanku, aku pun menarik napas lega. Setidaknya aku tak harus repot-repot memikirkan bagaimana cara pulang.

“Ini Sus Hp-nya.” Aku menyerahkan ponselku yang diterimanya.

Tampak keraguan kembali menghampirinya, “Aku harus bilang apa kalau Pak Raqib tanya soal Bu Ayna? Bapak pasti marah...”

“Aku yakin Pak Raqib pasti mengerti, katakan saja apa adanya tanpa ditutupi. Saya gak nyaman dan kangen rumah, gitu.”

“Tapi deposit Ibu...”

“Usah dipikirkan. Ya semisal nanti saya sudah siap, saya akan kembali lagi Sus. Hanya untuk sementara ini saja. Sampai suasana mereda.”

Padahal dalam lubuk hati aku bertekad untuk tak akan kembali lagi ke sini. Bagi orang-orang di sini, dan bagi hubungan Mas Raqib dan Melati, aku adalah biang masalahnya. Kalaupun nantinya aku berniat tinggal di panti jompo, itu bukan di sini.

“Baiklah kalau begitu, janji ya Bu? Ini Indah masukkan nomor telepon Indah juga, kalau Ibu mau kembali, biar hubungi Indah. Indah yang akan jemput Ibu sendiri.”

“Iya... Makasih ya Sus...”

Benar dugaanku, sikap Indah memang selaras dengan namanya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil memasuki pelataran dan membunyikan klaskonnya sekilas.

“Itu bu mobilnya, hati-hati di jalan ya Bu Ayna...” 

“Makasih banyak ya Sus Indah... Saya tak akan lupa kebaikan Sus ini.”

Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, karena baru kali ini aku merasa ada orang asing yang mau membantuku dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Aku tak tahu apakah ini adalah bentuk pelayanannya sebagai perawat kami, atau memang hatinya benar-benar baik, tapi aku merasa alasannya adalah yang nomor dua.

Aku naik ke mobil itu, yang membawaku pergi. Kembali ke rumah yang sudah kupamiti siang tadi. Masa depan memang tak pasti, kupikir perpisahan tadi siang dengan rumah itu adalah suatu hal yang benar. Lihatlah, belum apa-apa sudah kembali. Malu-maluin.

“Hmmph...” Aku mendengus menahan tawa.

“Ada apa bu?” Sang sopir taksi menengok-nengok ke belakang memastikan orang tua yang dibawanya sedang tak sakaratul maut di mobilnya.

“Gak papa Nak, ingat sesuatu yang lucu saja.”

“Haduh... Ibu bikin saya khawatir, saya pikir ada apa-apa. Ini sudah hampir sampai, rumahnya yang mana Bu?”

“Itu... Pagar warna cokelat itu.”

“Oke baik...” Pak sopir memelankan laju mobilnya dan menepikannya tepat di depan gerbangku.

“Makasih ya Pak... Aku hendak membuka pintu.”

“Ini beneran Bu? Kok gelap dan sepi...”

Aku lupa, memang tak menyalakan lampu, dasar ingatan tua. Besok-besok kalau mau pergi dari sini, aku harus mengingatkan diri untuk membiarkan lampu depan menyala agar tak dianggap sebagai rumah hantu.

“Iya Nak, anak saya lagi keluar belum pulang.”

Aku sengaja tak memberi tahu jika hidup di sini sendiri, khawatir jadi korban kejahatan. Sebagai orang tua yang tinggal sendiri, aku harus berhati-hati.

Saat keluar, aku menyerahkan lembaran uang berwarna merah, sang sopir sibuk mencari kembalian.

“Tidak usah Nak, bawa saja. Untuk anak istri...”

“Wah, makasih banyak bu.”

“Ya ya ya...” Jawabku melambai pelan padanya lalu masuk ke dalam rumah yang gelap gulita itu.

Sang sopir dengan perhatian tetap tinggal di depan dan memastikan aku telah masuk ke dalam rumah baru kemudian ia pergi. Aku bersyukur, anak muda baik di negeri ini belum kurang.

Setelah memasukkan anak kunci, kuputar kenop pintu pelan.

Krieet...

Suara pintu itu bergema ke seluruh penjuru rumah, angin pengap berhembus menerpa wajahku. Rumah ini memang telah setua aku. Aku yang telah hapal betul denah rumah ini lalu berhati-hati menuju dinding untuk menyalakan sakelar.

Klik.

Cahaya terang mengisi seluruh ruangan. Deg! Jantungku rasanya jatuh ke kaki.

Sekelebatan bayangan menyerupai mas Afnan berjalan dari kamar ke arah dapur. Aku mengucek-ucek mata. Dan sekelebatan bayangan itu menghilang.

Bulu kudukku meremang.

Mas Afnan, apa maksudnya ini? Tak bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku tak butuh kamu, aku ingin hidup tenang. Jika kau pikir aku rindu, maka kau keliru! Kembalilah ke kuburan sempitmu ituuu!!!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel