Melati
Malam telah menjelang, aku telah berganti pakaian dengan baju rumahan yang nyaman lalu pergi ke amphitheatre yang telah ditunjukkan mas Raqib siang tadi.
Sesampainya di sana, sudah ada beberapa penghuni yang berkumpul. Aku melihat mas Raqib sedang sibuk merakit proyektor untuk memutar film. Dari dulu dia memang suka hal-hal yang berhubungan dengan elektronik sehingga tak heran dia masih tak ketinggalan dengan teknologi terkini. Tubuhnya tak kurus pun juga tak gemuk, segar dan tampak liat dengan stamina muda. Penampilannya sederhana, kaos pas badan dengan celana bahan slimfit.
“Sini Bu, sini duduk di dekat saya!” Seorang wanita dengan usia yang kutaksir setara denganku menepuk bantalan kulit yang belum ada pemiliknya. Aku tersipu karena tadi kedapatan memperhatikan Mas Raqib.
Bantalan kulit tersebut berfungsi sebagai pelindung pantat dari kerasnya ubin di tangga berundak yang dialih fungsikan sebagai amphitheatre oleh mas Raqib itu. Dataran di bawahnya kuduga adalah bekas kolam yang diuruk karena ubin berwarna biru muda khas kolam renang menonjol di sekelilingnya masih tersisa.
Akupun tersenyum menyambut keramahan wanita itu dan permisi untuk duduk di sampingnya. Sepertinya ia kawan yang ramah.
“Bu Ayna ya?” Sapanya ramah saat aku sudah duduk dengan sempurna.
“Iya, betul. Dengan Ibu siapa?” Aku kembali bertanya.
“Saya Melati Bu.”
“Oh, mirip nama panti ini ya?” Aku berbasa basi.
“Mas Raqib memang memberikan nama panti ini dari nama saya Bu. Saya istri mas Raqib.”
“Oh gitu...”
‘Pantas tadi langsung tahu namaku, kupikir penghuni sini juga...’
“Kami menikah tanpa anak bu.”
Aku hanya diam mendengarkan, tak tahu bagaimana harus menanggapi karena kami baru saja bertemu namun ceritanya terlalu personal. Kulihat mas Raqib melambai dengan senyum lebar pada Melati yang dibalasnya juga.
Mereka tampak pasangan yang bahagia dan aku senang mengetahuinya.
“Ibu gak ingin tahu kenapa kami setua ini tidak memiliki anak?” Tanya Melati tiba-tiba.
Aku heran dengan pertanyaan Melati tersebut seolah-olah sedang menyudutkanku.
“Mm... Saya tidak tahu, tapi sepertinya membicarakan itu juga tidak pantas karena bersifat sangat pribadi.”
“Tidak pribadi. Jika alasannya adalah Bu Ayna.”
Aku terhenyak atas tuduhan tiba-tibanya tersebut. Mengapa aku bisa ditarik ke dalam pusaran masalah mereka? Bertemu saja tidak pernah bisa-bisanya ia menuduhku menjadi penyebab mereka tak memiliki keturunan? Apa hubungannya?
“Eh, eh... Jangan berpikir jauh dulu Bu. Saya gak menuduh ibu dengan suami saya ada hubungan macam-macam... Hanya kenangan suami saya terhadap Ibu dulu membuat hatinya tertutup rapat, sangaaat rapat... Bahkan setelah berpuluh tahun pernikahan kami.”
Lagi-lagi, aku tak tahu tanggapan atas informasi yang kuterima ini, terlalu sulit untuk dicerna. Mas Raqib, masih memikirkanku? Padahal sudah berumah tangga berpuluh tahun lamanya? Kulirik Bu Melati, wanita di sampingku ini masih bugar, tubuhnya tegap, rambutnya masih sehat panjang dikepang ke samping tak banyak uban di sana dan kulitnya pun putih bersih. Pakaian yang mereka kenakan malam ini bahkan berwarna serasi.
Aku tak bisa bayangkan bagaimana cantiknya dia dulu di kala muda, karena saat ini pun cantiknya masih kentara. Mengingatkanku pada Maria...
“Aku sudah berdamai Bu Ayna... Kalau belum berdamai, tak mungkin bisa cerita seluwes ini dengan Ibu. Aku tahu, bagaimanapun takdirku sudah sama Mas Raqib. Aku menyaksikan sendiri bagaimana rasa senangnya yang tak dapat disembunyikan kala Hamim menelpon dari luar negeri, meminta ijin untuk menitipkan ibunya di sini.
Momen yang ditunggu-tunggunya dari lama... Bahkan rumah teduh ini pun dibangun karena ia ingin merawat Bu Ayna kala kita sudah sama-sama menua. Ia yakin sekali waktu ini akan datang, aku tak tahu kenapa. Seolah ia pernah menjelajah masa lalu.”
Alisku berkernyit mendengar cerita aneh terakhirnya. Sungguh aku tak nyaman mendengarkan ini semua dari mulut Melati, istri Mas Raqib sendiri. Aku tak bisa bayangkan bagaimana sakitnya. Sementara aku sendiri juga tak salah, karena aku tak pernah membuka kesempatan agar aku dan Mas Raqib bisa berkomunikasi lagi.
Hati Mas Raqib adalah miliknya, aku tak punya wewenang untuk mengaturnya.
Film dari aktor favoritku tersebut telah diputar di depan, namun pikiranku melayang. Fakta-fakta yang telah diungkapkan Ibu Melati tak bisa kusingkirkan dari dalam kepala.
“Bu, saya pamit masuk kamar tak papa kan?” Aku berbisik agar tak mengganggu yang lain menikmati filmnya. Film nostalgia dengan ditemani kacang rebus yang dibagi-bagikan oleh Sus Indah dengan senyum lebarnya.
“Kenapa Bu Ayna? Maaf jika cerita saya membuat Bu Ayna tidak nyaman. Saya akan menutup mulut saya, ini film kesukaan Bu Ayna kan? Begitu cerita Mas Raqib pada saya.”
Aku tahu, tak ada maksud apa-apa dari Bu Melati. Kami bukanlah wanita muda yang penuh akan gejolak jiwa untuk membuat drama. Aku yakin seperti yang dia bilang jika ia telah berdamai. Tapi kata-katanya barusan membuatku muak.
Mas Raqib sudah keterlaluan.
Dia tak seharusnya menyakiti hati wanita sebaik Melati. Walau sang istri telah berlapang dada, bukan berarti terus-terusan dicekoki kenyataan tentang perhatian-perhatian sang suami pada wanita lain itu.
Jika sebelumnya aku tak enak, maka kini aku jengah.
“Bukan bu, saya sudah biasa tidur jam segini. Jadi sudah mengantuk.”
Melati menengok jam di tangannya, masih pukul 8. Dan aku tak bohong, ini memang jam malamku, terlalu malam maka aku akan kesusahan bangun untuk menjalankan Qiyamul Lail.
“Baik bu. Mau saya antarkan?” Tawarnya, kulihat ada gurat kekhawatiran di sana. Mungkin ia menyesali dirinya yang telah terlalu terbuka pada pertemuan kami yang pertama.
“Tidak papa Bu Melati. Ibu lanjut saja menonton. Saya sudah tahu jalan kembali ke kamar.”
“Indah! Tolong antarkan Bu Ayna kembali ya?” Panggil Bu Melati sedikit keras yang membuat beberapa pasang kepala menoleh ingin tahu apa yang terjadi, aku menyesal telah memberi tahunya. Ia baik, tapi berlebihan.
Apalagi ketika melihat raut wajah Mas Raqib yang bertanya-tanya. Aku tak ingin mereka berdua berselisih karena kehadiran orang tua tak penting sepertiku.
Indah lalu mendekat dan berjalan menemaniku kembali ke kamar. Langkah mudanya berjarak lebar, sehingga ia harus berulang kali beradaptasi pada langkah lambatku. Aku jadi tak enak hati padanya.
“Sudah Sus, kembali saja. Aku bisa sendiri kok... Siapa tahu nanti ada yang membutuhkan bantuan Sus.”
“Tidak Bu, yang lain bisa diurus sama Bu Melati. Saya memang ditugaskan untuk memprioritaskan Bu Ayna. Bu Ayna tidak usah khawatir.”
“Siapa yang memerintahkan?”
“Pak Raqib sendiri Bu. Beliau banyak bercerita tentang Ibu. Sejarah Rumah Teduh ini, tujuan didirikannya. Dan kami semua tahu bagaimana senangnya Pak Raqib mendengar kabar ibu mau ke sini. Seakan-akan tujuannya telah tercapai.
Ibu tahu? Semua bagian rumah langsung dirombak dengan lebih baik, katanya biar sesuai dengan selera Bu Ayna yang dulu masih diingatnya. Semua gorden diganti, kasur, sprei dan selimut juga berstandar hotel. Biar Bu Ayna betah...”
Aku menganga mendengar ceritanya. Mas Raqib sudah benar-benar keterlaluan. Semua ini terlalu berlebihan. Bahkan Indah yang bukan siapa-siapa saja sampai tahu kisah usang kami. Aku benar-benar malu.
Apakah setua ini aku bakal di cap sebagai perusak rumah tangga orang? Sementara aku sedang berjuang untuk keluar dari rasa sakit hati telah dikhianati mendiang suamiku sendiri?
Aku ke sini dengan niat menyepuh hati, bukan membuka masalah baru.
Hamim, semua ini salah Hamim. Aku akan minta pindah setelah ini.
