Mas Raqib
“Ra-raqib?”
“Iya bu, Pak Raqib. Beliau sedang menunggu ibu di ruang kerja, mari bu...” Suster Indah menunjukkan jalan, mengimbangi kaki tua ini melangkah. Langkah yang sengaja di lambat-lambatkan karena gugup.
Aku sempatkan diri memperbaiki penampilan saat melirik jendela yang memantulkan bayangan diri. Anakan rambut yang keluar kupaksa menyelip di belakang telinga. Menyesal tadi tak memantas-mantaskan diri saat hendak ke sini.
Karena terpikir untuk apa? Sudah tua ini, dan tinggal menunggu mati. Aku tak sedang mencari simpati siapa-siapa. Sungguh rasanya saat ini ingin menghilang dan kembali ke rumah yang telah kupamiti tadi.
Aku sudah cukup tersiksa dengan keputusan buruk masa lalu. Usah lagi dihadapkan pada kenyataan akan keputusan salahku dulu.
Tapi, kenapa pula tingkahku begini? Tua ya tua saja. Kenapa pula salah tingkah hanya karena mendengar sebuah nama yang di masa lalu pernah begitu istimewa?
Kau ingatkan Ayna apa jadinya kala kau serahkan hati dan masa depanmu pada seorang pria? Tunggu, aku mikir apa sih, dasar nenek peyot.
Dari lorong depan yang berfungsi sebagai lobi, Indah membawaku melewati ruang tengah yang luas dengan jendela terbuka lebar-lebar, cahaya dari luar dapat masuk dengan leluasa. Lalu berbelok ke kanan, langsung menemui pintu kayu tertutup bertuliskan Mr. Raqib. Kenapa aku merasa tak siap? Kaki ini rasanya ingin berbalik dan berlari menjauh.
Tok tok tok.
Indah mengetuk pintu tersebut dan suara dalam bersahaja menjawab dari dalam.
“Ya, sebentar.”
Selanjutnya suara tapak kaki mendekat, tanpa sadar bibirku menarik senyum, ia masih sama. Jika ini mas Afnan, pasti ia akan menyuruh pegawainya sendiri yang masuk dan ia tak akan repot beranjak dari tempat duduk. Ah, mengapa pikiran ini begitu cepat membanding-bandingkan. Hal yang dulu tak pernah kulakukan sebelum kematianmu mas.
Dulu, apapun, apapun yang kau lakukan selalu kuterima walau aku merasa di depanmu aku tak lebih hanyalah seorang pembantu.
Pintu terbuka, kali ini mataku tak berani mendongak, rasa tak percaya diri menguasai.
“Ehem. Ayna?” Sapanya dengan suara serak karena tercekat.
Dari tangan yang terulur hendak menjabat, sepertinya hidupnya baik-baik saja. Belum ada gurat lelah di sana. Aku tak kuasa menyambut tangannya. Keriput di tanganku terlalu kentara.
“Makasih sus Indah, tolong antarkan barang Ibu Ayna ke kamar beliau ya?” Raqib meminta dengan sopan.
“Siap pak, saya permisi dulu. Panggil saya nanti ya Bu Ayna kalau mau ditemani?” Pamit Sus Indah ramah sebelum pergi meninggalkan kami.
Aku hanya mampu melihat langkah sus Indah yang berlalu pergi, kepala ini masih tak kuasa terangkat. Tak kuasa karena, aku pernah menolak dengan tegas perasaannya dulu karena kabar burung yang beredar tentang petualangannya dengan banyak wanita. Padahal itu hanya tipu daya mas Afnan.
“Kalau gak gitu, aku bisa kalah sama si Raqib untuk mengambil hatimu Ayna!” Entengnya bercerita. Aku tersanjung, dulu. Kupikir itu adalah bentuk perjuangannya dalam memperjuangkanku. Sebelum aku tahu jika itu hanya karena ia tak suka kalah dari Raqib.
“Ayna... Masuklah, bagaimana kabarmu? Afnan... Sudah meninggal ya? Maaf aku tak melayat kemarin... Walau begitu, aku turut berduka cita.” Ucap Mas Raqib tulus lalu membuka pintu lebar-lebar.
Sedari tadi aku masih terdiam tak sanggup bersuara. Begitupun kaki ini tak bergerak maju seolah terpaku di tempatku berdiri. Apakah pintu yang terbuka lebar itu bisa berarti sesuatu? Aku takut. Aku tak mau.
“Apakah kau tak nyaman Ayna? Kita bisa berbicara di kursi depan saja jika kau mau. Aku hanya akan menjelaskan tentang program dan kegiatan yang kita jalankan di sini jika kau tertarik mengikuti. Tapi semua diserahkan kembali pada penghuni, walaupun kegiatan kami sangat mengasyikkan dan sayang untuk dilewatkan.” Tawarnya dengan lancar.
Benar kan, hanya aku yang mengartikan terlalu berlebihan. Dia hanya melakukan tugasnya. Membuat hatiku menjadi lebih tenang.
“Mm... Mungkin lebih nyaman jika di kursi lobi saja ya.” Tawarku pelan.
“Tentu saja. Ayo.” Mas Raqib menutup pintu ruang kerjanya dan berjalan lebih dulu ke arah sofa panjang dengan banyak pilihan seater dan dia memilih yang 1 seater agar aku bisa duduk di kursi yang lebih luas. Setelah aku duduk dengan nyaman, baru dia mulai menjelaskan program apa saja yang menjadi unggulan di sini. Fasilitas dan juga jadwal kunjungan dokter rutin.
Aku mendengarkan pemaparannya dengan seksama, mungkin benar apa yang dikatakan oleh sopir taksi online tadi bahwa tempat ini bisa menjadi tempat yang baik untukku. Setelah selama ini aku menjadi asosial.
“Nanti dalam satu kamar akan ada dua orang, bukan untuk pemangkasan anggaran, tapi agar ada teman bercerita, tidak kesepian. Tapi itu juga akan dikembalikan ke penghuni, mau cari kamar sendiri-sendiri atau bersama.”
“Saya menerima yang mana saja.”
“Ayna, di sini diperbolehkan untuk menentukan pilihan. Tidak ada paksaan.” Jawab mas Raqib ramah.
Ia tak tahu bahwa pernyataan sederhananya itu memberi efek asing padaku. Konsep yang sudah lama kulupakan, bahwa aku pun adalah individu, yang bisa memiliki pilihan dan berhak memilih.
Selama ini, aku hanya menerima saja apa yang mas Afnan berikan untukku. Nafkah segitu, terima. Mengurus rumah tangga yang harus sempurna karena ia yang tak suka hal-hal yang berantakan sembari membesarkan dua anak tanpa asisten. Sekolah anak di tempat swasta, ku iyakan saja walau biaya masih dari uang dapur yang kuputar dengan ekstra hati-hati agar cukup hingga akhir bulan.
Saat aku meminta untuk bekerja kembali, ia tak mengjinkan dan akupun terima. Nafkah batin yang tak boleh kutolak jika tak ingin ia merajuk dan mendiamkanku berhari-hari. Ku iyakan saja walau saat itu pikiranku penuh karena masih tengah bulan tapi uang sangat tidak cukup. Diam-diam, aku menerima jasa permak baju dari keterampilan menjahit yang kupelajari secara otodidak.
Semua pendapat, kutelan kembali. Karena yang berhak memutuskan semuanya hanya mas Afnan. Aku tak punya suara. Dan kini, mendengar bahwa orang sedang menunggu keputusanku, rasanya aneh...
“Saya mau sendiri.” Akhirnya putusku, “Eh tapi nanti kalau di tengah jalan mau punya teman apakah boleh?”
“Tentu boleh! Memang biasanya kalau masih baru, sendiri lebih nyaman karena sambil melihat-lihat keadaan. Nanti kalau sudah nemu teman yang cocok, baru ingin gabung. Bisa banget. Sama saya juga bisa Ayna kalau mau?” Goda Mas Raqib.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Entah kenapa rasanya tak nyaman, tolonglah kita sama-sama sudah tua. Gak pantas rasanya, sudah tidak relevan.
Sadar akan pemilihan kata yang salah, mas Raqib lalu berdiri dan ingin menunjukkan kamar tempatku akan tinggal.
“Mari Ayna, akan saya ajak berkeliling jika kau tak lelah. Nanti malam ada acara nonton bareng di halaman belakang, di amphitheatre kita. Saya tak ingin kau tersesat lalu terlewat karena film yang diputar sangat bagus nanti malam. Pemainnya Rano Karno, aktor kesukaanmu dulu.”
Bagaimana bisa kau masih mengingat hal remeh semacam itu?
