Bab 4 Merayakan Ulang Tahun
Bulan ketiga tanggal delapan, hari ulang tahunku.
Aku masih ingat, seratus tahun lalu, setiap hari kelahiranku selalu ditemani satu butir mutiara paling cemerlang.
Sheng Yuanqi datang. Di antara begitu banyak wanita cantik di harem, dia hanya bermalam di tempatku.
"Songyi, selamat ulang tahun." Dia mengangkat hadiah ulang tahunku dengan kedua tangan.
Aku membukanya. Di dalamnya terbaring sebutir mutiara bulat sempurna, berkilau menyilaukan.
"Ini upeti khusus dari wilayah pesisir. Coba lihat, indah atau tidak?"
Mataku langsung dipenuhi air mata, hingga aku tak mampu mengucapkan satu kalimat pun dengan utuh.
Dia menangkup wajahku, menciumku berulang kali. "Ada apa, Songyi? Kamu tidak menyukainya?"
Aku menggeleng pelan dan menyimpan mutiara itu.
"Indah."
Sheng Yuanqi tersenyum. "Kelak aku akan membawamu sendiri ke wilayah pesisir, agar kamu melihat langsung tanah penghasil mutiara negeri kita."
Wilayah pesisir itu adalah bekas Negara Chu.
Satu-satunya hal baik yang mereka lakukan adalah tidak mengeruk habis sumber dayanya, sehingga tanah Negara Chu masih mampu melahirkan mutiara seindah ini.
"Aku masih punya satu hadiah lagi untukmu!"
Sheng Yuanqi mengeluarkan sebuah gulungan dan membukanya perlahan. Sebuah bangunan tinggi menjulang megah di atas kertas.
"Aku ingin membangun sebuah Menara Tujuh Bintang untukmu."
Untukku?
Entah Sheng Yuanqi terlalu mencintaiku, atau justru sudah kehilangan akal sehat.
Hal sebesar dan semewah ini, memboroskan tenaga dan harta rakyat, lalu dibebankan atas nama seorang selir. Kini para menteri punya alasan sah untuk menudingku sebagai perusak negara.
"Kaisar, tidak boleh. Takdirku tipis, aku tak sanggup memikul anugerah naga sebesar ini."
Malam itu, dia berbaring di sisiku, wajahnya penuh kepuasan.
Aku menyandarkan diri di bahunya. "Paduka Kaisar, aku juga ingin memberimu sebuah hadiah."
Hadiah yang akan kuberikan adalah sebuah lokasi fengshui sempurna, bersandar pada gunung dan menghadap air, membentuk dua kekuatan naga dan harimau. Jika makam kekaisaran dibangun di sana, Negara Yu pasti akan makmur dan berjaya.
Sheng Yuanqi sangat gembira, segera memerintahkan orang untuk melakukan peninjauan geomansi.
Pemilihan lokasi makam kekaisaran adalah urusan besar, sekaligus rahasia. Namun aku diberi izin khusus untuk ikut mengawasi pembangunan.
Aku dengan cermat memilih satu hari baik, lalu pekerjaan pun dimulai. Pada hari pembangunan dimulai, aku melihat tiga ratus ribu tenaga kerja di lokasi makam kekaisaran.
"Mengapa wajah mereka semua diberi cap bakar?" tanyaku pada Sheng Yuanqi.
"Mereka adalah budak dari wilayah pesisir."
Sekali kalah perang, maka turun-temurun menjadi budak.
Orang Chu, sejak lahir adalah budak. Itu sudah menjadi kesepakatan umum.
