Bab 2 Menjadi Selir
Setiap malam aku melakukan ramalan, setiap hari aku memanjatkan doa, jauh lebih berdedikasi dibanding para pejabat itu.
Namun tetap saja mereka mengajukan tuduhan terhadapku, mengatakan aku terlalu muda.
Apa memang harus renta dulu baru boleh menjadi peramal?
Aku yang berada di usia enam belas tahun, cantik semerah bunga, apa tidak pantas memberi kehormatan bagi Negara Yu?
Untungnya Kaisar Sheng Yuanqi jauh lebih tahu menilai dibanding para orang tua itu. Dia bukan hanya memberiku kekuasaan, tetapi juga menganugerahkan kediaman yang sangat luas.
Dia pun amat tertarik pada ilmu sihir dan ritual yang kuasai. Dia sering datang ke istanaku, mendengarkanku menjelaskan peredaran matahari dan bulan, lima unsur, serta jalur zodiak di langit.
Setiap bulan, aku harus membantunya menyingkirkan bala.
Dia wajib mandi, berpuasa, dan membakar dupa.
Dupa itu racikanku sendiri. Begitu dihirup, rasanya seperti jatuh ke dalam mimpi, seakan mampu menjangkau para dewa.
Aku menyalakan dupa untuk Sheng Yuanqi, lalu mengurai rambutnya.
"Kaisar, rasakan dengan sungguh-sungguh komunikasi dengan para dewa."
Dia membuka mata, menarikku ke dalam pelukannya. "Para dewa tidak semenarik Guru Negara bagiku."
"Kaisar, ini merusak ritual." Aku menghela napas.
Dia sama sekali tidak peduli, menggunakan helai rambutku untuk mengusap pipiku. "Tak mengapa. Saat ini aku ingin lebih dulu berkomunikasi dengan Guru Negara."
Aku menatap hasrat di matanya, lalu tersenyum tipis.
Sangat baik. Rakus dan gemar wanita, sama seperti buyutnya.
Jika begitu, aku akan mengikuti keinginannya.
Aku mengecup bibirnya, mengaitkan ikat pinggangnya, dan berguling bersamanya ke ranjang bagian dalam.
Aku berasal dari Chu Akhir. Disebut akhir, karena Negara Chu telah lama musnah. Dan aku adalah satu-satunya orang dari Chu lama yang masih tersisa.
Orang-orang Negara Chu lainnya, setelah seratus tahun penindasan, telah berubah menjadi budak Negara Yu.
Keesokan paginya, saat aku masih bermalas-malasan di ranjang, kudengar suara Sheng Yuanqi dari luar.
"Sampaikan pada Kementerian Ritus, Guru Negara Shen Songyi berwatak lembut, pantas mengurus rumah tangga. Anugerahkan kedudukan selir, dengan gelar Yi."
Aku diangkat menjadi selir, namun tetap merangkap sebagai Guru Negara.
Hal ini membuat para pejabat sipil dan militer geger. Mereka menuduhku merusak negara, mengatakan Kaisar salah menilai orang.
Namun ketika diminta bukti kesalahanku, tak satu pun yang mampu mereka kemukakan.
Justru setelah aku menjadi selir kesayangan kaisar, pada Tahun Baru pertama turun salju lebat memenuhi langit.
"Salju pertanda panen berlimpah. Kaisar, tahun depan pasti tahun yang baik."
Sheng Yuanqi memelukku ke dalam dekapannya, menggesekkan dagunya dengan mesra ke puncak kepalaku. "Aku hanya berharap negeri kita diberkahi cuaca seimbang dan hujan tepat waktu, agar rakyat hidup tenteram."
Wajahku yang tersembunyi di balik jubah tebalnya menegang seketika.
Dia mencintai rakyatnya seperti anak sendiri. Lalu, akankah dia juga menganggap orang-orang Negara Chu sebagai rakyatnya?
