Bab 1 Masuk Istana
Hari aku diiring masuk ke aula utama, seluruh pejabat sipil dan militer memandangku dengan tatapan meremehkan.
Aku mengabaikan mereka dan memberi hormat kepada Sang Putra Langit sejati yang duduk di singgasana tinggi.
Kaisar muda menganugerahkan gelar Guru Negara kepadaku, namun keputusan itu langsung menuai penentangan dari para menteri.
Semata-mata karena aku seorang wanita.
Aku melengkungkan bibirku. Akulah yang dengan tepat meramalkan bencana banjir di Qingzhou, menghindarkan negara dari kerugian puluhan juta uang perak, sehingga aku direkomendasikan oleh daerah dan dipanggil ke pusat.
Mereka bilang aku tidak layak, maka akan kubuktikan sendiri bahwa aku adalah ahli ilmu sihir terhebat di dunia ini.
Setibanya di luar aula utama, langit hari ini tampak suram, awan begitu tebal hingga cahaya sama sekali tak menembusnya.
Di tengah tungku dupa tertancap tiga batang hio. Aku mengangkatnya dengan kedua tangan, membungkuk memberi hormat, lalu melantunkan mantra lirih.
Tiba-tiba, aku membuka mata lebar-lebar dan mengarahkan panji ke langit. "Buka!"
Awan-awan seolah menerima perintah, terbelah ke dua sisi. Cahaya langit memancar tiba-tiba, menyilaukan hingga tak seorang pun berani menatap langsung.
Dengan membelakangi cahaya itu, aku berbalik dan bertanya kepada sosok di atas mimbar tinggi. "Apakah aku pantas menjadi Guru Negara?"
Para menteri serempak terdiam. Justru sang kaisar mulai bertepuk tangan. "Tak ada yang lebih layak selain dirimu."
"Nasib dan peruntungan negara tak kalah penting dari urusan pemerintahan. Para hadirin, mulai hari ini kita adalah rekan sejawat."
"Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk mendampingi Kaisar, menjadikan Negara Yu makmur, berjaya, dan berlanjut turun-temurun!"
Kaisar menyipitkan mata menatapku. Tatapan itu tidak menyerupai caranya memandang seorang menteri.
