Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Satu pesan WA dari Marcella, apa pun yang sedang dilakukan Julian, bahkan saat mandi, dia akan segera mengeringkan tubuhnya dan pergi menemuinya.

Dia berkata, "Rumah sakit baru saja berdiri, ada beberapa detail yang perlu Marcella cocokkan denganku."

Dia berkata, "Hari ini ulang tahun Marcella, dia mengajak beberapa rekan satu departemen untuk makan bersama."

Dia berkata, "Hari ini Marcella melakukan lima operasi berturut-turut, sampai tidak sanggup berdiri, aku harus pergi melihatnya."

Berkali-kali, Julian meninggalkanku demi Marcella.

Berkali-kali pula aku menenangkan diri, tidak apa-apa, Xavera, kamu harus percaya pada dirimu sendiri, percaya pada Julian.

Namun kali ini, akhirnya kusadari betapa menggelikannya rasa percaya diri butaku itu.

Julian dan Marcella tiba di Dinas Pengelolaan Kesehatan.

Anehnya, dinas tersebut belum menerima satu pun pengaduan terkait kegagalan operasi.

"Operasi gagal kemarin, tapi sampai sekarang belum ada satu pun pengaduan masuk. Aneh sekali."

"Apakah sudah menghubungi keluarga pasien?"

Jari-jari Marcella bergetar samar, nyaris tak terlihat.

Julian merasakan kegelisahannya saat menggenggam tangannya. Dia mengeratkan genggaman dan menjawab lebih dulu, "Rekan rumah sakit kami sedang menghubungi."

Petugas dinas kesehatan mengangguk, membawa Marcella ke ruang pemeriksaan, menyalakan kamera, lalu mulai mengajukan pertanyaan.

Julian mondar-mandir di luar menunggunya.

Rohku mengikuti Julian ke sana kemari, bahkan menemaninya ke toilet.

Tiba-tiba aku merasa, menjadi roh pun tidak terlalu buruk. Tidak perlu makan, tidak perlu minum, dan bisa pergi ke tempat-tempat yang dulu tak bisa kudatangi.

Ponsel Julian berdering. Itu dari rekan yang bertugas menghubungi keluarga pasien.

"Direktur Julian, pasien tidak mencantumkan informasi keluarga saat mendaftar di rumah sakit. Perlu melapor ke polisi?"

"Apakah pasien bekerja?"

"Ada. Kami sudah menghubungi perusahaannya. Pihak perusahaan mengatakan dia sudah mengundurkan diri, sepertinya karena hamil."

Julian mengangguk, memerintahkan staf untuk terus mencoba menghubungi. Jika benar-benar tidak bisa, barulah melapor ke polisi.

Aku melayang di udara, merasa begitu menyedihkan.

Rumah sakit milik Julian sering kudatangi, tetapi setiap kali aku hanya sebentar berada di kantornya, jarang bertemu pegawai lain. Kalaupun bertemu, mereka hanya memanggilku "Nyonya Prakoso".

Sampai-sampai sekarang, melihat nama "Xavera" di data pasien, tak seorang pun menyadari bahwa Xavera adalah Nyonya Prakoso.

Setelah sesi tanya jawab, Marcella bahkan secara proaktif menyampaikan introspeksi diri. Sikapnya sangat baik, sehingga dia segera keluar.

Setiap operasi selalu memiliki kemungkinan gagal. Dinas kesehatan tidak mempersulitnya.

Dalam waktu setengah jam saja, mereka sudah meninggalkan dinas kesehatan.

"Julian, aku takut," di dalam mobil Marcella memeluk Julian dengan air mata berlinang. "Beberapa hari ini, bolehkah aku tinggal di rumahmu?"

"Tidak terlalu nyaman," Julian menolak.

Aku menghela napas lega.

Sekalipun aku sudah mati, aku tidak ingin wanita ini masuk ke rumahku.

"Beberapa hari ini Xavera agak malas," tambah Julian.

Jadi, ternyata dia merasa aku malas, takut aku tidak bisa merawat kekasih masa kecilnya dengan baik.

"Kalau begitu, kamu saja yang ke rumahku?" Marcella bertanya.

"Lain hari saja," kata Julian. "Kemarin aku tidak pulang. Hari ini, apa pun yang terjadi, aku harus pulang."

"Oh ya, tadi rumah sakit menelepon. Mereka bilang pasien itu mengundurkan diri setelah hamil, dan kolom informasi keluarga kosong."

Ekspresi Marcella sempat panik sekejap, lalu dengan cepat kembali tenang.

Julian tidak menyadari perubahan sesaat itu.

Dia melanjutkan, "Ini menunjukkan pasien kemungkinan besar adalah wanita yang bergantung pada pria, seperti tanaman parasit, dan status pernikahannya mungkin tidak terhormat. Kalau memang begitu, urusan ini jadi sederhana."

Ucapan Julian terdengar samar, tetapi aku mengerti maksudnya.

Dia ingin mengatakan bahwa wanita yang mati itu mungkin adalah selingkuhan tersembunyi, wanita yang ingin naik status lewat kehamilan hasil hubungan terlarang.

Marcella menghela napas lega, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum haru. "Julian, untung ada kamu."

Pada detik itu, sepasang mata saling menatap, percikan api beterbangan, mengharukan langit dan bumi.

Bahkan setelah menjadi roh, aku tetap merasa di atas kepalaku terbentang padang rumput hijau yang luas.

Julian pulang ke rumah. Rumah itu sunyi dan dingin. Di dapur masih menumpuk piring dan mangkuk yang belum dicuci sejak kemarin.

Biasanya, sebelum tidur aku selalu membereskan dapur.

Julian mengerutkan kening, lalu kembali bersikap biasa, seolah ada atau tidaknya seseorang di rumah itu tidak penting.

Dia melepas mantel, duduk lelah di sofa sambil memejamkan mata sejenak.

Lalu dia berjalan menuju ruang ganti.

Dia menyalakan lampu ruang ganti, dan tertegun.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel