Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Aku tidak tahu bahwa di hatinya masih ada seorang kekasih masa kecil yang dicintai namun tak bisa dimiliki.

Aku mengira, keberaniankulah yang telah menyentuh hatinya.

Sejak dulu aku memang orang yang berani. Meski tumbuh dalam keluarga yang patriarki, aku tetap berani melawan orang tuaku.

Orang tuaku melarangku kuliah, aku bekerja mengangkat piring, menjadi badut, melakukan pekerjaan kasar untuk mengumpulkan uang kuliah sendiri.

Orang tuaku ingin menukarkanku dengan uang mahar, aku memanjat tembok, kabur ke stasiun kereta, dan pergi dari rumah.

Aku pikir, selama punya keberanian, aku bisa mengalahkan segalanya, termasuk sikap dingin Julian.

Setelah mengurus surat nikah, kami tidak mengadakan pernikahan. Aku tidak punya uang, Julian tidak punya niat.

Dia melanjutkan studi pascasarjana, sementara aku bekerja di sebuah perusahaan farmasi.

Begitulah, Julian dari mahasiswa magister, doktor, trainee manajemen medis, hingga akhirnya menjadi dokter.

Aku pernah menunggunya di aula rumah sakit yang kosong, memeluk termos makanan, saat dia dipanggil tengah malam untuk ikut penyelamatan darurat.

Aku juga pernah di ruang jaga yang sempit, menatap kembang api di luar jendela sambil mengucapkan, "Selamat Tahun Baru," kepadanya.

Akhirnya, suatu hari, dia membawaku pulang ke rumah orang tuanya.

Saat itulah aku baru tahu, dokter miskin yang dulu tinggal bersamaku di ruang bawah tanah ternyata berasal dari keluarga yang begitu terpandang.

Begitu terpandang hingga mampu mendanai pembangunan sebuah rumah sakit dan menjadikan Julian sebagai pemegang saham sekaligus direktur.

Sedangkan masa-masa sulit Julian sebelumnya, ternyata hanyalah ujian yang diberikan ayah dan ibunya untuk melatihnya.

Orang tuanya sangat tidak puas denganku, namun didikan yang baik membuat mereka hanya bersikap sopan tapi menjaga jarak.

Ibunya bertanya padaku, "Kapan berencana punya anak?"

Aku bisa merasakan harapan di mata Julian.

Maka aku menjawab, kami sedang merencanakan kehamilan.

Mata Julian langsung berbinar, seolah menemukan harta karun. Kilau kegembiraan dan antusiasme terpancar jelas. Dia menatapku lurus cukup lama, lalu berkata:

"Kapan kamu kembali?"

Aku tertegun. Di dalam pupil mata Julian, kulihat Marcella yang baru saja masuk.

Hari itu, jamuan Keluarga Prakoso berubah menjadi pesta penyambutan Marcella.

Aku bisa melihat betul, orang tua Julian sangat menyukai Marcella. Mereka terus menyuapinya makanan, menanyakan apakah dia terbiasa hidup di luar negeri, menanyakan rencana masa depannya.

Julian bahkan mengubah sikap pendiamnya yang biasa, berbicara panjang lebar dengan Marcella tentang perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun ini.

Aku sendirian memegang mangkuk, makan perlahan dengan hati-hati.

Aku tidak cemburu, tidak marah.

Dari percakapan mereka, aku tahu Julian dan Marcella sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Kupikir, wajar jika mereka begitu akrab saat ini.

Aku bahkan sempat berpikir, apakah aku perlu tinggal beberapa hari lagi di rumah orang tua Julian.

Agar Julian bisa lebih banyak berkumpul dengan teman lamanya.

Marcella sangat cantik. Rambutnya yang panjang dan bergelombang terurai di bahu, matanya besar dan berkelip, tampak cerdas sekaligus manis.

Dia menyapaku dengan ramah, "Kamu Xavera, ya? Namaku Marcella, aku teman masa kecil Julian. Sebelumnya tidak pernah dengar Julian menyebutmu. Hari ini pertama kali kita bertemu. Ayo, aku bersulang untukmu."

Marcella tersenyum cerah saat berbicara, tetapi aku tidak menyukainya. Aku selalu merasa ada makna lain di balik ucapannya.

Dia berkata, "Julian selama ini berkat kamu yang merawatnya. Kamu tidak tahu, dia itu paling suka mengurung diri di laboratorium, tidak mau dengar siapa pun. Kalau dia sempat mengabaikanmu, jangan dimasukkan ke hati."

Senyumku membeku di wajah.

Hari itu, Marcella berkata bahwa dia menyesal baru bertemu denganku sekarang. Dia menarik tanganku, bersikeras bertukar kontak.

Katanya, dia akan segera bekerja di rumah sakit baru milik Keluarga Prakoso, dan memintaku agar ke depannya banyak membantunya.

Kupikir, perhatianku padanya sudah cukup baik.

Makanan siang yang kukirimkan untuk Julian, dia berterima kasih, mengatakan rasanya enak.

Kemeja Julian yang kucuci bersih, dia meminta maaf, berkata tidak sengaja terkena noda kopi.

Dia juga sering mengunggah keseharian kerjanya di media sosial. Di setiap foto yang diunggah, selalu ada satu sosok yang terasa begitu familiar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel