Bab 2
Semua bukti kunci ini harus ditangani dengan sempurna.
Dengan begitu, meskipun pihak atasan turun tangan melakukan pemeriksaan, mereka tidak akan menemukan apa pun.
Rohku melayang ke sana kemari, menyaksikan Julian dengan cekatan menangani obat-obatan itu.
Seseorang datang menyeret jenazah pergi. Saat melewati lemari penyimpanan, selembar kertas terjatuh melayang turun.
Itu adalah laporan pemeriksaan kehamilanku.
Aku hamil.
Julian selalu menginginkan seorang anak. Demi itu, kami telah berusaha selama bertahun-tahun, pengobatan tradisional maupun medis modern sudah kami jalani semua.
Kini harapan itu akhirnya terwujud, namun dia tak akan pernah mengetahuinya.
......
Julian membawa Marcella kembali ke kantor direktur.
Dia membuka ruang istirahat di belakang kantor, menyuruhnya mandi dan tidur sejenak, serta tidak memikirkan apa pun.
Begitu pintu ruang istirahat tertutup, dia mulai meneleponku.
Ponselku terus tidak terangkat. Dia membuka WA dan meninggalkan pesan untukku, "Xavera, malam ini aku lembur. Masak sesuatu dan antarkan ke sini, yang ringan saja."
Setelah pesan itu terkirim, dia mengirim satu lagi, "Balas setelah menerima."
Dia tak mungkin menerima balasanku lagi.
Namun meski dia tak menunggu balasanku, dia hanya mengerutkan kening dengan sedikit rasa kesal, lalu beralih memesan makanan pesan-antar.
Lihatlah, ada atau tidak adanya aku, sama sekali tidak berpengaruh baginya.
Julian menyerahkan ranjang di ruang istirahat kepada Marcella, sementara dia sendiri bermalam seadanya di sofa.
Keesokan paginya, tepat pukul delapan, dia membawa Marcella ke Dinas Pengelolaan Kesehatan Kota S.
Sepanjang jalan, Julian terus membantunya merapikan alur cerita.
"Nanti setelah sampai, kalau petugas menanyakan kronologinya, kamu bilang bahwa sebelum datang ke rumah sakit, ibu hamil sempat melakukan aktivitas berat, mengalami pendarahan hebat, dan menolak pemeriksaan."
"Katakan kamu menghabiskan banyak waktu untuk membujuknya, sehingga melewatkan waktu terbaik untuk operasi."
"Setelah kejadian, kamu membantu korban menangani bagian privatnya dengan baik, lalu secara proaktif datang ke kantorku untuk menjelaskan proses kejadian, dan meminta datang langsung ke dinas kesehatan untuk melakukan introspeksi."
"Saat kejadian ada empat perawat yang bisa menjadi saksi. Tenang saja, aku sudah memberi tahu mereka, mereka tidak akan bicara sembarangan."
Dia terus berpesan tanpa henti, lalu akhirnya menenangkan, "Soal pimpinan, kamu tidak perlu khawatir, serahkan padaku."
Nada bicaranya yang tegas membuat Marcella dipenuhi rasa aman.
Saat itu, aku melihat bulu mata Marcella kembali basah oleh air mata. Dia tersedu sambil berkata, "Julian, terima kasih karena sudah sebaik ini padaku."
Julian mengusap rambutnya dengan penuh kasih, wajahnya dipenuhi kelembutan. "Kalau bukan kepadamu, lalu kepada siapa lagi aku harus bersikap baik?"
Aku melayang di belakang mereka, tiba-tiba merasa diriku berlebihan.
Bahkan setelah menjadi roh sekalipun.
Cinta yang datang tiba-tiba, pada akhirnya tetap tak mampu menandingi sahabat masa kecil.
Julian dan Marcella dulu tinggal di satu kompleks perumahan yang sama, melewati masa sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas bersama.
Kemudian, saat menentukan pilihan universitas, Marcella mengagumi kemajuan medis Barat, sementara Julian merasa sistem pendidikan dalam negeri lebih sesuai dengan kondisi nasional.
Begitulah mereka berpisah.
Sedangkan aku, bertemu Julian di fakultas kedokteran. Di tengah kesibukan kuliah yang padat, aku perlahan jatuh hati padanya.
Aku belum pernah melihat mahasiswa kedokteran yang memiliki gairah sebesar dirinya.
Pelajaran kedokteran berat dan rumit, tetapi dia selalu penuh semangat dan energi, menjadikan setiap kelas terasa hidup dan menarik.
Aku pernah melihatnya menunduk serius melakukan eksperimen, raut wajahnya fokus dan tegas, seolah menyimpan kekuatan yang tak tertandingi.
Aku satu jurusan dengannya selama empat tahun, mengaku perasaan selama empat tahun, namun dia selalu menolakku.
Pada malam pesta kelulusan universitas, aku menyanyikan lagu Fish Leong, "Courage".
Berbekal lagu itu, di hadapan seluruh dosen dan mahasiswa, aku bertanya kepadanya:
"Apakah kamu berani menikah denganku?"
Untuk pertama kalinya, Julian tidak tersipu. Dia bangkit, naik ke atas panggung, menggenggam tanganku, dan berkata ke mikrofon:
"Berani."
Di bawah sorotan lampu panggung, di antara alis dan matanya, terselip emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
