Bab 9 - Dosa Yang Terulang
Bab 9
Dosa yang terulang
"Kantor ini milik saya, jadi suka-suka saya mau ngapain," ucap Adnan dengan wajah datar.
"Bapak, mau apa? Kenapa suka banget gangguin hidup saya?"
"Karena saya cinta sama kamu, Jasmine Aulia !!
Jasmin menghela nafasnya, duduk terdiam di kursinya. Memikirkan apa yang harus dilakukannya. Mungkinkah dia harus mengalah dan mengikuti alur kehidupan yang telah berjalan. Tapi, jika dia membiarkannya maka akan ada hati yang terluka.
"Ini salah, Pak !! Kita sama-sama memiliki pasangan, kita nggak mungkin menghianati pernikahan kita," kata Jasmine mulai pasrah.
Jasmine merasa, saat inilah dia harus bicara dengan Adnan dari hati ke hati. Mungkin dengan bicara dari hati ke hati, Adnan dapat memahami maksud dari Jasmine.
"Maafkan saya, sudah sangat lama saya mencintai kamu. Jadi, saya tidak akan bisa melepaskan kamu begitu saja," imbuh Adnan yang mendekat ke meja Jasmine dan duduk di atas meja Jasmine.
"Tapi , Pak?
"Jasmine, hingga kamu mengemis bagaimana pun dengan saya, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu. Sakit rasanya menahan rasa hingga bertahun-tahun lamanya, namun orang dicintai tidak pernah menanggapinya," sahut Adnan.
"Bapak, telah memiliki istri. Istri bapak wanita yang sangat baik, dia lebih baik dari saya !!
"Kamu hanya melihat dari luar saja, tapi hati ini telah membeku jika bersama dia. Saya, merasa sangat bahagia jika bersama kamu."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Adnan pun segera beranjak dari meja dan mendekati Jasmine yang saat ini masih duduk di kursinya.
"Sayang, aku sangat mencintai kamu. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu, aku sangat menginginkan kamu. Aku yakin jika kamu bersamaku, kita bisa memiliki keturunan. Aku begitu merindukan seorang anak dalam hidupku. Hidupku terasa sangat sunyi, hari-hari yang aku lalui begitu sunyi."
Adnan pun menarik tangan Jasmine dan menggenggam jemarinya.
"Percaya padaku, aku sangat mencintai kamu," ucap Adnan untuk yang kesekian kalinya.
Mendengar ucapan dari Adnan, membuat hati Jasmine merasakan sesuatu yang tidak dia tahu itu apa. Jasmine hanya merasa lebih nyaman dari sebelumnya, karena Jasmine pun telah lama tidak diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
Adnan pun menarik tubuh Jasmine untuk berdiri sejajar bersamanya. Jasmine pun hanya diam pasrah, entah apa yang dia rasakan saat ini. Jasmine hanya merasa sangat nyaman dengan sikap Adnan yang lembut.
Adnan memegang kedua pundak Jasmine sambil menatap dalam mata Jasmine dengan penuh cinta.
"Apa yang aku katakan, benar adanya Jasmine. Aku tidak akan bersikap seperti ini, jika aku tidak mencintaimu. Menikahlah denganku, maka akan aku bahagiakan kamu," ucap Adnan dengan penuh harap.
Jasmine masih saja diam, bingung harus menjawab apa. Karena hatinya seperti bertarung dengan fikirannya.
"Saya tidak bisa, Pak. Saya tidak akan pernah mau menyakiti hati suami saya," lirih Jasmine.
Difikirannyaa teringat akan suaminya, hati Ammar yang tulus tidak akan pernah tergantikan dengan apapun di dunia ini.
Setelah satu tahun pernikahannya dulu bersama Ammar, begitu banyak orang yang mencibir Jasmine karena belum juga dikaruniai seorang anak. Tapi, Ammar sebagai seorang suami siap menjadi garda terdepan untuk membela sang istri. Sikap Ammar yang begitu tulus inilah yang membuat Jasmine bertahan hingga saat ini , meskipun banyak yang mencibir dirinya karena memiliki suami yang lumpuh.
"Kamu sudah menyakitinya, Jasmine. Apa yang telah kita lakukan, itu lebih menyakitkan baginya. Sampai kapan kamu akan terus menyakitinya?"
"Oh, Tuhan...,"lirih Jasmine dengan suara yang bergetar.
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini, aku bingung. Aku merasa sangat berdosa kepada Mas Ammar dan sampai kapan aku akan terus berdusta?" batin Jasmine.
Jasmine yang hanya diam membuat Adnan tersenyum, Adnan merasa sangat gemas kepada wanita yang saat ini berada dihadapannya.
Tanpa aba-aba, Adnan pun menarik tengkuk Jasmine dan segera menciumi Jasmine dengan rasa cinta yang menyelimuti hatinya.
Jasmine hanya diam dan pasrah, karena Jasmine pun menikmati perlakuan Adnan. Dibalik rasa menyesal yang dimilikinya, Jasmine pun memiliki rasa ingin menikmati sentuhan-sentuhan lembut dari seorang laki-laki.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Adnan pun segera menggandeng Jasmine untuk keluar dari ruangannya. Karena waktu telah menunjukkan pukul 18.30, kantor pun sudah sepi dan tidak ada pegawai lagi.
Jasmine hanya pasrah saat tangannya digamit dengan lelaki yang bukan mahramnya dan untuk pertama kalinya Jasmine memperlihatkan senyumnya pada seorang Adnan.
"Saya sangat suka dengan senyuman kamu, Jasmine. Tersenyumlah, ini benar-benar mood booster buat saya," kata Adnan dan segera mencium pucuk tangan Jasmine.
Jasmine hanya membalasnya dengan seuntai senyuman.
*
Ammar yang saat ini berada di rumah, fikirannya merasa sangat kacau. Apalagi pada saat Ammar mengingat jika Jasmine berangkat ke kantor di jemput oleh seorang laki-laki.
Ammar diam terpaku menatap luar jendela dengan tatapan nanar, sedari tadi Ammar menanti kedatangan istri yang sangat dicintainya namun yang ditunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Ammar bolak-balik menggunakan kursi rodanya, sesekali melihat jam di dinding, jam telah menunjukkan pukul 22.00 tapi kenapa istrinya belum juga tiba di rumah. Perasaan khawatir benar-benar menghantui dirinya. Ammar merasa ada yang aneh dengan sikap Jasmine. Biasanya Jasmine akan selalu memberi kabar kepada suaminya jika dia pulang telat, tapi kini hingga pukul 22.00 Ammar tidak mendapatkan kabar dari istrinya.
Berulangkali Ammar menelfon sang istri, namun tidak pernah diangkat olehnya. Fikiran Ammar bertambah kacau.
"Ya Allah, lindungi selalu istriku. Aku sangat mencintainya, semoga tidak terjadi apa-apa padanya," ucap Ammar seraya membentangkan kedua telapak tangannya.
Karena telah lelah, akhirnya Ammar pun masuk ke kamarnya.
*
Saat ini, Jasmine dan Adnan baru saja selesai melakukan aktivitas haramnya. Jasmine yang awalnya menolak, kini telah menikmati dosa tersebut. Bahkan Jasmine pun memperlihatkan senyuman terindahnya untuk seorang Adnan.
"Pak, sudah pukul 23.50. Lebih baik kita segera pulang yaa," ucap Jasmine yang saat ini masih berada di samping Adnan.
"Jangan panggil saya pak lagi yaa, lebih baik kamu memanggil saya dengan panggilan Abang saja," usul Adnan kepada Jasmine.
Jasmine hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengiyakan ucapan dari Adnan.
"Lebih baik sekarang kamu bersih-bersih, setelah itu kita pulang," ucap Adnan kepada Jasmine.
Perlahan Jasmine pun membuka selimut yang menutupi dirinya dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Adnan yang terus saja bergairah melihat Jasmine dengan segera memeluk Jasmine dari belakang.
"Abang, lepaskan !" ucap Jasmine dengan lembut.
"Aku masih ingin, sayang," kata Adnan seraya membisikkan kalimat tersebut ke telinga Jasmine.
"Aku nggak ingin jika suamiku menunggu terlalu lama, aku khawatir padanya," balas Jasmine.
"Aku cemburu, aku nggak mau kamu menyebutkan nama suami kamu saat kita sedang berdua," imbuh Adnan yang masih memeluk Jasmine dari belakang.
"Oke, aku nggak akan pernah mengatakannya lagi."
Perlahan Adnan pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Jasmine menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Adnan dan Jasmine pun segera keluar dari apartemen Adnan.
*
30 menit diperjalanan, akhirnya Jasmine pun tiba di rumah tepat pukul 01.30.
Dari dalam kamar, Ammar mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dengan gerakan perlahan, Ammar pun segera menarik kursi rodanya dan duduk di kursi roda tersebut.
Setelah duduk dengan sempurna, Ammar pun segera keluar dari kamar dan mengintip lewat jendela.
"Akhirnya, Jasmine pulang jugaa," monolog Ammar.
Tapi, hati Ammar kembali bertanya-tanya karena Jasmine naik mobil yang sama seperti tadi pagi hendak berangkat kerja.
"Siapakah pemilik mobil itu?" monolog Ammar lagi.
Setelah berpamitan dengan Adnan, Jasmine pun segera masuk ke rumahnya. Namun, Jasmine sangat kaget karena ketika pintu telah terbuka telah ada suaminya di hadapannya.
"Ma...Mas Ammar !!" ucap Jasmine dengan terbata.
**
