Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Besan - 5

Pak Bagas membuka mata, menatap barisan tanaman hijau di depannya. Semua tampak tertib, tumbuh sesuai jalurnya. Tidak seperti hatinya yang kini ruwet dan liar. Sebagai prajurit, ia terbiasa mengendalikan keadaan. Sebagai suami, ia tahu apa yang benar. Tapi sebagai lelaki, ia mulai goyah.

Pak Bagas berdiri perlahan, menepuk-nepuk celana pendeknya yang kotor tanah, lalu mengambil selang air dan menyirami tanaman sayurannya.

“Aku harus jaga jarak,” katanya dalam hati, mencoba meyakinkan diri. “Demi semuanya.”

Namun langkahnya terasa berat. Karena jauh di lubuk hati, ia tahu, bukan jarak fisik yang paling sulit dijaga, melainkan pikiran yang sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Tiba-tiba, suara langkah di pagar belakang. Pak Bagas menoleh, cangkul terhenti. Ia menoleh, dan alisnya langsung berkerut.

Soraya berdiri di ujung jalur tanah yang mengarah ke kebun. Jilbab putihnya tampak kontras dengan blus hijau pastel yang dipakainya. Jemarinya saling meremas, raut wajahnya tampak gelisah. Ia jelas bukan datang untuk sekadar bertamu.

Pak Bagas diam beberapa saat, sekadar memastikan dirinya tidak salah melihat. Sementara itu, Soraya tampak semakin ragu. Matanya menunduk sesaat, lalu kembali menatap Pak Bagas dengan sorot yang sulit diartikan.

“Eh… pagi, Bu Haji,” sapa Pak Bagas akhirnya, mencoba bersikap santai. Ia meletakkan selang air ke tanah, lalu menyeka peluh di lehernya dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya.

“Pagi juga, Pak Badri, eh maaf, Pak Bagas,” jawab Soraya pelan dan gugup. Suaranya hampir tertelan oleh desir angin.

Pak Bagas tersenyum dan menunggu, tapi Soraya tetap diam. Mungkin masih merasa kaget karena salah menyebutkan nama seseorang yang justru jadi sumber masalahnya.

Suasana mendadak canggung. Hanya suara gemericik air dari selang yang mengalir membasahi tanah dan suara dedaunan yang tertiup angin. Pak Bagas menyadari, ini pertama kalinya mereka berbicara setelah peristiwa di pinggir sungai dua hari yang lalu.

“Silakan duduk dulu, Bu,” ujar Pak Bagas akhirnya, menunjuk bangku kayu panjang di dekat pagar kebun.

Soraya melangkah pelan, tapi sebelum duduk, ia kembali ragu. Pandangannya turun ke arah Pak Bagas—lebih tepatnya ke celana pendek dan singlet yang dikenakannya. Ada rona samar di wajahnya, seolah baru menyadari situasi yang tidak biasa ini.

Pak Bagas sendiri menyadari tatapan itu, tapi ia tidak buru-buru menutupinya. Ia justru tersenyum kecil, setengah menggoda. “Saya nggak nyangka bakal kedatangan besan pagi-pagi di kebun, Bu. Biasanya yang ke sini cuma ayam sama kucing tetangga.”

Soraya tersenyum tipis, tapi jelas senyum itu dipaksakan. Ia akhirnya duduk, namun masih tampak gelisah.

Pak Bagas ikut duduk di seberangnya, mengambil handuk kecil dan mengusap lehernya lagi. “Maaf Bu Haji, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, meskipun dalam hati ia sudah menduga apa maksud istri muda besannya ini datang menemuinya.

“Jangan panggil saya Bu Haji, panggil Aya aja, Pak,” balas Soraya sambil menunduk. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Jemarinya kembali meremas ujung kerudungnya, sebuah kebiasaan yang tampaknya muncul setiap kali ia merasa gugup.

“Pak Mayor, apa… apa Bapak masih ingat insiden, dua hari yang lalu?” akhirnya Soraya berkata, suaranya lirih.

Pak Bagas menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar. “Iya, Bu. Saya ingat.”

Keheningan kembali melingkupi mereka. Suasana pagi yang tadinya tenang, kini terasa berat oleh sesuatu yang belum diucapkan.

Pak Bagas terdiam, ia tahu, pembicaraan ini baru saja dimulai. Ia melirik sekeliling. Kebunnya memang cukup tertutup, tetapi bukan berarti tak bisa dilihat orang lain. Tetangga bisa saja melintas, atau seseorang dari kejauhan mengamati. Pagi-pagi begini, banyak ibu-ibu yang suka menjemur pakaian atau sekadar ngobrol di halaman rumah.

“Bu Aya, kita bicara di dalam aja,” ujar Pak Bagas pelan, sambil berdiri dan mengibas-ngibaskan singletnya yang sudah agak lembap oleh keringat.

Soraya tampak semakin ragu. Matanya menatap rumah Pak Bagas yang cukup mewah namun sepi. Pintu belakangnya terbuka, mengarah langsung ke dapur. Suasana di dalam tampak sepi, mungkin terlalu sepi.

Pak Bagas bisa membaca pikirannya. Ia tersenyum kecil, lalu menenangkan, “Istri saya lagi di rumah makan, biasanya sampai sore atau malam baru pulang.”

Ada jeda. Soraya menggigit bibirnya pelan, seakan masih menimbang-nimbang. Soraya pastinya tidak terlalu kenal dengan Bu Tita, karena istrinya Pak Bagas itu hanya akrab dengan Bu Linda, ibu kandung menantunya. Malah menilai Soraya sebagai pelakor buat besannya itu.

Soraya mengangguk kecil dan mengikuti langkah Pak Bagas masuk ke dalam. Melewati pintu dapur. Aroma khas rumah tangga langsung menyambut—bau kopi yang masih tersisa dari pagi, sedikit aroma bawang dari dapur, dan semilir udara sejuk dari jendela yang terbuka.

Pak Bagas berjalan santai ke ruang tamu, lalu duduk di sofa, sementara Soraya masih berdiri canggung di ambang pintu, seakan belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya.

“Silakan duduk, Bu. Anggap aja rumah sendiri,” kata Pak Bagas, meskipun ia tahu, ucapan itu tak akan membuat situasi jadi lebih nyaman.

Soraya akhirnya duduk di ujung sofa, punggungnya tetap tegak, tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Ia masih tampak gelisah, seperti seseorang yang tak terbiasa berada di posisi ini.

Pak Bagas menyandarkan tubuhnya, mencoba bersikap santai, meskipun ia juga bisa merasakan ketegangan di udara.

“Jadi… apa yang ingin Bu Aya bicarakan?” tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Soraya menunduk, menarik napas dalam, sebelum akhirnya berbisik, “Saya… saya nggak tahu harus mulai dari mana, Pak.”

Pak Bagas menatapnya tanpa terburu-buru. “Dari yang paling sederhana aja, Bu. Kenapa datang ke sini?”

Mata Soraya sedikit berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dadanya.

“Apa… apa Bapak sudah cerita ke siapa-siapa?” tanyanya, hampir berbisik.

Pak Bagas terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. “Belum. Dan saya nggak punya niat untuk itu, Bu.”

Soraya menutup mata, melepaskan napas panjang. Ada kelegaan dalam ekspresinya, tapi juga ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

“Tapi saya penasaran, Bu,” lanjut Pak Bagas pelan. “Kenapa bisa begitu?”

Soraya membuka matanya kembali, menatap Pak Bagas dengan sorot yang rumit—campuran rasa malu, gelisah, dan sesuatu yang sulit diartikan.

Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab dalam satu kalimat.

Soraya menggenggam jemarinya sendiri, seakan mencari pegangan. Tatapannya masih ragu-ragu, tetapi ada sesuatu di dalam matanya yang akhirnya membuatnya berbicara.

“Pak Bagas…” suaranya nyaris seperti bisikan. “Saya juga nggak tahu kenapa saya bisa seperti ini.”

Pak Bagas tidak langsung menanggapi. Ia hanya diam, memberi ruang agar wanita di depannya bisa melanjutkan.

Soraya menunduk, jari-jarinya mencengkeram ujung blus hijau pastelnya.

“Mungkin Bapak berpikir saya ini wanita nggak tahu diri. Punya suami baik, hidup berkecukupan, tapi…” ia menarik napas dalam, suaranya sedikit bergetar, “tapi saya tetap melakukan sesuatu yang nggak seharusnya.”

Pak Bagas tetap diam, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara.

“Saya… saya kesepian, Pak,” lanjut Soraya dengan suara lebih lirih. “Pak Bagas, Haji Fuadi, suami saya itu orang baik. Bahkan terlalu baik. Dia nggak pernah marah, nggak pernah membentak. Semua serba teratur. Tapi… saya nggak pernah merasa benar-benar ada di dalam rumah itu.”

Soraya mengangkat wajahnya perlahan, menatap Pak Bagas dengan mata yang tampak lelah. “Pernah nggak, Bapak merasa seperti bayangan di rumah sendiri? Ada, tapi nggak benar-benar dianggap? Didengar, tapi nggak pernah dipahami?”

Pak Bagas terdiam. Ada sesuatu dalam cara Soraya berbicara yang membuatnya tersentuh, meskipun ia tak sepenuhnya setuju dengan alasan wanita itu.

“Jadi, karena itu Bu Aya memilih… lelaki itu?” tanya Pak Bagas pelan.

Soraya tersenyum miris. “Saya nggak tahu apakah itu pilihan atau hanya pelarian. Badri nggak kaya, nggak punya masa depan, pengangguran. Tapi setidaknya… dia melihat saya sebagai wanita, Pak.”

Pak Bagas menghela napas. Ia bisa memahami perasaan itu, tapi di sisi lain, tetap saja sulit menerima kenyataan bahwa wanita ini lebih memilih seorang tukang parkir serabutan atau bisa disebut pengangguran daripada menyelesaikan masalahnya dengan suaminya sendiri.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel