Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Besan - 4

Pagi itu, matahari bersinar cerah menerobos sela-sela tirai ruang makan yang luas dan rapi. Udara masih segar, diselingi aroma semerbak masakan khas Sunda yang baru matang. Di meja makan kayu jati, sudah tersaji nasi liwet lengkap dengan ayam goreng kremes, sambal terasi, lalapan segar, dan teh hangat dalam teko tanah liat, kebanggaan Bu Tita yang tak pernah absen dari jam makan pagi.

Bu Tita, wanita paruh baya yang masih tampak bugar dan anggun dengan kebaya santainya, menepuk bahu suaminya lembut. "Sarapan dulu, Pak. Ayam kremes kesukaan Bapak, masih anget."

Pak Bagas duduk dengan santai di kursinya, mengenakan kaus oblong putih dan celana olahraga. Rambutnya yang sudah mulai memutih tetap disisir rapi, khas gaya tentara yang belum bisa hilang walau sudah pensiun.

“Wah, ini baru namanya pagi yang mantap,” gumam Pak Bagas sambil tersenyum, lalu mulai menyendok nasi ke piringnya.

Suasana sarapan terasa hangat dan nyaman, nyaris tanpa beban. Obrolan mengalir ringan, diselingi bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring. Hingga tiba-tiba Bu Tita meletakkan sendoknya, lalu berkata pelan, seolah ragu,

“Itu Atnike sama anak-anak… sudah lama ya nggak main ke rumah makan. Biasanya sore-sore suka mampir, numpang makan.”

Pak Bagas berhenti mengunyah sejenak. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis.

“Mereka baik-baik saja, kok. Bahkan beberapa kali Bapak nganterin Gita sama Adi ke sekolah. Sekalian jogging pagi.”

Bu Tita mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya tak sepenuhnya lega. Ada kegelisahan halus yang tak bisa ia sembunyikan.

“Ibu cuma khawatir saja. Kasihan Atnike. Baru pertama kali ditinggal lama sama Benny. Ibu tahu dia wanita mandiri, tangguh…” Ia menarik napas pendek. “Tapi tetap saja, jauh dari suami itu beda.”

Ia menatap Pak Bagas dengan serius.

“Namanya juga perempuan, Pak. Ada waktunya kesepian. Apalagi Benny sekarang jauh di Jepang. Kita harus lebih sering nengokin mereka. Terutama Gita sama Adi. Siapa tahu mereka pengin ke mall, ke taman, atau sekadar beli es krim. Ibu perhatikan, mereka hampir nggak pernah jalan-jalan sejak Benny pergi.”

Pak Bagas menatap istrinya, lalu menunduk sejenak. Ada kilatan rasa bersalah yang cepat ia sembunyikan di balik wajah tenangnya.

“Iya… iya, Bu. Nanti Bapak lebih sering ke sana. Mungkin ajak Gita sama Aldi main ke mall, ke kolam renang, atau ke mana saja yang mereka mau. Biar sekalian refreshing.”

Bu Tita tersenyum lega.

“Baguslah. Ibu cuma nggak mau mereka merasa sendirian. Terutama Atnike. Kalau kita yang tua-tua ini mulai nggak peduli, siapa lagi? Apalagi kelihatannya Atnike juga nggak terlalu dekat sama Bu Wulan. Ya, namanya juga ibu tiri…”

Pak Bagas hanya mengangguk. Namun di dalam dadanya, sesuatu berdenyut pelan. Kata-kata istrinya terasa seperti ujung pisau yang menyentuh sisi nurani yang paling rapuh.

Ia tahu betul, kedekatannya dengan Atnike akhir-akhir ini bukan kedekatan yang seharusnya. Ada getar-getar aneh yang saling bertaut, belum melampaui batas, tetapi cukup untuk disadari. Dan ia paham, perasaan semacam itu akan tumbuh subur jika terus dibiarkan.

Ia meneguk teh hangat perlahan, lalu memalingkan wajah ke arah jendela, seolah mencari jawaban di balik langit pagi yang cerah. Namun keindahan hari itu tak cukup untuk meredam badai kecil yang mulai bergemuruh dalam dadanya, campuran antara gairah dan rasa bersalah pada istri dan anaknya sendiri.

Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya, bahwa getaran aneh itu justru muncul pada perempuan yang berstatus menantunya.

Sejak muda, Pak Bagas tak pernah kekurangan godaan. Wajah gagah dan tubuh tegapnya sebagai tentara muda kerap menarik perhatian banyak perempuan, terlebih saat ia sering bertugas jauh dari rumah. Namun semuanya berhasil ia tepis. Ia setia.

Ironisnya, justru kini, saat ia tak lagi aktif sebagai tentara, saat ia selalu berada dekat dengan istrinya, bunga-bunga perselingkuhan itu mulai tumbuh pelan, diam-diam, dan terasa semakin nyata.

Setelah selesai sarapan, Pak Bagas berdiri dan bersiap. Ia mengenakan polo shirt abu-abu dan celana chino krem—sederhana, santai, namun tetap rapi. Rambutnya yang mulai memutih disisir cepat di depan cermin. Ia lalu mengambil kunci mobil dari laci dekat pintu dan berseru,

“Yuk, Bu. Kita jalan sekarang. Biar nggak kena macet pasar.”

Bu Tita sudah siap. Tas tangan mungil tergantung di lengannya, kerudung bermotif lembut menutup kepalanya dengan rapi. Ia tersenyum menyambut suaminya, lalu berjalan keluar menuju carport.

Di sana, sebuah SUV hitam keluaran terbaru terparkir gagah. Mobil itu bukan simbol kemewahan kosong—melainkan hasil puluhan tahun kerja keras mereka. Dari dapur rumah makan yang panas, dari bangun pagi dan pulang larut, dari gaji Pak Bagas yang disisihkan perlahan. Tidak ada jalan pintas.

Pak Bagas, seperti kebiasaan lamanya, membukakan pintu mobil untuk istrinya.

“Naik yang ini saja, biar adem. Pagi-pagi sudah panas. Inggar lagi kirim barang, ya?”

Bu Tita mengangguk sambil duduk. “Iya. Katanya ada pesanan besar buat hajatan.”

Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Perjalanan menuju rumah makan sejauh lima belas kilometer melewati jalan kabupaten yang mulai ramai. Di kiri-kanan, sawah membentang hijau, diselingi toko kelontong dan warung kopi yang baru buka. Udara pagi masih segar, meski matahari perlahan menanjak.

Tak lama kemudian, bangunan rumah makan “Sunda Khas Ibu Tita” tampak dari kejauhan. Arsitekturnya khas Sunda modern, atap menjulang, dinding kayu berpadu batu alam. Halaman depannya luas, dihiasi kolam ikan dan tanaman hias yang tertata rapi.

Mobil diarahkan ke area parkir khusus di samping bangunan utama. Tempat yang biasanya dipakai pejabat atau tamu penting.

Pak Bagas turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Bu Tita. Ia melangkah santai, namun sorot matanya menyapu setiap sudut rumah makan itu. Tempat yang dulu hanyalah warung kecil beratapkan seng, kini menjelma ikon kuliner di kota mereka.

Bu Tita tersenyum puas.

“Dulu waktu Bapak masih sering tugas luar, Ibu bolak-balik belanja ke pasar sendiri. Kadang nganter pesanan ke kantor kecamatan pakai mobil sewaan,” katanya mengenang. “Sekarang… alhamdulillah. Semua sudah stabil.”

Pak Bagas mengangguk pelan.

“Bapak kadang malu sendiri. Tapi bangga, Bu. Rumah makan ini… hidup dari tanganmu.”

Bu Tita menepuk lengan suaminya lembut. “Hidup juga dari izin dan doa suami. Kalau nggak, Ibu nggak mungkin bisa sampai sejauh ini.”

Mereka duduk sejenak di kursi depan, menikmati pagi sebelum rumah makan benar-benar dipenuhi tamu. Pak Bagas menarik napas dalam-dalam. Ada rasa damai yang singgah sebentar, meski jauh di dalam hatinya, ada gelombang halus yang belum juga reda.

Setelah cukup lama menyapa karyawan, orang-orang yang sudah ia anggap keluarga, Pak Bagas pamit pulang. Bu Tita maklum. Ia tahu, meski suaminya sudah pensiun, jiwa militernya tak pernah benar-benar lepas. Ia mengira Pak Bagas akan mampir ke kantor koramil lama, sekadar ngobrol dengan rekan-rekan dulu.

Namun dugaan itu keliru.

SUV hitam itu justru meluncur pulang, melewati jalan komplek yang mulai ramai oleh anak sekolah dan ibu-ibu belanja pagi. Di balik kemudi, pikiran Pak Bagas bergulat. Nasihatnya kepada beberap rekannya, selalu terdengar bijak, bahkan terasa benar. Tapi ironis, kini ia sendiri tak sepenuhnya sanggup menjalankannya.

Bu Tita setia, perhatian, dan tak pernah kurang. Namun hasrat di dadanya justru bergerak liar, mengarah pada Atnike, menantu yang seharusnya ia jaga, juga pada godaan-godaan lain yang perlahan menggerogoti imannya.

Sesampainya di rumah, Pak Bagas memarkir mobil di garasi luas. Ia langsung menuju kamar, mengganti pakaian rapi dengan celana pendek lusuh dan kaos oblong abu-abu yang sudah lama menemani hari-hari santainya. Udara siang mulai menyengat. Namun panas di luar kalah oleh panas yang bergejolak di dalam dada.

Ia turun ke kebun sayur di belakang rumah. Tanah subur itu tampak kosong. Bah Ijan, pegawai setianya, hari ini tak masuk, ada urusan keluarga, katanya lewat telepon pagi tadi.

“Ya sudah,” gumam Pak Bagas pelan. “Aku urus sendiri.”

Ia mengambil cangkul dan ember air. Di kebun, wortel, bayam, dan kol tumbuh subur. Gerakannya mantap saat mencangkul dan membersihkan rumput liar, ritmis, teratur, seperti prajurit yang tak pernah lupa disiplin tubuhnya. Keringat menetes di pelipis, membasahi punggung kaosnya. Angin sepoi berembus, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.

Namun pikirannya tetap tak bisa diam.

Bayangan Atnike muncul lagi. Senyum lembutnya. Tatapan matanya. Lekuk tubuhnya yang masih jelas dalam ingatan, kenangan yang seharusnya tak pernah ada.

“Astaga, Bagaskara… tobatlah,” bisik hati kecilnya.

Tapi nafsu itu seperti bara di sekam. Tak terlihat, namun panas. Dan semakin lama dibiarkan, semakin sulit dipadamkan.

Pak Bagas menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, seolah ingin menghapus pikiran yang tiba-tiba menyerbu. Bayangan Soraya—istri muda besannya, muncul begitu jelas. Perempuan cantik itu, yang seharusnya hidup nyaman dan terhormat, justru terjerumus dalam hubungan gelap dengan seorang pemuda yang bahkan tak pantas disebut tempat bersandar. Semua kembali tergambar sangat nyata. Terlalu nyata. Terlalu dekat.

Dadanya berdebar tak karuan.

Ia pun duduk di bangku bambu tempat Bah Ijan biasa beristirahat. Cangkul diletakkan sembarangan di tanah. Angin kebun kembali berembus, tapi kini terasa dingin di tengkuknya.

“Mungkinkah…” gumamnya lirih. “Mungkinkah Atnike juga bisa melakukan hal yang sama seperti Soryaya?”

Pikirannya berkelana tanpa izin. Terlalu lama ditinggal suami. Hari-hari yang sepi. Beban mengurus anak sendirian. Kesepian yang pelan-pelan menggerogoti hati perempuan sekuat apa pun. Ia menelan ludah.

“Bisa jadi,” lanjutnya dalam hati, “Atnike bersikap lembut dan ramah bukan cuma sama diriku saja, tapi pada lelaki lain juga……”

Pak Bagas memejamkan mata. Ada dorongan aneh di dadanya: campuran cemburu, takut, gairah dan rasa ingin melindungi yang salah tempat. Ia tersentak menyadari perasaannya sendiri.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel