Besan - 6
“Terus… Pak Haji Fuadi gimana?” tanya Pak Bagas, mencoba menggali lebih dalam.
Soraya kembali menunduk. “Dia… dia seperti tidak peduli, Pak.”
Pak Bagas mengernyit. “Tahu perselingkuhan itu?”
Perlahan, Soraya mengangguk. “Saya nggak yakin sejak kapan dia sadar. Tapi dari caranya bersikap, dari tatapannya… saya yakin dia tahu apa yang saya laukan di belakangnya.”
Pak Bagas makin tak mengeti.
“Lalu, kenapa beliau diam saja?” tanyanya.
Soraya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan suara nyaris tak terdengar. “Pak Haji sudah tidak perkasa lagi, Pak.”
Suasana ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin. Pak Bagas menatap wanita di depannya, mencoba mencerna maksud dari kalimat itu.
Tiba-tiba Soraya memeluk Pak Bagas dengan sangat erat. Sang Mayor tertegun karena kaget. Tubuh Soraya bergetar dalam pelukannya, isakannya tertahan, seakan menumpahkan beban bertahun-tahun yang selama ini dipendamnya sendiri.
“Saya sudah nggak kuat, Pak…” suara Soraya lirih, nyaris tenggelam dalam tangis. “Saya cuma ingin hidup normal, ingin jadi istri yang benar-benar dianggap sebagai istri, walau hanya istri muda…”
Pak Bagas tidak segera menjawab. Tangannya sempat kaku, tapi perlahan ia membalas pelukan itu, mencoba menenangkan. Ada kehangatan yang terasa begitu dekat, begitu nyata.
“Saya bukan perempuan baik-baik, Pak Bagas… Saya sadar itu,” lanjut Soraya, suaranya bergetar. “Tapi apa salah kalau saya ingin dicintai seperti wanita lain? Apa salah kalau saya ingin diperlakukan seperti layaknya seorang istri, bukan cuma pajangan? Salahkah jika saya menuntut nafkah batin yang semestinya.”
Pak Bagas menutup mata sejenak. Apa yang baru saja ia dengar sulit dipercaya. Seorang istri yang tersiksa dalam pernikahannya, tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya, sementara suaminya diam-diam hidup dalam bayangan yang lain. Bayangan istri pertamanya. Lantas mengapa mereka dulu menikah?
“Saya sudah lama ingin pisah…” lanjut Soraya dengan suara yang semakin lirih, “…tapi dia nggak mau. Dia bilang kalau saya pergi, saya nggak akan dapat apa-apa. Saya nggak punya apa-apa, Pak. Saya punya dua anak dari pernikahan dengan almarhum suami saya terdahulu.”
Pak Bagas menghela napas panjang. Pelan, ia melepas pelukan itu, menatap wajah arab Soraya yang berlinang air mata. Ada keputusasaan di sana, tetapi juga kejujuran.
“Bu Aya…” suaranya dalam dan hati-hati, “saya bukan orang yang pantas menilai hidup orang lain, walau itu besan saya. Tapi kalau memang sudah seperti ini, apa Ibu yakin bisa terus bertahan?”
Soraya menggeleng lemah. “Saya capek, Pak Bagas. Saya benar-benar capek…”
Sejenak, hanya ada keheningan di antara mereka. Hanya suara napas yang masih tersengal dan sesekali isakan tertahan.
Pak Bagas menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari jawaban dalam mata belo nan indah wanita keturunan Arab itu. Dan dia masih merasakan kehangatan tubuh Soraya dalam dekapannya, lebih erat dari sebelumnya.
Napas Soraya masih tersengal, bercampur dengan isakan yang tersisa. Namun, di antara kesedihan yang melingkupinya, ada sesuatu yang lain. Sebuah kerinduan, sebuah kehampaan yang selama ini tersembunyi di baliknya. Tanpa sadar, jemari Pak Bagas menelusuri punggung wanita itu, merasakan hangat tubuhnya yang bergetar.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Ada keheningan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Lalu, seakan dikendalikan oleh sesuatu yang lebih besar dari logikanya sendiri, Pak Bagas menundukkan kepala, menyentuhkan bibirnya pada bibir istri kedua besannya itu.
Sentuhan itu lembut pada awalnya, ragu-ragu, seperti menguji batas. Namun, saat Soraya tidak menolak, bahkan perlahan membalas, Pak Bagas tidak bisa lagi menahan diri.
Ciuman itu mekar seperti bunga yang tiba-tiba terbuka di siang bolong, lembut namun penuh janji. Bibir Pak Bagas menyentuh bibir Soraya dengan kelembutan yang membuat hati wanita itu berdegup kencang, rasanya seperti hembusan angin hangat yang menyusup ke relung jiwa yang lama terkunci.
Soraya, dengan mata setengah terpejam, merespons pelan, bibirnya bergerak menyambut, membiarkan kehangatan itu meresap, membuat napasnya yang tersengal berubah menjadi desahan halus, "Aaaahh..."
Semakin dalam, ciuman mereka bergulir seperti ombak samudra yang tak terbendung. Lidah Pak Bagas menyusup dengan penuh gairah, menari liar di antara kelembutan bibir Soraya yang basah dan menggoda. Tangan pria itu kini merengkuh pinggangnya erat, menarik tubuh Soraya lebih dekat hingga dada mereka saling menempel, hangat kulit di balik kain tipis yang basah oleh air mata.
Soraya mengerang pelan, "Mmmh... Paaaak Bagas..." suaranya bergema dalam gelora panas yang membakar, lidahnya kini membalas dengan nekat, menyedot dan menggigit ringan, membuat api di antara mereka berkobar hebat. Napas mereka bercampur, tersengal dan panas, desahan Soraya semakin liar, "Ahh... lebih dalam..."
Sementara Pak Bagas menggeram rendah, "Soraya... kamu milikku siang ini," bibirnya menyusuri sudut mulutnya, mengisap lehernya dengan rakus.
Gelora itu memuncak, ciuman mereka kini penuh badai, basah, panas, dan tak terkendali. Tubuh Soraya bergetar hebat di pelukannya, tangannya mencengkeram bahu Pak Bagas, kuku-kukunya meninggalkan jejak merah di kulitnya. Desahan mereka saling bersahutan.
"Aaaah... jangan berhenti..." dari Soraya, diiringi erangan dalam Pak Bagas yang membuat udara terasa terbakar. Mereka tenggelam dalam lautan nafsu yang membara, bibir saling menggigit dan menyedot hingga napas habis, hanya menyisakan getar tubuh yang saling merindu, siap menyerah pada hasrat yang lebih dalam lagi.
Seketika itu juga, isi kepala Pak Bagas dipenuhi gambaran yang ia saksikan di pinggir sungai beberapa hari lalu. Soraya yang begitu liar dalam pelukan preman muda, gerakan tubuhnya yang penuh gairah, rintihan yang samar-samar masih terngiang di telinganya. Dan sekarang, wanita itu ada dalam pelukannya, dengan napas memburu yang sama.
Desahan-demi desahan lolos dari bibir Soraya saat Pak Bagas semakin dalam mengecupnya. Tangannya mengusap lembut wajah wanita itu, menelusuri setiap lekuknya dengan penuh perasaan. Namun di balik gejolak ini, ada sesuatu yang lain menggelitik pikirannya, sebuah kesadaran samar bahwa ini salah. Namun, apakah salah jika dua orang yang merasa bergairah pada akhirnya menemukan pelampiasan satu sama lain?
Tanpa banyak kata, Pak Bagas meraih tangan Soraya, membantunya berdiri, lalu dengan langkah tenang membawanya kembali ke dapur, ruangan yang lebih dari cukup untuk membuat keduanya berdiri begitu dekat. Dan cukup terlindung tanpa harus menutup jendela atau gordeng depan ruangan depan.
Begitu mereka sampai di dapur, Pak Bagas berbalik, menatap wanita di hadapannya dengan intens. Soraya menggigit bibir bawahnya, seolah menahan sesuatu yang ingin keluar, entah kata-kata, atau mungkin perasaan yang sudah terasa hampir meledak. Tangannya kembali memegangi penis sang komandan yang masih terhalang celana pendek.
Dengan gerakan lambat yang penuh antisipasi, jari-jari Pak Bagas terulur ke pinggangnya, perlahan membuka kancing dan menurunkan ritsleting celana pendek yang membatasi.
Kain itu melorot, menampakkan pemandangan yang membuat Soraya terbelalak, sebuah kejutan yang jauh melampaui imajinasinya. Penis sang komandan berdiri gagah perkasa, membusung, memancarkan aura maskulinitas yang kuat dan memikat, ukurannya yang besar dan kekar jauh berbeda dari yang pernah ia lihat dan rasakam.
Darah Soraya kian berdesir kencang dalam nadinya, membanjiri seluruh tubuhnya dengan gelombang gairah yang tak tertahankan.
Tanpa perlu diminta, Soraya berlutut perlahan, matanya terpaku pada batang perkasa di hadapannya. Dia menatapnya seksama, mengagumi setiap inci dari ciptaan sempurna itu. Napasnya tercekat, seolah semua udara lenyap dari paru-parunya.
Dengan keberanian yang tiba-tiba membara, Soraya mendekatkan wajahnya, menghirup aroma maskulin yang memabukkan. Ujung lidahnya yang basah dan hangat menyentuh kepala penis itu dengan lembut, membuat Pak Bagas tersentak dan mendesah lirih. “Oooh Bu Ayaaaaa….”
Soraya menjilati permukaannya dengan gerakan sensual, perlahan namun pasti, merasakan setiap urat dan denyutan. Dia mengulumnya dalam-dalam, membiarkan kehangatan dan kekenyalannya memenuhi rongga mulutnya, memompa gairah yang tak terlukiskan di antara mereka.
Desahan-desahan tertahan lolos dari bibirnya, bercampur dengan erangan kepuasan dari Pak Bagas saat Soraya dengan penuh gairah memainkan lidahnya, mengulum dan menyedot, membawa mereka berdua ke ambang kenikmatan yang memabukkan.
Soraya kini benar-benar berubah menjadi wanita yang haus akan kenikmatan, matanya liar penuh nafsu, bibirnya basah mengkilap oleh air liurnya sendiri yang membasahi batang penis raksasa Pak Bagas. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya meremas paha sang komandan untuk menjaga keseimbangan.
^*^
