Besan - 3
"Bu Haji istrinya Pak Haji Fuadi, kan?" Pak Bagas akhirnya membuka suara, untuk memastikan. Nadanya lebih rendah, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Soraya tersentak. Bibirnya terbuka seolah ingin membantah, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
Badri terkekeh, melipat tangan di depan dada. "Wah, terkenal juga ya Bu Hajah? Dengar, Bung," katanya dengan nada meremehkan, "kami hanya bersenang-senang. Tidak ada yang perlu diributkan."
Pak Bagas mengencangkan rahangnya. "Dan kamu... Badri. Saya pernah dengar namamu. Preman parkiran di kecamatan sebelah, kan?"
Badri mendengus, matanya menyipit menilai Pak Bagas dari atas ke bawah. "Ya, jadi mau sok jadi pahlawan di sini?"
Pak Bagas mengabaikan sindiran itu. Matanya masih tertuju pada Soraya, yang kini menunduk, menggigit bibirnya sendiri. Ada ketakutan di wajahnya, atau mungkin rasa bersalah?
"Kamu tinggal di mana?" Pak Bagas bertanya lagi, kali ini suaranya lebih dingin.
Badri mengangkat dagu ke arah pepohonan di seberang sungai. "Rumah gue di atas sana. Kami hanya menghabiskan waktu bersama di sini. Lu ini siapa, sih? Sok kenal, sok ngatur? Tentara atau Polisi?"
Pak Bagas tidak segera menjawab. Pikirannya masih berputar, mencoba memahami situasi ini. Bagaimana bisa istri kedua besannya yang dalam kesehariannya sangat naggun dan syar’i, bersama seorang tukang parkir atau mungkin preman lokal yang jauh dari kata tampan?
Ada sesuatu yang tidak beres.
Pak Bagas masih berdiri di sana, senapan angin tergenggam erat di tangannya. Soraya masih menunduk, jilbabnya acak-acakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena malu dan panik. Sementara Badri, pria dengan rahang kasar dan mata penuh curiga, berdiri tegak, seolah siap menghadapi ancaman apa pun.
Suara angin berbisik di sela dedaunan, menggiring keheningan yang semakin menekan. Hanya suara napas mereka yang terdengar berat dan tertahan.
“Saya cuma lewat,” suara Pak Bagas akhirnya terdengar, tenang namun dingin.
Soraya mendongak, sorot matanya memohon. Badri mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
Pak Bagas menatap mereka bergantian, membiarkan kesunyian berbicara lebih lama. Ada kekuatan dalam diam, dan dia menikmatinya. Dia bisa saja bicara banyak, bisa saja menghakimi, atau bahkan melontarkan ancaman serta menyeret mereka ke pihak berwajib. Tapi tidak.
Ia hanya membiarkan dua insan mesum itu tenggelam dalam ketakutan mereka sendiri.
“Lain kali, pilih tempat yang lebih aman, Bu Hajah.” Itu saja kalimat terakhirnya, kemudian berbalik dan melangkah pergi, membiarkan tanah basah di bawah sepatunya mengisyaratkan keberadaannya yang perlahan menjauh.
Pak Bagas tiba di rumahnya, melemparkan senapan angin ke atas meja kayu di teras, lalu melepas kaos dan celana panjangnya yang sudah basah oleh keringat dan embun pagi. Napasnya masih sedikit berat, bukan karena lelah, tapi pikirannya terus berputar.
Apa yang membuat Soraya memilih pria seperti itu untuk berselingkuh?
Sudah habiskah pria yang lebih tampan?
Mengapa harus melakukannya di semak belukar yang bersiko tinggi?
Bagaimana kalau ada ular berbisa?
"Dunia ini benar-benar penuh misteri," gumannya lirih.
Pak Bagas melangkah masuk ke kamar mandi marmer luas di dalam rumah mewahnya, pintu kaca tempered ditutup otomatis dengan suara desis pelan. Air pancuran rain shower dari sistem pompa air panas mulai mengguyur tubuhnya yang tegap dan atletis, warisan dari masa jayanya sebagai petinggi TNI.
Sabun beraroma kayu cendana digosokkan ke dada bidang dan perut six-pack yang masih terlatih, tapi pikirannya tak bisa lepas dari bayangan Soraya. Jilbabnya yang acak-acakan, wajah memerah malu, dan lekuk tubuh menggoda yang tersembunyi di balik kain basah penuh keringat.
Air hangat mengalir deras, tapi hasratnya justru membara hebat. Tangan kanannya turun perlahan, menggenggam batang kemaluannya yang sudah tegang maksimal sejak kejadian di semak belukar.
Dia membayangkan Soraya, telanjang bulat di bawah pancurannya mewah. "Ahh, Soraya... kenapa kamu begitu memabukkan?" gumamnya dalam hati, matanya terpejam rapat.
Gerakan tangannya semakin ritmis dan cepat, membayangkan bibir sensualnya membungkusnya, tangan halusnya membelai penuh gairah, dan erangan malunya saat Badri itu menguasainya. Tubuhnya menegang seperti saat latihan tempur dulu, napasnya tersengal, fantasi memuncak saat dia membayangkan Soraya berlutut di lantai marmer, memohon ampun sambil melayaninya dengan penuh tawanan.
Crot... crot… croot.. Cairan hangat menyembur ke dinding ubin, bercampur air pancuran yang tak henti.
Pak Bagas bersandar ke kaca shower tempered, napasnya perlahan tenang, tapi senyum penuh kuasa muncul di bibirnya, senyum seorang mayor yang terbiasa mengendalikan medan perang. "Lain kali, mungkin aku yang ambil alih sepenuhnya," bisiknya pada dirinya sendiri, sebelum melanjutkan mandi dengan santai, siap menghadapi hari.
Setelah mandi, Pak bagas mengenakan celana pendek dan kaos oblong, menemani ngobrol Bah Ijan yang sedang merawat kebun sayuran milik Pak Bagas, yang terhampar luas di belakang rumah besarnya.
Pak Bagas tertawa pelan, suaranya menggema di antara deretan tanaman cabai merah dan kolplay yang hijau subur di kebun belakang. Kebun seluas dua hektar ini, lengkap dengan sistem irigasi otomatis dan greenhouse. Dia menepuk pundak Bah Ijan yang sedang membungkuk menyiangi rumput liar, tangannya masih basah oleh embun pagi.
"Masih bergairah katamu, Bah? Hati-hati jangan sampai calon istri barunya malah kewalahan!" candanya sambil menyeringai, mata sipitnya berbinar nakal mengingat fantasi tadi di kamar mandi.
Bah Ijan bangkit, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju lusuhnya, wajahnya yang keriput justru penuh semangat.
“Eh, Pak Mayor, jangan remehin orang tua ini. Masih kuat kok, seminggu tiga kali bisa! Tapi iya sih, utamanya temen ngobrol malam-malam, biar nggak kesepian. Anak-anak pada sibuk, yang di kota sana malah jarang pulang." Bah Ijan menunjuk ke arah rumah-rumah sederhana di lereng bukit, tempat anak-anaknya tinggal.
Pak Bagas mengangguk bijak, pikirannya melayang ke Soraya lagi, wanita itu juga butuh teman hidup yang lebih layak daripada Badri si kasar itu.
"Baguslah rencananya, Bah. Cari yang seumuran, jangan yang muda-muda kayak... hm, pokoknya cari yang bisa diajak ngurus kebun bareng. Kalau butuh biaya lamaran, bilang aja sama saya."
Mereka duduk di bangku kayu jati di pinggir kebun, Pak Bagas menuang kopi tubruk panas dari termos perak miliknya. Asap mengepul harum, sementara burung-burung pagi berkicau riang.
Bah Ijan melanjutkan cerita, menyebut calonnya adalah janda dari desa sebelah, pekerja keras tapi lembut hatinya. Pak Bagas mendengar sambil sesekali melirik jam tangannya, sudah waktunya istirahat. Tapi obrolan ini menyegarkan, mengalihkan pikirannya dari godaan pagi tadi.
"Pokoknya, nikahnya di sini aja ya, Bah. Saya traktir semuanya," katanya tulus, sambil berdiri dan merapikan kaos oblongnya yang menempel pas di dada bidangnya.
Bah Ijan meletakkan cangkir kopinya, suaranya jadi lebih serius.
“Pak, saya sebenarnya kasihan sama Pak Anhar. Sejak nikah lagi, dia kelihatan nggak seperti dulu.”
Pak Bagas menoleh. “Kenapa memang?”
“Sebagai laki-laki… ya soal itu, Pak,” jawab Bah Ijan jujur. “Keperkasaannya menurun, bahkan hampir nggak ada. Padahal Bu Wulan masih muda, sekitar tiga puluhan. Lagi butuh-butuhnya ditemani.”
Pak Bagas terdiam sebentar.
“Abah yakin ini bukan soal badan,” lanjut Bah Ijan. “Lebih ke trauma. Istri pertamanya meninggal, dan itu ninggalin bekas. Abah sudah coba bantu dengan pijatan, biar badannya rileks, biar pikirannya enteng. Tapi belum ada perubahan.”
Bah Ijan menatap Pak Bagas penuh harap.
“Sampeyan kan besannya. Mungkin kalau dari sampeyan, nasihatnya bisa lebih masuk. Atau punya cara lain?”
Pak Bagas mengangguk pelan.
“Anhar itu keras di luar, tapi batinnya belum pulih. Kalau hati masih terkunci, badan mau dipaksa juga nggak jalan,” lanjut Bah Ijan.
Pak Bagas berdiri, merapikan kaosnya. “Mungkin nanti saya ajak dia ngobrol. Pelan-pelan. Biar dia nggak merasa sendirian, dan nggak merasa dituntut.”
Bah Ijan menghela napas lega.
“Terima kasih, Pak Mayor. Yang penting ada yang ngerti dia.”
Angin pagi menyapu kebun. Obrolan selesai, tapi beban di dada Bah Ijan terasa sedikit berkurang.
Pak Bagas berdiri memandangi kebun, tapi pikirannya sudah jauh ke malam tadi. Dia mengira obrolannya dengan Pak Anhar cuma keluhan ringan, bahan bercanda dua orang tua yang sama-sama lelah hidup. Ternyata tidak sesederhana itu.
Ia baru sadar sekarang. Cara Pak Anhar tertawa waktu itu memang terdengar ringan, tapi matanya tidak ikut tertawa. Ada kelelahan yang ditutup rapat, ada kebingungan yang disamarkan dengan guyonan. Saat Pak Anhar bilang kewalahan, rupanya bukan soal bercanda semata, tapi benar-benar merasa tak sanggup mengejar keadaan.
Pak Bagas menghela napas pelan. Ia menyesal sempat menanggapi dengan candaan. Bukan karena bercandanya salah, tapi karena ia melewatkan isyarat bahwa sahabatnya sedang butuh didengarkan lebih serius.
“Pantesan…” gumamnya.
Wulan yang masih muda, kebutuhan yang tinggi, sementara Pak Anhar belum selesai berdamai dengan masa lalunya. Luka ditinggal mati istri pertama rupanya belum sembuh, hanya terkubur di balik sikap tenang dan wajah bersahaja. Dan ketika usia tak lagi bisa diajak berbohong, semuanya muncul ke permukaan.
Pak Bagas menegakkan bahu. Ini bukan urusan orang lain lagi. Ini sahabat lamanya. Besannya. Orang yang sudah berjalan bersamanya sejak bocah.
“Kali ini aku yang harus turun tangan,” pikirnya mantap. Bukan sebagai orang yang merasa lebih mampu, tapi sebagai teman lama yang tak ingin melihat sahabatnya tenggelam sendirian.
Ia melangkah meninggalkan kebun, masuk ke rumahnya dengan satu niat jelas di kepala, suatu saat dia harus bicara lagi dengan Pak Anhar, bukan untuk bercanda, tapi untuk benar-benar bicara dari hati ke hati.
Tak bisa dibayangkan andai Wulan pun, melakukan hal yang sama seperti Soraya, melakukan hubungan terlarang dengan lelaki yang menurutnya sama sekali tidak pantas, hanya karena kurang mendapat kepuasan dari Pak Fuadi, suaminya.
^*^
