Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Besan - 2

Pagi di rumah Pak Bagas terasa tenang dan ringan. Cahaya matahari merambat masuk lewat jendela, menyentuh lantai ruang makan yang masih dingin oleh sisa malam. Dari dapur, terdengar bunyi piring beradu pelan dan aroma tumisan sederhana yang menguar, wangi bawang dan sambal yang akrab, seperti penanda hari yang dimulai dengan niat baik.

Bu Tita sudah siap sejak subuh. Rambutnya tersanggul rapi, celemek terikat di pinggang. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan. Nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Tak mewah, tapi cukup untuk mengisi tenaga dan hati. Pak Bagas duduk di kursi rotan, membaca koran sambil sesekali melirik ke arah dapur.

“Sudah siap sarapannya nih, Pak,” kata Bu Tita sambil meletakkan piring di meja.

Pak Bagas melipat koran. “Wah, seperti biasa. Pas di perut,” ujarnya sambil tersenyum.

Mereka makan bersama tanpa banyak kata. Bukan karena tak ada yang ingin dibicarakan, melainkan karena kebersamaan itu sendiri sudah cukup. Sesekali Bu Tita mengingatkan jadwal, pasokan bahan, atau pesanan yang harus disiapkan hari itu. Pak Bagas mendengarkan sambil mengangguk, sesekali menimpali dengan komentar singkat.

Tak lama kemudian, suara klakson terdengar dari depan rumah. Tidak nyaring, lebih seperti sapaan sopan. Bu Tita menoleh ke jam dinding.

“Itu Inggar sudah datang,” katanya.

Benar saja, Inggar, salah seorang pegawai mereka, sudah menunggu di depan dengan mobil bak terbuka yang biasa dipakai mengangkut bahan-bahan rumah makan. Sejak dulu, Inggar keponakan Bu Tita itu memang ikut mengelola usaha rumah makan mereka. Anak muda yang ulet, tak banyak bicara, tapi kerjanya rapi dan bisa diandalkan.

Pak Bagas berdiri, mengantar sampai depan.

Bu Tita menatap suaminya. “Nanti jangan lupa makan siang, Pak. Ibu masak yang Bapak suka.”

Pak Bagas tersenyum kecil. “Siap, Bu.”

Di depan rumah, Inggar turun dari mobil. “Pagi, Pak, Bu,” sapanya sopan.

“Pagi, Gar,” jawab Pak Bagas sambil menepuk bahu menantunya.

Bu Tita melambaikan tangan ketika mobil perlahan melaju. Dari teras, ia berdiri sejenak, memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya. Pagi itu terasa hangat, bukan hanya karena matahari yang mulai naik, tetapi karena hidup, meski sederhana dan berulang, tetap memberi rasa tenang ketika dijalani bersama orang-orang yang saling menguatkan.

Pak Bagas melangkah keluar dari rumahnya, menghirup udara yang masih segar. Embun sudah tidak ada yang menempel di dedaunan. Di tangannya, sebuah senapan angin tergenggam santai, bukan untuk berburu sungguhan, hanya untuk mengisi waktu dengan sedikit keisengan.

Ia berjalan pelan, matanya menyapu ke sekeliling. Pepohonan rindang berdiri kokoh, suara burung-burung bernyanyi di antara dahan-dahan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak pelan di tanah.

Pak Bagas mengangkat senapannya, membidik sebuah ranting kering di kejauhan. Ia menarik napas, menahan selama beberapa detik, lalu menarik pelatuk.

Pletak!

Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Ia menyeringai kecil, menikmati kepuasan sederhana dari tembakannya yang tepat sasaran.

Ia melanjutkan langkahnya, melihat seekor tupai kecil di cabang pohon, ekornya bergerak-gerak, sontak matanya menatapnya penuh waspada. Pak Bagas tersenyum, menurunkan senapannya. Ia bukan pemburu, dan pagi ini ia pergi bukan untuk membunuh.

Angin berembus pelan, membawa aroma rumput dan dedaunan. Pak Bagas terus berjalan, menikmati ketenangan limgkungannya, di antara alam yang hanya membalas keisengannya dengan bisikan lembut pepohonan.

Pak Bagas melangkah lebih jauh hingga tiba di tepian sungai kecil yang membelah hutan. Airnya jAtnikeh, mengalir tenang dengan suara gemericik yang menenangkan. Ia baru saja hendak duduk di atas batu besar, menikmati hari yang damai, ketika matanya menangkap sesuatu di seberang.

Seketika, tubuhnya menegang.

Di bawah rimbunnya dedaunan, tersembunyi dari jalur utama, ada sepasang manusia pria dan wanita yang sedang melakukan sesuatu yang sangat mencurigkan. Gerakan mereka begitu alami, liar namun intim, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kulit mereka berkilau oleh pantulan cahaya matahari yang menyelinap di antara ranting-ranting.

Gelombang kecil di permukaan air menunjukkan bahwa mereka mungkin sempat bermain di sungai sebelum semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan.

Pak Bagas tetap diam, bukan karena takut ketahuan, tapi karena pemandangan ini begitu mengejutkan. Ia tidak tahu siapa mereka, dari mana mereka datang. Apakah sepasang kekasih yang sengaja mencari ketenangan di alam terbuka? Atau mungkin pasangan terlarang yang memanfaatkan kesunyian tempat untuk melampiaskan hasrat?

Ia menelan ludah, tiba-tiba merasa seperti penyusup di sebuah adegan yang seharusnya bukan untuk matanya. Jari-jarinya menggenggam senapan angin lebih erat, bukan karena gelisah, tapi dorongan naluriah sebagai Purnawirawan TNI untuk tetap siaga.

Pak Bagas menahan napas sejenak, lalu melangkah lebih dekat, berusaha tidak menimbulkan suara di antara semak-semak. Daun-daun kering di bawah kakinya sedikit berdesir, tapi suara gemericik air dan desahan halus dari pasangan di seberang tampaknya lebih mendominasi. Dari celah dedaunan, ia mengintip, mencoba mengenali wajah mereka. Namun, masih belum terlihat jelas wajahnya.

Lelakinya tampak masih muda, namun kekar, dengan rambut sedikit gondrong tergerai di bahunya, sementara perempuan itu memiliki tubuh ramping dengan kulit kecokelatan yang berkilau oleh sinar matahari. Sepertinya mereka bukan orang-orang yang pernah Pak Bagas temui di kota sekitar.

Jantung Pak Bagas berdetak lebih cepat, bukan karena terangsang, tapi karena perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya. Ada sesuatu yang begitu liar dan primitif dalam cara mereka bersetubuh, seakan mereka bagian dari alam itu sendiri, tanpa beban, tanpa peduli apakah ada orang lain yang akan melihat segala tindakan tak pantasnya.

Pak Bagas masih berdiri di balik semak-semak, napasnya tertahan saat menyaksikan bagaimana pasangan itu larut dalam dunianya sendiri. Ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, bukan sekadar rasa bersalah karena mengintip, melainkan sesuatu yang lebih primitif.

Matanya mengikuti gerakan mereka. Cara lelaki itu menyusuri lekuk tubuh pasangannya dengan penuh penghayatan, sementara perempuan itu menengadah, seolah menyerahkan diri sepenuhnya. Mereka begitu alami, seakan alam ini memang milik mereka. Pak Bagas berusaha memperhatikan wajah mereka, namun masih belum jelas.

Namun, tiba-tiba, sesuatu membuat bulu kuduk Pak Bagas meremang. Dari balik punggung lelaki itu, ia melihat sekelebat bayangan bergerak di antara pepohonan. Seperti mata yang mengintai. Sepertinya bukan hanya dia yang menyaksikan adegan ini. Ada orang lain di luar sana.

Pak Bagas segera merapatkan tubuhnya ke batang pohon, matanya menyipit, mencoba menelusuri siapa atau apa yang mengawasi dari kejauhan. Sensasi mencekam mengusik gairah yang sempat hadir, dan kini, ia lebih fokus pada satu hal—apakah pasangan itu dalam bahaya? Ataukah justru dirinya yang harus bersiap menghadapi sesuatu?

Pak Bagas masih menempel di batang pohon, napasnya berusaha dikendalikan. Dari celah dedaunan, ia kembali mengintip ke arah pasangan paruh baya yang masih tenggelam dalam pusaran gairah. Sang wanita menggeliat dalam pelukan pasangannya, jemarinya mencengkeram rerumputan, sementara bibirnya merekah, mengerang dalam kenikmatan yang semakin memuncak. Penis itu semakin dalam menghujam vagina dan anusnya bergantian.

"Oooh ssst Badri... ahh... teruus Badri..."

Jantung Pak Bagas berdegup keras. Tubuhnya menegang seketika. Nama itu menggema di udara, menyusup ke dalam kepalanya seperti sesuatu yang tak terduga. Matanya menatap lekat wajah perempuan itu, bukan nama yang dia ingat namun samar-samar, merasa sangat familiar dengan suara itu. Namun, dalam keadaan seperti ini, sulit baginya untuk memastikan.

Setelah sekian menit, pasangan itu akhirnya mencapai puncak. Napas mereka tersengal, gerakan mulai melambat, dan setelah beberapa saat, mereka pun mulai berbenah. Dengan gerakan santai, pria itu menarik celananya, sementara sang wanita merapikan rambut dan mengenakan pakaiannya kembali, lengkap dengan kerudungnya.

Namun, rasa penasaran Pak Bagas terlalu kuat. Ia melangkah keluar dari persembunyiannya. Ranting kering yang terinjak di bawah kakinya berbunyi nyaring. Pasangan itu sontak menoleh, mata mereka membelalak begitu melihat sosok pria yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan—dengan senapan angin di tangannya.

"W-Who the hell—" Lelaki muda itu terkejut, langkahnya mundur waspada. Sang wanita juga terdiam, wajahnya memucat saat mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.

Pak Bagas tidak langsung bicara. Tatapannya menelusuri wajah si wanita itu yang kini kembali telah tertutup semua auratnya. Dengan jarak yang lebih dekat, semuanya menjadi jelas. Dan itu membuat dada Pak Bagas semakin bergemuruh.

Ia masih berdiri tegak, menahan denyut yang menggedor dadanya. Matanya menyipit, menelisik wanita yang kini berdiri kaku di hadapannya. Wajahnya tampak pucat, seperti orang yang tertangkap basah mencuri sekaleng cat di toko bangunan.

"Bu Haji..." Suara Pak Bagas serak, menghambur bersama angin sore.

Wanita berusia 30 tahun itu menelan ludah, matanya berkedip cepat, seolah mencari cara untuk menghindari situasi ini. Sementara itu, pria di sampingnya, yang diperkirakan berusia 25-an, memperkenalkan diri sebagai Badri dengan penuh percaya diri. Malah menyeringai kecil, ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

"Kenapa? Lihat-lihat begitu? Kau kenal dia?" Badri bertanya santai, melirik wanita itu dengan nada arogan dan bangga.

Pak Bagas mengabaikan, fokusnya hanya pada wanita itu. Kini ia semakin yakin, wanita itu adalah Soraya, istri kedua Pak Fuadi, pemilik toko bangunan sekaligus besannya, atau mertua Bambang, anak sulungnya sudah lebih dari 15 tahun, mereka besanan.

Meski begitu, Pak Bagas memang belum terlalu akrab dengan Soraya. Ia lebih sering berurusan dengan Bu Haji Linda, istri pertama Pak Fuadi, karena memang Bu Haji Linda lah ibu dari Alfiah, istrinya Bambang. Ia hanya pernah beberapa kali bertemu Soraya di toko matrialnya yang baru.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel