Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Besan - 1

Malam itu udara terasa sejuk. Sisa gerimis sejak sore masih melekat di daun-daun dan aspal yang lembap, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram. Dari masjid, Pak Bagas dan Pak Anhar melangkah pulang berdampingan, menyusuri jalan kecil menuju rumah masing-masing yang letaknya memang tak berjauhan. Sesekali suara jangkrik menyelinap di antara keheningan, menambah rasa damai yang sulit dijelaskan.

“Pak Bagas, saya ini kok rasanya makin kewalahan,” ujar Pak Anhar pelan. Nadanya setengah mengeluh, setengah tertawa.

Pak Bagas menoleh sedikit. “Kewalahan bagaimana, Pak?”

Pak Anhar terkekeh lebih dulu sebelum menjawab. “Istri saya itu semangatnya luar biasa. Mungkin karena usianya jauh lebih muda. Saya kadang sudah ngos-ngosan, dia malah masih ngajak tancap gas. Paham kan maksud saya?” katanya sambil melirik penuh arti.

Pak Bagas langsung tersenyum. Ia paham betul. Bahkan mungkin terlalu paham.

“Wah, kalau saya justru kebalikannya, Pak,” balasnya santai. “Istri saya sudah nggak tertarik urusan begitu. Katanya sudah menopause, sudah merasa tua. Lagi pula sibuk terus sama usaha rumah makannya. Saya sih mengerti saja, tapi ya kadang… ada rasa kesal juga,” ujarnya santai.

Tawa mereka bertemu di udara malam, tawa getir tapi hangat. Tawa dua pria yang tak lagi muda, terikat sebagai besan, dan cukup dewasa untuk berbagi realitas hidup tanpa rasa sungkan.

Seperti kebiasaannya, Pak Bagas tak tahan untuk menyelipkan candaan. Ia menyikut pelan lengan Pak Anhar. “Jangan-jangan kita memang harus tukeran, Pak,” katanya ringan.

Pak Anhar langsung menoleh. Alisnya terangkat. “Hah? Tukeran apa maksudnya?”

Pak Bagas terkekeh. “Tukeran nasib lah, Pak. Masa tukeran istri,” katanya sambil tertawa.

Gelak tawa mereka pun pecah lagi. Pak Anhar sampai menepuk jidatnya sendiri, membuat peci putihnya hampir melorot. “Edan kamu, Pak. Bisa-bisanya kepikiran begitu. Nanti malah disemprit malaikat Raqib.”

“Ah, malaikat juga pasti paham,” sahut Pak Bagas masih tertawa. “Kita kan cuma becanda.”

Perlahan, tawa itu mereda. Langkah mereka tetap seirama, dan udara di antara keduanya terasa lebih ringan, seolah beban yang tadi dibicarakan ikut luruh bersama embusan angin malam.

“Kalau dipikir-pikir, bener juga ya, Pak,” ujar Pak Anhar kemudian, suaranya lebih tenang. “Bapak kekurangan, saya kelebihan. Tapi ujung-ujungnya sama-sama bingung.”

Pak Bagas mengangguk pelan, matanya menatap jalan setapak di depan yang mulai diselimuti bayangan.

“Mungkin itu cara Allah ngajarin kita bersyukur. Supaya kita nggak sombong dengan yang kita punya, dan nggak kecil hati dengan yang nggak kita punya. Usia kita juga sudah segini, cucu sudah banyak. Sudah waktunya lebih mawas diri,” katanya sambil tersenyum.

Pak Anhar tak langsung menjawab. Ia hanya menepuk pundak Pak Bagas dengan hangat. “Pak Bagas ini memang luar biasa. Makin tua makin bijak. Wajar sih mantan komandan. Tapi tetap saja, mulutnya masih suka ngeres. Bisa-bisanya kepikiran tukeran istri.”

“Bercanda, Pak,” sahut Pak Bagas cepat. “Bukan tukeran istri, tapi tukeran nasib,” katanya sambil tertawa lagi.

Tawa mereka kembali mengalir, menyertai langkah-langkah lambat menuju rumah. Malam itu menjadi saksi bahwa persahabatan sejati tak lekang oleh usia. Apalagi kini mereka dipertautkan oleh pernikahan anak-anak mereka. Bahwa di tengah kegelisahan hidup, tawa sering kali menjadi obat paling ampuh. Dan bahwa hidup, seaneh apa pun jalannya, tetap terasa indah ketika dijalani bersama sahabat lama.

Pak Bagas dan Pak Anhar telah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga lulus SMA. Namun, selepas masa itu, kehidupan membawa mereka menempuh jalan yang berbeda. Mereka melanjutkan pendidikan di tempat terpisah, lalu tenggelam dalam kesibukan pekerjaan dan keluarga masing-masing, hingga hubungan yang dulu begitu dekat perlahan merenggang.

Pak Bagas kini berusia 63 tahun. Ia mengabdikan sebagian besar hidupnya sebagai anggota TNI hingga mencapai pangkat Mayor dan bertugas sebagai Danramil. Ia menikah dengan Tita, perempuan yang kini berusia 53 tahun dan sehari-hari mengelola usaha rumah makan yang lumayan ramai dan sukses.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak laki-laki yang semuanya telah menikah dan menjalani kehidupan sendiri dengan keluarganya. Pak Bagas juga memiliki seorang anak angkat yang mengikuti jejaknya sebagai anggota TNI, sekaligus menjadi satu-satunya penerus karier militernya.

Sementara itu, Pak Anhar yang kini berusia 60 tahun mengabdi sebagai PNS di Departemen Pemdidikan. Kariernya terbilang baik, dan ia dikenal sebagai pribadi yang bersahaja serta penuh dedikasi. Kehidupan pribadinya sempat diliputi duka ketika istri pertamanya meninggal dunia, bahkan sebelum sempat dikenal oleh Pak Bagas.

Kini, Pak Anhar menikah kembali dengan Wulan, seorang ibu rumah tangga dengan usia terpaut lebih dari 25 tahun darinya. Dari pernikahan pertamanya, Pak Anhar memiliki tiga orang anak yang telah berkeluarga, salah satunya Atnike, anak sulungnya yang menikah dengan Benny, anak kedua Pak Bagas. Sementara dari pernikahan keduanya, ia tidak dikaruniai anak.

Langkah mereka berpisah di persimpangan kecil. Pak Bagas melambai, lalu menghilang di balik pagar rumahnya. Pak Anhar melanjutkan jalan sendirian. Malam terasa lebih sunyi, tapi pikirannya justru ramai.

Di kepala Pak Anhar, percakapan barusan berputar pelan, seperti daun yang jatuh lalu berputar sebelum menyentuh tanah. Ia tersenyum kecil. Ada perasaan lega yang sulit ia jelaskan. Ternyata bukan hanya dirinya yang bergulat dengan hal-hal yang tak pernah diajarkan di buku, apalagi di mimbar. Hidup memang sering datang dengan paket yang ganjil, berkat dan ujian dibungkus kertas yang sama.

Pak Anhar berhenti sejenak di depan rumah. Lampu teras menyala, pintu sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara televisi. Kehangatan menunggunya. Ia menghela napas panjang, bukan keluhan, lebih seperti doa yang tak diucapkan.

Ucapan Pak Bagas kembali terngiang. Tentang bersyukur. Tentang tukeran istri eh nasih, tidak sombong pada yang berlebih dan tidak minder pada yang kurang. Ia mengangguk sendiri. Barangkali benar. Barangkali hidup sedang mengajarinya menata ulang harapan, menyesuaikan langkah, dan belajar jujur pada diri sendiri tanpa menyalahkan siapa pun.

Pak Anhar membuka pintu dan melangkah masuk. Malam itu, hatinya terasa lebih ringan. Tidak semua pertanyaan harus dijawab malam ini. Cukup disimpan rapi, ditemani syukur, dan dijalani perlahan. Besok, ia akan tetap menjadi dirinya. Seorang lelaki yang belajar berdamai dengan usia, dengan cinta, dan dengan hidup apa adanya.

Di dalam rumah, suasana terasa akrab namun seperti ada jarak tipis yang tak kasatmata. Televisi masih menyala, menyiarkan acara yang tak benar-benar ditonton. Wulan duduk di sofa, kakinya dilipat rapi, rambutnya digelung sederhana. Begitu mendengar pintu dibuka, ia menoleh dan tersenyum.

“Sudah pulang, Mas?” sapanya lembut.

“Iya,” jawab Pak Anhar sambil melepas peci dan meletakkannya di meja. “Dingin ya malam ini.”

“Iya, sejak hujan tadi sore,” sahut Wulan. Ia bangkit, menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dan menyerahkannya. Sentuhan jari mereka bertemu sekilas. Hangat. Tapi cepat berlalu.

Mereka duduk bersebelahan. Berita mengalir dari layar, kata-kata terdengar tapi tak benar-benar masuk. Wulan memecah hening. “Tadi lama ya di masjid. Ketemu Pak Bagas?”

“Iya. Ngobrol sebentar,” kata Pak Anhar. Ia tersenyum kecil, lalu menyesap teh.

“Mas Benny, masih di Jepang ya?” lanjut Wulan.

“Iya, mungkin satu bulan lagi sudah kembali. Kasihan Atnike sendirian terus, Gita sama Aldi juga sudah sangat rindu sama ayahnya.” Pak Anhar bicara pelan.

Wulan mengangguk. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi menahan diri. Ada jeda di antara mereka, bukan dingin, hanya hambar. Seperti masakan yang bumbunya kurang sejumput. Masih bisa dimakan, tapi tak menggetarkan.

Sudah lebih dari tiga bulan. Wulan menghitungnya bukan dengan kalender, melainkan dengan perasaan. Dengan cara Pak Anhar menjaga jarak ketika duduk. Dengan pelukan yang selalu berhenti di bahu. Dengan malam-malam yang berakhir cepat, hambar dan menggantung. Lampu dimatikan tanpa percakapan panjang. Ia tak pernah memaksa. Ia juga tak pernah mengeluh. Namun harapannya kerap muncul diam-diam, seperti cahaya kecil di ujung lorong.

“Mas capek?” tanya Wulan pelan.

“Sedikit,” jawab Pak Anhar jujur. Ia menoleh, menatap wajah istrinya yang masih menyimpan kilau muda, mata yang setia menunggu. Ada rasa bersalah menyusup, tipis tapi menusuk.

Wulan mendekatkan diri sedikit. Tidak berlebihan. Cukup untuk menunjukkan kehadiran. Bahunya menyentuh lengan Pak Anhar. Ia tersenyum lagi, senyum yang hangat, penuh pengertian, dan sekaligus berharap.

Pak Anhar menarik napas. Dalam dirinya ada tarik-menarik yang sunyi. Antara ingin memeluk dan takut tak mampu memenuhi hasrat istrinya. Antara cinta yang tetap utuh dan tubuh yang sering mengingatkan batasnya. Ia meraih tangan Wulan, menggenggamnya perlahan. Bukan jawaban atas semua yang diharapkan, tapi juga bukan penolakan.

“Terima kasih sudah nunggu,” katanya lirih.

Wulan menunduk, jempolnya membalas genggaman itu. “Saya nggak ke mana-mana, Mas,” ujarnya sederhana.

Malam berjalan pelan. Tak ada ledakan emosi, tak ada pertengkaran. Hanya dua hati yang saling dekat namun belum sepenuhnya bertemu. Di ruang tamu kecil itu, cinta tetap ada. Hanya sedang belajar menemukan bahasa barunya untuk bisa sama-sama mengisi kekosongan yang hampa.

Saat keduanya masuk kamar, kegelisahan mulai kembali menyergap mereka. Kegelisahan yang sama namun berbeda hasil akhir yang akan didapat. Wulan gelisah dan berharap suaminya bisa menyentuhnya dengan gairah yang membara. Namun Pak Anhar justru takut jika itu makin akan membuat istrinya kecewa.

^*^

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel