Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

11, You’re Not The Owner of Your Life

MAK Tita bangun dari kursi lalu menuju dapur. Menyendok nasi dan beberapa jenis lauk dan sayur di piring-piring terpisah. Sudah malam. Lauk yang tersisa pun sudah sangat terbatas. Lalu dia menyusun semuanya di nampan lebar.

“Antar ke atas nih, Gee,” suruh Mak Tita sambil meletakkan sebotol air mineral di nampan. Gia bergerak gesit dan mengambil nampan dengan wajah cerah.

“Wah, langganan spesial, Mak?” sahut Nayara. “Diantar ke atas loh.”

“Soalnya dia nggak milih makan apa. Dikasih apa juga dia makan.”

Tak lama Gia datang.

“Ganteng sih, tapi sombong,” lapor Gia menyampaikan kesannya sambil mencebik.

“Kalau orang ganteng namanya cool. Kalau jelek namanya sombong. Gimana sih lu. Nggak ngerti-ngerti aja perbedaan orang ganteng dan orang jelek,” sahut Nayara.

“Dia memang begitu. Nggak banyak omong. Selalu ke sini sendiri. Katanya sih dia suka makan di sini karena menu makanan rumahan banget.” Mak Tita melirik jam, lalu kembali bergerak ke dapur. Kali ini dia membuat secangkir kopi.

“Siapa yang mau antar ke atas?”

“Lu aja, Nay. Gantian. Di pojok kanan, duduk sendirian, kemeja abu-abu pucat, lengannya digulung. Lu langsung ngenalin dah. Ganteng sendirian. Jangan lu perkosa ya.”

“Tergantung sih, kalau gue lagi pengin gue hajar aja di TKP.” Sambil mengedikkan bahu, Nayara mengambil nampan lalu berjalan ke atas. Sampai di ujung tangga, langkahnya langsung ke arah yang disebut Gia, dan beberapa meter mendekati meja, dia terpaku. Seterpaku penghuni meja tujuannya.

Manggala.

Tak menyangka bertemu dan melayani Manggala di sini, tapi Nayara cepat menguasai diri. Nayara meletakkan cawan berisi cangkir kopi di pojok meja, mengambil piring kotor, menyusunnya di nampan, ketika melihat ada kotoran di meja dia mengelap kotoran itu. Setelah meja bersih, dia meletakkan kopi tepat di hadapan Manggala.

“Silakan, Pak.” Nayara berusaha profesional, lalu bergerak mundur dua langkah kemudian berbalik, dan langsung pergi.

“Itu si Mamang, Goblok!” serunya sambil meletakkan nampan di meja kasir. “Bos besar gue.”

“Hah?!” Sebuah kata yang sama keluar dari dua bibir.

“Dia bilang namanya Emgepe, Emge. Ajaib banget sih namanya,” ujar Mak Tita.

“MGP. Mama Golf Papa. Manggala Sastradinata. Lengkapnya Manggala Abipraya Sastradinata.”

“O em ji… Em ji pi… Singkatan tho…” Mak Tita sampai memukul dahinya sendiri.

“Nah, lu nama keren gitu lu panggil Mamang.” Ganti Gia yang bersuara. “Gimana orangnya nggak marah.”

“Memang lu nggak pernah baca proposal gue apa?”

“Lah, buat apa? Nggak ada urusan gue baca proposal lu. Mending gue baca novel. Harlequin pula.”

“Ya pokoknya dia si bos itu lah. Yang bikin gue puyeng.”

“Nah, mumpung di sini, coba aja lu lapor ide yang tadi.”

“Iya juga sih ya, daripada gue harus bikin janji lagi lewat sekertarisnya.”

“Tadi botolnya lu turunin juga nggak, Nay?” tanya Mak.

“Iya. Kenapa? Sudah habis kok isinya.”

“Nih lu antar minum lagi buat dia. Sekalian ngomong.” Mak memberikan botol minum yang baru.

Nayara meragu. Dia diam di kursinya. Tapi tak bisa lama karena Gia menariknya berdiri.

“Sono, cepetan… Keburu dia pulang.”

Setelah menarik napas panjang dan merapikan baju dan apronnya, Nayara menyambar nampan yang hanya berisi botol air mineral saja. Gia dan Mak Tita menepuk bahunya. Gia tidak menepuk tapi menggebuk. Sampai membuat botol air di nampannya jatuh. Perlakuan Gia hanya dibalas delikan mata saja.

Berjalan pelan sambil menahan debaran jantung, Nayara berusaha tetap tenang. Dia tahu, membicarakan ini tidak akan semudah membicarakan menu yang ada di sini. Mengingat pertemuannya tadi pagi, dia tahu, Manggala tidak akan mudah mengiyakan idenya.

Dia sampai di depan meja, meletakkan botol, dan hanya mendapat lirikan tipis dari Manggala yang asyik dengan ponsel. Setelah mengetahui tujuan pelayan datang—mengantar air minum—dia kembali menekuri ponsel.

Nayara menarik napas panjang—lagi.

Sekarang atau nanti. Tapi sekarang tentu lebih baik lagi. Daripada mati berdiri kerja rodi.

“Ehm, Pak,” panggil Nayara sopan. “Saya sudah punya ide buat proposal saya.”

“Ini bukan jam kerja, Miss Nayara. Biarkan saya menikmati kopi saya di sini,” balas Manggala sambil mengambil cangkir kopi dan menyesap santai.

“Oh, oke. Kita bikin janji temu di kantor Bapak aja kalau gitu.” Walau terkejut dengan respon Manggala, Nayara cepat mengusai diri. Tapi tak urung dia juga merutuki kebodohannya. Kenapa tadi dia tidak berpikir seperti itu? Terlalu bersemangat demi mengejar tenggat waktu, dia lupa tata krama aturan berbicara.

“Silakan hubungi sekertaris saya. Seperti sebelumnya.” Seperti ada yang menggelegak di dalam dirinya. Suatu keinginan untuk memberontak.

“Apa semua janji pertemuan harus melalui sekertaris?”

“Ya.”

“Apa nggak bisa Bapak atur jadwal sendiri?”

Manggala mencebik.

“Who’s the boss here? Bapak apa sekretaris Bapak?” lanjut Nayara lagi.

“Maksud kamu?”

“Kalau semua harus mengikuti aturan sekertaris, berarti dia yang bos.”

Manggala terkekeh meremehkan.

“Kalau Bapak memang bos, ya suka-suka Bapak dong mau ketemu siapa, kapan, dan di mana. Kalau jadwalnya bentrok baru sekretaris atur lagi.”

“Siapa kamu sampai saya harus ngacak-ngacak jadwal saya.”

“Saya bertanya bukan untuk janji temu kita. Saya bertanya karena saya tadi tanya, apa semua janji temu dengan Bapak harus melalui sekertaris? Bapak bilang iya. Kalau begitu bahkan waktu Bapak pun bukan punya Bapak. Padahal Tuhan kasih waktu yang sama ke semua manusia. 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Adil.”

Manggala merasa kehilangan kata-kata dengan cara berpikir gadis di depannya.

“Thinking out of the box, Pak.”

“Kamu terlalu jauh dari kotak itu.”

“But I have my own life.”

Manggala mengeryitkan dahi.

“You are absolutely the owner of your business, but you’re not the owner of your life, Sir.” Usai mengucapkan itu, Nayara mundur dua langkah, lalu berbalik pergi meninggalkan Manggala yang terus menatap ke arah menghilangnya Nayara.

Kata-kata perpisahan Nayara terulang di kepalanya.

You’re not the owner of your life.

Sesuatu terasa sangat benar, tapi kebenaran itu menyakitinya sangat. Manggala menoleh ke arah luar, terpaku menatap malam. Pandangannya kosong. Sekosong langit malam yang gelap tanpa bintang dan bulan. Semua keindahan malam tertutup awan. Angin malam bertiup menjanjikan hujan.

Seorang pelayan yang lain naik dan menutup jendela di depan Manggala yang menjadi tanda bahwa kedai ini sudah tutup, sebentar lagi semua akan pulang. Tanda halus mengusir Manggala. Dan seperti sebelumnya, Manggala tidak pernah diusir. Cukup info tersamar seperti itu dan dia mengerti. Dia berdiri dan langsung turun. Lampu di belakangnya padam satu persatu. Di bawah pun sisa satu lampu yang menyala. Lampu di atas meja kasir. Di depan meja kasir Manggala membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang kertas lalu langsung meletakkan di meja.

“Terima kasih.” Lalu dia langsung pergi.

Santai Mak Tita mengambil uang itu lalu menyelipkan di saku celana. Setelah mematikan lampu terakhir, dia berjalan keluar di belakang Manggala. Seorang pekerja sudah bersiap merapatkan rolling door. Dia mengangguk sopan ketika Manggala melangkah melewati pintu, dan begitu Mak Tita melewatinya, dia langsung merapatkan rolling door, mengunci pintu.

Hari ini sudah selesai di rumah makan itu.

Dalam diam Manggala memperhatikan kegiatan di depannya dari dalam mobil. Melihat Mak Tita dan semuanya saling melempar senyum sebagai salam perpisahan. Dan lambaian tangan mereka terasa berisi. Seperti sekumpulan orang yang benar-benar berharap bertemu lagi besok pagi.

Lalu kumpulan itu bubar, memisahkan diri ke arah yang berbeda. Tersisa Manggala yang diam sendirian dalam mobil. Tapi dari ekor matanya dia bisa melihat Nayara dan satu orang yang dia kenali sebagai pelayan yang membawakan makanannya berjalan beriringan. Pemandangan yang membuat Manggala tak lagi melirik melalui ekor mata karena sekarang pandangannya mengikuti gerakan dua gadis itu. Yang terbahak sangat lepas sepanjang jalan sambil terus bergurau. Saling berusaha memukul dan menghindar bahkan saling berkejaran. Manggala mengikuti gerakan keduanya sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangannya.

Menarik napas panjang, tiba-tiba Manggala merasa sangat lelah. Malas, dia menarik rem tangan, lalu mulai menjalankan mobil.

Malam sudah mendekati tengahnya. Seharusnya semua menuju rumah yang disebut sebagai pulang. Tapi bagi Manggala pulang atau pergi tidak ada bedanya.

Langit menepati janji mengirim hujan.

Tiba-tiba Manggala memikirkan dua gadis yang bersenda gurau di jalan. Jika masih di jalan, mereka pasti kehujanan. Mendengus kasar, Manggala berusaha mengusir bayangan dua gadis itu.

Ah,

Tepatnya bayangan satu gadis. Gadis yang tadi menusuknya dengan satu kalimat singkat.

You’re not the owner of your life.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel