10, Mencari Ide
NAYARA butuh ide untuk skripsinya. Juga untuk novelnya. Tapi jengah membuatnya buntu otak. Sehingga dia berakhir di Rumah Makan Tante Tita. Melalui pesan WA Nayara mengajak Gia ke sana. Tapi ajakannya baru bisa dipenuhi ketika Gia sudah pulang kerja.
Di sana Nayara menghabiskan energi dan kesalnya dengan menggosok meja. Bahkan ketika Mak Tita meledeknya untuk menggosok kamar mandi Nayara mengiyakan saja. Dia sudah ahli menggosok kamar mandi berkat didikan Gia dan latihan setahun lebih di kos. Dia merapikan nyaris semua hal di sana. Mak Tita membiarkan saja Nayara begitu. Malah menyemangatinya. Lepas maghrib, Nayara mulai kehabisan tenaga, tapi pengunjung justru semakin ramai. Lalu bala bantuan datang. Gia langsung bergabung dengan kesibukan kedai.
Nyaris jam sembilan tapi pengunjung belum juga putus. Nayara dan Gia sudah menyerah sejak jam delapan. Mereka berakhir di meja kasir, menemani Mak Tita menerima pembayaran.
“Sudah puas?” tanya Mak Tita yang jelas ditujukan pada Nayara. “Kalau belum, masih ada kamar mandi atas tuh belum lu gosrek.”
“Sudah, Mak. Capek banget gue. Pengin langsung molor aja kalau gini mah.”
“Gih sono ke atas. Jam segini mah sudah adem.”
“Memang lu kenapa sih? Ada masalah sama proposal lu?”
Mulailah Nayara bercerita bagaimana Manggala menolak proposalnya. Gia yang duduk di samping Mak Tita serius menekuri wajah Nayara yang ekspresinya kacau.
“Kalau proposal gue telat ACC, bisa mundur lagi semuanya. Kalau mundur, gue harus bayar SPP lagi. Ya ampuunnn…” Nayara menutup wajahnya dengan dua telapak tangan, lalu tangannya bergerak mengacak rambutnya. “Gue nggak sanggup kalau harus bayar SPP Buntara lagi.” Tangannya berakhir di menarik keras rambutnya.
“Hhmm…” Mak Tita memajukan bibirnya—berpikir—sambil terus menghitung uang kembalian. “Harus data dari Papyrus gitu?”
“Terus data dari mana dong, Mak?”
“Ya data dari sini nggak bisa apa?”
“Memang Mak punya data apaan?” tanya Nayara—sangat—bersemangat.
“Bon utang sama nota belanjaan.” Mak Tita menjawab cepat sebersemangat Nayara dengan wajah serius.
“Ish…” Semangatnya langsung terjun, tenggelam ke kerak bumi.
“Eh, siapa tau kalau lu olah tu data bisa bikin yang ngutang berkurang dan gue dapet diskon kalau belanja ke pasar.”
“Au ah, Mak.” Dia mendengus, jengkel.
“Yah, kalau lu sudah cinta sama data Papyrus, Rumah Makan Tante Tita bisa apa.” Dia mengedikkan bahunya. “Berarti lu harus ngolah data yang lain ya.”
“Iye.”
“Ni warung kapan sepinya Mak?” tanya Gia tiba-tiba.
“Eh, Cangcorang Buntet, lu bukannya bantuin gue malah berdoa warung gue sepi. Kalau ni warung sepi lu juga yang susah nebeng makan kan.” Tangan Mak Tita maju hendak menoyor Gia. Tapi tak bisa karena Gia cepat melengos. Dia tidak merasa bersalah.
“Yeuh, lu PMS, Mak? Sensi bener kayak test pack.” Gia berkelit. “Maksud gue, sekarang kayaknya ramainya tambah lama. Dulu kan jam segini sudah bisa leyeh-leyeh kita.”
“Sekarang memang lu nggak leyeh-leyeh?”
“Idih, ni orang kurang orgasme kali ye?” balas Gia tepat ketika ada pengunjung yang akan membayar. Membuat pengunjung itu menoleh ke arah Gia. Tapi Gia abai saja.
“WOYY…!! Bantuin gue mikir dulu baru kalian cari orgasme masing-masing. Gatel amat pada.” Pengunjung itu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hhmm…” Kembali, Mak Tita memonyongkan bibirnya—berpikir. “Gimana kalau urusan jam tayang?”
“Maksudnya? Kan penulis kalau sudah publish babnya langsung tayang saat itu juga.”
“Bukan itu.…” Kembali dia memajukan bibirnya. “Maksud gue, jam penulis publish bab.”
“Posting?”
“Posting? Bukan publish? Sudah ganti nama? Iya deh itu aja. Posting. Serah lu, Nay.”
“Buat apa? Penulis bebas posting kapan aja. Kan readers bisa baca kapan aja.”
“Ada notif masuk pas ada bab baru kan?”
“Iya lah.”
“Nah, kalau waktu posting nggak pas, bisa nggak readers lupa baca? Apalagi kalau notifnya tenggelam.”
“Hhmm…” Ganti Nayara yang berpikir. “Iya sih. Bisa banget.”
“Harus buka aplikasi baru muncul notif. Karena kalau notif dari HP bisa tenggelam sama dari aplikasi lain.” Ternyata Gia mengikuti diskusi itu.
“Lu bayangin. Lu as a readers. Lu follows akun penulis eroro. Lu suka banget tulisan dia. Mantap dah sex scene-nya. Eh, notif-nya masuk tengah hari bolong pas lu lagi terjebak meeting sama aki-aki kisut yang membosankan, atau apa pun itulah. Intinya notif masuk di jam kerja. Lu mau baca, lagi sibuk. Kalau pun lu bisa baca, visualisasi yang ada di depan lu nggak mendukung. Aki-aku kisut mak, botak pulak. Akhirnya lu skip dulu. Pas sudah nggak sibuk, lu lupa. Apalagi tu author jadwal publish-nya nggak jelas kapan. Suka-suka dia banget.”
“Kalau gue ya, Mak,” Gia menimpali, mengisi jeda pembicaraan. “Kalau lagi meeting yang boring gitu, masuk notif dari author fave, gue langsung baca aja.”
“Terus lu mendesah-desah di tengah meeting gitu?” Mak Tita melirik Gia tajam. “Kalau pun lu nggak mendesah-desah, muka omes lu ketauan banget, trus pas lu bangun rok lu sudah kuyup.”
Nayara terbahak sambil menoyor kepala di depannya. “Lu banget tuh, Gee.” Tapi yang diganggu malah ikut tertawa. Membayangkan dirinya mendesah di tengah meeting dengan celana dalam basah kuyup tembus ke rok kerja di depan aki-aki kisut.
“Jadi, pakai logika gampang, jangan posting bab yang hot pas jam kerja. Mending posting bab yang mengandung adegan makan dengan deskripsi detail. Apalagi kalau sebut nama warung gue ini lengkap dengan alamat. Mantap.” Mak mengacungkan ibu jarinya yang… sebanding dengan ukuran tubuhnya.
“Boleh, Mak. Lu placement di portal berita online-nya aja. Aksara. Soft selling gitu. Sekarang banyak yang suka soft selling. Gue juga garap beberapa kali tuh proyek begitu. Lumayan cicisnya jelas. Nggak panjang-panjang, paling enam atau tujuh bab aja. Kalau buat lu, naskahnya gue bikinin gratis pasti, Mak. Sisa bayar ke portal online-nya” Nayara nenjelaskan penuh semangat.
“Lu yang bayarin ye.”
“Nanti kalau gue sudah kaya.”
“Lu nikahin aja si Big Boss,” sambar Gia.
“Manggala? Idih, ogah.” Nayara sampai mengeryitkan hidung tanda keengganannya.
“Jangan begitu, nanti kesambet beneran lu tau rasa.” Mak menasehati khas orang tua. Eh, orangtua.
“Sudah ah, nggak usah bahas Big Boss, bahas skripsi gue aja.” Nayara berdecak sambil tangannya melambai menghalau angin.
“Ya gitu, Nay.” Mak menuruti mau Nayara. Kembali membahas skripsi. “Lu ambil data sekunder dari Papyrus jam posting bab.”
“Kalau nggak ada?”
“Kenapa lu pikir nggak ada?”
“Ya buat apa ngedata jam posting?”
“Kalau nggak ada, lu sampling novel. Lu bikin dah data sendiri jam posting-nya kapan.”
“Boleh juga sih, walau jadi kerjaan banget.”
“Nah lu kan bikin skripsi memang cari kerjaan, cari puyeng,” balas Mak sadis.
“Lu juga harus punya data jam readers mulai voment,” usul Gia.
“Buat?”
“Buat ngeliat sebaran kapan readers mulai baca bab baru itu, Tutup Panci!” Kembali Gia menoyor kepala Nayara. Kali ini kena. “Intinya data traffic deh.”
“Hhmm… Dari situ gue bisa tau, jam berapa readers banyak baca. Termasuk berapa jam dari bab di-posting.”
“Iyaps. Dari situ lu bisa simpulin kapan baiknya bab di-posting biar readers bisa baca dalam kondisi nyaman.”
“Dan ini untuk semua genre. Jam online ababil dan pekerja kan beda.”
“Kayaknya nggak juga deh. Tetap aja pada ngalong. Yang banyak beli kuota kalong kan ababil.”
“Lu pastiin dulu Papyrus punya data apa aja. Semakin banyak ya semakin bagus. Jadi parameter lu bisa semakin banyak.”
“Tunggu dulu,” putus Mak Tita. “Lu tuh manajemen informatika apa statistik sih?”
Nayara terkekeh. “Gue nggak suka coding, Mak. Males bikin program. Salah masuk jurusan.”
“Terus lu bisa bikin skripsi kayak anak statistik gitu?”
“Proposal gue ditolak si Mamang. Tapi sudah di-ACC kampus.”
“Ohhh…” Kembali, Mak Tita memajukan bibirnya. Entah apa yang dia pikirkan kali ini.
“Eh, ada orang ganteng, Mak.” Tiba-tiba Gia berbisik tanpa malu-malu sambil matanya mengikuti gerakan lelaki yang dimaksud. “Mak, dia ke arah kita.”
“Diam lu.” Mak Tita mendesis pada Gia lalu tersenyum dan mengangguk pada pengunjung itu. Ketika orang yang dimaksud menunjuk ke atas, Mak Tita kembali mengangguk. “Naik aja, kosong kok di atas.” Pengunjung itu langsung naik.
“Dia kalau datang selalu ke atas.” Mak menjelaskan.
“Kok gue baru lihat dia? Jarang ke sini?”
“Nggak juga. Sering kok. Tapi ya nggak setiap minggu juga.”
“Kenapa dia suka di atas?”
“Nggak tau, dia suka duduk di pojokan. Habis makan, ngopi. Nah, ngopinya yang lama.”
“Sudah mau tutup gini?”
“Dia pulang barengan kita pulang.”
***
