Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

12, Stalk

BAGI Manggala, malam itu sama seperti malam yang lain. Berusaha untuk bisa tertidur dengan berbagai cara. Lampu di kamarnya sangat temaram. Musik yang begitu lembut terdengar dari sound system. Asbaknya sudah penuh puntung rokok membuat harum aroma terapi terasa sangat sia-sia. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari tapi matanya tetap terbuka tanpa kantuk sedikit pun.

Merasa sia-sia berusaha, putus asa, Manggala menyambar strip obat di nakas. Mengambil isinya satu butir lalu menenggaknya malas. Lalu dia kembali memperbaiki posisi tidur. Menutup rapat-rapat selimut bahkan sampai menutupi seluruh kepala. Usaha yang terakhir adalah memejamkan mata dan menghitung satu sampai seterusnya. Walau hitungannya sering terganggu kalimat dan wajah yang menyebutkan kalimat itu, dengan usaha keras, akhirnya Manggala bisa tertidur.

***

Bagi Manggala, pagi itu sama seperti pagi yang lain. Bangun tanpa rasa segar, menggeliatkan tubuh karena badannya masih terasa kaku kurang tidur, malas membuka mata, …, dan lain sebagainya yang berarti sama.

Rutinitas harian saja.

Sama seperti gayanya ketika keluar dari mobil dan sampai ke ruang kerja. Berjalan lurus tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Benar-benar fokus ke ruangannya saja. Seluruh karyawan sudah tahu gayanya. Tapi… ya begitulah. Dia bos di sini. Walau dia mengabaikan seluruh penghuni gedung tetap saja semua yang dia lewati memberi salam yang santun walau hanya sekadar menganggukkan kepala saja. Dengan gaya seperti itu, tidak heran dia sering terlihat sendiri saja.

Ting

Denting lift menandakan Manggala sudah sampai di lantai tujuan. Mendengar denting itu, Lydia menoleh ke arah suara. Begitu tahu siapa yang datang. Lydia berdiri dari kursi menyambutnya.

“Mana proposal mahasiswa yang kemarin?” tanya Manggala sambil terus berjalan.

“Ada di saya, Pak.”

“Bawa masuk.” Manggala langsung masuk dan menutup pintu tak menunggu jawaban lain.

“Baik, Pak.” Walau Manggala sudah hilang dibalik pintu, Lydia tetap menjawab dan menarik proposal yang dimaksud dari tumpukan berkas lalu langsung menyerahkan berkas itu pada Manggala. Sehelai kertas berisi jadwalnya hari ini sudah ada tepat di depannya. Melihat kertas itu, dan proposal di tangannya, kembali dia teringat kalimat itu.

You are absolutely the owner of your business, but you’re not the owner of your life.

Sejak semalam dia berusaha menghilangkan kalimat itu dari RAM otaknya. Sangat sulit ketika ternyata kalimat itu adalah sebuah kenyataan yang disodorkan padanya dalam satu kalimat singkat. Selama ini dia kesulitan mendeskripsikan dirinya dan kehidupannya sesimpel itu. Kenapa seorang gadis yang baru beberapa kali bertemu bisa semudah itu menjabarkan dirinya?

Proposal di tangannya belum dia buka. Dia sudah tahu isinya. Tapi ada yang dia cari di sana. Data pribadi. Dia ingin tahu siapa gadis yang mengacak-ngacak hidupnya dalam satu kalimat. Atau merapikan hidupnya?

Manggala sudah tahu kalau Nayara adalah editor di Papyrus. Dia mengetik nama lengkap Nayara di kolom pencarian. Berusaha mencari akun sosmed Nayara. Tapi nihil. Proposal itu mencantumkan nomor ponsel Nayara. Dengan bekal nomor ponsel itu Manggala melacak akun sosmed Nayara.

Ph Nay

Itu nama yang gadis itu gunakan untuk sosmednya

Voila.

Instagram, twitter, facebook, dan… Papyrus.

Dia penulis Papyrus juga, ucap Manggala dalam hati.

Segera dia mengeklik nama itu di logo P milik Papyrus. Setelah stalk singkat. Manggala mengkopi URL akun Papyrus itu dan menyalinnya di notes Whattaps miliknya. Dia akan membaca tulisan gadis itu ketika senggang saja.

Tiga puluh menit berikutnya dia habiskan untuk stalk akun Nayara. Tidak banyak yang dia peroleh. Isi sosmednya hanya promo novelnya saja. Membosankan. Tapi dia terus scroll down, seakan tak percaya gadis seusia Nayara menggunakan sosmed hanya untuk promo saja. Dan status lain dia temukan berusia nyaris dua tahun lalu. Yang ketika terus dia telusuri ke bawah, dia langsung bisa menarik kesimpulan, dulu gadis itu sangat aktif di sosmed. Semua dia laporkan di sosmed. Tapi hanya sekitar kegiatan kampus dan teman-temannya saja. Tidak ada cerita dari rumah. Untuk ukuran aktifis sosmed seperti itu, ada satu bagian dari kehidupan yang tidak dia beritakan adalah hal yang aneh.

Tak ada hal lain yang Manggala peroleh. Dia tetap berkerut kening menghubungkan mahasiswi dari universitas favorit semahal Universitas Bumi Nusantara bekerja di rumah makan sederhana. Dia berusaha mengingat gadis itu, outfit-nya memang lusuh tapi Manggala tahu, yang Nayara pakai semua branded.

***

Manggala sudah tahu jadwalnya pagi itu ketika dia melihat gadis itu duduk di sofa ruang tunggu. Seperti pada orang lain, dia hanya diam ketika gadis itu berdiri dan mengangguk santun padanya sebagai salam. Pun ketika gadis itu duduk di kursi di depannya dia tetap tanpa ekspresi. Manggala membaca proposal yang disodorkan Nayara. Isi proposal revisi ini benar-benar baru dia baca. Dia membaca sambil bersandar santai di kursi. Membiarkan Nayara duduk menunggu dengan jantung berdebar kuat. Sesekali Manggala memijit daerah di antara dua alis membuat keningnya semakin berkerut.

Dia menutup dan meletakkan proposal di meja. Memijit daerah di antara dua alisnya lagi sambil mendengus kasar. Membuat jantung Nayara memompa lebih kencang lagi.

“Kamu punya account di Papyrus?” tanya Manggala. Tentu dia tidak akan mengaku sudah stalk akun gadis itu kan?

“Iya, Pak. Ada.”

“As a readers or an author?”

“Dua-duanya, Pak.”

“Sebagai author, apa kamu perlu data best time to posting?”

“Iya, Pak.”

“Kenapa?”

“Seperti yang saya jelaskan di proposal itu.”

“Sebagai readers, apa yang kamu lakukan kalau ada notif masuk dari bab yang kamu tunggu?”

“Maunya ya langsung baca, Pak.”

“Apa yang bikin kamu nggak langsung baca?”

“Pertama, sibuk. Kedua, sikon.”

“Kenapa sikon jadi alasan? Memang berapa lama sih waktu yang diperlukan untuk baca satu bab?”

“Tergantung panjangnya bab, Pak.”

“Kenapa harus nunggu sikon yang pas?”

“Kalau lagi banyak orang, pas babnya bikin baper, saya nggak mau orang tau kalau saya kebawa emosi baca bab itu.”

“Apa segampang itu kebawa emosi?”

“Banyak faktor, Pak. Kalau memang ceritanya bagus, readers gampang masuk ke cerita.”

“So?”

“Ya emosi asli akan kelihatan. Kalau sedih ya nangis, kalau kesel ya marah.”

“So what kalau ketahuan?”

“Makanya saya bilang tergantung sikon, Pak. Kalau kita bareng sama readers lain, apalagi sesama yang nunggu chapter itu, bakalan asyik aja keluarin emosi. Tapi kalau sikonnya nggak pas, ya mending jaim aja.”

“Buat saya itu bukan hal yang penting.”

Aduhh… revisi lagi nih, keluh Nayara dalam hati. Males banget gue harus bolak balik buat urusan proposal doang.

“Pak, platform kepenulisan itu banyak genre. Kalau menurut Bapak genre yang paling banyak penggemarnya adalah romance dengan bumbu sex scene yang sampai bikin gumoh, apa yang kira-kira terjadi kalau baca adegan itu di busway, MRT, atau Commuter Line?” Nayara jeda sejenak untuk menarik napas. Dan sebelum Manggala sempat menjawab petanyaan retoris itu dia kembali melanjutkan. “Sudahlah beresiko orang sebelah ikut baca, eh pas kebawa alur ikutan mendesah, sampai becek gitu?” Alasan to the point itu membuat Manggala kehilangan kata-kata.

“Makanya saya bilang jaim. Biar gimana, nggak ada cewek mau ketelepasan mendesah gaje di tempat ramai. Atau kalau cowok, gimana coba kalau tau-tau si junior terbangun sempurna? Di Commuter Line yang penuh desak-desakan gitu? Digeret walka, Pak. Disangka pelecehan.”

Manggala masih diam.

“Daripada high risk seperti itu, mending cari waktu yang pas buat baca. Bagus pas ada waktu readers ingat notif yang masuk. Kalau lupa? Lalu notif-nya tenggelam ke dasar list. Kita bisa kehilangan views gara-gara itu. Dan kehilangan potensi share link dari readers juga.”

Manggala membuka mulutnya, hendak berbicara.

“Semua media ada prime time-nya, Pak. Pas prime time itu TV akan tayangkan acara andalan biar banyak yang bisa nonton. Koran juga kalau orang pasang iklan beda lokasi halaman beda harga. Sosmed yang lain juga punya data itu. Apa Papyrus nggak mau punya juga? Mungkin harga iklan bisa dibedain kalau mau pasang di prime time? Seperti TV.”

“Tadi kamu bilang soal bab panjang.”

“Kenapa, Pak?”

“Setau saya readers suka kalau babnya panjang.”

“Iya, Pak. Tapi kalau kepanjangan dan isi babnya ngebosenin ya dikomplen juga.”

“Saya mau kamu coba cari tau faktor apa aja yang bikin readers komplain.”

“Ya banyak sih, Pak. Pada dasarnya semua bisa dikomplain readers. Bab panjang aja dikomplain, apalagi bab pendek. Author nggak reply kom—“

“Gunakan metode ilmiah untuk menjawab pertanyaan saya. Saya nggak mau pakai feeling karena yang kita bahas adalah proposal skripsi.”

“Jadi?”

“Ya saya mau kamu temukan konklusi itu. Bikin peringkat the most complaintable thing.”

Nayara segera mencatat pesan itu.

“Kalau bisa, cari hubungan antara readers dan author dalam hal komen.”

“Maksudnya?”

“Ya readers seperti apa yang author suka. Jangan cuma author seperti apa yang readers suka.”

“Apa perlu, Pak? Interaksi tiap orang kan beda-beda. Jelas, readers yang disuka author itu yang rajin vote dan komen.”

“Komen seperti apa? Next?” cecar Manggala lagi.

“Banyakan author nggak suka dikomen next. Padahal menurut saya, komen next itu bentuk apresiasi readers juga. Artinya cerita kamu bagus, Thor. Readers nunggu next part. Kenapa harus marah dikomen next? Bab belum ada yang mau di-publish? Ya ketik dulu aja. Kalau kelamaan, readers nggak sabar nunggu lalu kabur, itu salah authors. Bukan salah komen next itu sendiri.”

“Sedikit banyak saya tahu interaksi seperti apa antara readers dan author. Sebenarnya itu hal umum yang sudah sama-sama kita tahu. Readers maunya kalau dia komen di-reply sama author. Tapi kalau sudah banyak komen, apa sempat reply satu per satu? Author mungkin nggak anti kritik tapi sampaikan dengan sopan.”

“Nah, tuh sudah tahu.”

Lalu buat apa gue ngedata hal seperti itu? gerutu Nayara dalam hati.

“Ya siapa tahu kamu bisa menemukan hubungan itu dalam angka.” Manggala mengedikkan bahunya. “Mungkin sekarang kita belum butuh, tapi siapa tahu nanti butuh.”

Kalau nggak di-iya-in, proposal gue nggak ACC lagi nih, pikir Nayara lagi. Mengingat itu, Nayara buru-buru mencatat lagi.

“Oke, Pak. Nanti saya diskusikan dengan pembimbing baiknya seperti apa dan akan pakai metode apa.”

Yang penting dia mau kasih datanya.

“Oke kalau gitu. Silakan lanjutkan penelitian kamu.”

“Jadi saya boleh pakai data Papyrus, Pak?”

Manggala mengedikkan bahu. “Selama data yang kamu butuhkan berhubungan dengan data waktu dan jumlah traffic, silakan. Nanti saya yang hubungi IT untuk kasih kamu data apa aja.”

Yang penting dia iya dulu.

Yess.

Nayara segera berdiri dari kursi, lalu langsung menyalami Manggala.

“Kalau begitu, makasih banyak, Pak. Saya permisi.”

Ketika Nayara sudah membelakangi Manggala, Manggala memanggilnya.

“Miss Nayara?”

“Ya, Pak?” Nayara menoleh dan jantungnya kembali memompa lebih cepat.

Jangan batal, jangan batal, jangan batal.

“Kenapa kamu buru-buru sekali?”

“Saya banyak kerjaan, Pak.”

Manggala menaikkan sebelah alis, lalu terkekeh.

“Bukan itu. Kenapa proposalnya harus buru-buru ACC?”

Nayara hanya mendengus dan tertawa kecil.

“UUD, Pak. Ujung-ujungnya duit. Pelayan rumah makan kayak saya eungap kalau harus lama-lama bayar SPP Buntara.”

Manggala mengedikkan bahu laggi. “Saya mau laporan berkala skirpsi kamu.”

“Baik, Pak.”

Nayara kembali berpamit. Tetap menyisakan sebuah plot hole bagi Manggala.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel