9, Berdebat
SETELAH berbalas email beberapa kali akhirnya Nayara berhasil bersepakat dengan Lydia urusan janji temu dengan Manggala.
Dan di sanalah Nayara sekarang. Duduk santai di sofa menunggu Manggala datang. Kedatangannya yang lima belas menit lebih awal disambut senyum ramah Lydia. Proposal sudah dia serahkan sejak awal. Tapi dia tetap membawa hard copy proposal juga.
Lima menit menuju jam 9, Manggala datang. Nayara berdiri menyambutnya dan menganggukkan sedikit kepalanya. Lalu ketika Manggala masuk ke ruangannya, dia kembali duduk. Menunggu diizinkan masuk. Kali ini penampilan Nayara tidak sekacau sebelumnya. Meski style-nya masih sama tapi Nayara jelas terlihat lebih rapi. Tidak ada tragedi berlari dari halte yang membuatnya mandi keringat, terengah, dan kejadian-kejadian lain termasuk mengiba. Intinya, pagi ini semua aman terkendali.
Sambil menunggu dipanggil, Nayara membaca kembali proposalnya. Berusaha menebak-nebak apa yang kira-kira akan ditanyakan dan bagaimana dia menjawabnya.
Ah, seharusnya nggak susah dapat izin, toh gue cuma minta data saja, pikirnya menguatkan hati.
Lima menit lewat jam 9, Lydia membukakan pintu ke ruangan Manggala untuk Nayara yang langsung dia tutup begitu Nayara utuh di dalam ruangan itu. Tidak ada kecanggungan berada di sana. Ruangan ini jauh lebih sederhana dari ruang kerja Jaya dan papanya—Papa Jaya. Dia langsung menuju meja dan melihat proposalnya terbuka di depan Manggala. Entah dibaca atau tidak. Nayara yang hanya berdiri membuat Manggala mengalihkan tatapannya dari proposal, melihat ke arah Nayara. Dahinya berkeryit. Nayara membalas dengan anggukan sopan.
“Oh, silakan duduk,” suruh Manggala dengan dagunya. Nayara langsung menarik kursi di depannya dan duduk di sana. Nayara duduk rapi tapi tangan di pangkuannya memainkan pulpen yang dia siapkan untuk menulis catatan. Notes sudah dia siapkan di atas proposal yang dia siapkan.
“Jadi, inti proposal kamu apa?”
Hhmm… to the point. Baeqlahh… ujar Nayara dalam hati.
“Saya mau memetakan genre yang digemari readers Papyrus.” Manggala menutup proposal lalu menggerakkan tangan menghalau angin dengan malas. “Itu nggak perlu dipetakan. Sudah sangat jelas. Romance. Apalagi kalau ada bumbu sex scene. Semakin hot semakin tinggi viewers-nya.”
“Tapi kita butuh ranking juga, Pak. Dari situ kita bisa mengarahkan author untuk menulis sesuai genre yang digemari. Nggak melulu romance plus sex scene.”
“Kamu pikir semua author bisa menulis banyak genre? Sedang mengganti karakter atau diksi saja mereka sering susah. Bahkan banyak yang PUEBI-nya berantakan.”
“Mengganti karakter?” tanya Nayara.
“Musim-musiman juga sih. Kalau sedang musim CEO cool ya semua tokohnya adalah CEO yang cool. Alpha male gitu. Dan si author menulis karakter yang sama untuk beberapa novelnya.” Manggala mencebik.
“Kalau begitu Papyrus bisa membuat pelatihan,” usul Nayara.
“Buat apa? Toh dengan romance juga Papyrus bisa running.”
“Biar auhor punya ide lain. Nggak melulu nulis romance.”
“Patah tumbuh hilang berganti. Yang lama kehabisan ide, akan muncul auhor baru.”
“Tapi kalau begitu kita sulit punya penulis tetap, Pak.”
“Buat apa? Author bebas memilih platform. Selama dia nyaman di platform lama, dia tidak akan pindah. Salah satu jenis kenyamanan adalah royalty dan keamanan naskah mereka. Selama Papyrus tidak bisa dicopas, mereka akan merasa naskahnya aman di Papyrus. Soal keamanan, saya in charged langsung. Dan data saya berkata bahwa jumlah author Papyrus trendline-nya meningkat. Nothing to worry. Papyrus, author, dan readers adalah simbiosis mutualisme yang sempurna.”
“Tapi dengan pelatihan kualitas penulis bisa lebih baik, Pak.”
“Core bisnis Papyrus itu novel online. Bukan Fakultas Sastra. Kami nggak perlu bikin author bisa nulis banyak genre dan bisa konsisten menulis.”
Nayara mati langkah.
“Tapi baiklah, membuat pelatihan bisa saya masukkan ke rencana ke depan. Itu urusan marketing. Tapi ini bukan tujuan penyusunan skripsi kamu kan?”
“Eh, bukan sih. Skripsi saya nggak ke marketing langsung.” Nayara tergagap.
“Apa lagi yang kamu tawarkan?”
“Kita bisa memetakan segmentasi readers, Pak.”
“Buat?”
“Misalnya biar kita bisa menentukan rate.”
“Buat?”
“Biar readers baca sesuai umurnya.”
Manggala terbahak sangat keras.
“Miss Nayara, kamu pikir label di acara TV berguna? Ketika remote di tangan dan tanpa ada yang mendampingi, semua nonsen. Bablas aja. Sama seperti gadget. Begitu ada koneksi internet tapi nggak ada pengawas, ya sudah. Semua bebas.”
“Makanya kita perlu menyaring readers ketika mereka buka account dari tanggal lahirnya.”
“Kalau cuma tanggal lahir, apa susahnya mereka tua-in? Toh selama ini seperti itu. Kamu jangan suruh new member Papyrus upload foto mereka sambil pegang KTP ya. Fintect aja nggak sebegitunya.”
“Tapi—”
“Bukannya saya nggak mau bicara moral, tapi kamu nggak usah bikin Papyrus sangat mengedepankan moral dengan menyaring bacaan sesuai umur readers-nya. Sangat sulit menyaring segmentasi kalau readers under ages sudah diberikan gadget dan koneksi internet sama orangtuanya. Datanya akan kacau karena mereka akan input tanggal lahir palsu. Saya hanya bisa bikin pagar, author kalau nulis bertanggungjawablah sedikit. Naskah yang terlalu vulgar Papyrus akan take down. Dan nggak cuma soal sex; soal kekerasan, SARA, dan lain-lain juga Papyrus bisa ambil tindakan tegas. Cukup dari laporan readers aja, lalu satu atau dua orang Papyrus baca naskah itu, selesai urusan. Author nggak bisa mengelak. Dan harus terima kalau naskahnya di-take down. Itu ada di perjanjian yang mereka setujui di awal dan cukup detail.”
Nayara terdiam. Dia hanya meminta data, tapi Manggala sudah seperti dosen penguji.
“Saya mau penelitian kamu yang pakai data Papyrus berguna buat Papyrus,” lanjut Manggala lagi masih dengan intonasi mengintimidasi. Nayara benar-benar merasa sedang berhadapan dengan dosen penguji. Apa seperti ini suasana sidang skripsi?
“Misalnya?”
Manggala malah terbahak keras yang mengejutkan Nayara. Tapi bahaknya itu berakhir dengan dengus sinis yang membuat Nayara makin kacau.
“Yang mau skripsi itu kamu. Yang ngajuin proposal juga kamu. Masak saya yang disuruh mikir. Kalau begitu buat apa kamu di sini sekarang?”
Nayara diam kehilangan kata.
“Kalau kamu belum ada ide seperti yang saya mau, mending kamu pulang dulu, perbaiki proposal kamu. Mikir dulu ide yang bagus apa. Jangan bawa proposal mentah gini ke saya,” ujar Manggala sambil mengambil lalu melempar proposal Nayara ke meja.
Nayara merengut, mengerucutkan bibirnya.
“Sudah?” tanya Manggala lagi.
“Sudah apa?”
Kali ini Manggala terkekeh yang sangat mengesalkan di mata dan telinga Nayara.”
“Sudah ada ide?”
“Belum.”
“Nah, kalau begitu, silakan keluar dari ruangan saya. Mikir dulu. Selagi kamu mikir, saya mau kerja dulu. Gimana? Deal?”
“Yah, deadline-nya dua minggu lagi, Pak.”
“Dua minggu itu lama, Nona. Kamu sempat mati tujuh kali dalam waktu dua minggu itu.”
“Tapi bikin janji sama Bapak kan susah.”
“Kalau begitu, mikirnya dipercepat, biar waktu kamu buat janji temu sama saya lebih longgar.”
Nayara mendesah malas. Ini bukan cuma urusan waktu, tapi juga uang. Terlambat, berarti harus ekstra semester. Berarti ekstra SPP.
Itu….
“Oke, Nona? Saya sudah ada janji lain. Selamat pagi, and… good luck.”
Diusir dengan sopan seperti itu, tidak ada pilihan lain selain segera berdiri dan berpamit. Untung Nayara tidak melupakan sopan santun. Sangat absurd jika dia ingin meneliti segmentasi usia demi moral tapi lupa urusan sopan santun.
***
