Bab 3 ~ Memenuhi Janji
“Akhirnya aku bisa pulang dan terlepas dari pria itu,” keluh Sirena mendaratkan bokongnya di atas sofa. Dia merogoh ponsel di dalam tasnya dan mencoba menyalakannya.
“Ternyata dayanya habis,” gumamnya langsung bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati alat chargernya.
Dia pun menyalakan ponselnya dan ada beberapa pesan dari sepupunya yang membantu Siren menjaga Ibunya yang di rumah sakit. Dia pun segera membuka pesan itu.
“Ren, kamu di mana sih? Kenapa tidak ada kabar? Kamu baik-baik saja, kan? Cepatlah ke rumah sakit, ibumu sudah siuman.”
Itulah isi pesan yang di kirim oleh Kakak sepupunya yang bernama Ramon.
“Aku baru sampai di apartemen. Aku akan segera ke rumah sakit.” Sirena bergegas membalas pesan itu dan bangkit dari duduknya. Dia langsung menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit.
***
Sirena baru saja sampai di rumah sakit, dia pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat ibunya di rawat.
“Mom?” Siren langsung memegang jemari tangan ibunya di sana.
“Sirena? Putriku .... “
“Aku di sini, Mom. Bagaimana keadaan Mommy? Apa yang dirasakan?” tanya Siren dengan tatapan nanar penuh kekhawatiran. “Mommy tahu, setelah Dad meninggal dan Mommy pingsan dan tidak kunjung sadarkan diri, aku sangat khawatir.”
Siren hanya bisa menangis di sana. “Maaf, karena selama ini aku egois dan memilih untuk hidup sendirian, tanpa peduli pada Mom dan Dad.”
“Jangan menangis, Siren,” ujar wanita dengan wajah pucat dan suara lemah itu. “Ini bukanlah kesalahanmu, maaf karena Dad dan Mom meninggalkan banyak sekali masalah.” Wanita bernama Brianna.
“Sekarang, Mommy fokus dengan kesehatan Mom, ya. Aku akan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan semua masalah yang terjadi pada keluarga kita,” ujar Sirena menyeka air matanya.
“Bagaimana caranya, Nak? Jangan memaksakan dirimu, lepas saja perusahaan dan semua aset keluarga kita. Fokus pada hidupmu sendiri,” ujar Brianna. “Dan, Mom ada sedikit simpanan untuk peganganmu. Perhiasan itu bisa membantumu bertahan hidup selama satu tahun tanpa kekurangan. Gunakan saja itu dan ayo, bawa Mommy keluar dari rumah sakit.”
“Mommy tidak perlu memikirkan semua hal itu. Karena aku sudah punya jalan keluarnya,” ujar Sirena berusaha meyakinkan Brianna dengan memegang tangan wanita itu.
“Bagaimana? jangan melakukan hal diluar kemampuanmu, Sirena. Jangan bahayakan dirimu, Nak.” Brianna menatap Sirena dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Tidak, Mom. Semuanya baik-baik saja, aku tidak akan melakukan hal yang berbahaya,” ujar Sirena tersenyum meyakinkan Brianna. “Pokoknya, Mom fokus pada kesehatan Mom dan harus sembuh. Aku tidak mau kehilangan Mommy setelah kepergian Daddy.”
“Sirena?” Brianna hanya bisa menangis, merasakan beratnya rasa bersalah yang menghimpit hatinya.
Semua ini dimulai dari tipu daya seseorang yang mengacak-acak bisnis suaminya, membuat perusahaan mereka rugi total. Kini, dampaknya begitu mengerikan, dan suaminya, yang tidak menemukan jalan keluar, malah memilih jalan yang sangat tragis dengan mengakhiri hidupnya. Dia merasa hancur, melihat anaknya, Sirena, yang harus menanggung dampak dari semua itu. Rasanya, seperti dunia ini runtuh dalam sekejap, dan Brianna hanya berharap bisa mengembalikan waktu agar semua bisa berbeda.
“Percayakan semuanya padaku, Mom.” Sirena berusaha meyakinkan ibunya supaya bisa lebih tenang.
Setelah berbincang ringan dengan Brianna, Sirena pun keluar dari ruangan tersebut.
“Siren!” panggilan itu membuat Sirena menoleh ke sumber suara.
“Ramon?” Ramon yang merupakan sepupunya sedang berjalan mendekati Siren dan berdiri di hadapan wanita itu.
“Kamu ke mana saja? Sejak kemarin aku coba menghubungimu, tapi kamu tidak menerima panggilanku satupun. Dan tidur di mana kamu semalam?” tanya Ramon menatap Siren penuh kecurigaan.
“Aku hanya pergi untuk menyelesaikan masalah,” jawab Sirena. “Semalam karena terlalu lelah, aku tidur di apartemen.”
“Kamu serius?” tanya Ramon yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Siren.
Pria itu tampak menghela napasnya. “Aku sangat khawatir padamu, Siren,” ujarnya. “Aku takut kamu berbuat hal nekat yang membahayakan dirimu untuk mencari jalan keluarnya.”
Sirena tersenyum kecil di sana. “Tenang saja, semuanya baik-baik saja kok,” jawabnya walau sebenarnya tidak semuanya baik.
“Kak, apa Dokter sudah datang?” tanya Siren.
“Belum. Mungkin sebentar lagi dokter datang dan melakukan pemeriksaan pada Tante Brianna,” jawab Ramon. “Ngomong-ngomong untuk biaya rumah sakitnya, aku akan coba bicara dengan Ayahku, siapa tahu dia bisa membantu.”
Sirena tahu betul bahwa keluarganya, baik dari pihak Ayah maupun Ibu, tidak ada satupun yang mau membantu dan memilih memalingkan wajah mereka. Rasanya sangat menyedihkan melihat orang-orang terdekatnya lebih memilih untuk menghindar daripada menawarkan bantuan ketika waktu sulit tiba. Bahkan orang tua Ramon, yang seharusnya bisa diharapkan untuk memberikan sedikit kasih sayang dan dukungan, juga tidak menunjukkan minat untuk terlibat.
Namun, di tengah semua keputusasaan dan ketidakpastian itu, Sirena bisa menarik napas lega karena Ramon tetap di sisinya. Dia bersyukur karena meskipun keluarganya bersikap dingin, Ramon tidak pernah menjauhinya. Dia selalu ada untuk membantu menjaga Brianna di rumah sakit. Itu jadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan yang sedang dihadapinya, dan Sirena sangat menghargai kehadiran Ramon yang tulus dan pengertian.
Mereka berdua menghadapi tantangan ini bersama, dan meskipun banyak hal lain yang terasa hampa dan sepi, dukungan Ramon memberikan kekuatan dan harapan bagi Sirena untuk terus melangkah.
“Tidak perlu. Masalah biaya aku sudah menyelesaikannya,” jawab Sirena dengan tenang.
“Hah? Bagaimana bisa? Bukankah kamu tidak punya uang?” tanya Ramon mengernyitkan dahinya.
“Aku mendapat bantuan dari seseorang. Jadi, kamu tenang saja,” ujar Sirena.
“Siapa? Siapa yang membantumu, Siren?” tanya Ramon sedikit memaksa.
“Ada, seorang teman,” jawab Sirena tersenyum kecil.
Saat itu, ponsel Sirena berdering, dan nada ding-dong khas email masuk mengalun lembut, membuatnya langsung penasaran. Tanpa menunggu lama, dia langsung membuka email itu dan terkejut mendapati bahwa proposal yang dia ajukan ke perusahaan James akhirnya diterima. Rasa cemas yang selama ini menghantuinya pun seakan lenyap seketika, tergantikan dengan harapan baru.
Di dalam email itu, James juga meminta agar Sirena segera menyiapkan kontrak, dan membuatnya cukup merasa lega. Namun, kejutannya belum berakhir di situ. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi dengan pesan baru yang datang dari bank. Ketika dia memeriksa saldo rekeningnya, matanya melebar melihat jumlah uang yang masuk, dan foodie part-time ini nyaris tidak percaya. Ini adalah nominal yang jauh lebih besar dari yang diharapkannya. Pesan dari bank itu tidak hanya menandakan keberhasilan transaksi, tetapi juga memberi tahu bahwa uang itu sudah ada di rekeningnya.
Disusul dengan sebuah notif pesan masuk dari nomor baru.
“Pakai uang itu untuk biaya pengobatan ibumu. Sisanya akan kukirimkan lagi nanti. ~ J!”
Itulah pesan yang dikirim oleh nomor tidak di kenal, tetapi singkatan nama ‘J’ itu sudah menjelaskan siapa yang mengirimnya.
“Ternyata dia benar-benar menepati janjinya,” batin Sirena menatap layar ponselnya.
***
