Bab 2 ~ Merasa Hancur
“Hah ... hah!”
Sirena membuka matanya dengan napas terengah. Dia mendudukkan diri dan mengusap dahinya yang berkeringat.
“A-apa semua itu mimpi?” batinnya masih merasa bingung.
Namun, Sirena merasa seluruh tubuhnya sakit dan kaku. Kemudian dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, kedua matanya melebar saat mengetahui dia tidak mengenakan apa pun.
“Jadi semua itu bukan mimpi?” batinnya. “Di mana baju-“
Belum sempat ucapan batinnya selesai, matanya menangkap pakaiannya yang sudah koyak terongok di lantai, dan seketika itu juga, kenangan semalam melanda pikirannya seperti badai yang tak terduga. Kepingan bayangan saat dia dan James menghabiskan malam pertama mereka kembali muncul dengan jelas, setiap detailnya menyakitkan tapi tak terelakkan.
Dia teringat bagaimana perasaan campur aduk itu mengaduk-aduk dalam hatinya, mengingat situasi yang terdesak dan penuh rasa sakit yang harus dia hadapi. Apa yang seharusnya menjadi momen indah dalam hubungan mereka malah berubah menjadi pengingat pahit tentang harga diri yang terjual demi keluarga. Dalam upaya untuk menolong keluarganya, Siren merasa terpaksa mengambil jalan yang sangat menyakitkan ini, menyakiti dirinya sendiri lebih dalam dari yang bisa dia bayangkan.
Bukan hanya fisik yang tercerai-berai oleh tindakan yang terpaksa dia ambil, tetapi hatinya pun, hancur dan sakit berkeping-keping, berusaha menerima kenyataan pahit dari semua yang telah terjadi.
Dalam keheningan pagi itu, saat dia menatap pakaian yang berserakan, dia tahu bahwa semua ini bukan hanya tentang keputusan yang dibuat, tetapi juga tentang kehilangan bagian dari dirinya sendiri yang tidak akan pernah bisa kembali.
Ketika dia sibuk memperhatikan ceceran pakaiannya di lantai. Dia mendengar suara di sampingnya, saat Sirena menoleh, kedua matanya melebar saat melihat punggung polos pria yang tertidur memunggunginya.
Sakit dan kecewa dia rasakan sekaligus. Dia merasa masa depannya hancur, dan entah harus menyalahkan pria di sampingnya atau Ayah yang begitu dia sayangi, karena ulahnya yang meninggalkan hutang banyak dan melarikan diri, Siren harus menanggung semua beban ini. Ditambah ibunya yang juga sedang sakit di rumah sakit, semua itu benar-benar membuat Siren jadi tak berdaya.
Dengan gerakan pelan, tanpa ingin membangunkan pria di sampingnya, Sirena menuruni ranjang dan berjalan perlahan menuju kamar mandi, menahan rasa ngilu dan pegal di pangkal pahanya. Setiap langkah terasa berat, seperti beban emosional yang mengikutinya, mengingatkan pada kenyataan pahit yang baru saja dia alami.
Di kamar mandi, Sirena masuk ke ruang shower dan membiarkan tubuhnya diguyur air dingin yang menusuk, seakan-akan air itu bisa membersihkan semua jejak luka di hatinya. Dia menundukkan kepalanya, membiarkan air membilas seluruh tubuhnya, menyembunyikan tangisnya yang pecah dalam keheningan. Air yang jatuh seakan membawa pergi semua rasa keruh dalam batinnya, tapi entah kenapa, perasaan hina dan kotor itu tak kunjung sirna.
Dia merasa begitu lemah, seperti tak ada lagi makna dalam hidupnya, dan saat menatap bayangannya di cermin yang kabur oleh embun, dia melihat seorang wanita yang tersisih, seolah tak ada bedanya dengan para wanita penghibur lainnya yang sering diusir masyarakat. Dengan setiap tetes air yang jatuh, Sirena menumpahkan segala rasa sakit dalam hatinya, membiarkan semua air mata bercampur dengan air dingin, berharap suatu saat nanti dia bisa menemukan kembali jati dirinya yang hilang.
Tok! Tok! Tok!
“Kamu tidak mati di kamar mandi, kan?” terdengar suara gedoran di pintu kamar mandi membuat Sirena terlonjak kaget. Akhirnya dia pun menyudahi kegiatan mandinya dan memakai jubah handuk.
Sirena membuka pintu dengan kepala tertunduk, tidak berani melihat pria di depannya yang nyelonong masuk begitu saja tanpa memakai sehelai benangpun.
Melihat itu, Sirena segera keluar dari kamar mandi tanpa ingin berbicara maupun melihatnya lagi. Terdengar air mengalir, menandakan pria itu sedang mandi.
Sirena bingung harus memakai apa, pakaiannya telah koyak dan tidak ada pakaian ganti di sana selain jubah handuk yang dia pakai.
Tidak lama, James keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
“Kenapa belum memakai baju?” tanya James berbicara santai.
“Ck, apa kamu lupa, tuan James. Pakaianku sudah kamu robek!” jawab Sirena dengan sinis membuat James terkekeh di sana.
“Astaga, aku melupakan hal itu,” kekehnya dengan kerlingan nakal membuat Sirena memalingkan wajahnya dengan sebal.
Pria itu berjalan ke arah lemari besar dan membukanya. “Pilihlah pakaian yang kamu suka.”
Setelah mengatakan itu, James mengambil sepasang baju pria dan kembali masuk ke kamar mandi.
Sirena bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati lemari tersebut. Dia melihat isi lemari dan memang benar ada beberapa potong dress dan setelan milik wanita. Dan melihat dari semuanya, ternyata ukurannya sama dengan miliknya.
“Bagaimana dia tahu ukuranku,” gumam Sirena mengambil salah satu pakaian di sana. “Dan kapan dia menyiapkan semua ini?” batin Sirena tanpa pikir panjang mengenakan pakaian itu.
¤¤¤
Sesuai keinginan James, seusai sarapan di restoran hotel dengan mengambil ruangan pribadi. Vaul membawakan dua lembar kertas kosong dan meletakkannya di atas meja.
“Apa ini?” tanya Sirena.
“Kontrak. Bagaimana pun, bisnis kita akan berjalan lancar dengan adanya sebuah kontrak tertulis. Bagaimana pun, aku tidak mau melarikan diri setelah menerima uang dan banyak bantuan dariku,” jawab James dengan santai di sana dan tersenyum manis.
“Aku akan membayar semua hutang itu dalam tiga tahun, dan memastikan perusahaan kembali bangkit dengan keuntungan yang diharapkan. Dengan begitu, aku bisa membagikan persenanmu,” ujar Sirena.
“Kamu yakin hanya tiga tahun?” tanya James tersenyum penuh seringai di sana.
“Ya, tentu. Bagaimana pun, saya akan melunasinya dengan cepat. Dan kapanpun waktunya aku melunasi semua hutangku, tolong akhiri partner ranjang itu juga,” ujar Sirena dengan tegas.
“Baiklah. Tiga tahun, ya,” ujar James. “Aku ingin kamu mengosongkan waktumu dalam satu minggu dua kali.”
“A-apa? kenapa harus seminggu dua kali?” protes Sirena.
“Kalau kamu tidak setuju, kita batalkan saja kontraknya, bagaimana?” tanya James menyeringai licik. Jelas, Sirena tidak bisa mundur lagi mengingat James sudah menjadi orang pertama untuk Sirena.
"Baiklah!" jawab Sirena menatap James dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku akan menyiapkan apartemen khusus pertemuan kita. Aku akan menghubungimu untuk harinya, jadi luangkan waktumu,” ujar James dan Sirena tidak bisa berkata apa-apa di sana.
“Aku akan langsung menyelesaikan masalah hutang perusahaan dengan Pamanmu. Lalu, aku juga akan membayar sebagian biaya perawatan ibumu,” ujar James.
“Baiklah.”
“Apa ada syarat yang ingin kamu ajukan di kotrak kita?” tanya James.
“Aku ingin kita tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing, selain dari hari yang dijadwalkan, tidak ada pertemuan untuk kita berdua,” ujar Sirena dengan tegas.
“Oke, diterima.”
Sirena menghela napasnya di sana. “Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Kabari saja kalau surat kontraknya sudah selesai dan aku akan menandatanganinya,” jawab Sirena bangkit dari duduknya.
James pun berdiri dari duduknya sambil mengulurkan tangan pada Sirena.
“Senang bisa bekerja sama denganmu, Siren,” ujar James tersenyum lebar yang menurut Sirena sangat menyebalkan.
“Ya.” Sirena menyambut uluran tangan James dengan sorot mata tajam penuh kekesalan.
Sirena hendak menarik tangannya dari genggaman James, tetapi pria itu malah menahannya.
“Hanya sedikit saran untukmu. Jangan terlalu membenciku, kalau kamu tidak mau jatuh cinta padaku,” ujar James tersenyum menggoda Sirena.
Sirena dengan cepat menarik tangannya dari genggaman James. “Itu, tidak akan pernah terjadi!” jawabnya berlalu pergi dengan menenteng tasnya keluar dari ruangan itu.
James kembali duduk di kursinya sambil terkekeh.
“Bukankah ini sangat menyenangkan, Vaul?” kekeh James.
***
