Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 ~ Kondisi Ibunda Sirena

"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?" tanya Sirena dengan tatapan penuh kekhawatiran saat Dokter keluar dari ruangan ibunya Siren.

Dokter yang memeriksa Ibunya tadi mengatakan hasil pemeriksaannya.

“Dengan berat hati, kami perlu menyampaikan kabar mengenai kondisi kesehatan Ibu anda. Saat ini, Ibu anda menderita penyakit kanker usus pada stadium lanjut, yang mengakibatkan kondisi medisnya berada dalam tahap kritis. Tim medis kami telah melakukan segala upaya untuk memberikan perawatan terbaik, namun tantangan yang dihadapi sangatlah berat. Kami memahami betapa sulitnya situasi ini bagi anda dan keluarga. Dukungan serta perhatian dari orang-orang terdekat sangat penting dalam menghadapi masa-masa yang penuh tantangan ini. Kami akan terus memantau kondisi Ibu anda dan memberikan informasi terkini mengenai perawatannya.” Dokter menjelaskannya dengan penuh penyesalan.

Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Sirena membeku di tempatnya dengan tatapan mata melebar karena terkejut.

Siren menatap dokter dengan penuh harapan dan kebingungan, menggali informasi lebih dalam tentang kondisi ibunya. “A-apa penyakit ibu saya bisa disembuhkan?” tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter yang berdiri di depannya menanggapi dengan hati-hati. “Saya tidak bisa menjanjikannya,” katanya, “Tetapi, karena penyakit yang di derita ibu anda sudah berada pada stadium akhir, tindakan operasi tidak dapat dilakukan. Namun, jika ibu anda dan keluarga sepakat, kami dapat mempertimbangkan pengobatan kemoterapi sebagai opsi untuk memperpanjang kualitas hidupnya. Kami akan terus memantau perkembangan kondisinya secara berkala untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.”

Penjelasan dokter tersebut memberikan sedikit kejelasan di tengah kegalauan yang melanda Siren dan keluarganya.

“La-lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok.” Sirena menatap dokter itu dengan tatapan penuh harap.

“Akan saya usahakan,” jawab Dokter dan berlalu pergi dari sana.

Tubuh Sirena oleng dan hampir ambruk ke lantai kalau saja lengannya tidak di pegang oleh Ramon.

“Tenang, Siren,” bisik Ramon berusaha menenangkan sepupunya.

“Ramon, kenapa hidupku jadi sekacau ini,” tangis Siren pecah di pelukan Kakak sepupunya itu. Siren mencengkeram kuat kemeja yang dikenakan Ramon di sana. “Setelah kepergian Daddy, sekarang aku tidak mau kehilangan Mommy. Aku tidak ingin kehilangan lagi, Ramon.”

Dalam momen yang penuh haru itu, Siren meluapkan rasa takut dan kekhawatirannya di pelukan Ramon, kakak sepupunya yang selalu ada untuknya. Dengan suara yang terisak, Siren mengungkapkan kegelisahan mendalamnya setelah kepergian sang ayah, dan ketakutannya akan kehilangan ibunya menyusul.

Ramon, dengan sabar dan penuh empati, berusaha menenangkan Siren, sambil menepuk punggungnya perlahan, menunjukkan dukungan yang tulus di tengah kesedihan yang menimpanya.

Di sisi lain, Vaul mendatangi James yang sedang bekerja di ruang kerjanya.

“Bagaimana?” tanya James.

“Leslie sudah memberi kabar dan beberapa foto Nona Sirena di rumah sakit,” lapor Vaul menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan Sirena yang sedang berpelukan dengan seorang pria.

“Ck, baru dilepas sudah ada pria lain,” gerutu James sangat tidak suka melihatnya. “Siapa pria ini?” tanya James.

“Menurut laporan Leslie, dia adalah kakak sepupu dari Nona Sirena. Putra dari Carl Reverie,” ucap Vaul.

“Aku tidak tahu kalau mereka sedekat ini,” ucap James menatap layar ponsel dengan tajam. “Lalu, bagaimana kondisi ibunya?”

“Menurut hasil pemeriksaan Dokter, Nyonya Brianna mengidap penyakit kanker usus stadium lanjut. Dokter merekomendasikan pengobatan dengan kemoterapi, karena kondisi beliau yang kritis, Dokter tidak menyarankan untuk operasi,” jelas Vaul.

“Baiklah. Sudah cukup,” ucap James. “Oh, kalau ada kabar tentang perkembangan bisnis keluarga Reverie, segera beritahu padaku.”

“Baik, Tuan James.”

James termenung sesaat, matanya menerawang jauh ke jendela sambil pikirannya melayang-layang ke momen semalam yang penuh ga_irah itu. Dia mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya, namun bayangan Sirena dengan senyumnya yang menggoda dan tatapan menggoda itu terus mengusik pikirannya. Tubuhnya yang seksi dan begitu berisi di bagian-bagian tertentu, sangat menggoda, hanya disentuh olehnya saja, James sudah merasa sesak di bagian tempat Mike berada.

Sungguh, malam itu terasa begitu mendebarkan, setiap detik seolah melambat ketika mereka berdua terjebak dalam keintiman yang membara. Sirena bukan hanya sekadar wanita se_ksi, dia adalah sosok yang bisa mencuri perhatian siapa saja dengan pesonanya yang sulit ditolak, dan James merasa beruntung bisa berbagi momen spesial itu.

Setiap kali dia mengingat momen-momen berapi-api yang mereka lalui, hatinya berdegup kencang dan rasa ingin memilikinya semakin mendalam. Dia tahu, semakin lama dia mengenal Sirena, semakin sulit baginya untuk melepaskan wanita itu dari genggamannya, dan satu hal yang pasti, dia tidak ingin semua ini berakhir begitu saja.

“Kita akan segera bertemu lagi, Siren,” gumam James dengan seringainya.

***

“Kenapa aku merinding?” gumam Sirena. “Apa ada seseorang yang sedang menargetkanku?”

Sirena menghela napasnya dalam-dalam, merasakan beban yang cukup berat. Saat itu, dia duduk di ruang rawat ibunya yang sunyi, hanya terdengar suara detakan mesin di sekelilingnya. Hatinya terasa cukup lega, karena dia sudah mengeluarkan cukup banyak uang untuk membayar sebagian biaya rumah sakit dan untuk tindakan yang telah dilakukan pada Brianna.

Sesekali, dia melirik ibunya yang terbaring lemah, dan perasaan khawatir menyelimuti dirinya. Di tengah semua ketidakpastian ini, dia merasa harus tetap tenang dan mengurus segala hal yang berkaitan dengan perusahaan mereka. Dengan laptop di atas pangkuannya, dia mulai membuka akun email ayahnya yang penuh sesak dengan pesan-pesan yang belum dibaca.

Dia menemukan banyak sekali email mengenai hutang piutang, permohonan dari investor yang gelisah, dan kabar dari para pemegang saham yang sudah tak sabar ingin menjual saham mereka di tengah situasi krisis ini.

Rasanya, semua orang mengharapkan kepastian, sementara Sirena merasa terjebak dalam gelombang masalah yang terus menghadang. Berkali-kali dia berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk segera mengadakan meeting dadakan besok pagi dengan para pemegang saham. Dia ingin menjelaskan situasi terkini dan mencari solusi maksimal untuk menyelesaikan masalah yang ada, berharap keputusan ini bisa memberikan sedikit ketenangan bagi semua pihak yang terlibat.

“Ya, aku harus bersiap mulai besok,” gumamnya berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Jujur saja, sebelum menjalani peran ini, dia belum memiliki pengalaman langsung dalam menangani permasalahan perusahaan karena fokus utamanya adalah penyelesaian studi. Namun, situasi yang dihadapi kini menuntutnya untuk mengambil langkah berani, dia harus terjun langsung dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan semua permasalahan yang mengganggu kinerja perusahaan. Meskipun tantangan ini cukup besar, dia berkomitmen untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat guna memastikan kelancaran operasional dan keberlangsungan perusahaan. Dengan semangat yang tinggi dan dorongan untuk berkembang, dia berharap dapat mengatasi setiap kendala yang ada dan membawa perusahaan menuju perbaikan yang signifikan.

“Kuharap semua berjalan lancar, dan setuju dengan ideku,” gumamnya menghela napasnya. “Aku benar-benar khawatir.”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel