Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 ~ Sebuah Kesepakatan

“Ngh...”

Sirena mengerang pelan ketika merasakan sentuhan basah di sekitar lehernya. Deru napas seorang pria menggelitik indra pendengarannya.

Kali ini otak Sirena tidak bisa berpikir jernih, dia bahkan tidak bisa menahan tangan James yang merobek pakaiannya dalam sekali tarikan.

Kali ini Sirena hanya bisa pasrah di bawah kungkungan pria arogan itu.

“Ah!”

Lenguhan keras terlontar dari bibir Sirena, merasakan sesuatu milik sang pria mulai mendorong dari bawah.

“Tidak ... jangan ...!” Sirena berusaha melakukan perlawanan. Tetapi terlambat, pria itu tidak sempat menghentikan gerakannya, lebih tepatnya tidak peduli dengan racauan Sirena dan pemberontakannya.

“Hentikan ....” Sirena mendorong dada pria itu dengan kekuatan yang tersisa. Tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki James.

Justru penolakan Sirena, membuat James mengunci kedua tangannya di atas kepala.

“Jangan terus bermain-main, Siren.” Suara berat dan dalam James begitu menggoda, membuat bulu kuduk Sirena meremang.

“Ahh ....” Mata Sirena membesar saat inti tubuhnya menerima serangan yang begitu menyakitkan. Manik matanya yang indah itu berair dan jatuh dari sudut matanya.

“Siapa sangka kalau aku yang pertama untukmu,” bisik James menyeringai. Ada rasa bangga dan kebahagiaan tersendiri di dalam hati dan fantasi pria itu.

Cairan bening itu mengalir menuruni wajah Sirena. Otaknya langsung kosong dan tidak bisa berpikir jernih. Yang dia tahu, kini mahkota yang sudah dia jaga selama ini telah direngut oleh pria asing.

Kini rasa sedih itu, berganti dengan suatu kenikmatan yang membuat Sirena tidak bisa berhenti mengeluarkan lenguhan dari bibirnya.

Lenguhan saling beradu dalam ruangan tersebut, terus sampai akhirnya puncak kepuasan tercapai.

Saat itu juga, sentuhan lembut diberikan James pada wajah Sirena dan mengusap air matanya yang luruh.

“Kamu ...,” bisik James. “Milikku sekarang!”

***

Dua jam yang lalu...

“Kenapa aku harus ada di sini? Apa seharusnya aku tolak saja saran dari Paman ini?” batin Sirena merasa gelisah.

Dia melihat sekeliling ruangan restoran, belum ada tanda-tanda kedatangan pria itu. Dengan sabar, Sirena menunggu sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukunya. “Lama sekali,” keluhnya.

“Astaga, berapa lama lagi aku harus menunggu,” gumam Sirena.

Ini sudah satu jam lamanya ia menunggu. Andai ia bisa, ia ingin melarikan diri dari situasi ini. Tetapi sayangnya, ia tak bisa melakukan itu. Ia membutuhkan bantuan dari James, untuk masalah perusahaan keluarganya. Ini semua berawal dari Ayahnya yang terkena tipu besar-besaran oleh orang kepercayaannya di kantor. Membuat harga saham anjlok, dan produksi perusahaan dihentikan. Selain itu, banyaknya hutang yang Ayahnya pinjam dari bank, membuat rumah besar mereka di sita. Ayah Sirena yang sudah putus asa mengakhiri hidupnya dengan loncat dari atap gedung perusahaan RV Group, dan ibunya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Setelah meminta bantuan ke kerabat dan teman-temannya, tidak ada yang mau membantu Sirena, kecuali pria yang akan datang hari ini. Pria yang dua tahun lalu akan dijodohkan dengannya, tetapi dengan tegas ditolak mentah-mentah oleh Sirena.

“Selamat datang, Tuan. Apa anda sudah membuat janji?” tanya pelayan yang menyambut kedatangan sosok pria yang begitu tampan dengan tubuh kekarnya dibalut jas hitam yang membentuk tubuh atletisnya.

“Saya ada janji bertemu dengan nona Sirena Reverie.”

Lamunan Sirena buyar saat mendengar seruan itu, seiring derap langkah mendekat, jantung Sirena berdebar sangat kencang. Setelah dua tahun berlalu, dia tidak tahu bagaimana sosoknya sekarang. Ia bahkan tidak berani untuk menoleh, sekedar melihat sosok itu.

“Sirena Reverie?” terdengar suara berat di sana, membuat Sirena menoleh ke arah sosok pria yang berdiri di dekat mejanya.

Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan tajam dengan matanya berwarna abu nan tajam dan pekat. Bukan hanya itu yang membuatnya mematung, tetapi wajah tampan nan berkarisma membuatnya lupa untuk berkedip. Tidak ada yang berubah dari pria itu, tetap tampan dan menawan seperti dua tahun yang lalu.

Pria di depannya itu tersenyum mencela, ia memang terbiasa mendapatkan tatapan penuh kekaguman dari semua wanita yang bertemu dengannya.

“James Andreas Scout?” gumam Sirena.

Dia adalah James Andreas Scout, putra pertama dari keluarga Perusahaan Mitra AS, dan merupakan direktur utama di perusahaan raksasa tersebut. Pria berusia 35 tahun, spesialisnya adalah investasi dan memiliki popularitas sebagai seorang playboy karena hobinya olahraga dan wanita.

Ada rumor mengatakan kalau James adalah seorang pria be_jat yang berganti-ganti kekasih. Di antara rumor yang beredar adalah bahwa dia, orang berdarah dingin yang berhubungan dengan wanita mana pun.

“Lama tidak berjumpa,” sapa James berjabat tangan dengan Sirena.

“Ya, lama tidak berjumpa,” jawab Sirena dan dia terkejut saat James mencium punggung tangannya. Ya, hal itu bukan hal aneh, mengingat pria itu adalah James, si pria playboy.

James duduk di kursi yang ada di depan Sirena. Pesanan makan malam mereka tiba dan menyuguhkan dua gelas minuman di atas meja tersebut.

“Aku cukup terkejut saat Pak Harry menghubungiku beberapa waktu lalu,” ucap James membuka pembicaraan. Harry adalah paman dari Sirena, dan dialah yang merekomendasikan perjodohannya dengan James dua tahun yang lalu.

“Ngomong-ngomong, aku ikut sedih atas meninggalnya tuan Mattes Reverie,” ucap James.

“Terima kasih,” jawab Sirena masih dengan sikap anggun dan angkuhnya.

“Tidak ada yang berubah darimu ternyata, kamu masih begitu cantik dan menawan,” puji James.

“Terima kasih untuk pujianmu, dan kamu pun terlihat begitu hebat,” ucap Sirena meneguk minumannya.

“Jadi, apakah kamu menyukainya?” tanya James, tatapan pria itu terus tertuju pada Sirena yang hanya menatap ke arah minumannya.

“Saya tidak menilai orang hanya berdasarkan penampilannya,” ucap Sirena menyuapkan potongan steak ke dalam mulutnya.

James terkekeh di sana. “Kamu benar-benar tidak berubah, Siren. Masih begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukainya,” ucap James.

“Alasan kita berada di sini, bukan untuk membahas hal yang tidak perlu atau mengenang masa lalu. Mungkin Paman Harry sudah menjelaskan kondisinya padamu,” ucap Sirena melihat ke arah James dengan sorot mata dingin.

“Ya, memang sudah. Jadi kamu butuh aku melakukan investasi di perusahaan yang sudah akan failed?” tanya James.

“Iya,” jawab Sirena.

“Hm ... tapi itu tidak mudah, mengingat berapa besar kerugian yang akan aku dapatkan,” ucap James masih menunjukkan seringainya.

“Sirena Reverie, saya ini seorang pembisnis, dan saya tidak suka kekalahan maupun kerugian. Saya juga biasa melakukan transaksi dan berbisnis yang akan menguntungkan saya. Jadi, Nona besar Reverie, apa penawaran anda untuk transaksi kita kali ini?” tanya James menatap Sirena dengan senyuman yang menawan.

Bodoh kalau Siren tidak tahu apa niat James, dia sangat mengetahui tabiat pria itu, walau hanya berdasarkan rumor. Tetapi pria itu memang bukan orang yang bisa dipercaya.

“Saya tidak tahu apa yang mungkin menguntungkan anda, tetapi kalau perusahaan kembali berjaya, saya akan memberikan 50% dari keuntungan bersih yang di dapat RV company,” ucap Sirena.

James tertawa di sana. “Wah, entah berapa tahun lagi kejayaan itu akan tiba? Apa kamu sangat suka berandai-andai?” tanya James jelas membuat Sirena tidak bisa berkata-kata.

Sirena menghela napasnya. “Apa pun yang kamu inginkan, akan aku penuhi sebagai balasan bantuan ini,” jawab Siren menurunkan egonya.

“Apa pun?” tanya James berusaha meyakinkan ucapan Sirena.

“Ya, apapun.”

“Kalau begitu jadilah partner ran_jangku.”

Degh!

“A-apa maksudmu?” tanya Sirena membelalak lebar.

“Bukankah ini sama-sama menguntungkan?” tanya James. “Aku akan melunasi semua hutang keluargamu dan berinvestasi di perusahaan yang hampir bangkrut itu. Sebagai gantinya, tidurlah denganku," ucap James dengan santai.

Sirena bangkit dari duduknya dengan tatapan tajam penuh emosi. “Kamu pikir aku akan menuruti syaratmu itu? jangan bodoh! aku bisa mencari bantuan lain,” ucap Sirena berlalu pergi dari sana dengan emosinya.

“Sial! Aku sudah tebak, kalau James adalah pria breng_sek, bodoh sekali aku berpikir kami bisa bekerja sama dalam bisnis,” batinnya penuh emosi.

“Sungguh mengerikan orang seperti dia itu!” runtuknya dalam hati.

Dia keluar dari restoran itu dan ternyata hujan turun dengan cukup deras.

“Jadi kamu keberatan?” pertanyaan itu membuat Sirena terkejut, dia menoleh ke sampingnya dan ternyata James sudah berdiri di sampingnya.

“Aku sudah menjawabnya dengan jelas tadi,” ucap Sirena dengan kesal.

“Aku dengar ibumu dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Dia harus melakukan pengobatan dan menjalani operasi. Ditambah lagi para karyawan di perusahaan berdemo meminta pesangon yang sudah dua bulan ini tidak dibayarkan.”

Sirena bungkam mendengar perkataan James yang benar adanya.

“Pikirkanlah baik-baik. Apa menurutmu akan ada orang yang bisa membantumu keluar dari hal ini, selain aku? bukankah sudah banyak rekan dan kerabat keluargamu memilih menjauh, alih-alih membantumu dan keluargamu,” ucap James membuat Sirena tidak benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

“Pikirkan nasib ibumu. Bukankah kamu butuh uang untuk perawatan dan pengobatannya,” ujar James.

Seorang pria membawa payung hitam mendekati mereka, dia adalah asisten James. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di hadapan mereka.

“Sial!” umpat Sirena dalam hati dan menerobos hujan untuk mendekati James.

“Tunggu!” Sirena menahan lengan James, membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sirena yang sudah basah terkena air hujan.

“Baiklah, aku menerima syarat darimu.”

“Jika aku menolaknya lagi sekarang, belum tentu nanti dia mau membantuku,” batin Sirena.

James tersenyum di sana dan bergerak mendekati wajah Sirena di sana. “Jangan menggigit bibirmu. Bibirmu ini bisa terluka,” bisik James mengusap bibir Sirena dengan nakal dan Sirena langsung memalingkan wajahnya.

“Vaul,” panggil James.

“Ya, Tuan.”

“Tolong, siapkan kamar.”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel