Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Ledakan itu tidak terdengar seperti sihir.

Biasanya, sihir di Kekaisaran Azure ditandai dengan gumaman mantra yang panjang, aroma ozon yang menyengat, atau lingkaran cahaya warna-warni yang muncul di udara. Tapi kali ini berbeda. Yang terdengar hanyalah satu dentuman pendek—BUM!—yang getarannya terasa sampai ke ulu hati.

Seluruh Lapangan Utama berguncang hebat. Marmer putih yang biasanya mengkilap dan diagungkan para bangsawan kini hancur berkeping-keping, terbang seperti kerikil tak berharga. Debu tebal menyelimuti segalanya, menutupi pandangan mata kaisar, permaisuri, dan seluruh jajaran ksatria elit yang tadi hanya bisa menonton dengan wajah pucat.

Di tengah kabut debu itu, ada satu siluet yang tetap tegak.

Aksa.

Dia masih di sana, duduk tenang di atas kursi roda logamnya yang aneh. Uap tipis mengepul dari pipa-pipa kecil di samping kursinya, seperti napas naga yang baru saja bangun tidur. Roda besinya mengeluarkan suara derit halus saat bergeser sedikit, memberikan kesan bahwa benda itu bukanlah kursi biasa, melainkan predator mekanis yang siap menerkam.

Sementara itu, di depannya, pemandangan yang mustahil terjadi.

Void Wraith, makhluk kegelapan yang selama ini dianggap sebagai kiamat berjalan, untuk pertama kalinya melangkah mundur. Tubuh kabutnya yang biasanya pekat kini tampak retak-retak. Seolah-olah serangan Aksa barusan telah menyuntikkan sesuatu yang merusak struktur dasarnya dari dalam.

Aksa perlahan mengangkat kepalanya. Ada aliran darah segar yang mengalir dari pelipisnya, membasahi pipinya yang pucat, tapi matanya tetap setenang air di sumur tua. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kepanikan.

"Jadi... monster sepertimu bisa terluka juga, ya?"

Suara Aksa tidak keras. Dia tidak berteriak seperti pahlawan di buku dongeng. Tapi entah kenapa, suaranya terdengar sangat jelas di tengah lapangan yang sunyi senyap itu. Suara itu membuat jantung para hadirin berdegup kencang karena ngeri.

Kaisar Dewantara, sang penguasa tertinggi, berdiri terpaku di kejauhan. Tangannya yang memegang pedang pusaka gemetar. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Aksa—anak yang selama ini dia anggap "cacat" dan "aib"—melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika sihir mana pun.

"Anak itu..." gumam Kaisar, suaranya serak.

Di sampingnya, Permaisuri menahan napas, tangannya menutupi mulutnya sendiri. "Dia... dia bukan lagi manusia yang kita kenal."

Aksa tidak peduli dengan ocehan orang-orang di sekitarnya. Baginya, dunia saat ini hanya terdiri dari dua hal: dia dan monster di depannya.

Void Wraith itu tampak murka. Aura hitamnya meledak kembali, lebih ganas dari sebelumnya. Angin di lapangan itu berputar liar, menciptakan tekanan udara yang begitu berat sampai-sampai para ksatria yang mencoba mendekat langsung tersungkur, tidak sanggup menahan beban gravitasi yang tiba-tiba meningkat.

"Hah..." Aksa menghela napas panjang. Matanya tidak lepas dari setiap gerak-gerik sang monster.

Tangannya bergerak lincah di atas tuas dan panel kecil di sandaran kursi rodanya. Jemarinya menari dengan presisi yang menakutkan.

"Tekanan udara meningkat... integritas struktur mulai goyah," gumam Aksa pelan, seolah-olah dia sedang membacakan laporan cuaca yang membosankan, padahal nyawanya sedang dipertaruhkan. "Kalau dibiarkan lebih dari tiga menit, monster ini akan membelah dimensi sepenuhnya. Itu bakal merepotkan."

Aksa menyipitkan matanya. Dia mencari satu titik. Titik hitam kecil di tengah dada Void Wraith. Itulah jantungnya. Itulah pusat dari segala kekacauan ini.

"Jawabannya tetap sama," bisik Aksa. Dia memiringkan kursinya, menyesuaikan sudut tembak. "Hancurkan pusatnya, maka selesailah semuanya."

Tiba-tiba, Void Wraith menyerang. Lengan bayangannya yang raksasa menghantam dari langit-langit, secepat kilat.

BUMMM!

Tanah tempat Aksa berada sedetik lalu hancur total. Tapi Aksa sudah tidak ada di sana. Dengan satu tarikan tuas, mesinnya meluncur ke samping seolah-olah dia sedang berseluncur di atas es. Kecepatannya tidak masuk akal untuk ukuran kursi roda.

"Kecepatan meningkat 12% dari serangan sebelumnya," Aksa mencatat dalam kepalanya. Dia malah tersenyum tipis. "Menarik. Sudah lama aku tidak menghitung sesuatu yang benar-benar punya niat untuk membunuhku."

Aksa menekan sebuah tombol merah di sisi kanan. Laras logam kecil yang tersembunyi di samping rodanya mulai berputar dengan suara mendenging tinggi.

RAT-TAT-TAT!

Tiga buah proyektil logam meluncur berurutan. Mereka tidak menyasar tubuh besar monster itu secara acak. Ketiganya menghantam titik yang sama persis: pusat hitam di dadanya.

JLEB! JLEB! JLEB!

Monster itu meraung. Suaranya bukan lagi seperti suara binatang, tapi seperti gesekan logam yang memekakkan telinga. Tubuhnya bergetar hebat. Gerakannya terhenti sejenak karena syok sistemik.

Inilah momennya.

"Sekarang!" Aksa mendorong kedua tuasnya ke depan secara maksimal.

Kursi rodanya melesat seperti anak panah. Debu di jalurnya tersapu bersih, menciptakan garis lurus yang membelah lapangan. Semua orang yang menonton hanya bisa melihat bayangan hitam Aksa yang terbang menuju maut.

"Aksa! Berhenti! Kamu bakal mati!" Lira, satu-satunya orang yang peduli padanya, berteriak dari pinggir lapangan dengan air mata berlinang.

Tapi Aksa tidak akan berhenti. Dia sudah terlalu dekat. Jaraknya hanya tinggal hitungan meter.

Void Wraith mencoba menutup lubang di dadanya dengan tangan bayangannya, tapi monster itu terlambat setengah detik. Dan bagi Aksa, setengah detik itu sudah seperti satu keabadian.

Dia menekan sebuah panel rahasia di bawah kursinya. Sebuah jarum logam tipis, tidak lebih panjang dari jari manusia, muncul. Terlihat sangat sederhana, hampir seperti mainan. Tapi itulah inti dari seluruh perhitungan fisikanya.

"Masuk," desis Aksa.

Tusukan itu terjadi begitu cepat. Jarum logam itu menembus tepat ke tengah-tengah inti hitam sang monster.

Seketika itu juga, dunia seolah kehilangan suaranya.

Tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan cahaya. Hanya keheningan yang sangat pekat, seolah-olah waktu itu sendiri sedang menahan napas untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lalu, mulailah getaran itu.

Berasal dari dalam tubuh Void Wraith, getaran kecil itu merambat keluar. Semakin lama semakin kuat, sampai suara retakan mulai terdengar. CRAAACK!

"Struktur internalnya runtuh," bisik Aksa, yang kini berada tepat di depan monster itu.

Dan benar saja. Tubuh makhluk kegelapan itu mulai retak seperti kaca yang dipukul palu. Aura hitam yang tadi begitu menekan kini meledak keluar tanpa arah, tercerai-berai menjadi kabut tipis yang tidak berbahaya. Para bangsawan menjerit ketakutan, menutup mata mereka, tapi saat mereka membukanya kembali...

Void Wraith sudah hilang.

Monster yang seharusnya bisa menghancurkan satu kota itu kini hanya menjadi serpihan bayangan yang menguap ditiup angin.

Hening. Kali ini benar-benar hening.

Aksa menarik kursinya mundur perlahan. Dia berhenti tepat di tengah kawah yang dia buat sendiri. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan yang luar biasa, tapi dia masih sadar. Dia masih hidup.

Kaisar Dewantara berjalan mendekat. Langkah kakinya terdengar berat di atas puing-puing marmer. Dia menatap Aksa dengan tatapan yang sangat kompleks: antara takut, bangga, dan tidak percaya.

"Siapa... sebenarnya kamu?" tanya sang kaisar akhirnya.

Aksa mendongak. Dia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat getir namun puas.

"Hanya putra yang selama ini Anda buang karena dianggap tidak berguna," jawabnya singkat.

Jawaban itu seperti tamparan keras bagi siapa pun yang mendengarnya. Permaisuri hanya bisa menggigit bibir, sementara para pangeran lain yang tadi meremehkan Aksa kini hanya bisa menunduk malu, tak berani menatap matanya.

Sesuatu yang Baru Saja Bangun

Aksa menatap tangannya yang masih memegang tuas. Tangannya masih panas. Jantungnya masih berdegup kencang. Tapi ada satu perasaan yang salah.

"Tunggu..." gumamnya pelan. "Ada yang aneh."

Dia memperhatikan sisa-sisa kabut hitam yang menghilang di udara. Di sana, di titik tempat monster itu hancur, ada sesuatu yang tersisa. Sebuah titik hitam kecil yang lebih pekat, lebih gelap, dan terasa... hidup.

"Belum selesai?" bisik Aksa dengan mata menyipit.

Tiba-tiba—DUK!

Jantung Aksa berdenyut begitu keras sampai-sampai dia hampir terjatuh dari kursinya. Sekali. Dua kali. Rasa dingin yang luar biasa tiba-tiba menjalar dari ujung kakinya yang lumpuh sampai ke ubun-ubunnya.

"A-Aksa? Kamu kenapa?" Lira berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan.

Aksa tidak bisa menjawab. Matanya membelalak lebar. Dia bisa merasakannya. Sesuatu masuk ke dalam dirinya. Bukan melalui kulit, tapi langsung merasuk ke dalam jiwanya. Titik hitam itu tidak hancur, dia hanya mencari wadah baru yang lebih kuat.

Tubuh Aksa menegang kaku. Tangannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memutih.

Perlahan, mata Aksa yang biasanya berwarna emas jernih mulai berubah. Warna hitam mulai menjalar dari pupilnya, menelan warna emas itu sampai matanya menjadi gelap gulita, sedalam samudra tanpa cahaya.

Kaisar Dewantara langsung menyadari perubahan itu. Dia mencabut pedangnya kembali. "Aksa! Apa yang terjadi padamu?!"

Aura di sekitar Aksa meledak kembali. Tapi kali ini, auranya tidak lagi terasa seperti mesin. Auranya terasa kuno, lapar, dan sangat, sangat berbahaya. Kehilangan kendali, Aksa mengangkat kepalanya.

Dia menatap semua orang di sana, satu per satu. Tapi itu bukan lagi tatapan Aksa. Itu adalah tatapan sesuatu yang sudah tidur selama ribuan tahun dan baru saja mencicipi dunia kembali.

Sebuah senyum tipis—sangat dingin dan asing—muncul di wajah sang pangeran.

"Menarik..." Suara yang keluar dari mulutnya terdengar ganda, seperti dua orang yang berbicara bersamaan. "Akhirnya... aku menemukan wadah yang benar-benar layak."

Lira mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "P-Pangeran... ini bukan kamu, kan?"

Aksa—atau makhluk yang kini mendiaminya—menoleh pelan ke arah Lira. Senyumnya semakin lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tampak lebih tajam dari sebelumnya.

"Tenang saja, manis..." katanya dengan nada yang merayu namun mengerikan. "Ini baru permulaan dari pertunjukan yang sebenarnya."

Tepat saat itu, langit di atas Kekaisaran Azure yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat secara instan. Petir merah menyambar-nyambar di balik awan.

Di dalam tubuh seorang pangeran yang dianggap lumpuh dan tak berguna, sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari Void Wraith baru saja bangkit. Dan kali ini, dunia tidak akan memiliki tempat untuk bersembunyi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel