Bab 4
Brank... Boom...
Ledakan itu mengguncang seluruh Lapangan Utama.
Bukan seperti sihir biasa.
Tidak ada lingkaran formasi. Tidak ada mantra panjang. Hanya satu dentuman pendek… tapi dampaknya membuat langit seolah terbelah.
Debu beterbangan.
Marmer pecah.
Para bangsawan tersungkur tanpa wibawa.
Dan di tengah kehancuran itu, Aksa masih terdiam disana.
Lebih tepatnya… masih duduk di atas kursinya.
Uap tipis keluar dari rangka logam di sekelilingnya. Roda besinya berderit pelan, seperti binatang buas yang baru saja selesai memangsa.
Sementara di depannya—
Void Wraith mundur.
Untuk pertama kalinya.
Makhluk bayangan itu bergetar. Tubuhnya yang semula seperti kabut kini terlihat retak, seolah sesuatu dari dalamnya mencoba keluar.
Aksa mengangkat kepalanya perlahan.
Darah mengalir dari pelipisnya, tapi matanya tetap tenang.
“Jadi… kau bisa terluka juga.”
Suaranya tidak keras. Tapi cukup membuat jantung para hadirin berdegup tidak karuan.
Kaisar Dewantara berdiri di kejauhan, menggenggam pedangnya erat.
Tatapannya tidak lagi memandang Aksa sebagai anak buangan.
Melainkan… sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
“Anak itu…” gumamnya pelan.
Di sampingnya, Permaisuri menahan napas.
“Dia bukan manusia…”
Aksa tidak peduli.
Fokusnya hanya satu.
Makhluk di hadapannya.
Void Wraith kembali mengangkat lengannya. Kali ini lebih cepat. Lebih ganas.
Angin berputar liar.
Aura hitam menekan seluruh lapangan seperti gunung runtuh.
Para ksatria yang tersisa bahkan tidak mampu berdiri.
“Hah…” Aksa menghela napas pelan.
Tangannya bergerak di atas tuas kecil di kursinya.
“Tekanan meningkat… struktur mulai tidak stabil…”
Ia bicara seperti sedang membaca laporan.
Padahal nyawanya di ujung tanduk.
“Kalau dibiarkan… dia akan sepenuhnya muncul ke dunia ini.”
Aksa menatap titik hitam di dada makhluk itu.
Masih ada.
Masih menjadi pusat semuanya.
“Berarti jawabannya tetap sama…”
Ia sedikit memiringkan kursinya.
“Serang pusatnya.”
WHOOOOSH—
Void Wraith menyerang.
Lengan bayangannya menghantam dari atas, membawa tekanan yang mampu meratakan bangunan.
Aksa menarik tuas.
Kursinya meluncur ke samping.
Serangan itu menghantam tanah.
BUMMM!
Retakan menjalar ke mana-mana.
Tapi Aksa sudah berada di sisi lain.
Lebih dekat.
Lebih berbahaya.
“Kecepatan meningkat 12% dari sebelumnya…” gumamnya.
“Menarik.”
Ia tersenyum tipis.
Bukan karena senang.
Tapi karena… tantangan.
“Sudah lama aku tidak menghitung sesuatu yang benar-benar bisa membunuhku.”
Tangan kanannya bergerak.
Laras logam di samping kursinya kembali berputar.
Namun kali ini—
bukan baut kecil yang keluar.
Melainkan satu proyektil lebih besar.
Lebih padat.
Lebih berat.
“Kalau satu tidak cukup…”
Ia menekan tombol.
“Ya kita tambah tekanannya.”
RAT-TAT-TAT!
Tiga proyektil ditembakkan berurutan.
Tidak diarahkan ke tubuh besar makhluk itu—
melainkan ke titik yang sama.
Titik hitam di dadanya.
JLEB! JLEB! JLEB!
Serangan itu mengenai target.
Void Wraith meraung.
Tubuhnya bergetar hebat.
Untuk sesaat—
gerakannya terhenti.
Kesempatan.
Aksa tidak menyia-nyiakan.
“Sekarang.”
Ia mendorong tuas ke depan.
Kursinya melesat lurus.
Angin terbelah.
Debu tersapu.
Semua orang hanya bisa melihat bayangan hitam dan satu garis lurus menuju pusatnya.
“Aksa! Jangan!” teriak Lira dari kejauhan.
Terlambat.
Aksa sudah terlalu dekat.
Void Wraith mencoba menutup titik lemahnya.
Tapi—
terlambat setengah detik.
Dan bagi Aksa—
itu cukup.
Tangannya menekan panel terakhir.
Sebuah jarum logam kecil muncul dari bawah kursinya.
Terlihat sederhana.
Tidak mengintimidasi.
Tapi—
itu adalah inti dari semua perhitungannya.
“Masuk.”
Tusukan itu menembus tepat ke pusat titik hitam.
SUNYI.
Semuanya berhenti.
Seolah dunia menahan napas.
Lalu—
GETARAN.
Dari dalam tubuh Void Wraith.
Bukan ledakan besar.
Bukan cahaya terang.
Tapi… getaran kecil.
Yang semakin lama—
semakin kuat.
“Struktur internal… runtuh,” bisik Aksa.
Dan detik berikutnya—
CRAAACK!
Tubuh makhluk itu retak.
Bukan dari luar—
tapi dari dalam.
Seperti kaca yang pecah oleh tekanan sendiri.
Retakan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Aura hitam meledak keluar tanpa arah.
Para bangsawan menjerit.
Langit di atas lapangan berubah gelap.
Dan dalam hitungan detik—
Void Wraith… hancur.
Tidak meledak.
Tidak menghilang.
Tapi runtuh.
Menjadi serpihan bayangan yang menguap perlahan.
Hening.
Benar-benar hening.
Aksa mundur perlahan.
Kursinya berhenti di tengah lapangan yang sudah menjadi kawah.
Napasnya berat.
Tubuhnya gemetar.
Tapi—
ia masih sadar.
Masih hidup.
Kaisar melangkah maju.
Pelan.
Tatapannya tidak lepas dari Aksa.
“Siapa… sebenarnya kau?” tanyanya akhirnya.
Aksa tertawa kecil.
“Putra Anda yang selama ini Anda buang.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi menampar.
Permaisuri menggigit bibirnya.
Para pangeran lain menunduk.
Hari ini, semua berubah.
Aksa menatap tangannya sendiri. Masih gemetar. Masih terasa panas.
“Tapi…” gumamnya pelan.
“Ada yang aneh.”
Ia mengangkat kepalanya.
Matanya menyipit.
Di tengah sisa-sisa bayangan yang menghilang, masih ada sesuatu.
Tidak besar.
Tidak mencolok.
Tapi… ada.
Sebuah titik kecil.
Lebih pekat dari sebelumnya.
“Belum selesai…” bisiknya.
Tiba-tiba,
DUK!
Jantungnya berdegup keras.
Sekali.
Dua kali. Lalu, rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
“A-Aksa…?” Lira mendekat perlahan.
“Ada apa…?”
Aksa tidak menjawab.
Matanya membelalak.
Sesuatu… masuk.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Titik hitam itu, tidak hancur. Ia hanya berpindah.
Masuk ke dalam tubuhnya.
“System…” suaranya bergetar.
Tidak seperti sebelumnya.
“Analisis…”
Tubuh Aksa menegang.
Tangannya mencengkeram sandaran kursi.
Matanya, yang tadinya berwarna emas tipis—
perlahan berubah.
Lebih gelap.
Lebih dalam.
Lebih… berbahaya.
Kaisar langsung mengangkat pedangnya.
“Aksa!”
Aura di sekitar Aksa berubah.
Tidak lagi stabil.
Tidak lagi bisa diprediksi.
Dan untuk pertama kalinya, Aksa terlihat… kehilangan kendali.
Ia mengangkat kepalanya perlahan.
Menatap semua orang.
Tapi, tatapan itu… Bukan sepenuhnya miliknya.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Asing bahkan sangat dingin.
“Menarik…” suara itu keluar.
Tapi bukan suara Aksa sepenuhnya.
“Akhirnya… aku menemukan wadah yang layak.”
Lira mundur dengan wajah pucat.
“P-Pangeran…?”
Aksa—atau sesuatu di dalamnya, lalu ia mencoba menoleh pelan.
“Tenang saja…”
Senyumnya melebar.
“Ini baru permulaan.”
Langit di atas Kekaisaran Azure tiba-tiba menghitam.
Dan di dalam tubuh seorang pangeran lumpuh,
sesuatu yang seharusnya tetap terkubur selama ribuan tahun… Baru saja bangkit kembali.
