Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

"Aksa! Sadarlah! Lawan kekuatan itu!" teriaknya. Suaranya yang biasanya berwibawa kini bergetar.

Aksa—atau makhluk yang meminjam tubuhnya—memiringkan kepala. Gerakannya patah-patah, seperti engsel mesin yang kekurangan pelumas, namun penuh dengan keanggunan yang mematikan. Matanya yang hitam pekat menatap sang kaisar tanpa kedip.

"Sadar?" Suara ganda itu menggema kembali. Berat, dingin, dan maskulin. "Kaisar tua, putra yang kau buang ini justru baru saja terbangun dari mimpinya yang paling buruk. Dia tidak melawan. Dia... menyambutku."

Tiba-tiba, Aksa mencengkeram tuas kursi rodanya. Bukannya menggerakkan roda, besi solid itu justru meleleh di bawah genggamannya. Logam perak itu menyatu dengan kabut hitam yang keluar dari kulit Aksa, membentuk duri-duri mekanis yang tajam dan berdenyut. Kursi roda itu tidak lagi sekadar alat bantu jalan; benda itu berevolusi menjadi singgasana berjalan yang dibalut bayangan.

"Serang dia!" teriak Panglima Ksatria, General Vaelen. "Dia bukan lagi Pangeran Aksa! Itu adalah inang dari Void Heart!"

Badai di Lapangan Marmer

Mendengar perintah itu, dua belas ksatria elit dari Ordo Matahari melesat maju. Mereka adalah petarung terbaik kekaisaran, pria-pria yang mampu membelah gunung dengan tebasan pedang berlapis sihir.

Aksa hanya melihat mereka dengan tatapan bosan.

"Logika bertarung kalian... terlalu primitif," bisik Aksa.

Tangannya bergerak perlahan di udara, seolah sedang menarik benang tak kasat mata. Secara instan, tekanan gravitasi di sekitar Aksa melonjak berkali-kali lipat.

BUM!

Lantai marmer yang sudah hancur kini amblas sedalam dua meter. Para ksatria itu tidak sempat berteriak. Tubuh mereka menghantam tanah dengan keras, tulang-tulang mereka berderak di bawah beban yang tidak masuk akal. Pedang-pedang mereka patah, bukan karena benturan, tapi karena massa udara yang mendadak menjadi seberat timah.

"Sihir adalah tentang manipulasi energi," ucap Aksa sambil memutar kursi rodanya perlahan. "Tapi fisikaku... adalah tentang aturan dasar semesta. Dan saat ini, aku adalah penguasa aturan itu."

Dia menjentikkan jarinya.

Sebuah gelombang kejut hitam melesat keluar, menghantam para ksatria yang terkapar hingga mereka terpental keluar lapangan seperti boneka kain. Tidak ada darah yang muncrat, tapi energi kehidupan mereka seolah tersedot habis, meninggalkan wajah-wajah pucat yang tak berdaya.

Kaisar Dewantara tidak bisa lagi hanya diam. Dia adalah penyihir tingkat tinggi. Dengan raungan kemarahan, dia mengayunkan Azure Fang. Naga biru raksasa yang terbuat dari api murni meluncur dari mata pedangnya, membakar udara saat menuju ke arah Aksa.

"Hancurlah, monster!"

Aksa tidak menghindar. Dia justru mengangkat tangan kirinya yang gemetar. "Vektor pembalikan... aktif."

Saat naga api itu menyentuh telapak tangan Aksa, api itu tidak meledak. Sebaliknya, api itu terhenti, memadat menjadi bola kecil di ujung jarinya, lalu berbalik arah dengan kecepatan tiga kali lipat.

BOOM!

Kaisar terlempar ke belakang, menabrak pilar bangunan istana hingga hancur. Mahkota emasnya jatuh ke tanah, menggelinding di antara debu. Sang penguasa tertinggi kini bersimbah darah, menatap putranya dengan tatapan kosong.

Perhitungan dalam Kegelapan

Di dalam kepala Aksa, terjadi perang yang berbeda.

‘Siapa kau?’ tanya kesadaran Aksa yang asli. Dia berada di sebuah ruang gelap, dikelilingi oleh ribuan layar data yang melayang.

‘Aku adalah apa yang kalian sebut Kiamat. Tapi kau bisa memanggilku... Origin,’ sebuah suara berat menjawab dari sudut gelap jiwanya. ‘Kau punya otak yang menarik, Bocah Manusia. Kau tidak melihat dunia dengan iman, tapi dengan hitungan. Aku suka itu.’

Aksa bisa merasakan kekuatan luar biasa mengalir di pembuluh darahnya. Rasa sakit di kakinya yang lumpuh menghilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menyegarkan. Namun, dia tahu harganya. Setiap detik dia menggunakan kekuatan ini, jiwanya terkikis.

‘Jangan berpikir kau bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya,’ desis Aksa dalam batinnya. ‘Aku butuh kekuatanmu untuk menghancurkan sistem busuk ini, tapi aku tetap pilotnya.’

Origin tertawa. Tawa yang terdengar seperti gesekan lempeng tektonik. ‘Silakan saja. Mari kita lihat seberapa kuat logammu menahan apiku.’

Pengkhianatan yang Terungkap

Kembali ke dunia nyata, debu mulai menipis. Aksa menatap ke arah tribun tempat para pangeran lain—saudaranya sendiri—bersembunyi. Pangeran Eldar, yang tertua dan yang paling sering menyiksanya, mencoba melarikan diri melalui pintu belakang.

"Mau ke mana, Kakak?"

Suara Aksa terdengar tepat di telinga Eldar, meski Aksa masih berada di tengah lapangan. Itu adalah teknik manipulasi ruang sederhana—melipat jarak.

Eldar membeku. Dia berbalik dan melihat Aksa sudah berada beberapa langkah di depannya. Kursi roda logam itu kini memiliki kaki-kaki mekanis tajam yang menancap di tanah, membuatnya terlihat seperti laba-laba besi dari neraka.

"A-Aksa... ampun! Aku tidak bermaksud... k-kita bersaudara, kan?" Eldar merangkak di lantai, air kencing membasahi celana mahalnya.

Aksa menatapnya dengan rasa jijik yang murni. "Bersaudara? Di mana kata itu saat kau mematahkan kakiku sepuluh tahun lalu dan menyebutnya 'kecelakaan latihan'?"

Jari Aksa menyentuh dahi Eldar. Dingin.

"Dunia ini butuh pembersihan. Dan kau... adalah sampah yang pertama."

Sebelum Aksa bisa melakukan apa pun, sebuah tangan kecil menarik jubah hitamnya.

"Pangeran, hentikan!"

Itu Lira. Gadis itu terengah-engah, matanya sembab karena tangis. Dia adalah satu-satunya orang di istana yang pernah membawakan Aksa buku-buku mekanika kuno saat semua orang melarangnya belajar.

Aksa terdiam. Matanya yang hitam pekat bergetar, warna emas lamanya mencoba muncul kembali ke permukaan.

"Lira... menjauh," geram Aksa. Suaranya pecah antara suara manusia dan suara monster.

"Ini bukan kamu! Kamu adalah Aksa yang cerdas, yang percaya bahwa mesin bisa menyelamatkan dunia, bukan menghancurkannya!" Lira memeluk lengan Aksa, mengabaikan hawa dingin yang mulai membekukan kulitnya.

Di kejauhan, para menteri dan bangsawan mulai berteriak minta tolong. Pasukan bantuan dari kota luar mulai berdatangan—ribuan ksatria dengan tombak perak mengepung lapangan.

Aksa menatap langit yang masih gelap. Dia tahu, kehadirannya sekarang telah memicu protokol 'Pemusnahan Global'. Kekaisaran Azure tidak akan membiarkannya hidup. Bukan karena dia monster, tapi karena dia adalah bukti hidup bahwa "aib" mereka kini lebih kuat dari seluruh gabungan kekuatan sihir mereka.

"Lira," Aksa berbisik, suaranya kembali normal sejenak. "Dunia ini tidak butuh penyelamat. Dunia ini butuh pengaturan ulang."

Dia mendorong Lira dengan lembut menggunakan kekuatan udara, menjauhkannya dari zona bahaya.

Aksa kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit. Dari balik punggung kursi rodanya, muncul delapan pipa logam raksasa yang menyerap seluruh kabut hitam di area tersebut. Mesin itu mendesis, bergetar hebat, dan mengeluarkan cahaya merah membara.

"Protokol Singularity: Aktif," gumam Aksa.

DUUUMMM!!!

Sebuah pilar cahaya hitam melesat dari tubuh Aksa menembus awan, membelah langit menjadi dua. Tekanan energinya begitu besar hingga seluruh ibu kota bergetar seolah sedang dilanda gempa bumi skala besar.

Saat cahaya itu meredup, Aksa sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah kawah raksasa di tengah istana, dan sebuah pesan yang terukir di lantai marmer yang tersisa:

"Zaman Sihir Berakhir Hari Ini. Selamat Datang di Zaman Logam dan Darah."

Di Tempat Tersembunyi

Jauh di bawah tanah, di sebuah reruntuhan kuno yang tak terpetakan di peta kekaisaran, sebuah pintu logam berat terbuka dengan suara derit yang memilukan.

Aksa masuk ke dalam ruangan itu, kursi rodanya meninggalkan jejak oli dan darah hitam di lantai. Dia terbatuk hebat, memuntahkan cairan gelap.

"Kau hampir mati, Bocah," suara Origin bergema di ruangan itu.

"Hanya... masalah teknis," jawab Aksa sambil menyeka bibirnya. Dia menyalakan sebuah lampu minyak kuno, menerangi ruangan yang berisi ribuan cetak biru mesin, roda gigi raksasa, dan sebuah baju besi mekanis yang belum selesai dibangun.

Aksa menatap sebuah potret tua yang tersimpan di meja kerjanya. Foto ibunya yang dibuang dari istana.

"Mereka pikir aku sudah mati. Bagus," ucap Aksa dengan mata yang kini berwarna belang—satu emas, satu hitam. "Biarkan mereka hidup dalam ketakutan. Karena saat aku kembali nanti, aku tidak akan membawa kursi roda ini."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel