Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Keheningan di Lapangan Utama Kekaisaran Azure begitu pekat hingga suara tetesan darah dari kepala Frost Tiger yang menghantam marmer terdengar seperti dentuman lonceng. Para bangsawan yang tadinya berbisik mengejek, kini membeku. Mereka melihat seorang pemuda yang selama sepuluh tahun dianggap sebagai "sampah yang bernapas," kini duduk di atas singgasana logam yang mengeluarkan uap panas, menantang wibawa Kaisar.

"Aksa! Beraninya kau menodai lantai suci ini dengan bangkai binatang dan ancaman kosong!" teriak Jenderal besar pengawal kekaisaran, menunjuk dengan pedang terhunus.

Aksa tidak bergeming. Matanya yang kini memiliki semburat emas tipis tidak menatap si Jenderal, melainkan terpaku pada bayangan di belakang kursi megah Kaisar Dewantara. Di sana, sensor Neural-Link miliknya menangkap fluktuasi mana yang tidak stabil—seperti radio yang frekuensinya terganggu.

"Ancaman kosong?" Aksa terkekeh, suara yang serak namun jernih. "Jenderal, kau mungkin ahli pedang, tapi kau buta terhadap duri di dalam dagingmu sendiri."

Tangan kanan Aksa menekan tuas pada lengan kursi rodanya. Mekanisme internal yang ia rakit selama tujuh hari tujuh malam di paviliun pengasingan mulai bekerja. Kursi roda itu bukan lagi sekadar alat bantu jalan; itu adalah Exoskeleton-Prototype Mark I. Dengan bantuan energi dari sisa Buah Kristal Salju, Aksa menciptakan sistem pembakaran mana internal yang meniru mesin uap Bumi.

Whirrr—!

Laras logam di samping kursinya berputar cepat. Suara desingnya membuat bulu kuduk berdiri.

"Keluar," perintah Aksa sekali lagi.

Tiba-tiba, bayangan di belakang takhta bergerak. Seorang pria dengan jubah hitam legam melompat keluar, memegang belati yang melengkung aneh. Targetnya bukan Aksa, melainkan tenggorokan Kaisar Dewantara!

"Pembunuh!" Permaisuri berteriak histeris, jatuh dari kursinya.

Para pengawal terlambat. Jarak sang pembunuh dengan Kaisar hanya tinggal dua meter. Namun, di dunia Aksa, dua meter adalah ruang yang sangat luas untuk sebuah perhitungan fisika.

"Target terkunci. Lintasan balistik: Terkoreksi," bisik Aksa.

RAT-TAT-TAT-TAT!

Bukan panah, bukan bola api. Dari laras logam di kursi roda Aksa, meluncur baut-baut besi kecil yang dipacu oleh tekanan uap dan ledakan mana terkontrol. Kecepatannya melampaui suara.

Jleb! Jleb! Jleb!

Tiga baut besi menancap tepat di sendi bahu, siku, dan pergelangan tangan si pembunuh. Momentumnya begitu kuat hingga tubuh pria berjubah itu terpental ke samping, belatinya terlempar dan menancap di tiang penyangga podium.

Seluruh lapangan kembali sunyi. Mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang melanggar hukum alam dunia ini. Tidak ada mantra yang diucapkan. Tidak ada lingkaran sihir yang muncul. Hanya sebuah alat logam yang mengeluarkan suara bising dan kematian instan.

Aksa mengatur napasnya. Menggunakan alat itu menguras fokus mentalnya karena ia harus menyinkronkan pikirannya dengan sistem Neural-Link.

"Ayahanda," Aksa memecah keheningan sambil menatap Kaisar yang masih duduk kaku, "Oleh-oleh kedua dariku: nyawa Anda."

Perhitungan di Tengah Badai

Kaisar Dewantara perlahan berdiri. Matanya menatap tajam ke arah Aksa, lalu ke arah pembunuh yang kini mengerang di lantai. "Siapa yang mengirimmu?" suara Kaisar berat dan penuh otoritas.

Si pembunuh hanya meludah darah sebelum menggigit kapsul racun di giginya. Tubuhnya mengejang dan tewas seketika.

"Sial, pengecut," gumam Aksa. Ia tahu ini bukan akhir. Analisis sistemnya menunjukkan bahwa fluktuasi mana di area ini belum sepenuhnya hilang.

"Aksa Dewantara," Kaisar berjalan menuruni tangga podium, mendekati putra ketujuhnya yang selama ini ia abaikan. "Jelaskan... benda apa ini? Dan bagaimana kau, seorang tanpa mana yang sah, bisa mendeteksi pembunuh yang bahkan tidak disadari oleh pengawal elitku?"

Aksa menyeringai tipis. "Ini bukan sihir, Ayahanda. Ini adalah Logika. Di dunia yang terlalu bergantung pada bakat lahiriah, kalian lupa bahwa alam semesta memiliki aturan yang bisa dihitung."

Permaisuri, yang sudah kembali tenang namun wajahnya pucat pasi, berteriak, "Dia berbohong! Dia pasti menggunakan ilmu hitam! Lihat kursi roda iblis itu! Mana mungkin benda mati bisa bergerak sendiri tanpa bantuan roh jahat?"

Aksa menoleh ke arah ibu tirinya. "Ilmu hitam? Permaisuri, jika Anda menyebut hukum termodinamika dan mekanika kuantum sebagai ilmu hitam, maka saya adalah raja iblisnya."

Aksa menggerakkan tuasnya, membuat kursi rodanya berputar 360 derajat dengan lincah di depan kerumunan. "Hari ini adalah Upacara Perburuan. Aturannya sederhana: siapa pun yang membawa mangsa paling kuat, dialah pemenangnya. Apakah kepala Frost Tiger ini belum cukup?"

Seorang pangeran lain, Pangeran Ketiga yang merupakan jenius sihir api, maju ke depan. "Itu pasti bangkai yang kau temukan! Kau lumpuh! Bagaimana mungkin kau membunuh raja hutan sendirian?!"

"Kau ingin bukti, Kakak Ketiga?" Aksa mengangkat sebelah alisnya. "Mari kita buat kesepakatan. Jika aku bisa mengalahkanmu di sini, di depan semua orang, tanpa meninggalkan kursi ini... kau harus memberikan hak tambang batu mana di wilayah utara kepadaku."

Seluruh hadirin menarik napas panjang. Menantang Pangeran Ketiga yang berada di tingkat mana lima adalah tindakan bunuh diri bagi siapa pun, apalagi bagi seorang pemuda di atas kursi roda.

"Dan jika kau kalah?" tanya Pangeran Ketiga dengan senyum meremehkan.

"Kau bisa mengambil kepalaku sebagai hiasan dinding," jawab Aksa datar.

Duel: Ilmu Pengetahuan vs Sihir

Kaisar memberikan izin. Area tengah lapangan dikosongkan. Pangeran Ketiga berdiri dengan angkuh, api mulai menjilat-jilat di sekeliling tubuhnya. Suhu di lapangan naik drastis.

"Aku akan membakarmu beserta kursi rongsokanmu itu, Aksa!"

Pangeran Ketiga merapal mantra cepat. "Bola Api Neraka!"

Tiga bola api raksasa melesat ke arah Aksa dari tiga sudut berbeda. Aksa tetap diam. Di dalam pandangannya, semuanya melambat. Garis-garis vektor muncul di depan matanya, menunjukkan titik benturan dan suhu panas yang akan dihasilkan.

Aksa menekan tombol di bawah sandaran tangannya. Uap dingin dari sisa Buah Kristal Salju yang ia simpan dalam tangki bertekanan tinggi menyembur keluar, membentuk kubah kabut tipis di sekelilingnya.

BUM!

Api bertemu es. Uap putih pekat menutupi seluruh area duel. Penonton tidak bisa melihat apa-apa.

"Hahaha! Hanya itu?" tawa Pangeran Ketiga membahana. "Kau mengandalkan uap air untuk melawan apiku?!"

Namun, dari balik kabut, suara roda yang berderit mendekat.

"Pernahkah kau mendengar tentang fenomena Leidenfrost, Kakak?" suara Aksa terdengar sangat dekat.

Tiba-tiba, sebuah tangan logam—bagian dari modifikasi kursi roda Aksa—melesat keluar dari kabut, mencengkeram leher Pangeran Ketiga. Kecepatannya bukan didorong oleh otot, melainkan oleh pegas baja yang ditarik secara hidrolik.

Pangeran Ketiga tercekik. Ia mencoba membakar tangan logam itu, tapi permukaan logam tersebut telah dilapisi dengan ekstrak Frost Tiger yang tahan panas.

"Sihirmu adalah energi yang tidak efisien," bisik Aksa tepat di telinga kakaknya. "Kau membuang 70% manamu hanya untuk efek cahaya dan panas yang tidak perlu. Sedangkan aku? Aku menggunakan 100% energiku untuk satu tujuan: menghancurkanmu."

Aksa tidak mematikan kakaknya. Ia hanya mengaktifkan kejutan listrik statis yang telah ia kumpulkan dari gesekan roda turbinnya.

BZZZZZT!

Pangeran Ketiga kejang-kejang. Sarafnya terganggu oleh arus listrik buatan manusia. Ia jatuh pingsan dengan mulut berbusa sebelum sempat mengeluarkan mantra kedua.

Aksa melepaskan cengkeramannya dan mundur perlahan. Kabut menipis, memperlihatkan Pangeran Ketiga yang tergeletak tak berdaya, sementara Aksa masih duduk tenang dengan pakaian yang bahkan tidak terkena abu.

Ancaman di Balik Bayangan

Kaisar Dewantara terdiam lama. Keheningan ini lebih berat dari sebelumnya. Ia melihat putranya—putra yang ia buang, bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai ancaman sekaligus aset yang luar biasa.

"Pemenang Perburuan Musim Gugur kali ini..." Kaisar menjeda, suaranya menggema di seluruh lapangan, "...adalah Pangeran Ketujuh, Aksa Dewantara."

Tidak ada sorak sorai. Hanya ketakutan yang tersirat di wajah para bangsawan. Mereka sadar, peta kekuatan kekaisaran baru saja hancur berantakan oleh seorang pemuda lumpuh.

Aksa menundukkan kepalanya sedikit, simbol penghormatan yang penuh kepalsuan.

Lantai marmer lapangan mulai bergetar. Retakan besar muncul tepat di bawah takhta Kaisar. Aksa menyadari sesuatu: pembunuh tadi hanyalah pengalih perhatian. Target sebenarnya bukan nyawa Kaisar hari ini, tapi apa yang terkubur di bawah istana ini selama ribuan tahun.

"Lira! Kemari!" Aksa berteriak pada pelayannya yang berdiri di kejauhan.

"Pangeran! Apa yang terjadi?" Lira berlari mendekat, wajahnya pucat.

"Genggam bagian belakang kursiku. Dan jangan lepaskan, apa pun yang terjadi," perintah Aksa. Ia membuka panel tersembunyi di kursi rodanya, memperlihatkan sebuah perangkat berbentuk silinder dengan cahaya ungu yang berdenyut. "Kita akan melakukan sesuatu yang akan membuat sihir mereka terlihat seperti mainan anak-anak."

Dari balik retakan tanah, muncul sebuah tangan raksasa yang terbuat dari bayangan hitam murni. Sosok itu adalah Void Wraith, makhluk mitos yang dikatakan bisa melahap seluruh kota. Para ksatria lari kocar-kacir. Para pangeran yang sombong tadi kini menangis ketakutan.

Kaisar Dewantara mencabut pedang emasnya, bersiap bertarung, namun ia tahu ia kalah jumlah energi.

Aksa menatap makhluk itu tanpa rasa takut. Di Bumi, ia adalah seorang ilmuwan yang mencoba memecah kode atom. Di sini, ia akan memecah kode dari dewa-dewa yang sombong ini.

"System," bisik Aksa.

"Aktifkan Protokol: The God-Breaker. Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika atom dan mana dipaksa untuk bertabrakan."

Kursi roda Aksa mulai bersinar terang. Roda-rodanya berputar begitu cepat hingga menciptakan pusaran angin. Aksa tidak lagi menunggu perintah atau izin. Ia adalah anomali di dunia ini, dan anomali itu baru saja mulai mengamuk.

"Ayahanda, sebaiknya Anda mundur," kata Aksa sambil menyesuaikan kacamata pelindung yang ia buat dari kristal bening. "Karena setelah ini, definisi 'kekuatan' di kekaisaran ini akan berubah selamanya."

Dengan satu sentakan tuas, Aksa meluncur bukan untuk lari, melainkan menerjang tepat ke arah jantung makhluk bayangan itu, membawa teknologi masa depan ke dalam mimpi buruk masa lalu.

Apa yang akan terjadi saat teknologi nuklir skala kecil yang dikembangkan Aksa bertemu dengan makhluk dari dimensi Void? Dan mampukah kaki Aksa benar-benar sembuh total setelah rahasia segel di bawah istana terungkap?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel