Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Kegelapan bukan sekadar hilangnya cahaya. Bagi Aksa, kegelapan adalah laboratorium. Di Bumi, ia menghabiskan ribuan jam di ruang simulasi sensorik. Ia tahu satu hal pasti: saat mata buta, indra lain akan berteriak.

"Sialan! Siapa yang mematikan lampu?!" teriakan Pangeran Kelima, Reno, memecah kesunyian. "Prajurit! Tangkap dia! Bunuh pelayan itu sekalian!"

Suara gesekan logam terdengar—pedang ditarik dari sarungnya. Langkah kaki berat para pengawal terdengar kacau. Mereka panik. Di mata mereka, ini hanya paviliun tua yang gelap. Di mata Aksa, semuanya terlihat dalam gradasi biru dan merah.

Suara dingin di kepalanya bukan sekadar halusinasi. Itu adalah prototipe Neural-Link yang ia kembangkan sebelum kecelakaan laboratorium di Bumi. Entah bagaimana, teknologi itu menyatu dengan jiwanya dan bereaksi terhadap energi mana di dunia ini.

"Target terdeteksi. Jarak 3 meter. Titik saraf: Leher kiri," bisik suara itu di benak Aksa.

Aksa tidak butuh kaki untuk menyerang. Ia meraih dua sumpit kayu dari nampan bubur basi yang tumpah tadi. Dengan satu dorongan kuat pada roda kursinya, ia meluncur dalam senyap.

Jleb!

"Ugh..." Seorang pengawal tumbang tanpa sempat berteriak. Sumpit kayu itu menembus titik saraf di bawah telinganya dengan presisi bedah.

"Satu," gumam Aksa.

"Di sana! Dia di sana!" Reno berteriak, menunjuk asal ke arah suara kursi roda.

Seorang prajurit menebaskan pedangnya. Aksa memiringkan kepalanya tipis. Angin tajam pedang itu hanya melewati helai rambutnya. Dengan gerakan tangan yang secepat kilat, ia menangkap pergelangan tangan si prajurit, memutarnya hingga tulang terdengar berderak—krak!—dan merebut pedang itu.

Zing!

Darah hangat memuncrat ke wajah Aksa saat pedang itu menyapu tenggorokan lawan kedua.

"Dua."

Suasana paviliun menjadi mencekam. Bau besi darah mulai mengalahkan bau apek ruangan. Reno, yang biasanya merasa jumawa karena bakat sihir apinya, mulai gemetar. Ia mencoba menyalakan api di tangannya, tapi ketakutan membuat aliran mananya kacau. Api itu hanya berkedip kecil, memperlihatkan bayangan Aksa yang duduk tenang di kursi rodanya, memegang pedang berdarah dengan ekspresi datar.

"Kenapa, Kakak Kelima?" suara Aksa terdengar seperti bisikan maut. "Tadi kau bilang ingin melihatku merangkak?"

"Kau... kau iblis! Bagaimana mungkin sampah sepertimu bisa bergerak seperti itu?!" Reno mundur selangkah, menabrak meja kayu.

Aksa tidak menjawab. Ia melemparkan pedang di tangannya. Bukan ke arah Reno, tapi ke arah pengawal yang sedang memegangi Lira di sudut ruangan. Pedang itu meluncur, berputar di udara, dan menancap tepat di dada si pengawal.

Lira terlepas, jatuh terduduk dengan tubuh gemetar.

"Lira, tutup matamu," perintah Aksa lembut namun tak terbantahkan.

Kini, hanya tersisa Reno dan satu pengawal elit yang berdiri di depan pintu. Pengawal itu, seorang pria dengan codet di mata, akhirnya menarik napas panjang. Ia bukan amatir seperti dua temannya yang sudah tewas.

"Pangeran Ketujuh, aku tidak tahu ilmu hitam apa yang kau gunakan," ujar pengawal itu sambil memasang kuda-kuda berat. "Tapi di depan pengguna mana tingkat empat, trikmu tidak berguna."

Pria itu menghentakkan kakinya. Lantai batu di bawahnya retak. Ia melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia biasa. Pedangnya menyala dengan aura kuning—sihir elemen tanah.

Aksa menyipitkan mata. Analisis: Kecepatan tinggi, pertahanan fisik 80%, titik lemah: Engsel lutut dan ketiak kanan.

Aksa tidak menghindar. Saat pedang besar itu akan membelah kepalanya, ia menggunakan telapak tangannya untuk menepuk sisi bilah pedang—mengalihkan arah serangan hanya beberapa milimeter. Di saat yang sama, ia menggunakan momentum itu untuk mengangkat tubuhnya dari kursi roda menggunakan kekuatan lengan, dan meluncurkan satu tendangan darurat dengan kaki kirinya yang sebenarnya mati rasa.

Bukan kekuatan kaki yang ia gunakan, melainkan ledakan mana yang ia paksa keluar dari segel di punggungnya.

BUM!

Tabrakan energi itu membuat pengawal itu terpental menghantam tembok hingga hancur. Tulang rusuknya remuk.

Namun, Aksa juga membayar harganya. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Memaksa mana melalui segel Shadow-Thread rasanya seperti menyiramkan asam ke dalam sarafnya.

"Ugh..." Aksa jatuh kembali ke kursi rodanya. Napasnya memburu.

Reno melihat kesempatan itu. "Mati kau!" Ia melepaskan bola api besar ke arah Aksa.

Aksa melihat bola api itu mendekat. Ia terlalu lemah untuk menghindar. Namun, tepat sebelum api itu membakarnya, kotak kayu berisi sisa-sisa Buah Kristal Salju yang hancur di lantai bereaksi. Cairan buah itu menguap terkena panas, menciptakan kabut dingin yang tiba-tiba tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Aksa.

Rasa dingin yang luar biasa menjalar di sumsum tulangnya, melawan rasa panas dari racun itu. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Aksa merasakan ujung jempol kakinya bergerak.

Hanya sedikit. Tapi itu cukup.

Asap menipis. Reno terbelalak. Aksa masih duduk di sana, namun aura di sekitarnya berubah total. Matanya yang biru kini memiliki corak emas tipis di pupilnya.

"Permainan selesai," kata Aksa.

Aksa menggerakkan tangannya ke udara. Sisa-sisa air dari bubur yang tumpah dan darah yang berceceran di lantai tiba-tiba terangkat, membeku menjadi jarum-jarum es yang tajam berkat energi dari Buah Kristal Salju yang ia serap secara paksa.

"Tunggu! Aksa! Aku kakakmu! Ayahanda tidak akan memaafkanmu jika kau membunuhku!" teriak Reno histeris. Ia mencoba lari menuju pintu.

Jles! Jles! Jles!

Tiga jarum es menancap di kedua bahu dan satu di paha Reno, memakukannya ke pintu kayu paviliun. Reno berteriak kesakitan, tubuhnya tergantung seperti pajangan dinding.

Aksa mendekati Reno, memutar roda kursinya dengan perlahan. Suara derit roda besi itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Reno.

"Kau benar, aku tidak akan membunuhmu hari ini," Aksa berhenti tepat di depan Reno yang merintih. "Itu terlalu mudah. Aku ingin kau kembali ke ibumu, sang Permaisuri, dan sampaikan pesan ini..."

Aksa mencengkeram rahang Reno dengan kuat, memaksanya menatap matanya yang mengerikan.

"Sampah yang kalian buang sepuluh tahun lalu... sekarang sudah mulai membusuk. Dan bau busuk itu akan mengejar kalian sampai ke singgasana."

Aksa melepaskan cengkeramannya. Dengan satu lambaian tangan, es yang menusuk Reno mencair, membuat pangeran itu jatuh tersungkur di tanah seperti gundukan daging yang tak berdaya.

"Pergi. Sebelum aku berubah pikiran dan mengambil lidahmu."

Reno tidak menunggu dua kali. Ia merangkak keluar paviliun dengan sisa kekuatannya, meninggalkan para pengawalnya yang sudah menjadi mayat.

Lira mendekat dengan gemetar, menatap tuannya dengan tatapan antara takut dan kagum. "Pangeran... Anda... kaki Anda..."

Aksa melihat ke bawah. Kakinya masih belum bisa digunakan untuk berjalan, tapi rasa berat yang seperti batang kayu itu sudah berkurang. Segel itu retak, meski belum hancur.

"Ini baru permulaan, Lira. Bersihkan tempat ini. Kita punya banyak pekerjaan sebelum Upacara Perburuan Musim Gugur."

Ratusan ksatria berbaju zirah perak berbaris rapi. Panji-panji naga biru berkibar tertiup angin pegunungan yang dingin. Hari ini adalah Upacara Perburuan Musim Gugur, ajang di mana para pangeran memamerkan kekuatan sihir dan kemampuan bertarung mereka di depan Kaisar.

Di podium tertinggi, Kaisar Dewantara duduk dengan wajah kaku. Di sampingnya, Permaisuri tersenyum anggun, meski matanya terus melirik ke arah pintu masuk dengan cemas. Ia telah mendengar laporan dari Reno, tapi ia tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang cacat bisa melukai pengguna mana?

"Mana Pangeran Ketujuh?" suara berat Kaisar menggelegar. "Jika dia tidak datang dalam sepuluh hitungan, hapus namanya dari silsilah keluarga selamanya."

"Satu..."

"Dua..."

Para bangsawan mulai berbisik-bisik, menertawakan pangeran yang mereka anggap sudah mati atau terlalu takut untuk muncul.

"Sembilan..."

Tepat pada hitungan kesepuluh, suara terompet penjaga gerbang berbunyi. Namun, bukan terompet penyambutan, melainkan terompet peringatan.

Semua mata tertuju ke arah jalan setapak menuju lapangan.

Bukan sebuah kereta kuda mewah. Bukan pula tunggangan binatang buas.

Seorang pemuda berambut hitam panjang duduk di atas sebuah kursi roda yang aneh. Kursi roda itu tidak lagi berkarat; melainkan terbuat dari baja hitam legam dengan ukiran-ukiran aneh yang berpendar cahaya biru redup. Di belakang kursi roda itu, terdapat dua buah pipa logam yang mengeluarkan uap panas, membuat kursi itu bergerak maju tanpa perlu didorong, seolah-olah memiliki nyawanya sendiri.

Aksa Dewantara datang. Bukan sebagai sampah yang memohon belas kasihan, tapi sebagai seorang insinyur maut yang membawa teknologi yang belum pernah dilihat dunia ini.

Namun, yang membuat seluruh lapangan mendadak sunyi bukan hanya kursi rodanya.

Di atas pangkuan Aksa, tergeletak kepala seekor Frost Tiger tingkat tinggi—monster yang seharusnya hanya bisa diburu oleh jenderal kelas satu—yang masih meneteskan darah segar ke lantai marmer lapangan yang suci.

Aksa menatap langsung ke arah Kaisar, lalu menyeringai tipis.

"Maaf aku terlambat, Ayahanda. Aku harus mencari sedikit oleh-oleh agar aku tidak terlihat terlalu... 'sampah' di depan saudara-saudaraku."

Di saat yang sama, sensor di kepala Aksa berbunyi nyaring.

Aksa tidak menunggu. Ia menekan sebuah tombol di lengan kursi rodanya, dan bagian samping kursi itu terbuka, memunculkan sebuah laras logam kecil yang mulai berputar cepat.

"Siapa pun yang bersembunyi di sana," suara Aksa tenang namun dingin, "Keluar, atau aku akan meratakan podium itu sekarang juga."

Apakah Aksa akan benar-benar menyerang podium Kaisar? Dan rahasia apa yang disembunyikan oleh sosok di balik takhta?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel