Bab 1
Rasa sakit itu datang lebih dulu sebelum kesadaran.
Seperti ribuan jarum yang ditusukkan ke sumsum tulang belakang, rasa panas membakar menjalar dari pinggang hingga ke ujung kaki yang mati rasa. Arlan—atau siapa pun nama aslinya di Bumi—mencoba membuka mata. Hal pertama yang ia lihat bukanlah lampu neon putih rumah sakit atau wajah panik rekan kerjanya setelah kecelakaan laboratorium itu.
Ia melihat langit-langit batu yang lembap, ditumbuhi lumut tipis, dan bau apek yang menusuk hidung.
"Sial... aku belum mati?" bisiknya parau.
Namun, saat ia mencoba menggerakkan kakinya untuk berdiri, kenyataan pahit menghantamnya. Kakinya terasa seperti batang kayu mati. Dingin, berat, dan sama sekali tidak merespons perintah otaknya.
Arlan menunduk. Ia tidak mengenakan pakaian steril rumah sakit. Ia memakai jubah sutra yang sudah lusuh, robek di beberapa bagian, dan kotor. Dan yang paling mengejutkan, ia duduk di atas sebuah kursi kayu besar dengan roda besi yang sudah berkarat di beberapa sisi.
Sebuah kursi roda.
Deg!
Seketika, banjir ingatan yang bukan miliknya menghantam kepala Arlan.
Kekaisaran Azure. Pangeran Ketujuh. Aksa Dewantara.
Nama itu bergema di kepalanya. Di dunia ini, ia adalah Aksa. Seorang pangeran yang lahir dari selir rendah, yang kehilangan ibunya saat lahir, dan kehilangan fungsi kakinya karena "kecelakaan" misterius saat upacara pembukaan bakat sihir sepuluh tahun lalu.
Sejak saat itu, ia adalah sampah. Simbol kegagalan darah kerajaan.
"Pangeran Ketujuh? Lebih tepatnya Pangeran Sampah," Arlan—sekarang Aksa—tertawa kecut. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lebih muda namun penuh dengan keputusasaan yang tertanam selama bertahun-tahun.
****
Pintu kayu berat dari paviliun terpencil itu ditendang hingga terbuka. Dua orang pria bertubuh besar dengan seragam prajurit kekaisaran melangkah masuk tanpa memberi salam. Di tangan salah satu dari mereka, terdapat nampan kayu berisi mangkuk tanah liat dengan bubur cair yang aromanya hampir mirip dengan basi.
"Masih hidup rupanya, Pangeran Sampah?" Prajurit berkumis melintang itu, yang Aksa kenali sebagai Kapten Penjaga Paviliun bernama Baros, meludah ke lantai.
Aksa hanya diam, matanya menatap dingin ke arah Baros. Di kehidupan sebelumnya, Arlan adalah seorang ahli strategi dan pengembang teknologi militer. Ia telah menghadapi jenderal dan politikus licik. Gertakan prajurit rendahan seperti ini tidak membuatnya gemetar.
"Kenapa diam saja? Apa kecelakaan itu juga membuatmu bisu?" Baros mendekat, lalu dengan sengaja menumpahkan bubur cair itu ke lantai, tepat di depan roda kursi roda Aksa. "Makanlah. Anjing di gerbang depan bahkan makan lebih baik darimu, tapi ini adalah belas kasihan terakhir dari Permaisuri."
"Permaisuri?" Aksa akhirnya bersuara. Dingin dan tajam.
Baros sedikit tersentak. Ia merasa ada yang berbeda dari tatapan Aksa. Biasanya, pangeran lumpuh ini akan menunduk takut atau menangis tersedu-sedu. Tapi sekarang, mata itu seolah-olah bisa menembus jantungnya.
"Kamu punya nyali untuk menyebut nama beliau?" Baros mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tamparan.
"Pukul saja," tantang Aksa datar. "Satu goresan lagi di wajahku, dan saat Kaisar—ayahku akan melakukan inspeksi tahunan bulan depan, aku akan memastikan dia melihatnya. Meskipun aku sampah, aku tetap memiliki darah Dewantara. Apakah kepalamu cukup kuat untuk menahan hukuman karena melukai anggota keluarga kerajaan, Kapten?"
Tangan Baros berhenti di udara. Ia gemetar karena marah, tapi juga karena keraguan. Aksa benar. Kaisar mungkin membencinya, tapi protokol kerajaan tetaplah protokol.
"Tunggu saja, Aksa," desis Baros. "Minggu depan adalah Upacara Perburuan Musim Gugur. Semua pangeran wajib hadir. Kita lihat bagaimana kau akan merangkak di atas tanah saat saudara-saudaramu yang agung menertawakanmu."
Baros dan rekannya keluar sambil membanting pintu.
Setelah suasana hening, Aksa mencoba mengatur napasnya. Ia menutup mata, mencoba mencari tahu mengapa tubuh ini tidak bisa menyerap Mana, energi sihir di dunia ini.
Sebagai mantan ilmuwan, ia mulai menganalisis aliran energi di tubuh barunya secara sistematis. Ia memejamkan mata, memfokuskan pikiran pada tulang belakangnya.
Dan saat itulah ia menemukannya.
Bukan cedera saraf biasa. Di pangkal tulang punggungnya, terdapat sebuah segel berwarna hitam yang berbentuk seperti lintah kecil. Benda itu menyedot setiap tetes energi yang coba dikumpulkan oleh Dantian-nya, dan menyebarkan racun yang mematikan saraf motorik kakinya.
"Racun Shadow-Thread," gumam Aksa. Ingatannya dari perpustakaan istana muncul. "Ini bukan kecelakaan. Seseorang menyegel kakiku dengan sengaja agar aku tidak pernah bisa berkultivasi."
Siapa? Permaisuri? Kakak-kakak tirinya? Atau mungkin... ayahnya sendiri?
Aksa mencoba memaksa energinya untuk menabrak segel itu, namun rasa sakit yang luar biasa menghantamnya hingga ia hampir jatuh dari kursi roda. Tubuh ini terlalu lemah. Ia butuh pemicu.
Saat Aksa sedang berjuang melawan rasa sakit, jendela paviliunnya berderit terbuka. Seorang gadis muda dengan pakaian pelayan yang compang-camping melompat masuk dengan terengah-engah. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang disembunyikan di balik bajunya.
"Pangeran! Anda bangun!" Gadis itu, Lira, satu-satunya pelayan setia yang tersisa, berlari ke arahnya dengan air mata berlinang.
"Lira? Apa yang kamu bawa?"
"Ini... saya mencurinya dari gudang obat belakang. Ini Buah Kristal Salju. Saya dengar ini bisa meredakan rasa sakit di kaki Anda," bisik Lira dengan tangan gemetar.
Aksa tertegun. Mencuri dari gudang obat kerajaan adalah hukuman mati. Gadis ini mempertaruhkan nyawanya untuk pangeran yang bahkan tidak bisa berdiri.
"Kembalikan itu, Lira. Itu terlalu berbahaya," kata Aksa tegas.
"Tidak! Anda sudah menderita selama sepuluh tahun. Mereka semua ingin Anda mati, tapi saya berjanji pada mendiang Selir untuk menjaga Anda!" Lira memaksa membuka kotak itu.
Namun, sebelum Aksa bisa menyentuh buah itu, sebuah panah melesat dari luar jendela, menghancurkan kotak kayu tersebut hingga buah di dalamnya hancur berkeping-keping.
"Mencuri properti kerajaan? Sungguh pelayan yang setia... dan sungguh pengkhianatan yang indah."
Sesosok pemuda tampan dengan jubah biru mewah berdiri di ambang pintu. Pangeran Kelima, kakak tiri Aksa yang paling sering menyiksanya. Di belakangnya, beberapa pengawal bersenjata lengkap sudah mengepung paviliun kecil itu.
"Kakak Kelima," desis Aksa.
"Jangan panggil aku kakak, kau cacat," Pangeran Kelima tersenyum meremehkan. "Mencuri adalah kejahatan berat. Untuk pelayanmu, hukumannya adalah potong tangan. Dan untukmu... karena kau yang menghasutnya, kupikir kursi roda itu tidak lagi dibutuhkan. Bagaimana kalau kita coba melihatmu merangkak tanpa kursi roda di atas bara api?"
Aksa melihat Lira yang diseret oleh para pengawal. Ia melihat senyum sadis kakak tirinya. Di kehidupan lamanya, ia selalu menggunakan logika dan teknologi. Di sini, logika memberitahunya bahwa ia akan mati jika tidak melawan.
Tiba-tiba, sebuah suara dingin bergema di dalam kepalanya. Sebuah suara yang tidak berasal dari ingatannya, melainkan dari kedalaman jiwanya.
Aksa merasakan aliran listrik dingin menyambar tulang belakangnya. Rasa sakit dari segel itu masih ada, tapi tiba-tiba ia bisa melihat titik-titik lemah pada tubuh Pangeran Kelima dan para pengawalnya—titik tekanan saraf yang bisa melumpuhkan manusia dalam satu sentuhan.
Ia tidak bisa berjalan, tapi bukan berarti ia tidak bisa membunuh.
"Kamu ingin melihatku merangkak?" Aksa menatap Pangeran Kelima dengan seringai yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri. "Kemarilah. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang sampah menghancurkan kesombonganmu."
Aksa menggerakkan roda kursinya maju satu langkah. Meskipun ia duduk, aura yang terpancar darinya tiba-tiba terasa lebih berat daripada gunung manapun di kekaisaran itu.
"Hahahahaha ...."
Pangeran Kelima tertawa terbahak-bahak, namun tawanya terhenti saat Aksa menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba seluruh lampu minyak di paviliun itu meledak, menyelimuti ruangan dalam kegelapan yang mencekam.
Di tengah kegelapan, hanya ada sepasang mata biru yang bersinar terang dari atas kursi roda. Mata yang bukan lagi milik pangeran lumpuh yang lemah, melainkan mata seorang predator yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
