Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Adel dan Sam

Bab 6 Adel dan Sam

Adel menggeliat, setelah setengah jam sang mama membangunkan dirinya.

Benar-benar sangat pemalas, bagaimana nanti jika sudah mulai masuk kuliah?

Bisa-bisa langsung di tolak mentah-mentah oleh dosen jika dia selalu telat masuk.

"Aduh, duh, ma, ini sakit…" Adel memegang daun telinganya saat ia berniat untuk tidur lagi, lalu sang mama menjewernya.

"Kamu ini, benar-benar orang yang pemalas. Mau jadi apa kamu, Adel?" sang mama melepas jewerannya di telinga Adel.

"Ma, ini kan libur. Masa harus bangun pagi terus sih, ah, mama gak asik!!"

"Oh kamu, masih mau menjawab? Ngeyel aja terus jadi orang. Cepat bangun, papa udah nunggu, jangan sampai papa lempar kamu keluar nantinya."

Adel langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan mukanya.

Sang mama hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Adel dengan cepat loncat dari ranjang, jika sudah mendengar nama papanya.

Kini mereka sudah berada di ruang keluarga, mereka duduk santai.

"Loh, papa gak ke kantor?" Adel berbasa-basi bertanya pada papanya.

"Gak tuh, mau ngawasin kamu aja dirumah, biasanya ngapain aja, bantuin mama gak tuh."

Sang mama hanya memutar bola mata malas.

Sedangkan si tersangka, hanya cengengesan tak jelas.

Yah, begitulah Adel. Gadis yang cukup ceria dan juga tukang ngeyel.

"Adel, esok malam, kita harus pergi ke acara pernikahan kolega papa. Di Denzel hotel, jangan sampai kamu buat malu papa. Kamu harus pakai dress yang cantik, ingat yang cantik. Kau mengerti?"

"Papa, kenapa Adel harus ikut? Biar Adel rebahan aja pa, dirumah, ya, ya, ya?" adel menjawab dengan permohonan, namun sang papa sama sekali tidak menggubris Adel.

"Ma,"

Sang mama kembali menyibukkan dirinya membaca majalah wanita miliknya tanpa memperdulikan Adel.

Masa bodoh, dengan putrinya yang mulai merengek tak ingin datang.

Adel berdecak kesal lalu berjalan dengan menghentakkan kakinya dengan keras.

Mama dan papanya hanya terkekeh melihat tingkah putrinya itu.

"Ada-ada saja, sudah dewasa tapi masih tetap seperti anak kecil."

"Yah, itu karena kita selalu memanjakannya tanpa dia sadar. Papa yang diam aja dia bilang menyeramkan, apalagi mama yang tiap hari ngomel terus." Kata sang mama sambil terkekeh.

***

Adel (POV)

Aku benar-benar kesal dengan mama dan papa, mereka memaksaku untuk ikut datang ke acara pernikahan putri dari kerabat bisnis papa.

Aku di minta untuk memakai dress dan

berpenampilan anggun, sungguh, itu bukanlah diriku. Aku lebih suka memakai pakaian santai seperti biasanya, jika ingin pergi aku hanya memakai casual yang sedikit ketat.

Aku terpaksa, mungkin nanti akan hadir di acara itu bersama kedua orang tuaku.

***

"Sayang, apa kamu sibuk?" Sam menghubungi Adel.

"Gak, aku lagi bete aja!" Adel menjawab pertanyaan dan dengan ketus.

"Ah, gadis manis, ketus sekali."

"Sam, kamu ngatain aku?"

Sam terkekeh mendengar pertanyaan Adel.

"Kamu nyebelin, dari kemarin gak kasih kabar aku, chat aku cuma di baca aja. Chat aku bukan koran atau majalah yang hanya bisa dibaca aja, Sam."

"Iya, iya, maaf. Kemarin aku sibuk banget, sampai aku gak sempet buat balas chat kamu."

"Malas, aku gak mau maafin." Adel masih menjawabnya dengan ketus.

"Baiklah, aku jemput ya, kita jalan kemana gitu?" Rayu Sam, dan berhasil, Adel menyetujuinya.

Lalu Adel mengambil handuk dan masuk kamar mandi, ia mandi dengan cepat. Tidak sampai 5 menit ia telah selesai mandi.

"Udah, gak usah lama-lama mandi, yang penting basah, kena sabun. Udah gitu aja, haha," ujar Adel terkekeh pada dirinya sendiri.

Adel, memakai baju yang lebih ketat dari biasanya.

Ia berpamitan pada mamanya untuk keluar mencari dress, yang akan ia kenakan esok malam.

Sang mama pun mengijinkannya.

***

'glek'

Sam menelan ludahnya, ia gugup dan wajahnya memerah saat melihat lekukan tubuh adel terlihat jelas.

"Yang, kamu gak salah pakai baju? Ini terlalu ketat, buatmu."

"Tapi aku nyaman pake ini, gimana dong?"

Yah, bukan Adel namanya jika tidak ada eyelannya.

"Huh, ya sudah. Aku harus tahan-tahan aja kalo gitu."

"Tahan-tahan apa?" Adel bertanya dengan polosnya.

"Bukan, apa-apa kok."

Sam tersenyum pada Adel.

"Tadi bete kenapa?"

"Itu Sam, papa minta aku ikut datang ke undangan pernikahan anak temen papa. Aku gak mau tapi di paksa,"

Adel mengatakan hal itu dengan wajah menggemaskan, sangat lucu untuk dilihat.

Sam tersenyum,

"Gak papa, kamu ikut aja. Siapa tau ketularan nanti, hehe." kata Sam menjawab dengan kekehan.

"Iya, aku mau ketularan nikah. Tapi nanti, gak mau secepatnya juga."

"Iya, iya, aku hanya bercanda kok."

"Ini mau kemana, yang?" tanya Sam lagi.

"Aku mau cari dress buat besok, bantuin aku ya?"

Adel meminta Sam untuk menemaninya mencari dres.

"Oke, kita jalan sekarang ya, yang?"

"Gak, tahun depan aja!" Lagi-lagi, adel menjawabnya dengan ketus.

Sedangkan Sam, kembali terkekeh melihat kekasihnya yang terlihat kesal.

Sesampainya di boutique langganan sang mama, Adel memilih beberapa dress untuk di cobanya.

Adel mencoba dress berwarna Merah maroon yang sedikit terbuka dibagian punggungnya.

Dress yang sangat indah, sangat cocok dipakai oleh Adel.

Sam dibuat tercengang saat melihat kekasihnya mencoba memakai dress itu.

"Yang, gimana? Ini cocok kan sama aku?"

"Cocok banget, kamu cantik banget. Tapi, apa itu gak terlalu terbuka ya?" Sam menunjuk bagian belakang Adel.

Adel menggeleng kepalanya.

"Ini bagus yang, di belakang ini juga kecil kok bagian terbukanya. Terus ini juga gak ketat, ih aku mau ambil ini aja deh."

Sam tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Ia setuju saja jika Adel menginginkan dress yang itu. Ia tak ingin membuat kekasihnya marah jika ia melarangnya.

Setelah dari boutique, Sam dan Adel tengah duduk di tepi danau. Adel yang menyantap ice cream di tangannya.

"Yang, coba jangan belepotan gini, makan ice creamnya." Kata Sam lalu membersihkan sisa ice cream di dekat mulut Adel.

"Ah, nyebelin banget. Berasa kaya lagi baca novel tau gak, ada aja adegan yang begini nih, nanti si cowoknya bersihkan sisa ice cream dengan cara romantis. Ih, gak mau aku." Kata Adel dengan bergidik jijik.

Sam lagi-lagi terkekeh dibuatnya.

Lalu Sam mengecup kening Adel,

"Aku sayang sama kamu, jaga hatimu ya. Kita berjuang sama-sama," Sam mengatakan itu dengan membelai rambut Adel.

Adel menganggukkan kepalanya.

"Kamu juga, jaga hati kamu. Di kampus pasti banyak cewek-cewek yang ngejar kamu kan. Sebel aku tuh, iiihh!!" Adel kesal mengucapkan hal itu dengan melempar bungkus ice cream.

"Jangan marah-marah terus, nanti cepet tua. Tua sebelum waktunya, mau?"

Dengan cepat Adel menggelengkan kepalanya.

"Aku bercanda aja kok," kata Sam dan membuat Adel mencubit pinggangnya.

Sedangkan Sam, hanya cengengesan bangga telah menggoda kekasihnya itu.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel