Bab 5 Terbayang Wajah Adel
Bab 5 Terbayang Wajah Adel
"Nyebelin banget, mau kemana-mana mager. Aaaa, mama, cepat pulang. Adel gak mau sendirian." Kata adel mengacak rambutnya.
Adel menatap ponselnya, sepi, sangat sepi seperti berada di kuburan tengah malam.
"Gila aja, mereka pada gak mau gitu hubungi aku. Chat atau telpon gitu, sicecunguk Elle juga gak ada kabar." Gerutunya.
Lalu Adel memencet nomor ponsel dan menghubunginya.
"Mama, mama kapan pulang, iih, adel gak mah sendirian." Rengek Adel pada sang mama.
"Mungkin tahun depan, mama sama papa baru akan pulang," mama mengatakan itu dengan menahan tawanya.
"Aaa, mama. Mama iih, Adel mau nyusul mama aja, masa iya mama sama papa pacaran terus." Adel masih terus demo pada mamanya.
"Cepat, buka pintunya. Mama mau masuk, ni."
"Gak, mama bohong. Adel takut mau keluar."
"Cepat buka, atau papa dobrak pintunya!!"
Adel menjauhkan ponsel dari telinganya, suara sang papa benar-benar menyeramkan.
Lalu Adel berlari keluar dan membuka pintu untuk mereka.
Tatapan tajam sang papa tertuju pada Adel,
"Papa, aaa, jangan melotot begitu. Adel takut, hiks hiks," hal itu justru membuat sang papa tertawa keras.
"Kamu, kenapa takut banget sama papa? Padahal papa biasa aja tuh,"
"Papa, nyeremin ma, Adel takut kalo papa marah, takut kena hantam."
"Memangnya papa pernah hantam kamu?" tanya sang papa pada Adel.
Adel hanya menggeleng kepala.
Sang papa hanya memutar bola mata malas.
"Mana mungkin papa galak sama kamu, kecuali kamu buat kesalahan yang susah dimaafkan."
'glek'
Adel menelan ludah.
Selama ini dia hanya takut dengan sang papa, padahal sang papa tidak pernah sedikitpun memukul atau memarahinya.
***
"Sial, kenapa aku kepikiran dia terus."
Kris gelisah, tidak bisa tidur malam ini.
Wajah Adel terus berputar-putar mengelilingi otaknya.
Kris mengacak-acak rambutnya,
"Aduh, aku harus gimana? Ya Tuhan, mungkin papa bisa menebas kepalaku, jika aku merebut gadis itu dari cucunya."
"Adel, Adel, Adel, arghhhhhh..."
'Brakkk'
Kris terlonjak kaget saat pintu kamar terbuka paksa oleh seseorang.
"Astaga, mama, apa yang mama lakukan? Pintu kamarku, astaga, untung saja tidak jebol." Gerutu Kris.
"Kamu, sangat berisik. Mengganggu saja, mama mau tidur, kamu tidak lihat hah? Ini sudah hampir tengah malam dan kau teriak-teriak tidak jelas. Jika memang sudah punya istri, mama akan memaklumi jika tengah malam kau berteriak keras."
"Astaga, mama, ambigu sekali perkataanmu."
"Ya, itu karena mama sangat kesal denganmu. Apa perlu, mama menjodohkan dirimu saja?"
Mata Kris terbelalak lebar mendengar ucapan sang mama.
"Ma, tidak mau. Aku tidak perlu dijodohkan, aku akan kabur jika mama benar-benar menjodohkan ku." Ancam Kris.
"Terserah kau saja, kabur saja. Mama tidak peduli jika kau mau pergi. Percuma saja, tidak bisa memberikan mama menantu."
'Brakk'
Lagi-lagi Kris terlonjak kaget saat sang mama keluar dan menutup pintunya dengan keras.
Kris mengelus dadanya,
"Sabar, sabar,"
Lalu Kris merebahkan tubuhnya kembali, ia memaksakan matanya untuk tidur.
"Merem, kalo ga merem ku colok." Kris berbicara seperti orang gila pada matanya.
Benar-benar ngiris kan, eh miris.
Sampai pagi pun tiba, burung di pagi hari berkicau dan sinar matahari menyorot lewat jendela, Kris merasa terganggu dengan hal itu.
Emm, namun ia terpaksa bangun, karena kerjaannya menumpuk di kantor.
Kris berjalan gontai menuju kamar mandi, ia meraih handuk lalu berdiri di bawah kucuran shower.
Selintas, wajah Adel dan leher jenjang Adel muncul kembali di otaknya. Membuat juniornya terbangun,
"Sialan, kenapa otakku kotor sekali." Gerutunya.
"Baru kali ini aku berpikir mesum, aku yakin, aku tertular virus dari Vano."
"Uhuk-uhuk," Vano yang tengah tidur tiba-tiba tersedak.
"Kenapa aku tersedak, padahal aku masih tidur." Kata Vano yang baru saja bangun dari tidurnya, aneh sekali bukan?
Mungkin ini karena Kris mengatai dirinya tertular virus mesum milik Vano.
***
Kris masih menandatangani beberapa berkas yang kemarin ia buat untuk bekerjasama dengan perusahaan Henzel Company.
Sejenak ia menyandarkan kepalanya di bahu kursi putar. Lalu ia tersenyum tipis mengingat kemarin bermain dance-dance revolution dengan Adel.
Sekilas, ia membayangkan dua gunung Adel yang naik turun saat ngedance.
Wajah Kris memerah.
"Oh God, kenapa otakku mesum sekali sekarang? Panas, astaga."
Kris mengacak rambutnya frustasi.
Lalu pintu ruangannya terketuk, dan menyuruh orang itu masuk.
Lalu masuklah, bendahara kantornya.
"Permisi pak,"
"Hm," Kris hanya menjawab dengan gumaman.
"Ini pak, saya mau memberikan dokumen keuangan yang kemarin bapak minta. Dan ini, saya ada bawakan bekal makan siang untuk bapak." Katanya tersenyum.
Kris memicingkan matanya,
"Maaf, saya lebih suka makan di makanan siap saji atau makanan rumahan. Tidak menerima makanan dari sembarang orang." Jawab Kris dengan sombongnya.
Liana, meringis kecewa.
'sial, kenapa selalu saja ditolak.' batin Liana.
"Laporan diterima dan tolong bawa keluar lagi, bekalnya." Pinta Kris sembari mengibaskan tangannya.
Liana terdiam sejenak, dan menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa pak? Saya gak kasih racun kok. Saya berusaha kasih perhatian, siapa tau bapak bisa jatuh hati dengan saya." Kata Liana dengan memberanikan diri mengatakan itu.
Kris mengerutkan dahinya, ia terheran dengan ucapan Liana.
Kris menghela napas berat.
"Maaf, Liana. Tidakkah kau sadar saya ini siapa? Hubungan kita hanya sebatas atasan dan karyawan, tidak lebih."
"Saya tahu pak, tapi saya menyukai bapak." Liana menjawab lagi dengan kepala menunduk.
Kris memijat pelipisnya.
"Liana, saya tidak tertarik denganmu. Untuk saat ini saya belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Tolong keluarlah, jangan menambah pusing di kepalaku."
Liana meminta maaf dan kemudian ia membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruang kerja Kris.
"Aku tak habis pikir, dia bisa mengatakan hal itu padaku. Untung saja aku masih punya batas kesabaran."
***
Kris(POV)
Aku benar-benar merasa aneh, sejak awal melihat Adel di dalam cafe, dia benar-benar sudah menarik perhatianku. Apa aku sangat jahat, jika menyukai kekasih dari keponakanku sendiri?
Aku menghela napas berat, jujur, bukan ini yang aku mau. Jika saja Adel bukan kekasih Sam, mungkin aku sudah merebutnya untuk menjadi kekasih ku.
Pagi tadi, aku melakukannya sendiri, juniorku selalu terbangun jika Adel tiba-tiba muncul di benakku. Benar-benar seperti pedofil, bukan?
Aku masih terbayang dengan dua gunung kembarnya menyembul naik turun dibalik bajunya saat kami bermain game dance, ditambah lagi, keringat yang mengalir di leher jenjangnya, sungguh, otakku sangat liar.
Baru kali ini, aku merasakan getaran cinta hingga ke ubun-ubun, tapi aku harus membuang rasa ini jauh-jauh, karena Adel adalah kekasih Sam, keponakanku sendiri.
Aku bisa mati di tangan papa dan kakakku, jika aku merebut Adel dari Sam.
Aku menghela napas berat, lalu meneguk minuman kaleng yang saat ini kupegang, aku tersenyum tipis saat aku menyadari hal ini, aku benar-benar paman yang jahat, bukan? Yang tertarik dengan kekasih keponakanku sendiri. Hal ini, biar aku saja yang tahu. Tak perlu ku umbar pada siapapun, sekalipun itu Vano. Apalagi manusia itu, manusia yang punya sungut sama seperti ember. Mengalahi emak-emak komplek kalau sedang berkumpul.
Bersambung...
