Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Acara Kantor

Bab 7 Acara Kantor

Warning(18+)

Bab ini mengandung unsur dewasa dan adegan tak senonoh, mohon bijak dalam memilih bacaan dan berkomentar.

Adel turun dari tangga dan membuat kedua orang tuanya terkesima.

"Wah, anak kita cantik banget , pa. Bener-bener keliatan udah dewasa, pa."

"Iya, ma. Astaga, papa sampe pangling dibuatnya,"

"Hap," Adel loncat ke hadapan sang mama dan papa dari tangga terakhir.

"Kamu ini, kalau jatuh gimana?"

"Tapi, gak jatuh kan ma hehe,"

"Kamu cantik banget, sayang."

"Ih, papa, Adel malu tau ih, papa puji-puji Adel didepan mama, nanti mama cemburu gimana?"

Sang papa hanya terkekeh geli mendengar ucapan putrinya.

"Mana mungkin mama cemburu hanya karena papa muji kamu, kamu itu anak mama sama papa. Jadi mama biasa aja tuh,"

"Udah, nanti kita telat. Ayo cepat,"

Lalu mereka bertiga pergi menuju mobil yang sudah ditunggu oleh sang supir.

***

"Ma, aku udah ganteng kan?"

Kris bertanya pada mamanya, karena ia sudah siap untuk pergi ke undangan pernikahan koleganya.

"Ganteng sih, tapi sayang, gak ada pasangannya."

Jawaban yang sangat menohok untuk Kris, lagi-lagi ia di buat kesal karena diejek tak memiliki pasangan.

"Udahlah, mama doain aja biar aku dapat jodoh disana ya. Aku berangkat dulu," Kris meminta restu dan sebelum pergi mengecup pipi mamanya lebih dulu.

Kris kembali melihat wajahnya di kaca spion,

"Gila, aku gantengnya kebangetan. Kita berangkat ya, black." Kris mengatakan itu pada mobil hitam miliknya.

Lalu ia melajukan mobilnya dan berangkat ke acara.

***

Adel sedang menemani kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan rekan bisnis sang papa, Adel merasa bosan.

"Ma, Adel mau kesana ya. Disini panas, Adel mau didepan aja."

"Ya udah, tapi jangan jauh-jauh. Nanti ilang lagi,"

"Gak, mama tenang aja." Lalu Adel berjalan ke luar, ia memandang langit malam.

"Ih, bintangnya banyak, cerah banget langitnya hehe,"

"Adel," panggil seseorang dari belakang.

Adel menolehkan kepalanya,

"Om Kris?"

Kris tersenyum menatap Adel.

"Kam, cantik banget malam ini." Puji Kris pada Adel.

Adel tersipu,

"Om, di sini juga? Sama siapa?"

"Om datang sama Wina, sekretaris om."

Lalu Adel menganggukkan kepalanya pelan.

Kris menatap punggung Adel yang sedikit terekspos.

Kris menghela napas,

"Kamu datang sama siapa?"

"Aku diseret paksa sama papa, nyebelin banget. Padahal aku mau rebahan aja," kata Adel dengan mengerucutkan bibirnya.

Kris hanya menahan senyum, saat melihat Adel berbicara dengan kesal. Sangat lucu untuknya,

"Dimana orang tuamu?"

Adel menunjuk sang papa dan mamanya yang masih berbincang dengan rekan bisnisnya.

"Jadi kamu, anaknya kak Nathan dan kak Manda?"

Adel terkejut saat mendengar ucapan Kris, ternyata Kris mengenal kedua orang tuanya.

"Om Kris kenal?"

Kris mengangguk,

"Kita pernah jalin kerjasama, makanya kenal."

Adel menganggukkan kepalanya.

"Pak Kris," panggil seorang wanita di belakang Kris dan membuat mereka berdua menolehkan kepalanya.

"Wina, ada apa?"

"Ini, saya bawakan minum untuk anda." Kata Wina memberikan minuman untuk Kris.

Wina menatap sinis Adel tanpa Kris tahu.

Adel terkejut bukan main,

"Om, Adel kesana dulu ya. Mau ke mama sama pap," pamit Adel pada Kris.

Kris pun menganggukkan kepalanya.

'Wina benar-benar mengganggu saja' batin Kris.

"Diminum pak, saya tahu bapak kehausan." Kata Wina yang sedikit memaksa.

Lalu Kris pun meminum segelas air yang di berikan oleh Wina.

Wina pun tersenyum senang. Entah, apa yang ada di pikirannya.

***

"Mama, kita lama ya pulangnya?" Rengek Adel pada mamanya.

"Acaranya belum selesai, sayang. Sebentar lagi ya?"

"Ah, mama nyebelin deh. Aku kan bosan ma, bosan, ih mama gak mau ngerti."

"Aduh, mama, sakit tau gak." Adel meringis kesakitan saat sang mama mencubit lengannya.

Kris berdiri bersama Vano dan Stella (tunangan Vano), mata Kris terus tertuju pada Adel.

"Yeu, si anjir gak kedip liat cewek." Kata Vano yang membuyarkan pandangannya pada Adel.

"Ah, sial. Kau merusak momen indah saja." Jawab Kris, yang justru membuat Vano dan Stella terkekeh.

Lalu Kris mendadak merasakan panas didalam tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat.

"A-aku, ke kamar kecil dulu." Ucap Kris pamit dengan tergesa pada Vano.

Vano hanya mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan sikap mendadak Kris.

Kris berlari menuju toilet, dia benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya.

***

"Ma, Adel mau pipis. Antar adel ketoilet ya?" Rengek Adel lagi pada mamanya.

"Astaga, kamu benar-benar bawel. Kamu ini udah besar, ke sana gih."

"Ya udah, deh. Adel ke toilet dulu ma, mama jangan pulang duluan loh ya."

"Iya,iya bawel."

Lalu Adel berjalan menyusuri lorong menuju toilet, sesampainya disana. Pintu toilet tertera tulisan jika toilet sedang rusak.

Lalu ia bertanya dengan cleaning service yang lewat.

"Kak, kak, ini toiletnya rusak ya? Aku mau pipis dimana dong?"

"Iya, toiletnya rusak, dek. Kamu ke toilet laki-laki aja, tadi masih kosong kok." Kata si cleaning service.

"Oh, gitu ya kak? Ya udah deh, makasih ya?" Lalu Adel berjalan ragu menuju toilet laki-laki, dan ternyata benar. Disana kosong, tidak ada laki-laki yang sedang buang air kecil.

"Ah, leganya…" kata Adel yang baru saja keluar dari toilet.

Namun, seseorang memebekap mulut Adel dari belakang.

"Hmmpt, hmptt," Adel berusaha berteriak meminta bantuan, namun tak ada orang yang mendengar karena mulutnya di bekap oleh seseorang. Terlebih, suara musik yang keras membuat semuanya Tek terdengar.

Adel terus memberontak, orang itu membisikkan satu kata di telinganya.

"M-maaf," ucapnya dengan gugup.

Lalu Adel diseret ke dalam ruang kosong yang terletak jauh dari toilet.

"O-om Kris, hiks.. hiks.." Adel ketakutan dan menangis saat melihat Kris, seperti bukan dirinya.

Kris menarik paksa Adel, dan melepas dress Adel lalu menanggalkan di sembarang tempat.

Adel berteriak minta tolong, namun tidak ada yang mendengarnya.

Kris mencium bibirnya kasar, sangat kasar. Membuat Adel kesulitan bernapas, air matanya mengalir deras.

Rasa takut kini menghampirinya, ia tak bisa memberontak karena kedua tangannya ditahan oleh Kris.

"Argh," erangan keluar dari mulut Adel.

Kris meremas kedua pa**dar* nya kasar, lalu melepas pengait dan melemparnya kelantai.

Ia terus memainkan milik Adel dengan kasar. Ciumannya turun ke leher bahkan ke dadanya, sesekali Kris menggigit pelan dada miliknya.

Adel terus memberontak, demi Tuhan. Bukan ini yang dia mau, dia sangat takut.

Adel menjerit sekuat tenaga saat sesuatu berhasil menerobos miliknya, air matanya mengalir bertambah deras, menahan rasa sakit dan malu.

'mama, papa, tolongin, adel.' batin Adel.

Kris terus menekannya dengan kasar, darah pun ikut mengalir di sela-sela area pahanya.

'masa depanku, sudah hancur. Mama, papa,'

Adel tak bisa berbuat apapun sekarang, ia merasa sudah kehabisan tenaga. Ditambah dengan rasa sakit, membuatnya tak bisa berbuat apapun.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel